Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pengadilan Aspal
Guntur berdiri di tengah gudang yang sudah berantakan. Napasnya memburu, uap panas seolah keluar dari tubuhnya yang bersimbah darah. Setelah memastikan Bapaknya aman dalam perlindungan ribuan driver ojek di luar, Guntur berbalik. Matanya tertuju pada sebuah ruangan kaca di lantai dua gudang itu.
Di sana, Rian berdiri dengan wajah pucat, memegang pistol dengan tangan gemetar. "Guntur! Berhenti di situ! Satu langkah lagi, saya tembak kepala kamu!" teriak Rian dari balik kaca.
Guntur tidak berhenti. Dia mulai menaiki tangga besi satu per satu. Setiap langkahnya menimbulkan suara dentuman logam yang mencekam.
TANG! TANG! TANG!
Rian melepaskan tembakan. DOORRR! Peluru itu menyerempet bahu Guntur, tapi Guntur bahkan tidak berkedip. Amarahnya sudah menjadi perisai yang lebih kuat dari baja.
BRAAAKKKK!
Guntur menghantam pintu kaca itu hingga hancur berkeping-keping. Rian mencoba menembak lagi, tapi dengan gerakan kilat, Guntur mencengkeram pergelangan tangan Rian.
KRAAAKKKK!
Suara tulang pergelangan tangan Rian yang patah terdengar sangat renyah. Pistol itu jatuh ke lantai. Rian menjerit kesakitan, tapi Guntur langsung mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya ke udara.
"Kamu pikir uang kamu bisa beli nyawa Bapak saya?" bisik Guntur tepat di depan wajah Rian. Suaranya rendah, mirip geraman binatang buas.
Guntur menghantamkan tubuh Rian ke meja kerja kayu yang tebal.
Dhuuuaaarrrr!
Meja itu hancur berantakan. Guntur tidak berhenti. Dia menarik kerah baju Rian dan melayangkan pukulan beruntun ke wajah pria sombong itu.
BUGH! BUGH! BUGH!
Darah segar menyemprot ke baju kemeja putih Guntur. Rian mencoba melawan dengan memukul perut Guntur, tapi Guntur sama sekali tidak bergeming. Dia malah menangkap kepala Rian dan menghantamkannya ke dinding beton.
DESSSSSS!
Tembok beton itu sampai retak. Rian merosot ke lantai, matanya sayu, hidungnya sudah bergeser dari tempatnya. Guntur mengambil sebotol minuman keras mahal dari meja Rian yang tersisa, lalu menyiramkannya ke luka-luka Rian.
"AAARRRGGGHHHH! SAKIIITTT!" jerit Rian histeris.
Guntur berjongkok di sampingnya. "Sakit? Ini belum seberapa dibanding rasa takut Bapak saya tadi. Di jalanan, kami punya hukum sendiri buat orang macam kamu."
Guntur menarik Rian menuju balkon lantai dua yang terbuka, langsung menghadap ke ribuan lampu motor ojek yang sudah menunggu di bawah. Rian melihat lautan manusia berjaket hijau yang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Lihat mereka, Rian. Mereka yang kamu sebut rakyat jelata, mereka yang kamu remehkan. Hari ini, mereka adalah saksi kehancuranmu," ucap Guntur.
Guntur mengangkat Rian tinggi-tinggi di pinggir balkon. Rian menangis tersedu-sedu, memohon ampun dengan suara yang nyaris hilang. "Tolong... Guntur... saya kasih kamu uang... saya kasih perusahaan saya... tolong jangan lempar saya!"
Guntur menatap Rian dengan dingin. "Naga nggak butuh uang harammu. Naga cuma butuh keadilan."
Guntur melepaskan cengkeramannya. Rian terjatuh dari lantai dua, mendarat tepat di atas tumpukan ban bekas di bawah.
BRUKKKKK!
Belum sempat Rian bernapas lega, ribuan driver ojek langsung mengepungnya. Tidak ada teriakan, hanya suara kepalan tangan dan sepatu yang beradu dengan tubuh.
BUGH! PLAK! DES! KRAK!
Guntur berjalan turun dengan langkah gontai. Dia tidak melihat ke belakang lagi. Baginya, Rian sudah mati secara harga diri dan fisik di aspal Jakarta. Vanesha tiba-tiba muncul dari kerumunan, dia langsung memeluk Guntur yang penuh luka.
"Guntur... cukup. Semua sudah berakhir," tangis Vanesha pecah di pundak pria yang biasanya selalu melucu itu.
Guntur terdiam sejenak, lalu tangannya yang gemetar mengelus rambut Vanesha. "Nggeh, Mbak V... semua sudah selesai. Naga mau pulang... mau makan masakan Ibu."
Malam itu, Cakung menjadi saksi bisu pengadilan aspal yang paling brutal dalam sejarah Jakarta. Sang Naga Sidoarjo telah menyelesaikan tugasnya. Dia bukan hanya memenangkan kontrak bisnis, tapi dia telah memenangkan perang harga diri yang paling berdarah.
Rian terkapar di atas tumpukan ban bekas dengan kondisi yang tidak lagi menyerupai manusia. Ribuan driver ojek masih mengepungnya dengan tatapan lapar, seolah menunggu instruksi terakhir dari pemimpin mereka. Guntur berjalan mendekat dengan langkah berat, darah menetes dari ujung jemarinya.
"Minggir semua," perintah Guntur singkat. Suaranya serak tapi penuh otoritas.
Lautan manusia berjaket hijau itu langsung terbelah, memberi jalan bagi Sang Naga. Guntur berjongkok di depan Rian yang hanya bisa mengerang kesakitan, matanya sudah tertutup bengkak.
"Kamu dengar ini baik-baik, Rian," bisik Guntur sambil mencengkeram rahang Rian yang sudah miring.
KREEEEKKKK!
Guntur menekankan jempolnya ke luka di wajah Rian tanpa ampun. "Aaaaaakkkhhhh!" jerit Rian tertahan, suaranya sudah seperti orang tercekik.
"Mulai detik ini, nama kamu sudah mati di Jakarta. Jangan pernah berani injakkan kaki di aspal mana pun, atau kamu bakal berakhir di dalam semen fondasi jembatan," ucap Guntur dingin.
Guntur berdiri, lalu menoleh ke arah kerumunan massanya. "Bawa orang ini ke kantor polisi paling jauh! Serahkan semua bukti penculikan dan penggelapan dana yang sudah disiapkan V-Group! Biar dia membusuk di penjara setelah kalian beri 'kenang-kenangan' sedikit lagi di perjalanan!"
BUGH! PLAK! DES!
Beberapa tendangan terakhir mendarat di tubuh Rian sebelum dia diseret paksa masuk ke dalam bak mobil pikap oleh para driver ojek. Suasana gudang yang tadinya penuh amarah perlahan mulai mereda, berganti dengan deru ribuan mesin motor yang melakukan victory lap.
Vanesha mendekati Guntur, menyodorkan sapu tangan mahalnya untuk menyeka darah di wajah pria itu. "Kamu terluka parah, Guntur. Kita ke rumah sakit sekarang."
Guntur cuma menggeleng lemah sambil mencoba tersenyum, meski sudut bibirnya robek. "Nggeh, Mbak V... tapi habis ini belikan saya rokok kretek satu slop ya. Paru-paru saya butuh asupan nikotin buat menetralisir bau keringat para preman tadi."
Vanesha tertawa kecil di tengah isak tangisnya. Dia memeluk lengan Guntur erat, tidak peduli jas mahalnya terkena noda darah dan debu. "Dasar koclok! Lagi sekarat masih sempat-sempatnya mikirin kretek!"
Bapaknya Guntur mendekat, merangkul pundak anaknya dengan bangga. "Le... bapak bangga sama kamu. Kamu memang Naga, tapi kamu naga yang punya hati."
Guntur terdiam, menatap ribuan lampu motor yang mulai meninggalkan Cakung satu per satu. Malam ini, aspal Jakarta telah mencatat sejarah baru. Bahwa kekuasaan uang setinggi langit akan selalu tumbang jika berhadapan dengan persaudaraan yang mengakar di bumi.
Sang Naga Sidoarjo telah kembali, bukan sebagai ojek pangkalan biasa, melainkan sebagai penguasa aspal yang sesungguhnya. Dan bagi siapa pun yang berani mengusik keluarganya lagi, mereka sudah tahu neraka macam apa yang akan menjemput mereka.