Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Rasa ketergantungan
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ibunya tak kunjung datang, “Mamah ko belum dateng ya, Max?” gumamnya pelan, matanya teredar ke semua arah, hingga tatapannya berakhir di meja yang di duduki seorang Pria ber Jas hitam yang adalah Zayn, namun Riana tak mengenali jika dia itu adalah Bos nya sendiri.
“Mungkin masih di tempat acara, mau aku pesankan makanan yang lain?” tawarnya lagi.
“Enggak deh, ini juga masih belum ke makan semua.”
‘Si Max ini kenal orang tua Riana, sebenarnya siapa dia, kalau Kakaknya gak mungkin sikapnya seperti itu di depan Riana?’ batin Zayn bertanya-tanya.
Ponsel Max bergetar, yang kemudian ia keluarkan dari saku Jasnya, “Mamah,” ucapnya.
“Halo Mah.”
“Max, kamu masih sama Riana?” tanya sang penelepon dari sebrang sana.
“Iya Mah, kita disini lagi nunggu Mamah sama Daddy,” sahut Max.
“Oh ya Max, Mamah mau ngomong bentar sama Riana.”
“Ini, Mamah mau ngomong katanya,” Riana menyambutnya.
“Halo Mah?”
“Sayang, Mamah minta maaf banget Mamah gak bisa dateng kesana, kita tiba-tiba harus pulang ada masalah di perusahaan Papahnya Max, kamu sama Max makan malam berdua gak papa kan?”
“Terus Abang, katanya mau dateng kesini?”
“Kamu kaya yang gak tahu aja, tinggalnya aja dia gak jelas dimana, dia juga gak mungkin datang.”
Riana berdecak pelan, tahu begini dia gak akan maksa datang dan ninggalin Zayn sendirian di rumahnya, “Ya udah kalau gitu Mah.”
Riana menyerahkan kembali ponsel Max pada sang pemilik, “Mamah gak jadi dateng?”
“Hem, katanya ada masalah di kantor Papahnya kamu, tapi kamu malah duduk tenang disini,” Riana heran sendiri.
“Itu kan kantor Daddy, jadi biar dia aja yang urus,” sahutnya acuh, sambil menyuapkan sepotong kecil daging ke mulutnya menggunakan garpu.
“Karena hanya ada kita berdua disini, apa ini termasuk kencan kan,” ucap Max sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, berucap pelan namun jelas di telinga Zayn, membuat laki-laki itu meremas tisu lagi dan lagi.
Riana yang sedang memotong steak terhenti sejenak, “kita saudara tiri Max.”
“Ya justru karena itu, kita tidak punya hubungan darah, kalau pun kencan sah sah saja kayanya,” kekehnya.
Riana hanya memutar bola matanya malas.
‘Saudara tiri. Jadi mereka sodara tiri, si Max ini juga kayanya suka sama Riana, tapi Riana apa dia juga suka sama si Max?’ pertanyaan itu langsung muncul di kepala Zayn.
Zayn mendengus kasar, dia melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, rasa panas dan tak nyaman tiba-tiba menuhi rongga dadanya, dia menyambar gelas berisi air putih dan menenggaknya dengan rakus, namun rasa panas di dadanya tak bisa larut menggunakan air.
Max dan Riana bangkit, “Setelah ini kamu mau kemana? Nonton, jalan-jalan?”
“Kita ini gak bener-bener kencan Max.”
“Gak papa, anggap aja begitu,” dia mengedipkan sebelah matanya.
Riana tertawa sambil menggeleng pelan, “terserah anda Tuan Maxim Harrison, malam ini aku akan jadi teman kencan yang baik,” kekehnya.
Wajah Zayn mematut di balik buku menu yang ia pasang berdiri, makanannya sudah habis tak tersisa tanpa ia sadari.
Riana dan Max sudah berjalan keluar. Zayn lekas memanggil pelayan untuk membayar makanan dan sekotak tisu yang ia habiskan, bahkan hampir memenuhi mejanya, setelah membayar ia pun ikut keluar, bukan mobil tujuannya, kakinya secara otomatis mengikuti langkah dua orang yang menganggap diri mereka sedang berkencan itu.
“Mereka mau pergi kemana lagi, ini sudah hampir jam sepuluh, seharusnya mereka pulang,” keluhnya sambil mengintip dari balik tembok toko.
Zayn terus mengikuti Riana dan Max diam-diam, bersembunyi saat mereka menoleh dan lanjut mengikuti saat mereka lengah. Mereka tampak tertawa bahagia, dan itu membuat Zayn kesal sendiri.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul dibenaknya, ngapain kamu ngikutin mereka? Ehem, jawabannya hanya penasaran, itu saja.
‘Se-sebaiknya aku pulang, kalau Riana tahu aku ada disini bisa-bisa dia salah faham dan ngira aku ngikutin dia. Mau di taruh dimana muka aku ini,’ Zayn lekas pergi menuju Restoran tadi untuk mengambil mobilnya.
***
Malam semakin larut, namun Riana tak kunjung pulang, itu membuat Zayn resah, beberapa kali dia mengambil ponsel untuk menelponnya, namun terus dan terus ia urungkan, karena logikanya melarang.
Riana itu wanita dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri apa lagi dia tidak sendiri.
‘Itu dia masalahnya, karena dia tidak sendiri.’ akh...
Satu kata, menyebalkan. Zayn benci rasa aneh ini, rasa ketergantungan nya pada Riana, seharusnya dia tidak seperti ini.
Zayn meraih botol obat penenangnya, mengeluarkan isinya kemudian meminumnya, berharap pikirannya kembali tenang.
Perlahan, obat itu bekerja dan dia pun terlelap.
Plak...
“Apa ini! Kenapa di berkas ini dan di berkas yang sebelumnya saya terima tidak sama?! Ada selisih angka. Dan ini, kenapa kalian membeli kertas dengan harga yang mahal, tahun lalu harganya tidak semahal ini!” gertaknya.
“Maaf Pak, tahun ini harga kertasnya naik.”
“Kalau begitu ganti dengan yang lebih murah!” sambarnya sambil menggebrak meja, membuat para bawahannya mengkerut takut dan ada yang hampir menangis dibuatnya.
Hari ini mood Zayn benar-benar buruk, sejak datang ke kantor dia terus marah-marah tak jelas, setiap kesalahan sekecil apa pun menjadi penyulut api kemarahan dalam dirinya, bahakan hanya noda tinta kecil pun tak luput dari amukannya.
“Kamu yang sabar ya, Lia. Bos emang kadang-kadang begitu.”
Rara tengah menenangkan anak baru yang terkena amukan Zayn kerena setitik noda tinta yang tak sengaja tercoret di atas laporan yang dia berikan.
“Ada apa ini?” tanya Riana yang baru muncul karena ada pertemuan yang harus dia hadiri sebagai perwakilan CEO.
“Ini dia pawangnya baru muncul, dari mana aja lu. Itu si Bos sejak pagi uring-uringan mulu, hampir semuanya kena semprot bahkan hanya karena noda tinta kecil doang,” keluh Rara.
“Ck, ada-ada aja sih, kamu yang sabar ya Lia. Terkadang kita sebagai kuli harus nerima hal-hal seperti ini demi kebaikan kita sendiri, jangan di ambil hati oke.” Riana menepuk bahu Lia pelan, kemudian pergi ke ruangan Zayn.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄