PERHATIAN!!!
Jika ingin membaca cerita ini siapkan mental. Takutnya bisa baper stadium akhir dan yang nulis gak tanggung jawab jika bibir kalian gak bisa berhenti ketawa.
Kata orang menjadi cewek cantik itu terlalu beruntung. Karena dipikir banyak yang demen. Tapi apa jadinya jika seorang cewek kaya Ghea Virnafasya yang jutek dan menjadi badgirl di sekolahnya masihlah jomblo.
Tahukah jika kadar kecantikan dan kejutekannya itu terlalu akurat stadium akhir?
Dia, Ghea Virnafasya cewek cantik jomblo abadi yang gak suka pacaran. Dia inginnya langsung menggelar nikahan.
Tapi apa kejutekan dan kenakalannya akan bisa berakhir? Apa Ghea akan sadar dan bertaubat setelah bertemu dengan seorang guru baru yang tampan nya naudzubillah bak aktor Yang yang, mengajar di kelasnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Poin Yang Menyengsarakan
Sore itu cuaca masih lah sangat panas. Ghea berdiri di sebuah halte dengan tangan yang tersimpan di atas kepalanya guna menutupi silaunya cahaya sang surya. Jangan lupakan jika di pangkal hidungnya terlapis plaster akibat terkena lemparan bola volly tadi.
"Lama banget, sih, busnya?" Sejak lima belas menit yang lalu ia sudah berdiri di sana menunggu bus datang. Sampai pada sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Ia melirik ke arah cowok yang duduk di atas jok motor. Ia dapat mengenali siapa cowok itu walau wajahnya tertutup helm.
"Lo masih nunggu busnya, Ghe?" tanyanya saat kaca helm itu ia buka.
"Iya. Lama banget tumben," jawab Ghea dengan wajah yang bete karena telah menunggu lama.
"Nebeng gue aja. Kan kita searah." Reza menawarkan diri yang langsung mendapat anggukan dari Ghea.
Dipikir Ghea, kan lumayan ongkosnya buat jajan mie ayam di depan gada-gada kompleks rumahnya.
"Oke deh." Ghea hendak menaiki motor Reza, namun suara deringan handphone mengurungkan niatnya. "Bentar gue angkat telepon dulu," ujar Ghea pada Gery. Cowok itu mengangguk dengan segurat senyum di balik helm yang menutupi wajah tampannya itu.
Ghea sempat mengerutkan keningnya karena nomor yang menghiasi layar benda pipih itu tidak ia kenal. Setelahnya Ghea hanya menggeserkan ikon merah dengan mengedikan bahunya bersama bibirnya yang mencebik. Lantas ia kembali untuk menaiki motor Reza.
Sedangkan orang yang mencoba menghubungi Ghea tadi meremaas handphone yang ada di tangannya. Gurat wajahnya menunjukan kekesalan. Bagaimana tidak, calon istrinya itu akan diboncengi cowok lain. Apalagi cowok itu adalah cowok yang berani-beraninya mengangkat tubuh Ghea saat tadi ia pingsan.
Salah sendiri saja kenapa gak peka dan jadi cowok gak cekatan. Jadi di sini siapa yang harus disalahkan?
Lantas ia mengetikan sesuatu di handphonenya itu lalu mengirimnya pada nomor Ghea. Setelahnya ia segera menghubungi seseorang.
Lagi dan lagi, Ghea kembali mengurungkan niatnya untuk menaiki motor Reza. Ia merogoh handphone di saku seragamnya dengan wajah yang memberengut. "Siapa lagi, sih?" gerutunya dalam hati bersama tangan yang membuka pesan singkat itu.
"Kenapa, Ghe?" Reza bertanya. Ia masih nangkring di atas motor dengan kedua tangan yang tersimpan di atas stang. Ketika menyadari raut wajah cewek itu kembali memberengut kesal.
"Eum ... Za, kayanya gue gak jadi nembeng lo, deh, sorry, ya!" ucapnya penuh dengan sesal. Membuat Reza menautkan kedua alis di balik helmnya. "Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Gue ada urusan bentar." Kilahnya.
Reza pun mengangguk dengan kecurigaan di benaknya. Jika urusan Ghea adalah Pak Gery. Lantas ia pun segera berlalu dengan melajukan motornya setelah pamit lebih dulu pada Ghea. Namun saat di pertigaan gank di depan, Reza menghentikan laju motornya. Ia ingin membuktikan benar apa tidak dugaannya.
"Dasar Pak Gery, kenapa, sih, bisanya cuma ngancem sama poin-poin unfaedah itu?" sungut Ghea berapi-api. Seperti biasa Pak Gery akan selalu mengancam Ghea dengan tiga poin itu.
Poin pertama, Ghea harus menyembunyikan jika Pak Gery adalah calon suaminya dari semua teman-temannya. Dengan alasan Pak Gery tidak mau menikah dengan anak kecil. Masuk akal memang, namun jika tidak mau kenapa Pak Gery menolak saat Ghea ingin membatalkannya?
Poin kedua, Ghea harus memanggil Pak Gery dengan sebutan Mas jika sudah menikah. Namun kenapa saat Ghea memanggilnya Mas kala itu Pak Gery merasa ogah? Ia justru bergidik di depan Gheanya sendiri.
Dan poin yang ketiga, Ghea tidak boleh punya pacar atau dekat dengan cowok lain. Juga setelah menikah Ghea dilarang minta cerai walau Pak Gery nantinya punya pacar.
Dan poin ketiga ini yang membuat Ghea sengsara. Bagaimana tidak, poin itu sangat memberatkannya. Jika Ghea tidak boleh minta cerai walau Pak Gery nantinya punya pacar. Itu kan menyebalkan. Dipikir Ghea, Pak Gery sangat egois dan tidak berperasaan.
Namun jika Ghea sadar, Pak Gery melakukan semua itu semata hanya tidak ingin kehilangannya.
Kehilangan sosok gadis kecil yang sangat ia kagumi sedari dulu.
Tak lama berselang dari berlalunya Reza, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan Ghea. Seseorang di balik kemudi itu membuka kaca mobil sebelahnya. Lalu menyuruh Ghea masuk dengan cepat.
Walau kesal dan tidak mau, Ghea tetap menurutinya. Bisa apalagi cewek itu selain menurut?
"Pak Gery, tuh, kenapa, sih, selalu ngancem aku sama poin-poin gak penting? Kamu, tuh, egois tahu gak?" Kesalnya saat sudah duduk di samping kursi kemudi.
Seperti biasa, Pak Gery hanya acuh dan tidak mengidahkan protesan Ghea. Ia segera melajukan mobilnya.
"Lagian tadi pagi kamu gak bawa mobil kan? Kenapa sekarang bawa?" Karena tadi pagi Pak Gery berangkat satu bus dengan Ghea. Dan setelah mengirim pesan pada gadisnya itu, Pak Gery menghubungi Adi untuk mengantarkan mobilnya ke sekolah. Dengan cepat sang sepupu pun memenuhi perintahnya. Jika tidak, cowok itu pasti akan mengancam untuk menurunkan jabatan di kantornya.
Perlu diketahui, jika Adi adalah anak yatim piatu. Sedari kecil dia sudah bersama-sama dibesarkan oleh kedua orang tua Pak Gery.
"Ck, kamu, tuh selalu diam kalau ditanya. Punya mulut gak, sih? Kalau punya jawab dong. Jangan diem mulu! Tuhan, tuh menciptakan mulut untuk- Aw ..." pekik Ghea kesakitan karena Pak Gery menginjak pedal remnya secara tiba-tiba. Membuat kening Ghea terbentur pada dashboard mobil. "Kenapa ngerem mendadak, sih?" Ia usap kening yang sakit itu bersama duduknya yang berubah miring menghadap Pak Gery. Ia ingin protes lagi. "Pangkal hidung aku jadi sakit lagi, nih. Kamu tahu, kan, kalau tadi saat main volly hidung aku kena bola?" sungut Ghea lagi. Sungguh demi apa pun itu, Gjea sangat kesal dengan calon suaminya.
Jika dulu Ghea akan memuji Pak Gery, berbeda dengan sekarang. Ghea selalu kesal berada di dekatnya.
Ghea terus ngoceh. Sementara Pak Gery mengurut pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. Sejujurnya ia sedang menahan emosinya sedari tadi. Sedari tubuh Ghea di angkat oleh Reza. Jujur, Pak Gery cemburu. Ia tidak ingin miliknya disentuh orang lain. Hanya dirinya lah yang bisa menyentuh Ghea.
"Ini kalau hidung aku retak gimana? Kamu mau tanggung jawab? Heuh?" Lagi, Ghea melayangkan protesannya. "Emang kamu mau biayain oprasinya?" Ghea terus bersuara. Sementara Pak Gery menarik nafasnya dalam. Dadanya kembang kempis bersama tarikan nafas yang tidak beraturan. Emosi Pak Gery tidak lagi bisa ditahan.
"Itu juga kalau berhasil, terus kalau hidung aku jadi bengkok, gimana?" Suara Ghea yang semakin tinggi membuat Pak Gery semakin hilang kendali. "Kamu, tuh, kenapa beda sama dulu, sih? Aku lebih suka sama ka- heu,"
Nafas Ghea seakan berhenti begitu juga dengan jantungnya, saat Pak Gery mendekatkan wajahnya dengan mencondongkan tubuh kekarnya itu. Pun tubuh Ghea yang mundur dengan kepalanya yang bersandar pada kaca jendela mobil yang dibiarkan terbuka setengahnya.
Mata abu-abu Pak Gery dapat Ghea lihat dengan jelas. Kedua alisnya yang hitam sedikit kecoklatan. Pun bibirnya yang tebal dan merah, membuktikan jika bibir itu bebas dari benda bernikotin.
Tanpa aba-aba. Dan entah apa yang ada di dalam otak Pak Gery, ia lebih mendekatkan lagi wajahnya.
Dan tanpa mereka sadari. Dari pinggir jalan. Lebih tepatnya depan gank, Reza yang tadi menghentikan motornya di depan sana melihat apa yang dilakukan Pak Gery. Kepalan tangan dibagian bodi motor depannya membuktikan jika ia marah dan ... cemburu. Matanya yang memerah memancarkan sebuah kebencian pada sosok yang sedang mendekatkan wajahnya pada wajah Ghea.
"Ah ... Pa-pak Gery apa-apaan?" Ghea mendorong dada bidang cowok itu dengan kuat saat otaknya menyadari bahwa Pak Gery melumaat bibirnya dengan panas. Hingga Ghea merasa perih dibagian bibir bawahnya. Nafas Ghea memburu bersama cairan bening yang menggenang di kelopak matanya.
Sadar apa yang dilakukan dirinya pada Ghea, Pak Gery meraup wajahnya kasar. Rasa cemburunya yang besar ketika Reza menggendong Ghea telah menyeruak pada rongga dadanya. Sehingga Pak Gery tidak menyadari apa yang telah ia lakukan.
"Maaf." Hanya itu yang mampu Pak Gery ungkapkan dari mulutnya. Ia tidak berani memandang wajah Ghea yang sudah merah padam. Bukan Ghea malu, melainkan ia kesal pada cowok yang telah menciumnya dengan kasar.
"Aku mau pulang!" ungkap Ghea memperbaiki duduknya menghadap ke jalan depan.
Jika dulu Ghea yang main sosor pada Pak Gery itu membuat kesenangan dalam dirinya, namun berbeda dengan saat ini. Ia merasa telah dilecehkan. Walau Pak Gery calon suaminya, tidak perlu cowok itu menciumnya dengan cara seperti itu bukan? Harusnya Pak Gery bermain dengan sangat lembut, karena ini adalah ciuman pertama Ghea.
Iya. Dulu kan yang Ghea lakukan bukan ciuman, tapi kecupan bibir saja.
Setelah menarik nafasnya dalam, Pak Gery melanjutkan perjalanannya. Ia berniat langsung mengantar Ghea pulang.
Setelah kepergian mobil itu, Reza membuka helmnya. Ia menatap sebuah foto yang ia dapatkan tadi seraya meremaas handphonenya dengan kuat. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi bengis.
"Lihat aja Pak Gery, apa yang akan gue lakukan dengan foto ini," ujar Reza dengan seringai di bibirnya.
TBC
Maaf telat up. Kalau komennya rame aku Up lagi nanti ya. wkwkaaa semangati aku dengan kesan kalian tayang.
Sambil menunggu cerita ini Up kembali. Intip profil aku, ya. Baca cerita aku yang lain.
Judul
-My enemy is my love / Gama-Elata (end)
-Zeasy (end)
mengecewakam
Sukses bwt karyanya