Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Pagi hari setelah melaksanakan sholat subuh Peno bingung tak ada yang bisa dikerjakan, akhirnya ia memutuskan menyeduh mie instan dan membuat kopi lalu nonton tv, yang acaranya ia sendiri tidak paham, bagi Peno yang penting ada suara menemani kesendiriannya.
Ia tak berani keluar kamar atau hotel sendirian, kecuali kalau pak Supri dan pak Basuki yang memanggil dan mengajak keluar, bukanya takut dengan orang jahat tapi lebih takut dengan nyasar atau jadi bahan tertawaan orang karena ndesonya, maka dari itu ia lebih memilih diam dikamar menunggu pak Supri dan pak Basuki memanggil.
"haduuuhhh, bosen dikamar terus, tapi mau keluar juga mau ngapain dan kemana!" keluhnya dengan hembusan nafas kasar.
Alhasil setelah menyantap mie instan dan minum kopi ia ketiduran disofa, kali ini bukan ia yang menonton tv tapi tv yang menonton ia tidur.
Barulah jam tujuh pak Supri mengetuk pintu kamar Peno, Peno kaget dan duduk sebentar untuk memulihkan kesadarannya dan segera membuka pintu.
"kamu baru bangun No?" tanya pak Supri lalu nyelonong masuk dan duduk disofa tempat tadi Peno tertidur dan diikuti pak Basuki.
"tepatnya ketiduran pak, tadi habis subuh bingung mau ngapain, akhirnya nyeduh mie dan bikin kopi, eh setelah kenyang malah ngantuk lagi, he he he......!" jawab Peno yang juga ikut duduk disofa lainnya.
"h ha ha...... Bisa aja kamu No, ya wis mandi sana, nanti kita cari sarapan diluar, kalo pesan hotel mahal, bisa bisa uang saku kita habis ga bisa beli oleh oleh!" kata pak Basuki meminta Peno segera mandi.
"kalo mandi sudah tadi pak, paling tinggal cuci muka lagi dan ganti baju!" jawab Peno lalu bangkit menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Setelah Peno siap bertiga pun jalan keluar hotel, mencari warung makan terdekat untuk sarapan.
"kayaknya jarang disini warung makan, yang ada penjual bubur ayam sama soto dan jajanan!" ucap pak Supri setelah jalan lumayan jauh tapi belum menemukan warung makan.
"ya wis, kita sarapan bubur ayam saja, daripada perut kosong!" kata pak Basuki.
Akhirnya mereka pun masuk ketenda penjual bubur ayam, memesannya dan makan dengan tenang.
Jam delapan lebih mereka sudah kembali kehotel, hari ini dijadwalkan ada enam pertandingan, dua pertandingan disesi pagi sampai jam istirahat, dua pertandingan disesi siang jam dua sampai jam empat, dan dua pertandingan disesi malam jam delapan sampai jam sepuluh.
"sudah siap No?" tanya pak Supri saat mereka sedang duduk santai dibalkon kamar Peno sambil menikmati kopi.
"selalu siap pak, pak Supri sama pak Basuki kan pegang ponsel, tolong nanti aku direkamkan permainannya calon lawanku, bisa ga!?" jawab Peno lalu bertanya pada kedua bapak bapak yang menjadi officialnya itu.
"waduh, sepertinya tidak boleh No, tapi bapak bisa memperhatikan cara mereka main, nanti aku kasih tahu kamu!" kata pak Supri.
"iya No, nanti kami bagi tugas, dua lawanmu selanjutnya akan kami awasi!" tambah pak Basuki.
"kaya gitu juga gapapa pak, yang penting saya tahu gaya permainan mereka, ayo kita berangkat!" ucap Peno mengajak keduannya berangkat.
Jam sembilan kurang lima belas menit pun mereka masuk meeting room, disana semua peserta sudah datang, hanya tinggal menunggu waktu sebentar maka pertandingan akan segera dimulai.
Jam sembilan tepat pertandingan dimulai, lawan Peno kali ini seorang bapak bapak gagah, sepertinya ia memang atlit catur yang sudah profesional, terbukti dengan cara mainnya yang tenang tapi cekatan, alhasil pertandingan berakhir dengan remis, masing masing mendapat nilai setengah.
"No, lawanmu selanjutnya namannya Brian, dari kota M, sepertinya masih amatir, cara mainnya masih grasa grusu, dan sering salah langkah, tapi ya kamu harus tetap hati hati, siapa tahu itu hanya trik saja!" kata pak Basuki dengan berbisik saat mereka sedang break kopi di sudut ruangan.
"yang mana orangnya pak?" tanya Peno.
"itu, yang pakai jas warna abu abu!" jawab pak Supri.
"wah, tampangnya keren pak, dandanannya juga kaya atlit luar negrian, he he he....!" kata Peno denhan sedikit tertawa.
Pertandingan kedua pun dimulai, dan benar saja, dengan mudah Peno bisa mengalahkan Brian wakil dari kota M, Peno mendapat poin satu, kini ia sudah mengumpulkan tiga setengah poin, dan dalam jurnal klasmen ia berada di urutan nomer tiga, dengan selisih setengah poin dari pemuncak klasmen dan nomer dua.
jam istirahat Peno, pak Supri dan pak Basuki mencari makan siang diluar hotel lagi, ia kembali berjalan kepusat perbelanjaan yang cukup besar dikota itu,
"pak, makan bakso pinggir jalan kayaknya nikmat!" ucap Peno saat sudah sampai dijalan depan pusat perbelanjaan dan melihat ada tukang bakso yang mangkal dibawah pohon rindang dan ramai dengan pembeli.
"sepertinya enak No, buktinya banyak yang beli!" kata pak Basuki menambahi.
"ya wis, ayo kita kesana!" ucap pak Supri.
Bertiga pun jalan menghampiri lapak bakso yang ramai pembeli, setelah memesan tiga porsi dan tiga es teh mereka mencari tempat duduk, tikar kosong dibawah pohon menjadi pilihan, pesanan pun datang mereka langsung menyantapnya karena memang sudah lapar.
Namun saat sedang menikmati baksonya Peno, oak Supri dan pak Basuki baru menyadari kalau tikar disebelah mereka ada sepasang kekasih yang sedang makan juga didatangi oleh seorang perempuan cantik tanpa basa basi mengambil es teh milik Peno dan menyiramkannya ke pemuda yang sedang makan itu.
"ooooohh, begini ya ternyata kamu, bilangnya ga bisa keluar karena mamahmu sakit, ternyat malah asik berduaan sama cewe lain!" ucap perempuan itu sambil menyiramkan es teh milik Peno.
pemuda yang disiram itu pun kaget dan seketika langsung berdiri, "aku bisa jelaskan Ta, ini bukan seperti yang kamu lihat!" ucap pemuda itu sambil memegang kedua tangan perempuan yang menyiramnya tadi, sedangkan cewe yang makan bersama pemuda itu hanya bisa diam.
"jelaskan apa, semuanya sudah jelas, heh kamu, teman macam apa kamu hah, ternyata selama ini aku dibohongi oleh kalian yang sok baik!" kata perempuan itu yang ternyata benama Nita dan seketika menunjuk pada perempuan yang duduk diam dan menunduk.
Peno sendiri hanya bisa diam pasrah, es tehnya tandas tanpa ia minum setetes pun, ia berbalik badan melihat pertengkaran yang semakin seru.
"ha ha ha ha.........!" seketika pemuda itu malah tertawa keras, "kamu baru sadar, perlu kamu tahu, aku lebih memilih Putri daripada kamu yang sok alim ini, ha ha ha.......!" ucap pemuda itu sambil mendorong Nita sampai jatuh duduk ditrotoar.
"walaaaahhh, sama perempuan kok kasar, jangan jangan memang beraninya sama perempuan!" cletuk Peno reflek, dari dulu memang ia sangat benci melihat laki laki main kasar sama perempuan.
"diam kamu, ini bukan urusanmu!" ucap pemuda itu yang ternyata bernama Bobi.
"ha ha ha ha......,dari sejak es teh saya diambil tanpa ijin oleh mba ini saya diam, tapi saat melihat pengecut kaya kamu mendorong kasar perempuan saya jadi tak bisa diam, ingin rasanya mematahkan tangan kamu itu, ha ha ha....!" jawab Peno dengan tawa ringannya.