Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Pesisir dan Denting Pedang
Suasana di bagian belakang istana Aethelgard terasa berbeda sore itu. Gudang logistik yang biasanya menjadi pusat keriuhan kecil bagi Aurelia, kini tampak sunyi.
Bagi anak berusia sepuluh tahun seperti Aurelia, kehilangan Lucas bukan berarti kehilangan cinta, melainkan kehilangan satu-satunya teman yang bisa membuatnya merasa bukan seperti seorang putri yang kaku.
Aurelia duduk di atas tumpukan kayu di dekat gudang, matanya menatap hampa ke arah jalan setapak yang menuju ke luar istana. Di tangannya, ia memegang sebuah peta kecil yang sudah agak lecek.
"Masih di sini, Lia?" suara lembut Elara memecah lamunan Aurelia.
Elara, sepupu Aurelia yang terpaut beberapa tahun lebih tua, berjalan menghampiri dengan gaya anggun. Ia melihat wajah sepupunya yang tidak seceria biasanya. "Aku mencarimu ke ruang musik, tapi gurumu bilang kau menghilang sejak jam istirahat."
Aurelia menghela napas, suaranya terdengar datar. "Lucas sudah berangkat kemaren, Kak Elara. Dia tidak akan kembali untuk waktu yang lama."
Elara duduk di samping Aurelia, merapikan gaunnya agar tidak terkena debu kayu. "Begitukah? Jadi teman bermainmu itu benar-benar pergi?"
Aurelia mengangguk pelan. "Iya. Dia bilang ayahnya baru saja mendapatkan kontrak besar untuk mengelola jalur logistik di wilayah pesisir. Itu tanggung jawab yang sangat penting, makanya seluruh keluarganya harus pindah ke sana agar pekerjaannya lancar. Lucas bilang dia harus ikut membantu ayahnya belajar mengurus peti-peti barang di pelabuhan."
Aurelia menunduk, memainkan ujung peta di tangannya. "Biasanya kalau jam begini, kami sudah bersiap-siap untuk menyelinap ke pasar rakyat. Dia tahu semua jalan pintas agar tidak ketahuan pengawal. Sekarang, aku tidak tahu harus mengajak siapa kalau ingin melihat keramaian di luar sana. Istana ini terasa sangat membosankan kalau hanya ada pelayan yang menyuruhku duduk tegak."
Elara tersenyum tipis melihat kejujuran sepupunya. Ia merangkul bahu Aurelia, mencoba menyalurkan semangat.
"Jangan sedih begitu, ‘Lia’ (sapaan akrab Putri Aurelia). Ini hal yang bagus untuk Lucas dan keluarganya. Kontrak besar di pesisir itu artinya mereka dipercaya oleh kerajaan. Dan untukmu... yah, mungkin ini saatnya kau belajar mandiri tanpa harus selalu bergantung padanya untuk kabur ke pasar."
"Tapi pasar itu tidak asyik kalau sendirian, Kak," gumam Aurelia.
"Aku tahu. Tapi dengar, Lucas pergi untuk menjadi orang yang lebih hebat, kan? Membantu ayahnya di pelabuhan itu pekerjaan ksatria juga, meski tanpa pedang. Kau juga harus begitu. Jangan hanya meratapi gudang yang kosong ini. Tunjukkan padanya saat dia kembali nanti bahwa kau sudah menjadi putri yang jauh lebih pintar dan tangkas," hibur Elara dengan nada menyemangati.
---
Keheningan percakapan mereka terganggu oleh suara teriakan lantang dari arah lapangan latihan utama. Pangeran Theo sedang beraksi di sana. Bagi Theo, setiap detik dalam hidupnya adalah panggung untuk memamerkan betapa berbakatnya dia dalam bidang militer.
Aurelia dan Elara berjalan menuju balkon yang menghadap ke lapangan. Di bawah sana, Theo sedang memegang pedang latihan yang cukup berat, namun ia mengayunkannya dengan sangat ringan. Ia baru saja menjatuhkan dua prajurit penjaga dalam latihan tanding yang cukup intens.
"Kalian lihat itu?!" seru Theo sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi saat menyadari kehadiran Aurelia di balkon. Wajahnya yang berminyak karena keringat tampak berseri-seri penuh kemenangan.
Theo berlari kecil menghampiri bawah balkon, tidak mempedulikan napasnya yang masih terengah-engah. "Aurelia! Kau melewatkan bagian terbaiknya! Tadi aku menggunakan teknik Viper Striking. Instruktur bilang, bahkan ksatria dewasa pun jarang ada yang bisa menguasai keseimbangan kaki sepertiku."
Aurelia hanya menatapnya dengan pandangan malas. "Kau sudah menjatuhkan boneka jerami itu sepuluh kali hari ini, Theo. Bukankah itu melelahkan?"
Theo tertawa sombong, menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya angkuh. "Lelah? Seorang ksatria tidak mengenal kata lelah, Putri Aureia! Bakat pedang ini adalah harga diriku.
Suatu saat nanti, namaku akan terukir di sejarah sebagai penakluk dari Valerius. Aku tidak perlu menghabiskan waktu di tempat-tempat tidak berguna seperti pasar rakyat atau gudang berdebu. Dunia ini akan tunduk pada tajamnya pedangku!"
Theo sama sekali tidak tahu tentang Lucas, dan dia tidak peduli. Baginya, siapa pun yang tidak bisa memegang pedang atau tidak memiliki status bangsawan yang tinggi hanyalah bayangan yang tidak perlu diingat.
Ia terus pamer tentang betapa mahalnya logam pedangnya dan bagaimana ayahnya akan membelikannya baju zirah berlapis perak tahun depan.
"Lihat saja, Aurelia. Saat aku memimpin pasukan nanti, kau akan memohon agar aku melindungimu dengan kehebatanku ini!" Theo menambahkan dengan nada sok pahlawan sebelum kembali ke tengah lapangan untuk pamer lagi di depan prajurit lainnya.
---
"Dia benar-benar berisik, ya?" bisik Elara setelah Theo menjauh.
Aurelia hanya bisa memutar bola matanya. "Dia pikir pedang bisa menyelesaikan segalanya. Dia tidak tahu bahwa berjalan di antara kerumunan pasar rakyat tanpa ketahuan itu jauh lebih sulit daripada menebas boneka jerami."
Aurelia kembali teringat pada Lucas. Kontras antara kesombongan Theo dan ketulusan Lucas terasa begitu nyata. Lucas tidak pernah pamer bakat, tapi dia selalu ada saat Aurelia membutuhkannya.
"Ayo, Lia. Daripada melihat Theo yang terlalu mencintai bayangannya sendiri, lebih baik kita ke perpustakaan. Mari kita cari tahu di bagian mana tepatnya wilayah pesisir itu berada di peta besar," ajak Elara lagi.
Aurelia akhirnya bangkit, senyumnya mulai kembali meski tipis. Sebelum meninggalkan area belakang, ia sempat melirik sekilas ke arah pohon apel besar yang berdiri kokoh di dekat pagar gudang.
Di sana, di bawah tanah yang lembap, tertanam sebuah kotak kayu yang berisi harta karun masa kecil mereka. Theo boleh saja pamer pedang peraknya, tapi Aurelia punya sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah rahasia dan janji yang terkubur rapat, yang tidak akan pernah bisa ditebas oleh pedang manapun.
"Tunggu aku, Lucas," batin Aurelia sambil melangkah mengikuti Elara. "Aku akan belajar banyak hal di sini, sampai kau kembali dari pesisir nanti."
---