Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Pengakuan dan aliansi tak terduga
Sementara itu, jauh di kedalaman bawah tanah, suasana di dalam bunker sudah berubah menjadi seperti neraka. Kekacauan total melanda setiap sudut fasilitas rahasia tersebut. Di dalam ruang perawatan, Dr. Stela Hindenburg dan Axel kini terisolasi bersama lima orang penjaga yang tersisa.
Gebrakan keras dan cakaran pada dinding besi di luar ruangan terdengar tiada henti. Lima penjaga yang memegang senapan otomatis tampak berkeringat dingin. Wajah mereka pucat, dipenuhi rasa takut yang teramat sangat karena tahu bahwa ribuan makhluk cacat ciptaan proyek masa lalu kini telah menguasai seluruh lorong bunker.
Axel berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Ia menatap pintu besi yang terus bergetar, lalu menoleh ke arah ibunya dengan pandangan frustrasi. "Ibu! Lakukan sesuatu! Kekacauan ini sudah tidak bisa dikendalikan! Makhluk-makhluk itu kelaparan dan mereka mulai menghancurkan fasilitas kita!" adu Axel dengan suara gemetar.
Mendengar aduan itu, Dr. Stela tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Ia justru duduk dengan tenang di tepi tempat tidurnya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang misterius. Ia membiarkan atmosfer ketakutan menyelimuti Axel dan sisa anak buahnya.
"Kenapa kamu malah takut, Axel?" tanya Stela dengan suara yang teramat dingin. "Bukankah ini semua adalah kemauanmu sejak awal? Kamu yang menghidupkan kembali program ini. Kamu yang menginginkan dunia baru."
"Tapi tidak seperti ini, Ibu!" jerit Axel, ego dan keangkuhannya runtuh seketika. "Tolong kendalikan mereka! Jauhkan makhluk-makhluk menjijikkan itu dariku!"
Stela tentu saja paham. Dengan kemampuan gelombang otak yang ia kuasai, ia bisa dengan mudah memerintahkan makhluk-makhluk di luar sana untuk tunduk atau menjauh. Namun, Stela punya rencana lain.
Pandangan dingin Stela beralih kepada lima penjaga yang berdiri kaku di dekat pintu. "Kalian semua... keluar dari ruangan ini sekarang," perintah Stela datar. "Dan bawa mayat dokter itu bersama kalian."
Mendengar perintah tersebut, kelima penjaga itu tersentak. Mereka saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala dan melangkah mundur ke sudut ruangan. Keluar ke lorong saat ini sama saja dengan bunuh diri.
"Kami tidak mau, Nyonya! Di luar sangat berbahaya!" seru salah satu penjaga dengan nekat.
Melihat pembangkangan itu, Dr. Stela tidak bicara dua kali. Kulit telapak tangannya kembali merobek kecil, dan dalam sekejap, helai-helai tentakel berlendir yang ujungnya setajam belati melesat keluar, mendesis di udara siap untuk merobek leher siapa saja. Warna matanya pun berubah menjadi putih pekat yang mengerikan.
"apa yang ibu lakukan? Mereka penjaga kita yang tersisa!" ucap Axel.
Satu gertakan visual itu sudah lebih dari cukup. Nyali kelima penjaga tersebut langsung ciut. Sambil gemetaran, dua orang penjaga segera membungkuk dan mengangkat jasad Dokter Ferdi yang sudah mulai kaku dari lantai. Tiga penjaga lainnya bergerak maju ke depan pintu, mengarahkan moncong senapan mereka ke depan dengan tangan yang bergetar hebat.
Tuas pintu besi diputar. Begitu pintu terbuka sedikit, mereka semua langsung merangsek keluar ke lorong yang gelap, dan pintu kembali tertutup rapat secara otomatis.
Tak berselang lama setelah pintu terkunci, suara yang paling ditakuti Axel akhirnya terdengar.
Gema gemuruh langkah kaki yang berlari cepat mendekat dari ujung lorong, disusul oleh rentetan tembakan senapan mesin yang membabi buta.
Dor! Dor! Dor! Tar! Tar! Tar!
Suara desingan peluru itu segera bercampur dengan teriakan histeris penuh rasa sakit dari para penjaga yang malang tersebut. Mereka dicabik-cabik di luar sana tanpa bisa melawan lebih jauh.
Di dalam ruangan, Axel menutup kedua telinganya dengan tangan, tubuhnya merosot ke lantai karena teror yang begitu nyata. Namun, Dr. Stela justru mendongakkan kepalanya dan tertawa lepas. Suara tawanya menggema renyah di antara dinding beton, kontras dengan suara kematian yang baru saja terjadi di luar pintu. Kini, di dalam ruangan yang sunyi itu, tinggal tersisa mereka berdua: Stella dan anak angkatnya yang kini terjebak dalam obsesinya sendiri.
Di tengah keheningan ruangan yang kini hanya menyisakan mereka berdua, Dr. Stela berjalan perlahan mendekati Axel yang masih terduduk lemas di lantai. Ia menatap pria itu dari atas, lalu berbicara dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti seorang ibu yang ingin menasihati anaknya.
"Axel," panggil Stela lembut. "Sekarang, katakan padaku. Apa tujuanmu yang sebenarnya melakukan semua ini? Dan tolong, berhenti memanggilku 'Ibu'. Kamu sama sekali bukan anakku."
Axel tersentak. Ia mendongak dengan tatapan tidak percaya, wajahnya yang panik kini berganti dengan kepanikan jenis baru. "I-Ibu bicara apa? Aku ini anakmu! Aku yang merawatmu dan menghidupkanmu kembali!"
Dr. Stela tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya perlahan melihat penyangkalan itu. "Jangan gunakan emosi murahan itu di depanku, Axel. Mari kita bicara. Berapa usiamu sekarang? Tiga puluh tahun? Atau mungkin tiga puluh lima?"
Stela berjalan memutari Axel. "Proyek yang membuatku tertidur itu terjadi pada tahun 80an. Jika kamu adalah anak kandungku, artinya kamu harus lahir sebelum atau setidaknya pada tahun itu. Dan jika itu terjadi, usiamu sekarang seharusnya sudah hampir setengah abad. Dari fisikmu saja, kebohonganmu sudah runtuh."
Axel membeku, lidahnya mendadak kaku.
"Kalau saja kamu sedikit lebih pintar saat menyusun skenario ini," lanjut Stela dingin, "Itu akan terdengar jauh lebih masuk akal. Tapi sekuat apa pun kamu mencoba berbohong, itu tidak akan mengubah apa pun. Aku tahu persis garis keturunanku, dan aku sangat tahu kapan kamu sedang berdusta."
Axel hanya bisa diam. Rahangnya mengeras, menahan rasa kecewa yang mendalam sekaligus amarah yang mulai membakar dadanya karena kedok yang ia susun bertahun-tahun terbongkar begitu saja.
"Sekarang, aku ingin kamu jujur," ujar Stela, matanya perlahan berubah menjadi putih pekat, memberikan tekanan mental yang luar biasa pada Axel. "Aku tidak ingin membuang energi untuk mengungkapkan kebohonganmu yang lain. Ingatlah nasib dokter dan anak buahmu tadi. Kematian selalu hadir dengan cepat ketika seseorang mencoba menahan kebenaran di depanku."
Melihat ancaman nyata itu, runtuh sudah sisa-sisa keberanian Axel. Ia mengembuskan napas pasrah, lalu tertawa hambar sambil bangkit berdiri secara perlahan.
"Ya, kamu benar. Semua ini memang hanya skenarionya," aku Axel dengan nada suara yang berubah drastis, menjadi dingin dan sinis. "Aku sengaja memperlakukanmu seperti seorang ibu agar kamu mempercayaiku sepenuhnya setelah kamu bangun. Aku membutuhkanmu untuk tujuan yang jauh lebih besar: menguasai kota ini melalui perantara Walikota Yunus."
Axel melangkah mundur, menatap Stela tanpa ada lagi rasa hormat. "Aku menjadikanmu alat, Stela. Walikota Yunus menjanjikan imbalan kekuasaan dan uang yang sangat besar di kota ini jika proyek ini berhasil. Tapi itu belum ada apa-apanya."
Napas Axel memburu saat ia mengungkapkan rencana terbesarnya. "Rencana awal kami adalah mengkloning sampel darahmu yang sudah bermutasi dan berhasil menyatu dengan zat tahun 1980 itu. Kami akan memproduksinya secara massal untuk dijadikan senjata biologi, lalu menjualnya di pasar gelap internasional. Pembelinya sudah mengantre, mereka datang dari negara-negara luar yang siap membayar dengan harga fantastis. Kamu adalah ladang emas kami, Stela!"
Mendengar seluruh pengakuan jujur yang keluar dari mulut Axel, Dr. Stela tidak marah. Ia terdiam sejenak, lalu perlahan menyunggingkan senyuman tipis yang berubah menjadi tawa lepas yang menggema di seluruh ruangan. Suara tawanya terdengar begitu menyeramkan di tengah keheningan bunker.
Ia sama sekali tidak merasa ditipu, kecewa, ataupun dikhianati oleh skenario busuk yang dirancang Axel. Alih-alih meratap, raut wajah Stela justru mulai berubah ke bentuk yang jauh lebih mengerikan dari sebelum-sebelumnya.
Kulit wajahnya yang semula putih pucat kini mulai memunculkan urat-urat tebal berwarna hitam pekat yang menjalar seperti akar pohon tua. Kedua matanya yang putih tanpa pupil kini menggelap di setiap sudutnya, memancarkan aura kegelapan yang pekat. Axel yang berdiri beberapa langkah di depannya spontan mundur hingga punggungnya membentur dinding, setengah mati ketakutan melihat perubahan drastis pada fisik wanita di hadapannya.
Stela melangkah mendekat, lalu berbicara dengan nada suara yang sedikit berubah terdengar lebih berat, bergaung, dan dingin.
"Orang yang mencoba memanfaatkanku... harus menjadi orang terakhir yang mati di dunia baru nanti," ucap Stela sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat ke arah wajah Axel.
Axel menahan napas, mengira ajalnya telah tiba. Namun, kalimat Stela selanjutnya justru di luar dugaan.
"Kamu tidak akan pernah bisa menjadikanku alat, Axel. Tapi... aku harus mengakui kalau aku sangat tertarik dengan tujuan kalian," ujar Stela, urat-urat hitam di wajahnya tampak berdenyut. "Aku bisa memberikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar uang. Aku bisa memberikanmu kekuasaan mutlak, bahkan keabadian yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi."
Stela menurunkan tangannya, menatap Axel dengan pandangan mengunci. "Dengan satu catatan, kamu harus mengikuti seluruh perintahku mulai detik ini. Dan untuk sementara waktu, biarkan rencana Walikota Yunus berjalan sesuai skenario awalnya. Anggap seolah-olah kita masih bekerja sama dengannya. Lagipula, aku sudah sangat muak dengan tingkah laku para pejabat pemerintah yang sok suci di atas sana. Di mataku, mereka semua hanyalah sekumpulan mayat yang cepat atau lambat akan membusuk."
Mendengar tawaran yang tak terduga itu, ketakutan Axel perlahan terkikis oleh rasa serakahnya yang kembali bangkit. Ia menelan ludah, mencoba menegakkan kembali tubuhnya yang gemetar.
"Baik... aku setuju. Aku akan mengikuti semua perintahmu," jawab Axel dengan cepat, menyetujui usulan Stela. "Tapi dengan satu syarat, berujung seperti apa pun rencana ini nanti, jangan bunuh aku. Jangan buat aku mati."
Dr. Stela menatap Axel dengan dingin. Perlahan-lahan, urat hitam di kulit wajahnya menyusut kembali ke balik pori-pori, warna matanya kembali normal, dan fisiknya kembali tampak seperti manusia biasa.
"Selama kamu tidak membuat kesalahan sekecil apa pun di depanku, semua akan baik-baik saja," jawab Stela datar, mengembalikan atmosfer ruangan menjadi dingin seperti semula.
Stela kemudian berjalan menuju jendela kaca pengawas, menatap lorong luar yang kini dipenuhi oleh erangan makhluk-makhluk ciptaannya. "Untuk sekarang, kita akan diam dan bertahan di dalam ruangan ini selama beberapa hari ke depan. Biarkan kota di atas sana hancur total terlebih dahulu oleh mereka. Setelah semuanya rata dengan tanah... kita berdua akan keluar dan menunjukkan kepada mereka, siapa penguasa kota ini yang sebenarnya."
...****************...