Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Harga Sebuah Kedamaian
Beberapa waktu berlalu.
Mangkuk ramen di depan Shen Ning kini kosong.
Tak tersisa setetes kuah pun.
Gadis kecil itu memegang cangkir teh dengan kedua tangannya dan meneguknya perlahan. Hangatnya mengalir turun ke perutnya, menggantikan rasa lapar yang selama ini menghantui.
Ia menghela napas lega.
Lalu—
Senyum lebar merekah di wajahnya.
Senyum polos yang begitu tulus hingga ruangan kecil itu terasa sedikit lebih terang.
Yueling yang duduk di sampingnya tertawa kecil.
“Lihat dirimu,” katanya lembut.
Ia mengambil kain kecil dan mengelap sudut bibir Shen Ning yang masih tersisa sedikit kuah.
Shen Ning langsung tertegun.
“A-Aku bisa melakukannya sendiri!”
Ia buru-buru mengambil kain itu.
Wajahnya memerah hingga ke telinga.
Yueling menatapnya sambil tersenyum geli.
“Kau gadis yang lucu.”
Saat itulah—
Pintu dapur terbuka.
Zhao keluar sambil membawa sebuah bungkusan kain hangat.
Aroma ramen yang baru dimasak kembali memenuhi ruangan.
Ia menaruh bungkusan itu di depan Shen Ning.
“Ini untuk adik-adikmu.”
Shen Ning tertegun.
Zhao menatap mangkuk kosong di meja.
“Apakah kau mau tambah?”
Seketika Shen Ning berdiri panik.
“Tidak, Paman!”
“Terima kasih!”
“Ini sudah lebih dari cukup!”
Zhao menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
“Apakah kau tipe orang yang selalu berdiri setiap kali ingin berbicara?”
Shen Ning tersadar.
Ia langsung duduk kembali dengan kikuk.
“Maaf…”
Beberapa saat suasana kembali tenang.
Shen Ning menatap Zhao.
Lalu menatap Yueling.
Lalu kembali menatap Zhao.
Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun ragu.
Akhirnya ia memberanikan diri.
“Maaf jika aku lancang…”
Zhao mengangkat alisnya sedikit.
“Tapi… apakah ada alasan kenapa Paman membuka kedai di kota Pingxi ini?”
Shen Ning buru-buru menambahkan.
“Maksudku… dengan masakan Paman yang seenak ini…”
“Kalian bisa sukses besar di kota besar.”
“Bahkan di ibu kota…”
Ia menunduk.
“…daripada di kota kecil kami yang miskin dan terpencil ini.”
Zhao tersenyum tipis.
“Jika aku mencari kekayaan…”
“Pendapatmu ada benarnya.”
Shen Ning tertegun.
“Maksud Paman…?”
Zhao tidak langsung menjawab.
Ia berdiri perlahan.
Langkahnya tenang saat berjalan menuju jendela.
Langit sore Pingxi terlihat pucat dan kering.Tanah di luar retak karena kemarau panjang. Ia memandang kota kecil itu cukup lama.
Lalu berkata pelan.
“Harta…”
“Itu sesuatu yang mudah dicari.”
Ia menyandarkan satu tangan di jendela.
“Jika seseorang benar-benar menginginkannya, ia bisa mendapatkannya dengan seribu cara.”
“Dengan kekuatan.”
“Dengan kecerdikan.”
“Atau bahkan dengan keserakahan.”
Suaranya tenang.
Namun setiap kata terasa berat.
“Tapi…”
Ia menoleh sedikit.
Tatapannya lembut.
“Ada sesuatu yang jauh lebih sulit daripada harta.”
“Yaitu melihat orang lain benar-benar bahagia.”
Ruangan menjadi hening.
“Banyak orang memiliki kekayaan.”
“Tapi sangat sedikit yang bisa melihat senyum tulus dari hati orang lain.”
Ia menatap Shen Ning.
“Senyum yang muncul bukan karena kewajiban.”
“Bukan karena takut.”
“Tapi karena mereka benar-benar merasa hangat.”
Zhao tersenyum tipis.
“Itulah yang ingin kucari.”
Bukan harta.
Bukan kekuasaan.
Melainkan—
Senyum tulus.
Mata Shen Ning langsung berkaca-kaca.
Dadanya terasa sesak.
Yueling yang berdiri di samping hanya tersenyum hangat menatap suaminya.
Tatapan yang penuh kebanggaan.
Shen Ning menunduk.
“Kalau saja…”
Suaranya bergetar.
“Wali kota juga sebaik Paman…”
“Kota ini mungkin…”
Namun kalimatnya terhenti.
Yueling mengerutkan kening.
“Aku ingin menanyakan itu sejak tadi.”
“Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini?”
Shen Ning menarik napas dalam.
Lalu mulai bercerita.
“Wali kota kami bernama Guo Liang.”
Nada suaranya berubah.
“Dia orang yang sangat serakah.”
“Dan sangat kejam.”
Ia menggenggam bajunya.
“Penduduk sudah kesulitan bertani karena kemarau panjang…”
“Tapi bukannya mencari solusi…”
“Dia malah menaikkan pajak secara sepihak.”
“Jika kami tidak bisa membayar…”
“…kami akan dijadikan budak seumur hidup.”
Yueling terdiam.
Tangannya perlahan mengepal.
Sementara itu—
Tatapan Zhao berubah sesaat.
Sangat singkat.
Namun cukup dingin untuk membuat udara di ruangan itu terasa berbeda.
Lalu ekspresinya kembali normal.
Shen Ning melanjutkan.
“Karena itu…”
“Aku takut Paman dan Bibi juga akan terkena masalah.”
“Kalian orang baik…”
“Tidak seharusnya kalian ikut menderita.”
Ia menunduk.
“Dan akhir-akhir ini…”
“Ada rumor aneh.”
Zhao mengerutkan dahi.
“Rumor?”
Shen Ning mengangguk.
“Beberapa penduduk… menghilang tanpa jejak.”
“Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.”
Ia menelan ludah.
“Banyak orang menduga…”
“…orang-orang yang hilang itu selalu berkaitan dengan wali kota.”
“Orang yang menentang kebijakannya.”
“Yang melawan pajaknya.”
“Atau yang berani menjelek-jelekkannya.”
Yueling menggertakkan giginya.
“Bajingan…”
Namun tiba-tiba—
Sebuah tangan lembut memegang tangannya.
Zhao.
Ia tersenyum tenang.
Sentuhan itu langsung membuat kemarahan Yueling mereda.
Zhao lalu menoleh pada Shen Ning.
“Jadi dengan kata lain…”
“Kau ingin kami pergi dari kota ini sebelum terlambat?”
Shen Ning mengangguk.
“Ini mungkin tidak seberapa dibandingkan kebaikan kalian…”
Ia menatap bungkusan ramen di meja.
“Tapi kalian harus cepat pergi dari sini.”
“Jika tidak…”
Kalimatnya terhenti.
Pintu kedai tiba-tiba—
BRAK!
Terbuka dengan kasar.
Semua orang menoleh.
Beberapa pria masuk dengan langkah angkuh.
Tubuh mereka besar. Wajah mereka kasar. Sebagian penuh bekas luka. Beberapa bahkan membawa senjata terbuka.
Shen Ning langsung pucat.
Tubuhnya gemetar.
Ia buru-buru bersembunyi di belakang Zhao.
“P-Paman…”
Ia berbisik ketakutan.
“Mereka… Bandit Eye…”
“Mereka orang-orang wali kota…”
“Yang memeras dan menyiksa siapa saja yang tidak patuh…”
Zhao mengangguk pelan.
Seolah ia baru saja mendengar kabar biasa.
Ia berjalan mendekati mereka dengan sopan.
“Selamat datang di kedai kami, Tuan-Tuan.”
“Ada yang bisa saya bantu?”
Seorang pria gemuk maju ke depan.
Perutnya besar. Wajahnya penuh tato buruk.
Ia menatap Zhao dari atas ke bawah.
“Kau pemilik kedai ini?”
Zhao tersenyum ramah.
“Iya, Tuan.”
“Kami baru saja membuka—”
Namun sebelum ia selesai—
Seorang bandit bertato mencengkeram kerah baju Zhao dengan kasar.
“Apa yang membuatmu berani membuka kedai di sini tanpa izin, hah?”
Namun hal aneh terjadi.
Zhao tidak bergerak sedikit pun.
Bandit itu menarik lebih keras.
Namun tubuh Zhao terasa…
Seperti gunung.
Bandit itu mengerutkan kening.
Aneh.
“Perasaan aku sudah menggunakan kekuatan…”
“Tapi kenapa…”
“…rasanya seperti menarik gunung?”
Zhao tetap tersenyum.
“Saya sudah meminta izin kepada pemilik tanah.”
“Dan juga membuat laporan pada administrasi kota.”
Namun jawaban itu hanya membuat mereka semakin arogan.
Beberapa bandit langsung menendang meja.
BRAK!
Kursi terlempar.
Piring jatuh ke lantai.
Shen Ning gemetar ketakutan dalam pelukan Yueling.
Yueling menatap mereka dengan mata dingin.
Zhao masih tersenyum.
“Tuan-tuan…”
“Mari kita tenang.”
“Jika ada masalah, kita bisa membicarakannya baik-baik”
Bandit gemuk itu meludah.
Ia menghunus pedang besar.
Lalu menaruhnya tepat di leher Zhao.
“Bocah…”
“Kau tidak berada di posisi untuk berbicara seperti itu.”
Ia lalu melirik sekilas ke arah Yueling.
Matanya langsung berubah cabul saat menatap wajah cantik Yueling.
Senyum kotor muncul di wajahnya.
“Begini saja.”
“Aku akan memaafkanmu.”
“Asal kau membayar uang keamanan.”
Zhao masih tenang.
“Berapa jumlahnya?”
Bandit itu tertawa licik.
“Murah saja.”
“Lima puluh tael emas… setiap minggu.”
Shen Ning langsung berseru tanpa sadar.
“Itu perampokan!”
“Kalian memang orang jahat!”
Semua mata langsung tertuju padanya.
Bandit itu langsung marah.
“Dasar pemulung sialan!”
“Aku akan menjualmu ke pasar budak!”
Ia hendak berjalan ke arah Shen Ning—
Namun tiba-tiba…
Tap.
Sebuah tangan menepuk pundaknya.
Bandit itu langsung berhenti. Tubuhnya membeku.
“Eh…?”
“Apa ini…?”
“Aku… tidak bisa bergerak…”
Ia menoleh ke samping.
Zhao berdiri di sana.
Masih tersenyum ramah.
“Kita sebaiknya fokus pada topik utama dulu, Tuan.”
Bandit itu akhirnya berhasil menepis tangan Zhao dengan kasar.
“Baiklah!”
“Aku akan mengurus gadis itu nanti!”
Ia duduk dengan angkuh.
“Jadi bagaimana?”
“Kau bisa membayar?”
Zhao menggeleng ringan.
“Apakah tidak ada negosiasi?”
Para bandit langsung tertawa keras.
“Hahaha!”
“Ini pertama kalinya kami dengar kata negosiasi di kota ini!”
Bandit gemuk itu menyeringai.
“Baiklah.”
“Kau pasti tidak punya uang karena baru buka.”
Namun kemudian—
Matanya melirik Yueling.
Lidahnya menjilat bibir.
“Masih ada cara lain untuk membayar.”
Zhao mengangkat alis.
“Oh?”
“Bagaimana caranya?”
Bandit itu menunjuk Yueling.
“Suruh istrimu melayani kami selama seminggu.”
“Dan aku tidak akan menagih uang keamanan selama sebulan.”
Ia tertawa cabul.
“Aku janji akan menjaganya dengan baik.”
“Bagaimana?”
Ruangan itu mendadak hening.
Yueling menggertakkan gigi.
“Dasar bajingan…”
Shen Ning juga terdiam.
Namun—
Satu hal yang tidak mereka sadari.
Senyuman di wajah Zhao… Perlahan menghilang.
Dan untuk pertama kalinya—
Wajahnya mulai menggelap.