Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Pagi itu, suasana apartemen masih tenang ketika Linda selesai memandikan Kirana. Tubuh kecil itu kini sudah bersih, wangi, dan mengenakan pakaian yang rapi. Rambutnya yang halus disisir perlahan oleh Linda, lalu diberi jepit kecil agar tidak mengganggu wajahnya. Kirana tampak segar, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu seperti biasa.
Di sisi lain, Erlan baru saja selesai mencuci muka. Ia keluar dari kamar mandi sambil mengusap wajahnya dengan handuk, lalu langsung tersenyum begitu melihat Kirana yang sudah siap beraktivitas.
“Kirana mau jalan-jalan pagi?” tanyanya dengan suara lembut, berjongkok agar sejajar dengan putrinya.
Kirana menoleh, lalu tersenyum lebar. “Ja…lan,” ucapnya terbata-bata, mencoba menirukan kata yang sering ia dengar.
Erlan terkekeh kecil. “Pintar sekali. Ayo, kita jalan-jalan.”
Linda yang mendengar percakapan itu hanya melirik sekilas. Ia tidak keberatan, justru merasa itu kesempatan baik bagi Erlan untuk lebih dekat dengan Kirana.
“Hati-hati ya,” kata Linda singkat.
Erlan mengangguk. “Tenang saja.”
Tanpa menunggu lama, ia menggendong Kirana dan berjalan keluar apartemen. Lift yang mereka tumpangi masih sepi, hanya suara mesin yang terdengar pelan mengiringi perjalanan mereka ke lantai dasar.
Begitu sampai di bawah, udara pagi yang segar langsung menyambut. Erlan menghirup napas dalam-dalam, merasa suasana seperti ini jarang ia nikmati sebelumnya.
“Kita keliling sebentar ya,” ucapnya.
Kirana hanya menatap sekeliling dengan mata berbinar. Dunia di luar apartemen terasa seperti tempat baru baginya.
Saat mereka mulai berjalan di area komplek, beberapa orang yang kebetulan melintas tampak memperhatikan. Tatapan mereka berubah menjadi sedikit kaget saat menyadari siapa Erlan.
“Mas Erlan?” bisik seseorang pelan.
“Dia… bawa anak?” sahut yang lain dengan nada tidak percaya.
Erlan yang menyadari tatapan itu hanya tersenyum tipis. Ia tidak terlalu mempedulikan apa yang orang pikirkan. Fokusnya saat ini hanya pada Kirana.
Setelah sampai di taman kecil di dalam komplek, Erlan menurunkan Kirana perlahan.
“Hati-hati ya,” katanya sambil memegang tangan kecil itu.
Kirana langsung melangkah pelan, kakinya yang mungil bergerak dengan penuh rasa penasaran. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, seperti ingin memahami setiap hal di sekitarnya.
Erlan berjalan di dekatnya, sesekali menjauhkan benda-benda kecil yang bisa berbahaya.
“Ini tidak boleh diambil,” katanya sambil menyingkirkan batu kecil dari jalur Kirana.
Kirana berhenti, lalu menatap bunga di dekatnya. Ia berjongkok dan memetik satu dengan hati-hati.
Erlan tersenyum. “Itu bunga mawar.”
“Maa…war,” ulang Kirana, meskipun pelafalannya masih belum jelas.
“Bagus,” puji Erlan. “Kalau yang itu, kamboja.”
“Kabo…ja,” ucap Kirana lagi.
Erlan tertawa pelan. “Pelan-pelan saja. Nanti juga bisa.”
Mereka melanjutkan langkah. Kirana kini memegang beberapa bunga kecil di tangannya, terlihat sangat puas dengan “temuannya”.
Tak lama kemudian, perhatian Kirana teralih pada sesuatu yang bergerak.
Seekor anjing peliharaan milik salah satu penghuni apartemen sedang berjalan santai bersama pemiliknya.
Kirana berhenti, matanya membesar. “An…jing,” katanya dengan suara kecil.
Erlan mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum. “Mau lihat?”
Kirana mengangguk cepat.
Erlan pun mendekat sambil menyapa pemilik anjing tersebut. “Pagi.”
“Pagi,” jawab pria itu ramah.
“Anak saya mau lihat anjingnya, boleh?” tanya Erlan sopan.
“Tentu saja boleh,” jawab pria itu sambil tersenyum melihat Kirana. “Lucu sekali anaknya.”
Erlan menurunkan Kirana lebih dekat. “Pelan-pelan ya.”
Kirana mengulurkan tangan kecilnya dengan ragu, lalu menyentuh bulu anjing itu. Wajahnya langsung berubah ceria.
“Hehe…”
Pria itu terkekeh. “Namanya siapa?”
“Kirana,” jawab Erlan. “Umurnya tiga tahun.”
“Wah, masih kecil ya. Tapi sudah berani.”
Erlan mengangguk. “Dia memang suka hal baru.”
Pria itu kemudian memandang Erlan sedikit lebih lama, seperti baru menyadari sesuatu. “Saya baru tahu Mas sudah punya anak.”
Erlan tersenyum tipis. “Belum banyak yang tahu.”
“Sudah menikah?” tanya pria itu dengan hati-hati.
Erlan menggeleng. “Belum.”
Pria itu terlihat sedikit bingung. “Oh…”
Erlan menarik napas pelan, lalu berkata dengan jujur, “Saya baru tahu beberapa waktu lalu kalau saya punya anak. Ibunya… mantan saya.”
Pria itu terdiam sejenak, mencerna.
“Saya ingin memperbaiki semuanya,” lanjut Erlan. “Saya ingin menikahinya. Saya ingin hidup bersama mereka.”
Ekspresi pria itu melunak. “Itu keputusan yang baik.”
Erlan mengangguk. “Saya harap bisa berhasil.”
“Semua orang pernah melakukan kesalahan,” kata pria itu. “Yang penting bagaimana kita bertanggung jawab setelahnya.”
Erlan tersenyum kecil. “Benar.”
“Semoga lancar ya,” tambah pria itu.
“Terima kasih.”
Setelah itu, Kirana kembali berjalan, meninggalkan anjing yang kini ia anggap teman baru.
Beberapa penghuni lain mulai berdatangan ke taman. Mata mereka langsung tertuju pada Kirana yang berjalan dengan langkah kecil namun penuh percaya diri.
“Lucu sekali,” ujar seorang wanita.
Bahkan ada yang mendekat. “Boleh digendong?”
Erlan melihat Kirana yang tampak nyaman, lalu mengangguk. “Boleh, asal dia tidak keberatan.”
Wanita itu menggendong Kirana dengan hati-hati. “Halo, cantik.”
Kirana tertawa kecil.
Tak lama, orang lain ikut mendekat. Mereka bergantian menggendong Kirana, seolah-olah ia menjadi pusat perhatian pagi itu.
“Aduh gemas sekali,” kata seseorang sambil mencubit pipinya pelan.
Erlan hanya mengamati dengan senyum. Ia tidak merasa terganggu. Justru ada rasa hangat melihat orang lain menyayangi putrinya.
Beberapa dari mereka bahkan memberikan camilan kecil.
“Boleh ya?” tanya salah satu dari mereka.
Erlan mengangguk. “Sedikit saja.”
Kirana menerima dengan senang hati, mengunyah dengan lahap.
Ada juga yang mengajak Kirana bermain dengan hewan peliharaan mereka. Kirana terlihat menikmati setiap momen, seolah-olah dunia ini adalah taman bermain besar untuknya.
Setelah cukup lama, satu per satu dari mereka pamit.
“Sudah mau kerja,” kata seorang pria.
“Iya, nanti lanjut lagi ya,” tambah yang lain.
Erlan mengangguk. “Terima kasih.”
Akhirnya suasana kembali lebih sepi. Kirana kini tampak mulai lelah. Langkahnya melambat, dan matanya sesekali berkedip berat.
Erlan menggendongnya. “Capek ya?”
Kirana hanya menyandarkan kepala di bahunya.
Erlan tersenyum. “Kita pulang.”
Matahari mulai naik, panasnya mulai terasa. Taman yang tadi sejuk kini perlahan berubah lebih terik.
Dalam perjalanan kembali, Erlan melihat seorang penjual kue di pinggir jalan.
Ia berhenti.
“Kirana suka kue ya?” gumamnya.
Tanpa berpikir panjang, ia membeli beberapa jenis kue.
“Yang ini, yang itu juga,” katanya sambil menunjuk beberapa pilihan.
Penjual itu tersenyum lebar. “Banyak sekali, Mas.”
Erlan hanya tertawa kecil. “Tidak apa-apa.”
Setelah selesai, ia kembali berjalan menuju apartemen.
Sesampainya di dalam, Linda langsung melihat kantong yang dibawa Erlan.
“Apa itu?” tanyanya.
“Kue,” jawab Erlan santai.
Linda membuka kantong itu, lalu menatap Erlan dengan ekspresi tidak setuju. “Ini kebanyakan.”
Erlan sedikit kikuk. “Dia suka…”
“Kalau dia kenyang sekarang, nanti tidak mau makan siang,” potong Linda.
Erlan terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Maaf. Saya terlalu senang melihat dia makan.”
Linda menghela napas, tapi ekspresinya tidak benar-benar marah. “Lain kali dikontrol.”
“Iya.”
Kirana yang setengah mengantuk hanya memeluk erat Erlan, seolah tidak peduli dengan perdebatan kecil itu.
Erlan menatap putrinya, lalu tersenyum lembut.
Di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang hangat, sesuatu yang membuatnya merasa… utuh.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa menjadi seorang ayah.
Dan untuk pertama kalinya juga, ia tahu apa yang ingin ia jaga dengan sepenuh hidupnya.