Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi ini suasana rumah Ganendra terasa sibuk.
Melina di kamar ibu mertuanya membantu ibu mertuanya bersiap, memilih perhiasan dan pakaian.
Melina jugalah yang menyisir rambut mertuanya, dirinya baru merasakan ini-----karena semasa kecil dirinya tak pernah main salon-salonan bersama ibunya.
Baru kali ini Melina merasa jika mertuanya bagai ibu kandung baginya, dengan hati gembira tangannya merias wajah ibu mertuanya dengan makeup natural dan kekinian.
"Mama nanti paling gaul deh diantara temen mama," ujar Melina dengan bahagia merias ibu mertuanya.
"Hadeh, mama jadi kaya ABG lagi nih," kata Adisti dengan tersenyum, sementara Melina tertawa sambil membuat listik gaya ombre di bibir mertuanya.
Selesai Makeup, Adisti menelepon temannya dan Melina merapikan makeup di tangannya.
Wanita paruh baya itu mengenakan gaun indah berwarna violet dan rambut pirang sebahu, yang di buat gaya 'curly' menggunakan catokan.
Tepat pukul sembilan pagi, Adisti sudah bersiap menuruni tangga bersama Melina sambil bicara akrab.
"Kamu kenapa nggak ambil makeup artis aja, kenapa ambil bisnis?" tanya Adisti.
Melina tersenyum dan menjawab dengan ramah, keduanya berjalan di tengah tangga.
Saat mau menjawab pertanyaan mertuanya, tiba-tiba Ishan masuk rumah tanpa salam karena lelah baru pulang syuting.
Melina yang menatap Ishan seketika tubuhnya menjadi membeku, dan wajahnya pucat.
"Astagfirullah, tolong bantu hamba...suami hamba di rumah, hamba tak mengerti apa maksud suami hamba yang mengatakan 'hibur aku'. Hamba takut suami hamba menyiksa hamba lagi," batinnya yang mengatakan demikian.
Melina melamun, melihat Ishan yang menaiki tangga berpapasan dengannya dan Adisti.
"Ishan mungkin lelah," ucap Adisti menepuk bahu menantunya.
Mata Melina melihat tangan Adisti, lalu dirinya tersenyum.
"Mel...," panggil Adisti dengan lirih.
"Iya Ma," ucap Melina terbuyar akan lamunannya.
Adisti membelai pipi Melina, lalu tersenyum.
"Mama mau arisan dulu ya, Mel. Kamu di rumah aja, jangan ke mana-mana lagi libur kuliah kan?" titah Adisti sambil merapikan clutch merek Gucci di tangannya.
"Iya Mah," sahut Melina dengan patuh.
Setelah mencium tangan ibu mertuanya, Adisti langsung menaiki mobil dan keluar rumah.
Segera setelahnya Melina ke lantai bawah, segera ke lorong ke arah taman belakang untuk menuju kamarnya.
Hatinya tak menentu, karena ketakutan----apa dirinya akan di siksa lagi oleh Ihsan.
Setelah masuk kamar, tangan Melina segera mengunci pintu kamarnya.
Langkah kaki Melina terhenti di depan ranjang, di sana sudah tergeletak sebuah gaun satin berwarna biru muda dengan potongan yang minim.
Gaun pemberian dari Ishan, seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat nota di dalam bingkisan.
Tangannya meraih nota untuk melihat berapa harga gaunnya, namun belum sempat matanya mencerna maksud pemberian suaminya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar.
Dari Ishan.
"Sayang, tunggu aku di ruang tamu sekarang. Dan jangan lupa pakai baju yang sudah aku berikan yaa."— Ishan.
Melina menghela napas panjang, memegang dadanya mencoba menenangkan debar di dadanya.
Segera dirinya mengganti kaos dan celana pendeknya dengan gaun satin pemberian Ishan.
Gaun yang atasnya menyerupai kemben, memamerkan bahunya yang putih bersih, dengan rok yang hanya sampai setengah paha.
Rambutnya yang hitam panjang di biarkan tergerai, menutupi sebagian punggungnya yang polos tanpa bahan.
Melina yang merasa canggung seketika mengigit bibirnya.
Jujur dirinya terlalu polos, tak mengerti maksud suaminya. Ishan bilang ingin dirinya menghibur Ishan.
Apa maksudnya menghibur, apa dirinya harus menyiapkan sebuah permainan papan catur atau membuat lawakan.
Langkahnya pelan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu hanya kosong, Melina menatap tak ada siapapun.
Kakinya yang mau melangkah lagi, tiba-tiba tubuhnya bergetar tatkala sosok dua tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang.
Ishan dengan jambang tipis mencium leher dan pundak Melina----Melina merasakan sensasi geli dan seketika ada setruman menjalar dari leher, bahu menuju otaknya.
Ishan mengenakan kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka, di padukan dengan celana kain hitam formal-----tanpa banyak bicara Ishan berbisik dengan nada sensual di telinga istrinya.
"Ayo hibur aku," bisiknya mencium leher dan bahu Melina.
"Aku nggak ngerti Mas," ucap Melina dengan polos.
Mendengar itu Ishan hanya terkekeh, lalu mengarahkan ke ruang tamu.
Ruang tamu dengan lantai marmer yang mengkilap, Ishan membimbing Melina untuk duduk di atas meja marmer yang dingin.
Ishan berdiri di hadapan Melina, sementara Melina kakinya melingkar ke pinggang Ihsan.
"Mas...jangan disini, nggak enak di liat Bi Nisa," ucap Melina dengan gugup.
"Kenapa, hemm? malu?" tanya Ihsan.
"Bi Nisa aku suruh belanja, dan yang lain aku suruh membersihkan taman."
Melina menelan salivanya tak berani menatap mata suaminya, karena penuh intimidasi.
Secara naluriah, Melina melingkarkan kakinya di pinggang Ishan agar tak jatuh----namun Melina sedikit berani menatap mata Ishan---tatkala tak terlihat amarah lagi, melainkan kelembutan.
Posisi wajah keduanya begitu dekat, hingga napas keduanya saling beradu.
Ruang tamu yang biasanya dingin, kini terasa panas karena aktivitas yang akan di lakukan Ihsan dan Melina.
Mata Melina menatap dalam ke netra hijau Ihsan, mencari jawaban kenapa mendadak pria itu berubah akan sikapnya.
Di sisi lain, Ishan menatap istrinya dengan pandangan sulit diartikan----ada rasa bersalah, kagum dan gairah semuanya menyatu.
Di bawah lampu gantung kristal yang mewah, keduanya akan melakukan ibadah.
Melina tiba-tiba langsung menyambar bibir Ihsan dengan bibirnya, begitu juga Ihsan langsung menyambar bibir Melina.
Tangan Melina melingkar di kepala Ihsan saat melakukan adegan ciuman, langsung Ishan berbisik menyuruhnya menidurkan diri------di atas meja marmer itu.
Ihsan langsung membuka gorden, di antara dua pilar milik istrinya.
Disana ada lembah tersembunyi milik Melina, langsung Ishan merasakan manisnya lembah itu dengan lidah dan bibirnya.
Melina baru pertama kali merasakan Ihsan melakukan ini, hanya bisa mengigit bibirnya.
Matanya menatap ke langit-langit, ada aliran listrik yang menjalar dari pangkal paha hingga ujung gunung miliknya.
Tangannya di taruh di kepala Ihsan sebelum melakukan berkuda, Melina memejamkan matanya.
Di ujung lembah sana terasa menjalar sampai hatinya, ada rasa tenang, enak, dan nikmat yang tak bisa diabaikan.
buat ishan di tunggu penyesalanmu.
pada saat penyesalan itu tiba jng beri maaf.apalagi nanti berdahlil anak.ishan aja raguin anaknya.
mohon maaf ya thor jng Samapi Melina balik sama ishan ya.tubuhnya saja sdh kotor bgt tidur sama si Livia.
heran Artis tp bodohnya minta ampun hadehhhh