Mengisahkan seorang gadis yang berjuang membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya
Di umurnya yang ke 25 tahun, dia harus rela menyandang status sebagai janda.
Bagaimana kisah selanjutnya Sob.
Tetep pantengin nih novel, karena author insya alloh akan rajin update.
Budayakan tinggalkan Like and comment, karena itu sangat berarti for Author.
By. YINGJUN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKIN MEMBURUK
Sesampai di Rumah Sakit Sari Asih, Jono terlihat bahagia, Senyuman manis dan memabukan terpancar dari aura wajahnya yang sangat tampan dan rupawan.
Ketika mesin mobil di matikan, Jono terlihat membuka pintunya dengan tidak sabaran, rasa rindunya kepada sang Ayah membuat dia lupa dengan siapa dia berangkat menuju Rumah Sakit.
"Jon, tunggu. " ucap Adien yang melihat Jono berlari tanpa mau menunggu yang lainya.
"Biarkan saja, mungkin Jono sangat merindukan Ayahnya. " tutur sang kepsek.
Karena merasa cemas ke empat orang tersebut menyusul Jono masuk menuju receptionist, dengan nafas tergopoh-gopoh mereka akhirnya sampai tepat di belakang Jono.
"Bu, ruangan Bapak saya yang bernama Sujarwo di lantai 3 no 212 kan, " ucap spontan Jono pada petugas receptionist tersebut.
Dengan tanpa membuka buku laporan ruangan, sang receptionist pun tersenyum.
"I ya, betul sekali anak tampan. " jawabnya sambil mengusap kepala Jono.
Jono melihat ke empat orang di belakangnya, dan menarik Syarifah agar segera bergegas menemui Bapaknya di ruangannya.
"Ayo Bu, cepat Bu!" titah Jono yang mulai tak sabar.
"I ya, ya ." Jawabnya sambil mempercepat gerakan kakinya mengimbangi pergerakan Jono.
Selain cerdas Jono juga memiliki daya ingat yang tajam, semua itu terlihat ketika dia menemui receptionist, di depan lif pun dia tak terlihat seperti orang bingung, ke empat orang tersebut hanya mengikuti Jono dari belakang.
"Memang sudah berapa kali Jono kesini Bu?" tanya sang Wali Kelas pada Syarifah.
"Ini yang kedua kalinya Pak. " jawab Syarifah pada sang Wali Kelas.
Ketika pintu lif terbuka, Jono kembali berlari menuju kamar dimana Sujarwo di rawat. Ke empat orang itu hanya bisa pasrah mengikuti pergerakan Jono dengan mempercepat jalanya.
Dengan buku raport di tangan, senyuman pun terlihat mengembang, Jono ingin sekali memamerkan hasil belajarnya sebagai hadiah pada sang Bapak.
Tepat di depan pintu dimana sang Bapak di rawat, Jono menghirup nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan lembut.
Tangan Jono memegang knop pintu ruangan tersebut, akan tetapi tangan Jono tiba tiba terhenti ketika seseorang membuka pintunya dari arah dalam ruangan.
Sang Dokter masih merasa heran, kenapa ada seorang anak kecil di depan pintu kamar pasien.
"Cari siapa Dek?" tanya Dokter tersebut.
"Saya mencari Bapak Sujarwo, dia Bapak saya ." jawab Jono dengan tatapan takut pada sang Dokter.
Tak berselang lama munculah Syarifah bersama Wali Kelas dan kepseknya.
"Maaf Pak Dokter, Bagaimana keadaan Pak Sujarwo?" tanya Syarifah pada Dokter tersebut.
"Baik, Ibu dan Bapak ikut saya sebentar. " titahnya pada ketiga orang dewasa tersebut.
Sedangkan Adien dan Jono masih terdiam di depan pintu ruangan kamar menunggu ketiga orang dewasa tersebut selesai dalam pembicaraanya.
Tak ingin membuang waktu, Jono langsung memasuki kamar ingin menemui bapaknya.
Perlahan Jono mendekati bapaknya yang masih terlihat tertidur dengan tubuh yang di penuhi selang dan alat alat kedokteran.
Jono masih mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan, pandanganya terhenti ketika dia mendapati sebuah kursi kecil yang terdapat di pojok ruangan.
Jono terlihat menarik kursi itu dengan perlahan, tak mau mengganggu ayahnya yang terlihat tertidur pulas di matanya.
Setelah kursi itu jaraknya dekat dengan Jarwo, kini Jono menaikinya walau sedikit terlihat kesulitan karena memang kursi itu terlihat agak tinggi untuk ukuran anak kecil.
"Akhirnya... aku bisa duduk di samping Bapak. " ucapnya dengan senang.
"Bapak, apakah bapak tahu? , selama ini Jono kesepian. " ucapnya sambil memandang Jarwo.
"Bapak, lihatlah nilai Jono sangat bagus, bapak pasti senang kan?" ucap Jono kembali.
"Bapak, bapak, Jono kangen Bapak. " ucap Jono sambil menangis melihat Jarwo yang masih tidak bergeming.
"Besok hari ulang tahun Jono, Pak. Jono berharap Bapak bisa sembuh dan memeluk Jono.
Air mata terlihat terlihat menetes dari mata Jarwo yang terpejam, sebagai suatu reaksi atau respon alat indra yang terhubung ke otak.
"Maafkan Bapakmu nak, Bapakmu yang lemah ini belum bisa membuat kamu bahagia. "batin Jarwo yang mendengar kesedihan sang anak.
Tanpa di sadari Syarifah sudah mendengar semua yang di ucapkan Jono, hatinya sakit bagai teriris sembilu, melihat anak kecil yang polos berharap akan kesembuhan sang ayah yang kematianya sudah tidak lama lagi menurut Dokter.
Ternyata kabar sakitnya Jono sudah sampai ke negeri Arab, membuat Raja tidak bisa tidur di buatnya, dia langsung memesan tiket penerbangan super cepat yang gak pake lama untuk pergi menemui Jarwo yang sedang sakit parah.
Setelah semua siap Sang Raja Arab segera bergegas pergi menuju bandara di temani pihak keamanan yang bertugas melindunginya.
Perasaan cemas bercampur gelisah membuat sang raja tidak tenang dudk di pesawat.
"Berapa jam lagi kita akan sampai di indonesia?" tanya raja pada bawahanya.
"Masih lama baginda, mungkin kita masih butuh waktu sekitar 15 jam lagi untuk sampai kesana. " ucap petugas keamanan raja.
"Bagaimana bisa kita lambat sekali hahhh. "
Sebenarnya pesawat sudah melesat dengan kecepatan tinggi, tapi karena resah di hati sang baginda raja membuat semua terasa lambat.
"Besok ganti pesawatnya! , beli yang baru jangan seperti orang susah!"
"Iya baginda raja. " ucap salah satu pengabdinya.
"Ahhh… sial, kenapa informasi yang datang padaku bisa terlambat. " ucap sang baginda raja merutuki keadaan.
Sepanjang perjalanan Sang baginda raja terlihat gusar, dia tak bisa memaafkan kesalahanya seandai dia sampai terlambat datang menemui rekan bisnis yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya itu.
Kabar akan kedatangan sang baginda raja sudah sampai di telinga pemilik Rumah Sakit Sari Asih.
"Hahhhh…apa!, kita harus bergerak cepat menyambut kedatangan beliau kesini! " titahnya pada seluruh jajaran yang bertugas.
"I ya, Pak. " jawab pemimpin yang mengepalai staf staf jajaran tersebut.
Dengan mandat sang pemilik Rumah Sakit, mereka langsung bergerak dengan cepat.
Semua petugas terlihat sibuk bekerja menata dekor untuk penyambutan kedatangan sang baginda raja arab.
Sementara di lain tempat Jono masih terlihat menangis sambil memeluk Syarifah.
"Bu, apa Bapak Jono akan sembuh?" tanya nya pada Syarifah.
"Kita berdoa saja Jon, semoga Alloh memberi yang terbaik untuk Bapakmu. " jawabnya sambil mengusap ngusap kepala Jono.
Tak berselang lama Jarwo terlihat membuka matanya, dia memanggil manggil anak tampan harta satu satunya miliknya.
"Jon, jon." panggilnya dengan suara lirih.
"I ya, Bapak. Jono ada disini. " jawab Jon sambil memegang dan mencium punggung tangan Jarwo.
"Jon, kamu sehat nak? " tanya Jarwo pada Jono.
"Aku sehat Bapak, dan akan selalu sehat untuk Bapak. " jawabnya sambil mengusap air mata di pipinya. "
"Jon, jadilah anak pintar dan patuh kepada kakek, nenek dan orang-orang yang menyayangimu. "
"I ya, Pak. " jawabnya.
"Jon, Bapak sudah tidak kuat lagi, " ucapnya sambil mencoba menahan rasa sakitnya.
"Bapak jangan bilang seperti itu, Bapak akan segera sembuh. " jawabnya sambil menangis.
Terlihat notifikasi pada osilator menandakan sesuatu perubahan pada Jarwo.
"Bapak, bapak kenapa?" tanya Jono yang mulai terlihat cemas melihat keadaan Bapaknya.
Syarifah terlihat berlari mencari bantuan Dokter untuk memeriksa Jarwo yang tiba tiba mengerang kesakitan.
Sang Wali Kelas dan Kepsek masih terlihat cemas menunggu bantuan datang.
Tak berselang lama datang lah Dokter dengan beberapa perawat menghampiri Jarwo.
"Maaf, untuk keluarga pasien silahkan tunggu di luar! " titahnya pada orang-orang yang kebetulan menjenguk Jarwo.
Setelah mereka keluar dari ruangan tersebut, terlihat Dirmo, Suminah dan Dul Hamid batu saja datang.
Cekrek….
"Keluarga pasien, " tanya sang Dokter yang baru keluar dari ruangan Jarwo.
"I ya, Dokter. " jawab Dirmo dan Suminah bersamaan.
"Keadaan Pak Jarwo kini makin kritis, kita semua harus berdoa! " titahnya pada mereka.
"Iya, Dok. " jawab Dul Hamid.
GOOD😳❤
Semangat!🙏🙏🙏❤❤
sm dgn kenyataan hidup.disaat keingnan tercapai disertai kehilangan yg lain