Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arlan yang Terobsesi
Lampu-lampu kota Neovault Metropolis berpendar seperti taburan berlian di atas hamparan beludru hitam, namun bagi Arlan Valeska, semua kemegahan itu terasa hambar. Ia berdiri di balkon Penthouse-nya, mengabaikan Elena yang sedang mondar-mandir di ruang tengah dengan raut wajah penuh emosi. Pikirannya tidak lagi berada di sana, tidak juga pada laporan keuangan Neovault yang mulai memerah.
Di dalam kepala Arlan, hanya ada satu nama yang bergaung seperti mantra yang menghipnotis: V. Bayangan wanita itu saat makan malam privat kemarin masih melekat erat, mulai dari cara V menyesap anggur hingga tatapan matanya yang dingin namun menantang. Arlan merasa seolah-olah telah menemukan sebuah teka-teki paling rumit yang harus ia pecahkan bagaimanapun caranya.
"Arlan! Apakah kau mendengarku? Para pemegang saham mulai panik, dan kau justru asyik melamun di sini!" teriak Elena sambil membanting tas bermerknya ke atas sofa kulit.
Elena melangkah mendekat, aroma parfumnya yang menyengat mencoba merebut perhatian Arlan, namun pria itu bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Aku mendengarmu, Elena. Berhenti berteriak seperti wanita murahan dari distrik Rust. Kau merusak ketenangan malam ini."
"Apa kau bilang? Murahan? Aku istrimu, Arlan! Aku yang membantumu menyingkirkan pengganggu itu agar kau bisa berada di puncak!" Elena mendesis, matanya berkilat penuh kemarahan.
Arlan memutar tubuhnya perlahan, menatap Elena dengan pandangan yang kosong sekaligus merendahkan. "Pengganggu? Asha sudah lama mati dan terkubur di lumpur sungai. Sekarang, fokusku adalah masa depan Neovault bersama investor baru yang jauh lebih kompeten darimu."
"Investor baru itu? Si V yang misterius itu? Kau pikir aku buta? Kau menatapnya seolah dia adalah dewi yang turun dari langit!" Elena menudingkan telunjuknya tepat ke wajah Arlan.
"Dia memiliki apa yang tidak pernah kau punya, Elena. Kecerdasan yang tenang dan kendali yang mutlak. Sekarang, pergilah. Aku harus meninjau ulang identitas aslinya melalui tim intelijen pribadiku," ucap Arlan dengan nada final.
Arlan melangkah melewati Elena, mengabaikan wanita itu yang mulai terisak karena frustrasi dan kemarahan yang meluap. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya, mengunci pintu secara otomatis, dan menyalakan layar monitor besar di dinding. Di layar itu, hanya ada beberapa jepretan foto V dari jarak jauh yang tampak kabur, namun keanggunannya tetap memancar kuat.
"Siapa kau sebenarnya, V? Mengapa setiap kali aku menatap matamu, aku merasa seperti sedang melihat cermin dari dosa-dosaku sendiri?" gumam Arlan pelan pada kegelapan ruangan.
Arlan mulai membuka berkas-berkas digital yang dikirimkan oleh peretas sewaannya, namun hasilnya nihil. Identitas V seolah-olah baru muncul ke permukaan bumi beberapa bulan yang lalu, tanpa jejak masa lalu yang bisa dilacak. Hal ini justru membuat obsesi Arlan semakin menggila, sebuah rasa haus akan penaklukan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Tuan, ada pesan masuk dari firma hukum milik Nyonya V. Mereka ingin menjadwalkan pertemuan lanjutan untuk penandatanganan memorandum investasi," suara asisten pribadinya terdengar dari interkom.
"Jadwalkan secepatnya! Batalkan semua rapat dewan direksi besok pagi. Pastikan tidak ada gangguan dari Elena atau pihak lain manapun," perintah Arlan tanpa ragu.
"Tapi Tuan, audit internal besok pagi sangat krusial untuk menenangkan para pemegang saham di bursa," asistennya mencoba mengingatkan dengan suara ragu.
"Aku tidak peduli dengan audit itu! Jika V menarik investasinya, Neovault akan benar-benar tamat. Lakukan saja perintahku!" bentak Arlan hingga suaranya menggelegar di ruang kerja yang kedap suara itu.
Arlan kembali duduk di kursi kebesarannya, jemarinya mengetuk-ngetuk meja mahoni dengan irama yang tidak beraturan. Bau wiski yang ia minum tadi sore seolah masih menempel di ujung lidahnya, bercampur dengan bayangan aroma kayu cendana milik V. Ia mulai mengabaikan panggilan telepon dari kantor pusat, bahkan mengabaikan peringatan dari tim legalnya.
Obsesi itu mulai merayap seperti racun ke dalam sistem penilaian bisnisnya yang biasanya dingin dan akurat. Baginya, menyelamatkan perusahaan kini identik dengan memiliki V seutuhnya, baik secara profesional maupun personal. Arlan merasa jika ia berhasil menaklukkan wanita sekuat V, maka posisinya di Neovault Metropolis tidak akan pernah tergoyahkan lagi.
"Setiap gerakannya, setiap kata-katanya ... dia sangat familiar namun sangat berbeda. Seolah-olah dia mengenal setiap sudut gelap dalam pikiranku," Arlan berbisik pada dirinya sendiri.
Ia mulai membayangkan pertemuan mereka selanjutnya, merancang berbagai cara untuk membuat V bertekuk lutut di hadapannya. Arlan tidak menyadari bahwa ia bukan lagi sang pemburu, melainkan mangsa yang sedang digiring masuk ke dalam lubang yang sangat dalam. Ia mengabaikan setiap tanda bahaya yang muncul di layar monitornya, termasuk penurunan harga saham yang tajam.
Di tempat lain, di sebuah apartemen minimalis yang menghadap ke arah pelabuhan distrik Rust, Asha duduk diam sambil mengamati layar tabletnya. Ia melihat setiap pergerakan Arlan yang dipantau oleh mata-matanya, menyadari bahwa umpannya telah ditelan mentah-mentah. Bibirnya membentuk senyuman tipis yang sangat dingin, sebuah senyuman milik seorang algojo.
"Dia mulai mengabaikan Elena dan perusahaannya. Persis seperti yang aku rencanakan," batin Asha sambil membelai bekas luka bakar di bahunya.
Asha tahu bahwa obsesi Arlan adalah titik terlemah pria itu, sebuah narsisme yang membuatnya percaya bahwa ia bisa memiliki segalanya. Ia akan terus menarik ulur perasaan Arlan, membuatnya merasa sangat dekat namun tetap tak terjangkau. Ketegangan ini akan terus ia pelihara sampai Arlan kehilangan kewarasannya sepenuhnya.
"Nyonya, Arlan baru saja membatalkan audit krusial besok hanya untuk bertemu dengan Anda," ujar asisten Asha yang merupakan orang kepercayaan dari Rust.
"Bagus. Biarkan dia semakin tenggelam. Semakin banyak dia mengabaikan Neovault, semakin mudah bagiku untuk mengambil alih asetnya tanpa sisa," sahut Asha.
Kembali ke Penthouse, Arlan masih terjaga hingga dini hari, menatap langit-langit kamar dengan mata yang memerah. Ia bahkan tidak menyadari ketika Elena masuk ke kamar dan mencoba memeluknya, ia justru mendorong wanita itu menjauh dengan kasar. Pikirannya sudah tidak lagi memberikan ruang bagi siapapun selain sosok V yang misterius.
"Jangan sentuh aku, Elena! Kau hanya membuatku muak dengan rengekanmu itu," desis Arlan tanpa melihat wajah istrinya.
"Kau gila, Arlan! Kau terobsesi pada wanita yang bahkan tidak kau ketahui asal-usulnya! Kau sedang menghancurkan kita berdua!" Elena berteriak sambil menangis histeris.
"Aku sedang membangun masa depan yang baru, dan sepertinya kau tidak termasuk di dalamnya," jawab Arlan dengan suara yang begitu tenang namun mematikan.
Arlan bangkit dari tempat tidur, mengenakan jubah sutranya, dan kembali ke ruang kerja untuk memutar ulang rekaman suara V yang ia dapatkan. Suara itu terasa seperti melodi yang menghantui tidurnya, sebuah suara yang menjanjikan kekuasaan namun juga kehancuran. Arlan benar-benar telah kehilangan orientasi, ia sedang berlari menuju jurang demi mengejar bayangan.
"Besok ... besok aku harus memastikan dia menjadi milikku. Apapun harganya, berapapun aset yang harus kukorbankan," Arlan bersumpah pada kegelapan malam.
Ketegangan di Menara Neovault semakin meningkat seiring dengan sikap Arlan yang semakin tidak menentu dan emosional. Para staf tingkat tinggi mulai berbisik-bisik tentang perilaku aneh bos mereka yang kini lebih sering mengurung diri. Namun Arlan tidak peduli, ia merasa sedang berada di ambang sebuah penemuan besar yang akan mengubah hidupnya.
Di bawah sinar rembulan yang pucat, Arlan Valeska tampak seperti seorang raja yang sedang kehilangan tahtanya namun masih merasa memegang mahkota. Ia adalah gambaran dari keangkuhan yang sedang diuji oleh tangan tak terlihat yang lebih kuat. Obsesi telah membutakannya dari kenyataan bahwa V adalah malaikat maut yang ia undang sendiri ke dalam rumahnya.
"Kau akan segera tahu siapa aku yang sebenarnya, V ... dan aku akan tahu siapa kau," gumam Arlan sebelum akhirnya jatuh terlelap di kursi kerjanya.
Malam itu berakhir dengan kesunyian yang mencekam di kediaman Valeska, sebuah kesunyian sebelum badai besar melanda. Arlan telah menyerahkan hatinya pada obsesi, sebuah kesalahan fatal yang tidak akan pernah bisa ia perbaiki. Di balik bayang-bayang, Asha terus memantau, siap untuk memberikan pukulan selanjutnya yang akan membuat Arlan semakin terjatuh.
Keesokan harinya, kota Neovault akan terbangun dengan berita-berita miring tentang ketidakstabilan pimpinan mereka. Namun bagi Arlan, satu-satunya berita yang penting adalah jam berapa V akan datang menemuinya di kantor. Ia telah mengabaikan segala hal, termasuk peringatan dari batinnya sendiri yang mulai merasakan kehadiran Asha di dekatnya.
"Matahari akan segera terbit, dan permainan ini akan menjadi jauh lebih menarik," batin Asha sambil menutup laptopnya.
Arlan Valeska telah benar-benar terobsesi, dan dalam dunia yang kejam ini, obsesi adalah tiket satu arah menuju neraka. Asha akan memastikan bahwa perjalanan Arlan ke sana akan menjadi perjalanan yang sangat indah namun penuh dengan penderitaan. Neovault Metropolis sedang menyaksikan keruntuhan seorang pria berkuasa yang hancur oleh nafsunya sendiri.