Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Semua Mata Menatapnya
Untuk beberapa detik…
ballroom Imperial Palace benar-benar kehilangan suara.
Tak ada denting gelas.
Tak ada bisikan sosialita.
Bahkan musik orkestra terasa seperti menghilang.
Karena wanita yang baru saja melangkah masuk itu…
berhasil mencuri seluruh perhatian ruangan hanya dalam satu langkah.
Elara Vasiliev.
Gaun hitam panjang membalut tubuhnya elegan.
Tatapannya tenang.
Dingin.
Dan terlalu mahal untuk diabaikan.
Flash kamera langsung menyala bertubi-tubi.
“Ya Tuhan…”
“Itu benar-benar dia?”
“Aku bahkan hampir tidak mengenalinya…”
Di sudut ballroom, Damian Moretti membeku di tempatnya.
Dan untuk pertama kali sejak Elara pergi…
dadanya terasa sesak hanya karena melihatnya kembali.
Elara berjalan perlahan bersama Viktor melewati lorong utama ballroom.
Langkahnya stabil.
Tidak terburu-buru.
Tidak gugup.
Seolah perhatian ratusan orang bukan sesuatu yang penting baginya.
Dan justru sikap itu membuat semua orang semakin sulit mengalihkan pandangan.
Para wartawan di luar pintu bahkan mulai berebut mengambil gambar.
“Lihat ke sini, Nona Elara!”
“Nona Elara, bagaimana hubungan Anda dengan keluarga Moretti sekarang?”
“Apakah benar Anda akan mengambil alih penuh Vasiliev Group?”
Namun Elara tidak menjawab.
Ia hanya memberi senyum tipis formal sebelum terus berjalan masuk.
Elegant.
Tak tersentuh.
“Dia benar-benar berubah…”
Seorang sosialita muda berbisik pelan sambil menatap Elara kagum.
“Dulu dia terlihat seperti perempuan biasa.”
“Tidak,” sahut temannya pelan. “Mungkin dulu kita saja yang tidak benar-benar melihatnya.”
Di sisi lain ruangan, Selene hampir menghancurkan gelas wine di tangannya sendiri.
Matanya tak lepas dari Elara.
Dan semakin lama ia melihat—
semakin besar rasa panas yang membakar dadanya.
Karena malam itu…
bahkan dirinya yang memakai gaun couture jutaan dolar tetap kalah bersinar.
“Kontrol wajahmu.”
Suara Seraphina terdengar rendah di sampingnya.
Selene tersenyum tipis terpaksa.
“Aku baik-baik saja.”
“Kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang.”
Tatapan Selene kembali jatuh pada Elara.
“Mungkin memang iya.”
Seraphina diam.
Namun sebenarnya ia merasakan hal yang sama.
Ia membenci kenyataan bahwa seluruh ruangan kini memperhatikan wanita yang dulu pernah ia hina tanpa ampun.
Dan yang paling membuatnya tidak nyaman—
Elara tidak terlihat sedang membalas dendam.
Wanita itu terlihat seperti seseorang yang memang berada satu level di atas mereka sekarang.
Sementara itu, Damian masih berdiri di tempat yang sama.
Tatapannya tidak bergerak.
Cassian yang memperhatikan dari jauh tertawa kecil.
“Kalau kau terus menatapnya seperti itu, orang-orang akan sadar kau masih terobsesi.”
Damian akhirnya menoleh dingin.
“Aku tidak sedang bercanda malam ini, Cassian.”
“Aku juga tidak.”
Cassian menyeruput wine santai.
“Dan itulah masalahnya.”
Ia melirik ke arah Elara.
“Kau terlambat menyadari nilainya.”
Damian mengepalkan tangan pelan.
Karena untuk pertama kalinya…
ia tidak bisa membantah kalimat itu.
“Elara Vasiliev.”
Seorang investor senior mendekat sambil tersenyum ramah.
“Saya sudah lama ingin bertemu langsung.”
Elara menjabat tangannya sopan.
“Senang bertemu Anda.”
“Saya mendengar Anda berhasil menghentikan kerugian besar di divisi logistik.”
“Masih proses.”
Jawaban singkat.
Tenang.
Tidak terdengar sombong.
Namun justru itu membuat beberapa investor lain mulai ikut mendekat.
“Usia Anda masih sangat muda untuk posisi sebesar itu.”
“Elara tersenyum tipis.”
“Tekanan tidak pernah bertanya soal umur.”
Investor itu tertawa puas.
“Jawaban bagus.”
Dalam waktu singkat, Elara sudah menjadi pusat lingkaran para pebisnis elit.
Semua ingin berbicara dengannya.
Semua ingin mengenalnya lebih dekat.
Dan semakin banyak orang mendekat—
semakin jelas bahwa malam itu benar-benar miliknya.
Damian memperhatikan semuanya dengan dada yang terasa semakin berat.
Dulu…
Elara pernah berdiri di sampingnya dalam banyak acara.
Namun ia hampir tidak pernah benar-benar memperkenalkannya pada siapa pun.
Tidak pernah benar-benar membuatnya merasa berharga.
Ia selalu membiarkan Elara berdiri sedikit di belakang.
Sedikit lebih diam.
Sedikit lebih kecil.
Dan sekarang…
wanita itu berdiri sendirian tanpa dirinya—
namun justru terlihat jauh lebih bersinar.
“Elara.”
Suara Damian akhirnya membuat beberapa orang menoleh.
Lingkaran investor perlahan memberi jalan ketika pria itu berjalan mendekat.
Tinggi.
Tenang.
Berbahaya.
Damian Moretti tetap salah satu pria paling berpengaruh di ruangan itu.
Dan ketika ia berdiri di depan Elara…
suasana ballroom langsung berubah tegang.
Mereka saling menatap beberapa detik.
Tak ada yang bicara.
Namun semua orang di sekitar diam-diam memperhatikan.
Karena seluruh kota tahu hubungan mereka.
Dan semua orang ingin melihat apa yang akan terjadi.
“Kau terlihat cantik malam ini,” kata Damian akhirnya.
Suara rendahnya terdengar tulus.
Tidak seperti pujian basa-basi sosialita biasa.
Namun Elara hanya menjawab tenang,
“Terima kasih.”
Tidak ada senyum hangat.
Tidak ada rasa gugup.
Dan justru jarak dingin itu membuat Damian semakin sadar—
ia benar-benar kehilangan wanita ini.
“Kau tampak sibuk.”
“Aku memang datang untuk urusan penting.”
“Aku juga penting?”
Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang Damian rencanakan.
Dan beberapa orang langsung saling melirik kaget.
Karena Damian Moretti…
baru saja terdengar seperti pria yang memohon perhatian.
Elara menatapnya tenang.
“Tidak lagi.”
Jawaban itu menghantam telak.
Dan untuk sepersekian detik—
raut wajah Damian benar-benar berubah.
Namun sebelum suasana semakin berat, sebuah suara santai masuk di antara mereka.
“Wah.”
Cassian muncul sambil memasukkan satu tangan ke saku tuxedonya.
“Aku baru datang dan sudah mencium aroma patah hati.”
Beberapa orang langsung tertawa kecil tegang.
Damian menatap Cassian dingin.
“Selalu suka ikut campur?”
Cassian mengangkat bahu santai.
“Tidak.”
Tatapannya bergerak ke Elara.
“Aku hanya tidak suka melihat wanita cantik dipaksa mengingat masa lalunya terlalu lama.”
Kalimat itu membuat suasana langsung membeku sedikit.
Selene yang melihat semuanya dari jauh mulai kehilangan kesabaran.
Tatapannya tajam menatap Elara dan Cassian.
Lalu pada Damian.
Dan rasa iri di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Karena malam ini…
Damian bahkan tidak benar-benar melihat siapa pun selain Elara.
“Ini memalukan,” gumamnya pelan.
Seraphina melirik tajam.
“Jangan bertindak bodoh.”
Namun Selene sudah terlalu marah untuk mendengar.
Di tengah ballroom, seorang wartawan muda diam-diam memperhatikan Elara.
Lalu berkata pelan pada rekannya,
“Dia berbeda dari sosialita lain.”
“Maksudmu?”
“Orang-orang di sini terlihat berusaha keras menjadi penting.”
Tatapannya jatuh pada Elara.
“Tapi wanita itu…”
ia menghela napas kecil,
“…terlihat seperti seseorang yang tidak lagi peduli apakah dunia menerimanya atau tidak.”
Sementara itu, pembawa acara mulai naik ke atas panggung utama.
Lampu ballroom perlahan diredupkan.
Musik berhenti.
Dan semua tamu mulai menghadap ke depan.
Namun anehnya…
bahkan di tengah ruangan sebesar itu—
banyak mata masih terus melirik Elara.
“Selamat malam, para tamu terhormat.”
Suara pembawa acara menggema elegan.
“Malam ini kita tidak hanya berkumpul untuk merayakan amal dan kerja sama internasional…”
ia tersenyum,
“…tetapi juga untuk menghormati sosok-sosok yang membawa perubahan besar di dunia bisnis.”
Tepuk tangan terdengar pelan.
“Dan tahun ini…”
ia membuka kartu emas di tangannya,
“…ada satu nama yang menjadi pembicaraan seluruh industri.”
Ruangan mulai berbisik penasaran.
Selene menatap panggung dengan jantung berdegup keras.
Entah kenapa…
ia sudah merasa tidak nyaman.
Pembawa acara tersenyum lebar.
“Seorang wanita muda yang dalam waktu singkat berhasil membalikkan keadaan Vasiliev Group…”
Tatapan beberapa tamu langsung bergerak ke arah Elara.
“Seorang pemimpin baru yang berani membersihkan sistem lama…”
Kini hampir seluruh ballroom menoleh padanya.
Dan Damian…
tak pernah melepaskan pandangannya sedetik pun.
“Ladies and gentlemen…”
pembawa acara mengangkat suara lebih tinggi,
“penghargaan Visionary Leader of The Year diberikan kepada…”
Ia berhenti sejenak.
Seluruh ballroom sunyi.
Lalu—
“Nona Elara Vasiliev!”
DEG!
Tepuk tangan besar langsung menggema memenuhi ruangan.
Lampu sorot jatuh tepat ke arah Elara.
Flash kamera menyala bertubi-tubi.
Dan semua mata…
benar-benar tertuju hanya padanya.
Selene membeku di tempat.
Wajahnya perlahan pucat.
Sementara Seraphina menggenggam gelas wine terlalu erat sampai jemarinya memutih.
Karena malam itu…
mereka akhirnya sadar sesuatu yang paling menyakitkan:
Elara bukan lagi perempuan yang bisa mereka jatuhkan dengan mudah.
Wanita itu telah berubah menjadi seseorang yang bahkan seluruh kota mulai hormati.
Di tengah tepuk tangan meriah, Elara berdiri perlahan.
Elegant.
Tenang.
Namun saat ia berjalan menuju panggung—
tatapannya tanpa sengaja bertemu Damian sekali lagi.
Dan untuk sepersekian detik…
pria itu tersenyum kecil pahit.
Seolah akhirnya menerima kenyataan yang terlalu terlambat ia sadari.
Bahwa wanita yang dulu ia abaikan…
kini menjadi seseorang yang bahkan tidak bisa lagi ia raih.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄