"Eh...anak kecil minggir kamu!!"-usir bodyguard Naren-
"Lahh...aku duluan yang disini"-jawab Rena dengan ketus-
"Makanya datang lebih pagi dongg...gimana sih!!!"-berkacak pinggang di hadapan Naren-
Seorang Serena yang tidak tahu jika orang dihadapannya adalah ketua Mafia yang paling kejam Narendra Oliver Pradipta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana_Jm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Serena
"Udah berat...demam tinggi lagi!! Hadehhhh"-menepuk jidatnya sendiri-
"Dia makan apa sihhh? Beratnya tuh berat banget"-celetuknya sambil menatap lekat Naren-
"Orang mirip Tiang listrik begini bisa sakit juga!!"-ucapnya kesal sendiri-
Akibat sangat kelelahan menarik tubuh kekar Narendra, ia sampai tertidur di sofa berdekatan dengan Narendra yang sedang pingsan. Tak berapa lama pria dingin itu terbangun dari pingsannya, ia merasakan ada yang menempel di dahinya.
Ia melihat ada tempat kompres di meja dan juga Serena yang tidur pulas di sofa dengan kaki yang menjulur ke lantai.
"Serena? Dia kembali ke sini?!"-menatap lekat wajah mungil Serena-
"Pasti capek yaaa? Makasih sudah mau kembali lagi"-ucapnya pelan sambil membelai rambut Serena-
"Tangannya?!! Kenapa banyak plaster di jarinya?!!"-bergegas mengecek CCTV-
"Astaga diaaa!!! Potong buah sampai jarinya yang kena"-menghela nafas panjang sambil memijat pelipisnya-
Ia kembali lagi ke ruang tengah, kemudian membuka plastik yang berisi obat dari gadis itu. Namun hanya ada obat sakit kepala dan demam, tidak ada plaster di dalamnya, sebelum beranjak ke kamar Narendra mencium kening Serena dengan lembut.
"Terima kasih ya? Sudah mau merawat diriku"-bisiknya pelan sambil tersenyum tipis-
"Maaf kalau tadi aku bersikap sangat dingin terhadapmu cantikkk"-mengusap lembut pipi Serena-
Suhu badannya mulai kembali normal, ia mencoba membuat makanan untuk gadis kecil itu. Narendra membuat steak dan juga spaghetti untuk Serena, gadis itu terlihat sangat lelah dan sepertinya belum makan pagi.
Siapa sangka aroma masakan Narendra membuat gadis kecil itu terbangun, ia berjalan pelan dengan setengah sadar. Matanya masih nampak mengantuk sekali namun ia berjalan pelan menuju dapur Narendra.
"Siapa yang masak ini?? Jadi laperrrr!!"-ucapnya pelan sambil menarik kursi di meja makan-
"Serena!! Dia udah bangun?!"-menghampiri gadis itu-
"Kamu udah sembuh Pak Tua?? Baguslah kalau begitu!"-ucapnya pelan sambil tersenyum tipis-
Namun kedua matanya masih tertutup rapat, setelahnya Narendra membelai lembut rambut panjang Serena. Ia kembali menatap lekat gadis kecil yang ada di hadapannya, entah dari mana dan kapan datangnya gadis itu membuat hari-harinya menjadi sedikit berwarna.
"Serenaaaa....."-mengusap lembut pipinya-
"Ehhh....kamu ngapain Pak Tua?!!"-ucap Serena terkejut-
"Makan dulu yuk? Pasti kamu lapar kannn?"-jelas Naren sambil tersenyum tipis-
"Haaaa?? Makannnn?!! Makan apaan?"-tanyanya dengan polos-
"Aku sudah membuat steak dan spaghetti untukmu"-mencubit gemas pipi Serena-
Sementara Serena masih saja bengong melihat sikap Narendra yang begitu terkesan lembut terhadapnya, ia menatap lekat dengan penuh curiga. Narendra hanya tertawa gemas melihat tatapan gadis kecil itu yang menghunus tajam ke arahnya.
"Eh...bukannya kamu masih demam ya?!"-cek suhu badan Narendra-
"Sudah baikan kok Cantikkk"-tersenyum tipis-
"Seriusan!!! Bisa sakit juga orang mirip preman begini?!"-celetuk Serena dengan santai-
"Preman?!! Aku lebih dari sekedar preman"-jelasnya sambil menatap tajam-
"Awas lah!!! Mau ambil minum!! Haus"-mendorong badan Narendra yang berdiri di hadapannya-
Naresh dan Jayden sibuk dengan urusan mereka untuk melenyapkan semua musuhnya yang sedang mengincar anak mereka masing-masing. Sedangkan Laras dan Lysa menghabiskan waktu bersama sambil memantau kondisi Serena dan Narendra.
Naresh melenyapkan orang-orang yang sedang mengincar putri sahabatnya, karena mereka juga bermasalah dengan Narendra.
"Habisi saja nyawanya!! Jangan biarkan dia berkeliaran dengan bebas!!"-perintahnya dengan serius dan tatapan mata penuh dendam-
"Sudah cukup aku berpisah dengan putriku!! Jangan harap kau bisa lepas kali ini!!"-ucap Jayden dengan sorot mata penuh amarah-
"Putriku banyak terluka karena ulahmu!! Sekarang kau harus membayar semuanya beserta semua keluarga besarmu!!!"-lanjutnya sambil menyeringai tajam-
"Bagaimana? Suka?"-mengusap kepala Serena-
"Apanya sih?! Nggak usah pegang kepala!!!"-ucapnya dengan kesal-
"Lucu banget sihhh"-gumamnya pelan-
Serena mendengus kesal dengan sikap Narendra yang perlakukan dirinya seperti anak kecil, baru beberapa langkah pria itu mulai merasa pusing kembali. Sontak membuat gadis itu langsung melirik Narendra saat tubuhnya hampir jatuh.
"Dia kenapa lagi ini?!! Haishhh....dasar keras kepala!!"-ucapnya pelan-
"Makan yang kenyang ya Cantikkk"-ucapnya dengan lembut tanpa menoleh gadis itu-
"Hemmmm....makasih!! Enak makanannya Pak Tua"-celetuknya sambil tertawa kecil-
Narendra hanya tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih dari gadis incarannya tersebut. Tubuhnya semakin lemas dan akhirnya tumbang seketika di sofa, Serena langsung menghampiri dan terlihat sangat panik saat suhu badan Narendra mulai tinggi lagi.
"Haduhhhh......demam lagi diaaa"-menepuk jidatnya sendiri-
"Ishhhhh.....dasar Pak Tua menyebalkan!!!"-menangkup wajah pucat Naren-
"Gimana mau di tinggal coba! Malah demam lagi"-celetuknya sambil mendengus kesal-
Sebenarnya Narendra tidak benar-benar pingsan, dia hanya memejamkan matanya karena sangat pusing. Ia mendengar semua ucapan Serena yang mengomeli dirinya sekalipun dalam kondisi pingsan.
"Meskipun berisik entah kenapa aku sangat suka mendengarnya"-gumamnya pelan-
"Huft....dia ini! Nggak punya pacar atau gimana sih?! Isinya berantem terus kayaknya"-celetuknya sambil tetap mengompres dahi Naren-
"Gimana mau punya kekasih? Mukanya aja dingin banget! Matanya tajam begitu udah mirip singa versi manusia"-ucapnya sambil mencubit hidung Naren-
"Nggak mau cium juga?! Masak cuman cubit aja sih?"-celetuk Naren pelan-
"Nggak yaaa!!! Kamu siapa emangnya? Sakit aja masih bisa nyebelin begini"-menyentil jidatnya pelan-
"Kamu kan kekasihku"-jawabnya dengan tengil-
"Enak ajaaaa!!! Nggak mau aku! Orang kayak preman begini"-ketus Serena-
Tangan Narendra membelai lembut kepala Serena, dia juga menatap lekat wajah gadis kecil yang ada di hadapannya. Senyuman tipis menghiasi sudut bibirnya, wajahnya yang nampak garang cenderung lebih terlihat lembut.
Sontak saja Serena langsung mencubit lengan kekar Narendra supaya berhenti menyentuh kepalanya, ia juga menatap tajam pria yang di panggilnya "Pak Tua" itu.
"Benar-benar ya kamuuu!! Udahlah"-menyentil dahi Naren cukup kencang-
"Aduhhh....sakit dong Cantikkk"-mengusap pelan dahinya sendiri-
"Aku pulang aja kalau begitu!! Kamu kan udah sembuh"-berlalu begitu saja-
"Tapi badanku masih lemes banget iniiii"-celetuk Naren dengan manja-
"Ya udah suruh aja tuh asisten kamu!! Bukankah dia lebih tau kamu Pak Tua?!"-jelas Serena dengan tatapan tengilnya-
"Dia ada urusan sendiri"jawabnya singkat namun terdengar dingin-
Serena langsung pergi meninggalkan Narendra di apartemen miliknya, gadis itu kembali ke rumah sewanya. Sepanjang malam dirinya tak bisa nyaman untuk tidur atau sekedar memejamkan matanya. Sementara Narendra suhu badannya naik kembali, ia hanya bisa berbaring lemah di sofa sejak kepergian Serena.
Viktor sama sekali tak bisa dihubungi, kepalanya semakin pusing dan tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Bahkan obat dari Serena belum diminum kembali.
"Duhh....dia udah minum obatnya belum yaaa?!"-menghela nafas panjang-
"Haish...kenapa juga sih khawatir sama orang galak macam dia itu"-mendengus kesal-
Akhirnya gadis itu menghubungi Naren dengan perasaan yang masih kesal, tak butuh waktu lama Narendra menerima panggilan telepon darinya.
"Hmmm?! Ada apa Cantik?"-jawabnya dengan lembut-
"Udah minum obatnya?! Pasti belum kan!!"-celetuk Serena langsung-
"Kepalaku pusing banget Cantikkk"-keluh Naren pelan-
"Belum makan juga kamu?!!"-ucap Serena dengan ketus-
"Badanku lemas sekali rasanya"-jelasnya dengan nada sangat pelan-
Serena menjadi sangat kesal dengan jawaban Narendra yang terkesan acuh terhadap kesehatannya sendiri. Alhasil gadis itu kembali lagi ke apartemen Narendra yang letaknya tak begitu jauh dari rumah sewanya.
Ia membawa paperbag berisi sup hangat untuk Narendra, supaya tubuhnya sedikit membaik dari sebelumnya.
"Pak Tua?!! Masih rebahan aja nih!!'-ucapnya sedikit teriak-
"Dasar.....!! Ehh....?!!"-terkejut melihat adanya Viktor-
"Pak Tua?? Dia lagi mandi tuh!!"-jawabnya datar sambil menahan tawa-
"Lohh...dia kan masih demam?!! Nggak boleh mandi dulu tauuu!!!"-jawabnya berkacak pinggang-
"Udah minum obat juga kok! Suhu badannya udah turun dari beberapa menit lalu"-jelas Viktor dengan santai-
"Huft....syukurlah kalau begitu! Nih....buat dia"-meletakkan paperbag berisi sup di meja-
"Mau kemana bocah?!!"-ucap Viktor dingin-
"Pulang lah....ngapain juga disini"-celetuknya santai tanpa menoleh Viktor-
Setelah gadis kecil itu pulang, pria dingin itu keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang sedikit segar. Viktor langsung menjahili sang Bos tentang Serena yang mengirim makanan untuknya.
"Wihhhh....seger banget nih Bos!! Makan dulu...udah ada yang bawain makanan tuh"-ucap Viktor dengan polosnya-
"Makanan?! Dari siapa? Kamu pesan makanan"-telisik Narendra curiga-
"Ngapain juga pesan makanan buat Bos! Itu dari si bocah kecil galak"-jelas Viktor dengan jahil-
"Dia kesini lagi?! Kemana sekarang!! Kamu usir dia!!"-bentak Naren sambil berkacak pinggang-
"Lohhhh nuduh sembarangan aja ini!! Dia pulang sendiri Bossss....aku nggak mengusirnya"-jelas Viktor tak terima-
~Telepon aja udah telepon Pakkk...gengsi banget sih!! Biasanya juga suka nempel terus~🤭