Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Aerin pun mengikuti langkah Xavier dengan cara melayang hingga akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil.
“Buka pintu gerbang, saya mau keluar sebentar,” ucap Xavier.
Penjaga gerbang pun langsung membukakan pintu. Perlahan mobil itu meninggalkan pekarangan mansion Navara.
Mobil itu melesat dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang dihiasi lampu-lampu.
30 menit kemudian...
Mobil hitam milik Xavier berhenti di sebuah gedung tua yang tampak kosong dari luar. Bangunannya berdiri sunyi di tengah kawasan industri yang sudah lama tidak beroperasi lagi. Bahkan lampu-lampunya pun menyala dengan redup, sehingga menciptakan suasana yang dingin, menekan dan mencekam.
Tetapi, di balik gedung utama itu, terdapat sebuah gudang besar yang selama ini selalu digunakan oleh Xavier untuk menghukum orang-orang yang telah berani mengkhianatinya ataupun yang berani bermain-main dengan dirinya.
Dan sekarang, gudang tua itu digunakan untuk menghukum orang yang sudah membuat istrinya itu menderita.
Di dalam gudang, terdapat beberapa ruangan, salah satunya, ruangan untuk menghukum orang yang suah berani menyakiti istrinya.
Dalam ruangan itu, empat sosok perempuan tampak terduduk lemah di lantai beton yang dingin dengan tangan yang terikat ke belakang.
Kondisi mereka terlihat kacau. Wajah pucat, rambut berantakan hingga menutupi sebagian wajah mereka.
Mereka adalah Agens, Riany, Frenda dan Grace.
Keempatnya masih merasakan nyeri hampir seluruh tubuh akibat perlakuan Violet sebelumnya. Tangan mereka yang mengalami cedera harus diikat ke belakang oleh anak buah Xavier. Sehingga membuat semakin terasa sakit.
Wajah yang pucat dengan napas yang tak beraturan, terus berteriak meminta dilepaskan sejak tadi hingga suara mereka terdengar serak dengan mengabaikan rasa sakit yang kian menjadi.
“Tolong! Lepaskan kami!”
“Kami tidak bersalah! Seharusnya kalian menangkap Violet, bukan kami!”
“Kami korban dari keganasan Violet!”
Mereka terus berteriak menyalahkan Violet.
“DIAM!” bentak salah satu anak buah Xavier yang berbadan kekar, dengan goresan luka di alisnya.
Agnes, Riany, Frenda dan Grace, langsung terdiam mendengar bentakan itu.
Tetapi dalam hati, mereka terus mengutuk Violet.
“Ini semua salah Violet.”
“Kenapa sekarang dia jadi bertambah kuat, ah sial. Seharusnya aku buat dia terus dipermalukan di hadapan murid-murid.”
“Awas saja, Violet. Kalau kami keluar dari sini, kami akan membuatmu lebih menderita.”
Di luar gudang...
Pintu mobil berwarna hitam itu terbuka.
Xavier turun dengan langkah yang tenang.
Ia mengenakan kemeja hitam polos yang pas membalut tubuh tegapnya. Lengan baju digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh. Dua kancing baju paling atas dibiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun karismatik yang terpancar sangat berwibawa.
Topeng hitam yang selalu menjadi ciri khasnya pun masih menutupi sebagian wajahnya.
Meski demikian, aura dingin yang terpancar darinya jauh lebih mengintimidasi daripada wajahnya sendiri.
Seluruh penjaga yang berjaga di sekitar gudang secara spontan langsung menundukkan kepala begitu melihat Xavier.
“Tuan/Tuan.”
Tak seorang pun berani mengangkat wajahnya untuk menatap bos mereka lebih dari beberapa detik.
Sementara itu...
Aerin yang tidak terlihat oleh siapapun melayang mengikuti Xavier dari belakang.
Ia mengamati setiap sudut gudang sambil menggenggam sebuah kantong kecil berisi sebuk gatal tingkat tinggi.
“Tenang saja, Vio,” gumam Aerin pelan. “Aku akan menjalankan tugas ini setelah Xavier selesai.”
Tak lama kemudian...
Kelvin yang sejak tadi berjaga di depan pintu ruangan pun segera melangkah mendekat ke arah Xavier.
Ia sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan.
“Mereka berada di dalam, Tuan.”
Tatapan Xavier tetap datar.
Seolah laporan itu sama sekali tidak memengaruhi pikirannya.
Suasana seketika hening, sebelum akhirnya dua kata keluar dari mulut Xavier.
“Buka pintunya.”
“Baik, Tuan.”
Kelvin segera memberi isyarat kepada dua penjaga yang bertubuh kekar untuk membuka pintu besi ruangan itu.
Kreeeekk...
Suara gesekan pintu besi yang berkarat memecah kesunyian, hingga akhirnya terbuka lebar.
Keempat gadis yang berada di dalam spontan mengangkat kepala.
Begitu melihat sosok pria bertopeng memasuki ruangan, bukannya terlihat panik, namun justru sangat senang.
“Tuan.. Anda datang...”
“Anda pasti akan membebaskan kami kan...”
“Seharusnya Violet yang berada di sini, bukan kami Tuan.”
“Betul itu, Tuan. Kami justru di sini sebagai korban karena perlakuan Violet pada kami.”
Namun Xavier hanya diam, mendengar suara-suara mereka yang terdengar seperti nyamuk.
Tetapi, ketika mendengar nama istrinya disebut, tatapan Xavier langsung berubah menjadi tatapan dingin dan ingin menguliti orang yang menyalahkan istrinya.
“Kalian masih punya tenaga untuk menyalahkan orang lain.”
Suara itu pelan, namun terdengar memiliki aura yang menusuk.
Keempat gadis itu refleks gemetar.
“Ti-tidak, Tuan. Kami..” ucap Agnes dengan melihat ke arah teman-temannya secara bergantian.
“Kami hanya mencoba mendapat keadilan, Tuan,” ucap Frenda dengan lugas.
Xavier menarik sudut bibirnya. Tersenyum. Namun, senyum mematikan.
“Keadilan... bagaimana jika kita mencoba untuk keadilan Violet dan juga teman-teman yang lain, yang sudah kalian berempat rampas kebahagiaan mereka,” ucap Xavier namun langsung menusuk ke dalam dada mereka.
Mereka yang mendengar itu, mulai merasakan hawa dingin.
“T-tuan... Anda... jangan macam-macam sama kami.”
“Kami bisa melaporkan Tuan kepada polisi atas penculikan terhadap kami.”
“Silakan laporkan jika kalian mampu. Tetapi, saya bisa melaporkan kalian kembali atas pembullyan yang kalian lakukan terhadap teman kalian selama 3 tahun ini, lalu melakukan pencekokian terhadap teman kalian, dan juga tindakan asusila yang kalian lakukan. Kalian tidak akan bisa lolos begitu saja, umur kalian sudah legal. Dan itu, kalian bisa terancam pidana,” ucap Xavier yang mampu membuat mereka langsung terdiam.
“Tetapi, kalian beruntung. Saya tidak akan melaporkan kalian,” mereka yang mendengar ini terasa lega. Tetapi, Xavier belum selesai berbicara. “Tetapi... kalian akan merasakan bagaimana yang dirasakan oleh teman-teman kalian, hingga mereka trauma.”
Mereka langsung terkejut dan mulai terlihat ketakutan di mata mereka.
“Kelvin, siapkan semua alat,” titah Xavier.
“Baik, tuan.”
Kelvin bersama kedua bodyguard mulai menyiapkan semua alat itu. Mulai dari gunting, tang dan juga yang lainnya.
“Semua sudah siap, Tuan,” ucap Kelvin.
Xavier pun segera berdiri dan berjalan ke arah meja yang di atasnya sudah berisi alat-alat.
Pertama, Xavier mengambil gunting. Lalu memutar badannya dan mulai berjalan ke arah mereka berempat.
Xavier pun berjongkok di depan mereka. “Kalian tahu, apa yang saya pegang?”
“T-tuan, tolong... jangan... lakukan apapun pada kami. Kami janji.. kami tidak akan mengulanginya lagi.”
Xavier menarik sudut bibirnya. “Sekarang kalian menyesal. Sedangkan tadi, kalian sibuk menyalahkan Violet. Sekarang kalian harus merasakan apa yang korban bully kalian rasakan.”
Xavier segera menarik rambut Grace. “Dulu, kalian menggunting rambut korban dengan asal hingga korban ketakutan. Sekarang bagaimana jika kalian merasakannya.”
Xavier perlahan mulai memotong rambut Grace, helai demi helai, rambut itu terjatuh ke lantai. Grace yang melihat rambutnya yang berada di lantai pun mulai menangis. Rambut yang selalu menjadi kebanggaannya, kini terpotong tak beraturan oleh orang yang tidak ia ketahui namanya siapa.
“Bagaimana perasaanmu? Sedih? Itu yang mereka alami karena kalian menggunting rambut korban bullyan kalian.”
Kemudian, Xavier beralih pada Frenda. Ia mulai bergerak mundur. “Saya belum apa-apa kan kamu, kenapa langsung mundur?”
...To be continued......