"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 (Persaingan Sengit)
Raditya terus menarik istrinya agar masuk ke dalam mobil. Akan tetapi, Fania terus berteriak hingga ada orang yang lewat ntuk menolongnya. "Pak, tolong saya. Dia adalah orang jahat. Pak, tolong saya!"
Dua orang pria setengah tua itu datang menghampiri Fania. Mereka tidak bisa membiarkan begitu saja. "Ada apa ini? Anda siapa menarik Nak Fania dengan paksa seperti itu?"
Raditya merasa emosi, dia tidak melepaskan cengkeramannya dan justru semakin kencang. "Ini tidak ada urusannya sama kalian. Dia adalah istriku, jadi aku berhak melakukan apapun."
"Tidak, Pak. Dia mau menyakiti saya. Dia orang jahat. Tolong saya, Pak. Tolongg ...." Fania terus berbicara hingga membuat suaminya kesal.
"Ahhhhh ...." Fania menjerit saat terjerembab di aspal. Raditya medorong Fania hingga terbentur di jalan beraspal.
Dia tidak bisa menoleransi lagi. "Kamu semuanya pergi dari sini. Ini urusanku dengannya."
Dua wraga itu tidak bisa berkutik, mereka segan dengan tampilan Raditya yang rapi dan berwibawa. Sementara itu, Fania segera berdiri dan kabur dari sana. Akan tetapi, Raditya berhasil mengejarnya. Pria itu memeluk Fania dari belajang dan langsung menggedongnya masuk ke dalam mobil.
"Masuk dan menurut lah," teriak Raditya merasa kewalahan.
Fania terus meronta, tetapi tidak bisa lepas dari gendongan suaminya. Dua warga tadi pergi dan melapor ke rumah Fania. Mereka berlari kencang agar tidak terlambat.
"Tolong ... Tolong, Fania dibawa pergi orang," teriak salah satu dari orang tadi.
Suara mereka terdengar pada semua orang yang sedang makan di rumah Fania. Terutama Devan, dia langsung melompat dan mencari sumber suara. "Ada apa, Pak? Ada apa dengan Fania."
"Itu, Den. Nak Fania, dibawa pria yang mengaku suaminya. Mereka pergi naik mobil ke arah barat," jawab orang tersebut.
Tanpa menunggu lagi, Devan segera pergi dari sana untuk mengejar Fania. Dia sangat khawatir dan panik. Mobilnya melaju kencang berharap bisa menyusul gadis pujaannya. "Orang itu tidak bisa ditoleransi lagi. Jangan salahkan aku jika berbuat nekat."
Devan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia berharap Fania belum keluar dari desanya. Sekitar lima menit, terlihat mobil berwarna hitam melaju sedang di depan. Devan sangat tahu jka iu adalah mobil Raditya.
Dia segera menambah kecepatan dan segera menyalip dari samping. Untung saja mereka belum keluar dari desa. Mobil yang dikendarai oleh Raditya berhenti mendadak. Mereka terkejut dan tampak terguncang dari dalam.
Sementara itu, Devan keluar dari mobilnya dengan langkah tegas. Dia mengetuk kaca mobil Raditya. "Keluar dan lepaskan Fania."
Raditya melepas sabuk pengamannya dengan kasar. Dia membuka pintu mobilnya dengan keras hingga menabrak Devan yang berdiri di samping. Dia mendorong Devan dengan ekspresi angkuh. "Maksudmu apa, ha? Anda menantang saya untuk berbuat kasar?"
Devan membalas dorongan itu, dia tidak mau kalah dan menjadi lembek. "Semua itu benar, karena saya sudah muak dengan sikap arogan Anda yang membuat kesabaran saya habis."
"Anda tidak mempunyai hak untuk ikut campur masalah rumah tangga saya. Sekarang minggir, karena waktuku terlalu berharga untuk meladeni orang seperti Anda." Raditya mendorong Devan lagi, kali ini sangat keras hingga membuatnya hampir terjatuh.
Raditya berbalik dan ingin masuk ke dalam mobilnya lagi. Namun, Raditya segera mencegahnya. "Jangan pergi sebelum melepaskan Fania. Anda tidak pantas untuk membawanya pergi!" seru Devan menarik jas yang dikenakan Raditya.
"Brengsek, minggir kamu!" Raditya semakin geram, dia memukul wajah Devan dengan keras.
Fania yang ada di dalam mobil hanya bisa berteriak. Dia tidak bisa keluar untuk melerai perkelahian itu. Raditya dan Devan saling baku hantam merebutkan seorang wanita yang sama. Keduanya saling terobsesi dan tiadak ada yang mau mengalah.
"Mas, Mas Radit berhenti! Jangan berkelahi seperti itu," teriak Fania sambil menangis, dia merasa kacau karena menjadi sumber masalah.
Devan terus membalas perlakuan Raditya yang memukulinya sangat brutal. Fania mencari tombol kunci untuk membuka pintu, dia menekan satu persatu hingga pintu mobil terbuka. "Alhamdulilah, terbuka juga."
Fania segera menghampiri Raditya yang terus memukuli Devan. Dia sangat murka karena urusannya terus dicampuri. "Mas, stop. Jangan pukuli lagi, aku bilang stop, Mas."
"Minggir kalau tidak mau mati." Raditya berbalik dan langsung mencekik leher istrinya. Fania tercengang dan kesakitan.
"Mas, lepas," ucap Fania sambil memegang tangan suaminya.
Devan tidak tinggal diam dia langsung menghantam leher Raditya dengan batu, dan menarik tangan Fania pergi dari tempat itu. "Mbak ayo pergi."
Cengkeraman itu pun terlepas. Raditya mengerang kesakitan, dia menoleh ke depan dan melihat Fania yang kabur bersama dengan Devan. "Sial, sial, sial ... Brengsek kalian!"
Devan melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Sementara itu, Fania masih gemetar di tempatnya. Dia tidak pernah mengerti mengapa Raditya terus bersikap kasar padanya. Bahkan nyawanya seperti tidak berharga sama sekali.
"Mbak Fania tidak apa-apa? Saya bawa ke klinik ya?" Devan bertanya dengan nada khawatir.
Fania menggeleng, dia menjawab lirih, "Saya tidak apa-apa. Jalan terus saja ke tempat yang aman. Sekiranya aman, sebaiknya kembali ke rumah. Orang itu pasti sudah pergi. Maaf sudah banyak merepotkan."
"Jangan berkata seperti itu, saya siap menjadi garda terdepan saat Mbak membutuhkan bantuan. Saya juga minta maaf, karena perasaan ini tidak bisa saya sembunyikan," balas Devan berterus terang.
Fania mencengkeram kuat gamisnya. Dia bimbang dan merasa segan. "Mas, saya sarankan berhenti mengharapkan sesuatu yang sulit. Mas masih mempunyai masa depan yang panjang. Jadi, jangan terpaku pada saya yang mempunyai banyak kekurangan ini. Mas pantas mendapatkan yang lebih sempurna dan baik dari segala sisi."
Devan mengerem mobilnya secara mendadak. Dia tersinggung dengan ucapan itu. "Mbak, saya sudah pernah berkata jangan terlalu merendahkan diri. Perasaan saya ini tulus, bahkan saya tidak peduli jika harus menunggu lama sampai rasa sakit di hati Mbak hilang. Saya juga tahu, Anda butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan rasa trauma itu. Saya siap untuk menunggu sampai hari itu tiba. Jadi, jangan usir saya karena untuk sekarang ini keselamatan Anda adalah sebuah prioritas."
"Mbak, saya sudah berjanji pada Almarhum Ibu Halimah untuk terus menjaga dan membantu agar Mbak bisa lepas darinya. Saya sangat senang jika Anda beinisiatif meminta bantuan di saat kesulitan. Insya Allah saya akan datang , meski saya sedang sibuk sekalipun." Devan terus mengungkapkan perasaanya untuk meyakinkan Fania yang mulai ragu.
Fania hanya diam, dia tidak bisa mencerna ungkapan tersebut. Pikirannya sangat kacau dan banyak tekanan. Dalam hatinya ingin sekali terlepas dari Raditya. Devan tahu jika Fania tidak bisa fokus, dia melanjutkan perjalanan lagi dan melewatkan pembahasan itu.
Setelah setengah jam berkeliling, Fania memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia tidak ingin terjadi fitnah atau salah paham karena kedekatannya dengan Devan. "Mas, mampir apotik dulu. Saya mau membeli obat merah dan alkohol untuk membersihkan luka itu."
Devan mengangguk, dia merasa senang mendapatkan perhatian dari Fania. Setibanya di apotik, Fania turun dan membeli obat yang diperlukan. Dia juga membeli obat tidur karena sudah hampir seminggu tidak bisa memejamkan mata dengan tenang.
"Mbak,, beli obat merah, alkohol sama perban. Oh, iya, sekalian obat tidur dosis rendah, ya." Fania berkata pada apoteker.
Fania berdiri sembari menunggu. Sesaat dia merasakan pusing yang sangat amat. "Kepalaku sakit sekali, apa mungkin efek kurang tidur? Obat tidur adalah solusi untuk meredakan sakit kepala," gumamnya dalam hati.
Setelah mendapatkan semua obat, Fania keluar dari apotik tersebut. Dari depan pintu dia melihat Devan yang bersandar di mobilnya. Fania memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mas Devan, dia pria yang baik. Dia pantas mendapatkan gadis yang baik juga. Bukan seorang wanita yang rusak sepertiku. Maafkan aku, Mas. Mungkin aku tidak bisa membalas perasaanmu. Diri ini terlalu kotor dan sangat hina."