Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang belum terjawab
Langit mulai berubah kemerahan. Matahari perlahan tenggelam di balik lereng Gunung Ciremai. Bayangan pepohonan memanjang menutupi halaman rumah Mang Jaya.
Keduanya masih duduk di beranda.
Tak seorang pun berbicara selama beberapa saat.
Arga memandangi hamparan pepohonan yang menutupi arah rawa. Entah mengapa, setelah mendengar cerita Mang Jaya, tempat itu terasa semakin misterius.
"Mang..."
Mang Jaya menoleh pelan.
"Kalau memang ada mayat itu..."
"...kenapa tidak ada yang pernah membicarakannya?"
Mang Jaya tersenyum hambar.
"Karena tidak ada buktinya."
"Warga datang."
"Tapi mayat itu sudah tidak ada."
"Kalau aku terus bercerita, orang akan menganggapku mengada-ada."
"Lama-kelamaan..."
"...aku memilih diam."
Arga mengangguk pelan. Ia dapat memahami alasan itu. Tanpa bukti, cerita seperti itu memang akan terdengar sulit dipercaya.
"Pak Rahman tahu?"
"Tahu."
"Beliau ikut mencari waktu itu."
"Tapi beliau juga tidak menemukan apa pun."
Mang Jaya menatap langit yang mulai gelap.
"Sejak hari itu..."
"...kami sepakat satu hal."
"Apa itu?"
"Jangan pernah masuk ke rawa sendirian."
Arga terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun cara Mang Jaya mengucapkannya membuatnya terasa seperti sebuah aturan yang lahir dari pengalaman pahit.
Adzan Magrib mulai berkumandang dari musala kecil.
Mang Jaya berdiri.
"Ayo."
"Sudah waktunya pulang."
Arga ikut bangkit.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju kampung. Sepanjang perjalanan, suasana berubah begitu cepat. Anak-anak yang tadi masih bermain segera berlari menuju rumah. Para petani mempercepat langkah mereka. Pintu-pintu rumah mulai ditutup. Persis seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada seorang pun yang ingin berada di luar setelah matahari tenggelam.
Sesampainya di depan rumah adik Pak Rahman, Mang Jaya menepuk pelan bahu Arga.
"Ingat."
"Malam ini jangan ke belakang rumah."
Arga mengangguk.
"Saya ingat, Mang."
Mang Jaya tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya. Malam kembali menyelimuti Kampung Ciburial. Setelah salat Isya, Arga duduk sendirian di ruang depan. Cerita tentang ransel yang hilang.
Mayat yang mengapung.
Dan bau aneh yang muncul sejak saat itu.
Semuanya berputar di kepalanya.
"Kalau memang mayat itu pendaki..."
"...kenapa tidak ada yang mencarinya?"
gumamnya pelan.
Ia mencoba menghubungkan semua kejadian. Namun tidak ada satu pun yang benar-benar masuk akal. Beberapa saat kemudian, angin mulai bertiup. Refleks Arga menoleh ke arah dinding belakang rumah.
Ia menahan napas.
Untung saja...
Angin malam itu bertiup dari arah depan.
Tidak membawa aroma rawa.
Arga mengembuskan napas lega.
Baru saja ia hendak berbaring, terdengar suara langkah kaki di beranda.
Tok...
Tok...
"Arga."
Suara Pak Rahman terdengar pelan.
Arga segera membuka pintu.
"Pak?"
Pak Rahman berdiri sambil membawa sebuah lampu minyak.
"Aku hanya ingin memastikan."
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya, Pak."
Pak Rahman mengangguk.
"Lampu ini taruh saja di dalam."
"Kalau tiba-tiba mati, jangan keluar untuk menyalakannya."
Arga mengernyit.
"Kenapa, Pak?"
Pak Rahman tampak ragu.
"Listrik memang belum masuk kampung ini."
"Kalau lampu minyak padam, tunggu sampai pagi."
"Jangan keluar."
Ucapan itu terdengar aneh.
Namun sebelum Arga sempat bertanya lebih jauh, Pak Rahman sudah pamit kembali ke rumahnya.
Arga menutup pintu.
Malam semakin sunyi.
Tak lama kemudian, ia mulai mengantuk.
Namun sekitar tengah malam...
"Huek..."
Arga terbangun dengan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Ia langsung duduk sambil memegang ulu hati.
Padahal...
Tidak ada angin yang bertiup.
Jendela belakang masih tertutup rapat.
Namun aroma rawa yang sangat tipis entah bagaimana tetap terasa memenuhi ruangan.
Rasa mual itu datang lebih kuat daripada sebelumnya.
Ia buru-buru meneguk air putih.
Tetapi tidak banyak membantu.
"Uwek..."
Ia membungkuk di samping tempat tidur.bYang keluar hanya cairan asam lambung.
Tubuhnya berkeringat dingin.
Di saat yang sama...
Tok...
Suara pelan kembali terdengar dari arah belakang rumah.
Arga membeku.
Tok... Tok...
Kali ini lebih jelas.
Seperti ada sesuatu yang mengetuk dinding bambu dengan perlahan.
Lalu...
Suara itu berhenti.
Berganti dengan bunyi seperti seseorang menyeret sesuatu di atas tanah yang basah.
Srrrtt...
Srrrtt...
Arga menggenggam erat selimutnya.
Ucapan Pak Rahman dan Mang Jaya kembali terngiang di kepalanya.
"Apa pun yang terjadi... jangan keluar malam-malam."
Ia memejamkan mata sambil berusaha mengabaikan suara itu.
Tetapi jauh di dalam hatinya, ia merasa...
Misteri yang selama ini hanya diceritakan orang-orang kampung perlahan mulai mendatanginya sendiri.
Suara seretan itu akhirnya menghilang menjelang dini hari. Arga tidak tahu kapan ia kembali tertidur. Rasa mual yang sempat menyerangnya perlahan mereda, menyisakan tubuh yang lemas dan kepala yang terasa berat. Saat ayam jantan mulai berkokok, cahaya matahari menembus celah-celah anyaman bambu.
Ia membuka mata perlahan.
"Alhamdulillah..."
Malam yang panjang akhirnya berlalu.
Setelah salat Subuh di musala, Arga menghampiri Pak Rahman yang sedang menyapu halaman.
"Pak..."
Pak Rahman menghentikan sapunya.
"Bagaimana semalam?"
Arga terkejut.
"Bapak tahu saya tidak tidur?"
Pak Rahman tersenyum tipis.
"Kelihatan dari wajahmu."
Arga menceritakan suara ketukan dan bunyi seperti sesuatu diseret di belakang rumah. Ia juga mengaku kembali merasakan mual meski jendela belakang tetap tertutup rapat. Pak Rahman mendengarkan tanpa memotong.
Setelah Arga selesai bercerita, beliau terdiam cukup lama.
"Lalu..."
"Bapak percaya?"
Pak Rahman menghela napas.
"Aku percaya kamu mendengar sesuatu."
"Tapi aku belum tahu itu suara apa."
Arga mengangguk pelan.
"Pak..."
"Boleh kita lihat ke belakang rumah?"
Pak Rahman sempat ragu. Namun akhirnya mengangguk.
"Asal tidak mendekati rawa."
Matahari baru naik ketika mereka berjalan menuju belakang rumah. Kabut pagi masih tipis menggantung di atas rerumputan.
Udara terasa segar.
Tidak ada aroma menyengat seperti biasanya.
Mereka berhenti sekitar dua puluh meter dari tepian rawa. Tanah di belakang rumah masih lembap karena embun. Arga memperhatikan setiap jengkal permukaan tanah.
Tiba-tiba ia menunjuk ke arah semak-semak.
"Pak..."
"Itu apa?"
Pak Rahman mendekat.
Di atas tanah yang lunak tampak beberapa bekas pijakan. Namun bentuknya tidak jelas. Sebagian menyerupai telapak kaki manusia. Sebagian lagi memanjang seperti bekas sesuatu yang diseret.
Pak Rahman berjongkok.
Beliau menyentuh tanah itu dengan ujung jari.
"Masih baru..." gumamnya.
Arga mengikuti arah bekas tersebut. Jejak itu berasal dari arah rawa. Melewati semak-semak.
Lalu...
Berakhir tepat di belakang dinding rumah.
Tidak ada jejak yang kembali ke rawa.
Seolah sesuatu datang...
Lalu menghilang begitu saja.
Bulu kuduk Arga berdiri.
"Pak..."
"Apa mungkin ini bekas babi hutan?"
Pak Rahman menggeleng pelan.
"Kalau babi hutan, bekas kakinya berbeda."
"Kalau kerbau juga bukan."
Beliau berdiri sambil memandang ke arah rawa. Wajahnya berubah serius.
"Jangan cerita ini ke warga dulu."
"Kenapa?"
"Nanti semua orang panik."
Arga mengangguk. Saat mereka hendak kembali ke depan rumah, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa.
Rafi datang berlari sambil terengah-engah.
"Pak Rahman!"
"Ada apa, Fi?"
Anak itu berhenti di depan mereka.
"Warga ramai di balai."
"Katanya..."
"...ada yang menemukan sesuatu di rawa."
Arga dan Pak Rahman saling berpandangan.
"Apa yang ditemukan?" tanya Arga cepat.
Rafi menggeleng.
"Saya tidak tahu."
"Orang-orang cuma bilang Mang Jaya yang menemukannya."
Tanpa menunggu lebih lama, Pak Rahman segera melangkah menuju balai kampung. Arga mengikuti di belakang dengan langkah yang sedikit terpincang. Suasana balai kampung jauh lebih ramai daripada biasanya. Belasan warga berkumpul membentuk lingkaran. Di tengah kerumunan berdiri Mang Jaya. Wajah pria tua itu tampak lebih pucat dari biasanya. Saat melihat Pak Rahman datang, ia segera menghampiri.
"Rahman..."
"Apa yang terjadi?" Mang Jaya membuka telapak tangannya perlahan.
Di sana terdapat sebuah peluit logam kecil yang telah berkarat.
"Ini kutemukan di tepi rawa."
Arga membelalak. Peluit itu sangat mirip dengan peluit darurat yang biasa dibawa para pendaki gunung. Mang Jaya melanjutkan dengan suara pelan.
"Tidak jauh dari tempat dulu aku melihat ransel."
Pak Rahman mengambil peluit itu.
"Masih bisa dipakai?"
Mang Jaya menggeleng.
"Tidak."
"Tapi..."
"Ada sesuatu yang lebih aneh."
Beliau menunjuk ke arah salah satu sisi peluit.
Di sana terukir dua huruf kecil yang masih samar terbaca.
A.R.
Arga langsung meraba saku celananya. Peluit miliknya masih ada.
Bukan miliknya.
Namun entah mengapa, melihat benda kecil itu membuat dadanya berdebar.
Jika benar peluit itu milik seorang pendaki yang pernah hilang...
Berarti rawa itu mungkin masih menyimpan jejak orang-orang yang tak pernah kembali. Dan untuk pertama kalinya, Arga mulai merasa bahwa misteri ini bukan lagi sekadar cerita lama yang diwariskan warga.
Seseorang...
Atau sesuatu...
Seakan sedang memperlihatkan kepadanya kepingan-kepingan masa lalu, sedikit demi sedikit.