Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Perselisihan.
Sepanjang perjalanan usai mengantar Anye pulang ke rumah tadi, Bang Rinto begitu frustasi. Setiap jawaban dari Anye mengisyaratkan bahwa wanitanya itu tidak mengingat semua yang terjadi tadi.
Hatinya lebih hancur saat melihat dress Anye yang tertinggal menyisakan noda. "Kamu tidak ingat?? Jadi yang kita lakukan atas dasar apa??"
***
Pagi ini Anye tidak bersedia melanjutkan tahapan pengajuan nikah karena sedang fokus dengan awal kesibukan perkuliahannya.
Akhirnya Bang Rinto pun tidak ingin memaksa. Ia hanya meminta Prada Tegar mengawasinya dari jauh karena hari ini dirinya sedang ada rapat di Batalyon.
Di kampusnya, Anye kembali berbincang dengan Bintang, sahabatnya.
"Jadi bagaimana rencanaku kemarin?? Apakah ada hasil??" Tanya Bintang.
"Ada, kamu memang hebat. Bang Rinto langsung alergi tongkol." Jawab Anye bersemangat.
"Aa_lergi??? Tapi aku nggak pernah tau kalau obat itu buat alergi, apalagi tongkol. Memangnya kamu selesai makan tongkol."
Anye mengangguk mantap. "Setelah itu, malamnya aku dan Bang Rinto keracunan. Leher sampai dadaku memar, Bang Rinto juga. Mungkin obatnya juga jadi pemicu alerginya." Kata Anye menjelaskan secara logis.
"Iya juga ya. Lain kali aku cari yang lebih aman." Ujar Bintang.
...
Bang Rinto melihat video yang sempat di rekam Prada Tegar, wajahnya sampai memerah tapi masih berusaha tenang di hadapan anggotanya.
"Apa lagi yang kamu dengar?" Tanya Bang Rinto.
"Siap. Tidak ada, Danton."
"Oke. Tutup mata dan telingamu. Anggap tidak pernah dengar apapun..!!" Perintah Bang Rinto.
"Siap."
Tapi saat itu Prada Tegar juga melihat bagian sisi leher Letnan Rinto yang memerah. Ia pun menahan senyumnya.
\=\=\=
Beberapa waktu berlalu, Pak Herliz menegur Bang Rinto karena tidak ada lagi proses pengajuan nikah yang berlanjut. Beliau pun mulai mempertanyakan keseriusan Bang Rinto.
"Hampir tiga minggu kamu tidak datang ke rumah, bahkan tidak menjemput Anye untuk melaksanakan pengajuan nikah. Sebenarnya kamu ini serius memperjelas status Anye atau tidak??"
"Saya benar-benar serius sama Anye, yah. Saya menemani Anye setiap hari tapi tidak bertemu wajah." Jawab Bang Rinto.
"Apa maksudnya??? Jangan mempermainkan Anye. Kalian sudah bersama." Ujar Pak Herliz geram. Ia merasa selama ini Bang Rinto tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan.
"Saya sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Status Anye tidak akan bergeser hanya karena saya tidak mendekatinya."
"Kenapa?? Kamu 'tidak suka' dengan Anye????" Nada Pak Herliz tiba-tiba semakin ragu.
"Kalau tidak suka, saya mungkin akan menghilang dan tidak akan bertahan sampai sejauh ini. Anak ayah sangat berarti bagi saya." Penjelasan Bang Rinto seakan langsung membungkam bibir Pak Herliz.
"Berjanjilah untuk menjaga Anye apapun yang terjadi. Sayangi dia, cintai dia.. Saya sudah pasrahkan dia padamu..!!" Pinta Pak Herliz pada menantunya.
"Iya, yah."
...
Bang Rinto mengajak Anye untuk melaksanakan tahap terakhir pengajuan nikah yang sama sekali tidak bisa di laksanakan di Batalyon maupun kompi, yaitu pemeriksaan kesehatan akhir. Tapi Anye tidak mau melanjutkannya lagi.
"Kenapa Abang nggak menyerah?? Anye nggak mau nikah sama Abang. Anye nggak cinta sama Abang."
Begitu kesalnya mendengarnya, Bang Rinto pun tersulut emosi. Ia mencekal tangan Anye dan menatapnya tajam.
"Selama saya masih bernafas, kamu seutuhnya milik saya..!!"
"Nggak mau." Tolak Anye.
"Saya kesini tidak sedang minta persetujuan mu. Sekarang jalan..!!!" Perintahnya.
"Nggak..!!" Anye langsung melenggang pergi meninggalkan Bang Rinto.
Bang Rinto tak ingin ribut disana tapi ia juga ingin masalah administrasi kejelasan statusnya dan Anye segera selesai. Tak buang banyak waktu, Bang Rinto melepas seragamnya lalu menutupi pinggang Anye dan memanggul gadis itu menuju ruang gedung rumah sakit.
:
Drama satu ke drama yang lainnya terjadi mewarnai setiap tahap pemeriksaan. Mulai dari test urine, pengambilan sample darah, semua di warnai dengan pertikaian.
"Sudah siang, sebaiknya kita makan dulu. Kamu mau makan apa?" Tanya Bang Rinto dengan nada halus. Apalagi wajah Anye sudah sangat pucat.
"Terserah."
"Mau makan nasi campur?" Tanya Bang Rinto.
"Nggak."
"Bakso??"
"Nggak." Tolak Anye kesal.
"Mie ayam??"
"Nggak."
"m*D?"
"Nggak." Anye melirik Bang Rinto. "Ada sate kambing nggak sih??" Omelnya.
"Haa.. Ohh.. Mau sate kambing?? Ayo, ada tempat yang enak."
:
Wajah Anye semakin pucat. Tapi aroma sate terasa menyengat di hidungnya. Bang Rinto yang merasa Anye mengerjainya sudah menatapnya tajam. Seketika itu juga Anye merasa pusing.
"Sampai kapan kamu mau mengerjai saya???" Tegur Bang Rinto.
"Kalau memang nggak pengen masa mau di paksa??"
Akhirnya Bang Rinto membungkus makanan tersebut dan bergegas kembali ke rumah sakit tentara.
:
Sesampainya di rumah sakit, Anye dan Bang Rinto langsung masuk ke dalam ruang pemeriksaan, suasana kembali hening.
Dokter yang memeriksa hasil laboratorium tampak tersenyum tipis, lalu menatap Bang Rinto dan Anye secara bergantian.
"Sudah bisa ambil semua berkasnya??" Tanya Bang Rinto, nadanya datar dan masih mendiamkan Anye.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu