Dendam dua jiwa.
Jiwa seorang mafia cantik berhati dingin, memiliki kehebatan dan kecerdasan yang tak tertandingi, namun akhirnya hancur dan berakhir dengan mengenaskan karena pengkhianatan kekasih dan sahabatnya.
Jiwa yang satu adalah jiwa seorang gadis lugu yang lemah, yang rapuh, yang berlumur kesedihan dan penderitaan.
Hingga akhirnya juga mati dalam kesedihan dan keputus asaan dan rasa kecewa yang mendalam. Dia mati akibat kelicikan dan penindasan yang dilakukan oleh adik angkatnya.
Hingga akhirnya dua jiwa itu menyatu dalam satu tubuh lemah; jiwa yang penuh amarah dan kecewa, dan jiwa yang penuh kesedihan dan putus asa, sehingga melahirkan dendam membara. Dendam dua jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Menghadapi Dakwaan Ketua OSIS part. 1
Annabella melangkah tenang memasuki ruang OSIS. Meski tak ada senyum keramahan di wajahnya yang manis, bahkan datar, tapi masih terkesan kalem.
Sama sekali tidak ada ekspresi takut pada wajah putih bersihnya, bahkan yang tampak adalah keberanian yang mutlak.
Yang membuat geng Kenzie semakin dibuat heran, tak habis pikir dengan perubahan yang tampak pada Annabella.
Di ruangan itu ternyata bukan hanya geng Kenzie yang ada. Terdapat juga dua orang siswi yang juga merupakan anggota OSIS. Yang satu bernama Kimberlie, Sekretaris OSIS. Sedangkan yang satunya bernama Nabila, Bendahara OSIS.
Tampak dua anggota OSIS berwajah cantik lagi berprestasi itu sedang berbincang-bincang dengan Kenzie dan Stevan. Namun begitu Annabella telah memasuki ruang OSIS, mereka menghentikan percakapan. Menyusul setelah itu obrolan antara Erwin dengan Arya juga ikut terhenti.
Sedangkan Genta yang hanya diam membaca buku segera menghentikan kegiatannya. Terus langsung menatap Annabella yang masih melangkah pelan mendekati tempat dia dan yang lainnya berkumpul.
Tepatnya Annabella melangkah mendekati meja panjang yang diitari oleh beberapa kursi. Tujuh buah kursi sudah diisi oleh geng Kenzie serta Kimberlie dan Nabila.
Begitu sudah cukup dekat jaraknya dengan meja panjang itu, Annabella baru berhenti melangkah. Dia berdiri di dekat salah satu sisi badan meja yang mengarah ke pintu masuk. Kurang lebih dua meter jaraknya.
Beberapa saat lamanya Annabella hanya diam saja mematung di tempat berdirinya sambil terus menatap Kenzie. Sedangkan Kenzie dan yang lainnya pula pada saat yang sama juga masih asyik menatapnya, dengan beragam ekspresi.
Annabella tetap datar tapi kalem dan santai saat menatap Kenzie. Sikapnya juga begitu tenang, tanpa ada rasa gugup, tanpa ada rasa canggung, ataupun takut apalagi segan.
Yang lebih penting dari itu semua, tatapannya itu tanpa ada rasa sedikit pun pada cowok yang paling tampan di kelas 12 itu, bahkan mungkin paling tampan seantero SMA PAS 1 ini.
Sedangkan Kenzie, tatapannya juga tampak datar sekaligus tenang. Namun siapa sangka, bersamaan dengan itu dia berusaha keras agar sesuatu yang masih tersegel dalam sanubarinya tidak hancur di hadapan kejelitaan Annabella.
Dia berusaha keras agar tidak memiliki rasa terhadap cewek yang sudah tampil beda itu, terutama kecantikannya.
Sementara Kimberlie yang melihat Kenzie dan Annabella saling tatap-tatapan, tentu saja merasa kesal dibuatnya. Dia cewek yang amat menyukai Kenzie, tentu saja tidak sudi ada cewek lain yang menatap sang pujaan hati.
Apalagi ini cewek yang menatap Kenzie adalah cewek cupu yang sekarang sok tampil cool. Cewek yang sama sekali tidak ada apa-apanya di mata seorang Kimberlie, salah satu cewek tercantik di SMA PAS 1 ini.
"Ken, apa kamu memanggil cewek cupu itu hanya untuk saling tatap-tatapan dengannya di sini?" tegur Kimberlie yang tidak bisa menahan diri, terutama rasa cemburunya dan rasa bencinya kepada Annabella.
Annabella tidak terpengaruh dengan suara berisik Kimberlie. Sepasang matanya yang menyorot tajam tapi kalem terus saja mengunci wujud Kenzie.
Malah Kenzie yang bergeming, dia langsung beralih memandang Kimberlie yang duduk di kursi sebelah kanannya.
Tapi dalam hati dia amat bersyukur dengan tindakan Kimberlie yang menegur itu. Hal itu meyelamatkan harga dirinya yang sebenarnya hampir tidak sanggup saling bertatapan lama dengan Annabella.
Sementara suara yang cukup berisik dari Kimberlie ternyata seketika membuyarkan suasana sunyi dan kebisuan.
★☆★☆
Genta yang duduk di salah satu ujung meja, di seberang Kenzie, segera berdiri. Terus berkata kepada Annabella, mempersilahkan duduk.
"Bella, silahkan kamu duduk di sini!"
Annabella tidak langsung memenuhi permintaan Genta. Dia beralih memandang cowok pendiam itu yang telah menarik kursi yang didudukinya agar sedikit keluar dari meja. Lalu menunjukkan gestur mempersilahkan dia duduk.
Tapi tak lama kemudian, Annabella segera menuju ke kursi itu. Begitu sampai di samping kanan kursi....
"Terima kasih," ucap Annabella kepada Genta yang masih berdiri di belakang kursi sambil sedikit menundukkan kepada kepada cowok tersebut.
Genta sedikit gugup dengan sikap yang ditunjukan oleh Annabella itu. Sedangkan yang lainnya --selain Kimberlie--, melihat sikap itu adalah sikap yang agak aneh.
Sikap hormat itu bukan karena takut, tapi lebih kepada menghargai sikap seseorang. Tapi entah kepada mereka merasa jika itu bukan sikap Annabella seperti yang mereka kenal.
Sedangkan Kimberlie mendengus sinis melihat sikap Annabella dan semakin mereka jengkel dengan apa yang ada pada diri cewek itu.
Sementara Annabella, seolah tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya, dia segera duduk di kursi yang dipersilahkan oleh Genta. Lalu memandang lurus ke depan, ke seberang kursi sana di mana Kenzie duduk di situ.
Sedangkan Genta duduk kembali di kursi tapi kaki ini di samping Nabila, di sisi meja yang mengarah ke pintu.
Kini Annabella duduk berhadap-hadapan dengan Kenzie yang otomatis mereka kembali saking tatap dalam rasa yang belum saling bertemu.
Sedangkan Kimberlie yang melihat hal itu, makin dibuat kesal, benci, serta cemburu yang membabi buta.
Dasar cewek stresss...!
"Ken, langsung beri hukuman saja cewek cupu itu," kata Kimberlie setengah menyuruh dengan nada sinis penuh emosi dan benci. "Dia sudah banyak melakukan kesalahan kan?"
"Coba kamu diam dulu, Kim!" tegur Nabila bernada kesal melihat Kimberlie yang bersikap tidak profesional. "Biar Kenzie yang bicara dulu sama Bella...."
Kimberlie langsung mendengus jengkel Nabila menegurnya. Tapi dia diam juga, tidak berulah lagi. Apalagi Kenzie sudah menatapnya, meski lembut namun penuh sikap tegas.
"Bella, aku harap kamu bisa bekerja sama dengan baik, agar nantinya hukumanmu nggak bertambah berat," kata Kenzie membuka percakapan.
"Kamu sepertinya sudah yakin kalau aku telah bersalah atas tuduhanmu itu, Ken," tanggap Annabella bernada kalem, santai, dan tenang.
"Apakah ini sikap bijaksana seorang Ketua OSIS?" lanjutnya seakan mencibir. "Sedangkan kamu belum memberitahukan kepadaku secara jelas, apa yang sudah aku lakukan, sehingga kamu langsung memvonis aku sebagai orang yang bersalah...."
"Diam!" desis Stevan kepada Kimberlie yang hendak menyanggah ucapan Annabella sambil menatap tajam padanya.
Dan terpaksa Kimberlie diam meski sudah mendongkol melihat sikap Annabella yang sok diplomatis itu.
"Kemarin kamu melakukan kekacauan di kantin," tutur Kenzie membeberkan dakwaan, tetap kalem dan tenang, "kamu berkelahi dengan geng Rangga dan geng Reinald, serta memukul salah seorang siswa kelas 10 di situ...."
"Juga kamu telah menghajar 5 orang siswa kelas 11 di depan kelasmu," lanjutnya terus memberikan dakwaan secara sepihak yang entah apa maksud cowok keren itu.
Selepas membeberkan dakwaan itu, Kenzie berhenti berbicara seolah menjeda ucapannya, ingin dilihat reaksi Annabella akan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan padanya itu.
Tapi nyatanya Annabella tetap mengunci bibir merah ranumnya, seolah belum mau menanggapi semua tuduhan secara sepihak itu. Seolah masih menunggu ucapan Kenzie yang masih tertahan.
Dan akhirnya pula Kenzie mengucapkan kalimat yang seperti ditahannya itu.
"Apakah kamu hendak menunjukkan kepada semua orang kalau kamu sekarang tampil menjadi seorang jagoan?"
Sementara Kimberlie yang jelas masih meremehkan seorang Annabella, tersenyum mengejek kepada Annabella. Tentu Annabella tidak akan bisa menyanggah semua dakwaan Kenzie barusan.
Beda halnya dengan Nabila. Dia memperhatikan sikap Annabella yang begitu santai dan tenang. Tidak gugup apalagi ketakutan menghadapi Kenzie dan menghadapi kasus ini.
Tentu saja dia merasa amat heran melihat sikap Annabella yang berbeda dari yang sudah-sudah itu. Seolah dia melihat di depannya itu bukan seorang Annabella.
Sedangkan Annabella, sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak dengan semua dakwaan yang dilontarkan Kenzie itu. Menurutnya, pemuda itu seolah mengucapkan sesuatu yang membuatnya tertawa.
"Kenapa kamu dia saja, Bella?" tanya Nabila bernada datar, tapi tidak menunjukkan sikap benci kepada Annabella. "Apa sanggahanmu tentang semua dakwaan itu?"
"Sebenarnya aku ingin tertawa mendengar semua dakwaan yang dilontarkan oleh Tuan Ketua OSIS," kata Annabella setelah beberapa detik terdiam sambil tersenyum nyaris tertawa. "Semua tuduhan yang kamu lontarkan itu hanyalah tuduhan secara sepihak, Kenzie."
"Apa kamu masih menganggap kalau aku cewek cupu yang bodoh, sehingga kamu meremehkan aku?"
★☆★☆★
lanjuuut kak ,,
apa kh mereka 1 tim????
lanjut kak ,,
makiin seruu nih cerita kak
si kak author pasti seneng nii bikin readers ny penasaran tingkat dewaaa ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣😁