Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16- MCI 16
"Masih marah?" tanya Raez pada Diandra yang dipaksa oleh pria itu untuk menjadikan lengan pria itu bantal kepalanya.
Padahal karena kesal, Diandra sempat menolaknya. Tapi pria itu malah merangkulnya dan mendekapnya dengan erat sampai Diandra tak bisa bergerak.
Diandra hanya diam, sambil memegang selimut yang membalut sampai dadanya dengan rapat.
Sekarang sudah tengah malam, pria itu baru saja selesai dengan urusannya. Dan tidak membiarkan Diandra pergi.
'Dia bertanya? serius dia bertanya? memangnya ada yang tidak akan marah kalau diperlakukan seenaknya begini?' gerutu Diandra di dalam hatinya.
Diandra kesal sekali, tapi dia bahkan tidak bisa menolak. Itu sangat menyebalkan baginya.
"Aku sudah bilang padamu, jauhi Max! kamu tidak mendengarkan aku!" pria itu bicara dengan nada yang terdengar lembut, padahal apa yang dia ucapkan itu sebuah gertakan.
Diandra terus mengelak, ketika pria itu mau menyentuh wajahnya. Diandra menghela nafas panjang dan berkata,
"Sebenarnya ada apa denganmu? kenapa aku tidak boleh dekat dengan pria lain..."
Diandra tak bisa meneruskan ucapannya, pria itu kembali mencengkeram rahangnya.
Diandra menatap Raez tanpa rasa takut. Kali ini dia berusaha untuk tidak mudah ditindas. Dia kesal sekali, kenapa pria itu selalu melakukan apapun yang dia suka pada Diandra. Tapi Diandra sama sekali tidak boleh melakukan apa yang dia suka.
"Max, adalah batasku Diandra. Dia keponakan ku satu-satunya, wanita sepertimu..."
Plakk
Diandra memukul tangan Raez, meski hal itu juga membuat rahangnya terasa panas.
Begitu tangan pria itu terlepas dari rahang Diandra. Diandra segera turun dari tempat tidur lalu meraih ponselnya.
"Wanita sepertiku katamu? kalau aku kotor, kenapa kamu masih terus menyentuhku! munafik!"
Diandra kesal sekali, dia merasa Raez memang seperti apa yang dia katakan tadi. Pria yang munafik, kalau memang dia menganggap Diandra itu kotor. Kenapa pria itu terus menyentuhnya padahal hubungan kerjasama mereka sudah diputuskan oleh pria itu sendiri, berakhir.
Diandra masuk ke dalam kamar mandi dan segera mengunci pintu kamar mandi itu. Sudah larut malam, tapi dia tahu Celine pasti akan menjemputnya. Diandra pun segera menghubungi Celine.
"Halo..."
Suara Diandra terdengar bergetar, karena memang saat ini Diandra sedang menangis. Dia merasa kesal, marah dan kecewa. Kesal pada ayahnya, marah pada Raez dan kecewa pada dirinya sendiri.
[Di, kamu kenapa? kamu dimana?]
Celine terdengar begitu khawatir.
"Bawakan aku pakaian Celine, di hotel tempat acara tadi. Bawa ke kamar president suite, ajak Haikal, jangan sendirian!"
[Oke oke! aku kesana sekarang!]
Diandra segera menyimpan ponselnya. Dan meletakkannya di atas sebuah meja. Sementara dia memilih untuk segera mandi saja.
Di luar kamar mandi, Raez sedang mengenakan kemejanya. Pria itu meninggalkan satu kartu lagi di atas meja. Dan segera keluar dari kamar hotel itu.
Raez tidak pernah melihat Diandra semarah itu. Dia yakin kalau Raez mengajaknya bicara lagi, mungkin wanita itu akan semakin menjadi-jadi.
Maka Raez memutuskan untuk pergi. Dia hanya berharap Diandra paham. Dan tidak lagi mendekati Max, meski sebenarnya Raez tahu. Max yang mendekati Diandra terus.
Tak berselang lama, pintu kamar president suite itu ada yang mengetuk. Diandra yang sudah menggunakan jubah mandi keluar dari kamar mandi dan dia sangat bersyukur tidak melihat Raez lagi di ruangan itu.
Ceklek
"Di, apa yang terjadi...?"
"Kamu sendiri?" tanya Diandra yang tidak melihat siapa-siapa di belakang Diandra.
"Haikal ada di sana, kamu butuh pakaian, jadi aku pikir mungkin saja, kamu tidak berpakaian. Jadi aku suruh Haikal agak jauh!"
Diandra menganggukkan kepalanya. Dan mengajak Celine masuk kamar. Dia menutup pintu dan segera berganti pakaian.
Celine melihat ke arah tempat tidur, acak-acakan sekali.
"Raez?" tanya Celine.
"Siapa lagi selain dia? dia menyebalkan sekali. Dia menyentuhku, setelah itu dia mengatakan wanita sepertiku tidak pantas mendekati Max. Memangnya aku yang mengejar Max? aku kesal sekali! kalau aku kotor, kenapa dia terus menyentuh dan menyentuhku! tidak akan ada yang percaya jika dia jijik padaku, bagaimana caranya mencium... agkhh, aku kesal sekali!"
Diandra benar-benar meluapkan emosinya sambil berpakaian.
Celine melihat sebuah kartu di atas meja.
"Diandra, dia meninggalkan kartu hitam lagi..."
"Masa bodohh dengan kartu hitam!" sahut Diandra cepat dan tidak perduli.
"Benar juga, kalau kamu ambil lagi. Dia akan merasa kamu memang seperti yang dia pikirkan. Lebih baik jangan di ambil. Lalu, sekarang bagaimana rencanamu. Tidak jadi menggodanya supaya batal nikah?" tanya Celine.
Diandra sudah selesai berpakaian, dia menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Aku, aku akan terima Max!"
"Kamu serius Diandra?" tanya Celine.
"Tentu saja, salah siapa dia merendahkan aku. Bukannya dia sama rendah denganku. Aku masih kesal sekali Celine, aku benar-benar ingin kenal orang yang lebih kaya darinya, lalu melemparkan banyak uang ke wajahnya!"
Diandra marah, tapi dia juga merasa sangat sedih. Diandra menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berjongkok di depan Celine. Batasnya sudah terlampaui, Diandra juga merasa sangat marah.
Diandra kembali terisak.
"Kenapa semua di dunia ini harus dinilai dengan uang. Kenapa?" ucapnya lirih.
Celine juga sudah berkaca-kaca, dia bisa memahami perasaan temannya itu. Celine ikut berjongkok di depan Diandra. Mengusap lembut lengan sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa Diandra. Menangis lah!
"Aku juga tidak mau menjadi wanita kotor seperti ini! tapi mau bagaimana lagi..."
Celine sudah tidak tahan lagi, dia bahkan menangis mendengar ucapan Diandra. Celine semakin mendekat dan memeluk Diandra. Menjadi Diandra juga bukan hal mudah. Dia hampir mati kelaparan, bahkan hampir dilecehkann di luar negeri. Keputusannya kala itu menjadi wanita Raez, juga bukan keputusan yang dia ambil karena uang. Karena dia memang sudah di beri obat oleh seseorang yang menginginkan tubuhnya.
Celine memeluk erat Diandra.
"Kamu tidak seperti itu Di, kamu sama sekali tidak kotor. Kamu adalah wanita paling baik yang pernah aku kenal dan temui. Jangan berkata seperti itu, jangan merasa seperti itu!" kata Celine mencoba meyakinkan Diandra.
Beberapa saat kemudian, Diandra menyeka air matanya.
"Haikal masih menunggu di luar!" katanya dengan suara serak.
"Iya, kita pulang!" ajak Celine.
***
Bersambung...
Tak ada kah yg mendengar kata² Kamila itu..? 🤔
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣