NovelToon NovelToon
Maya Dan Cangkulnya

Maya Dan Cangkulnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romansa pedesaan
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: R.Fahlefi

Sebuah karya yang menceritakan perjuangan ibu muda.
Namanya Maya, istri cantik yang anti mainstream

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.Fahlefi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasar Gilang!

Jangankan ke Jepang, ke ibukota saja Maya nggak pernah menginjakkan kaki. Jantung Maya berdegup antara gugup, senang dan tidak percaya.

Reza dan Delia sudah sampai di rumah Maya. Mereka menjemput untuk kemudian pergi ke bandara bersama-sama.

Reza yang merupakan seorang bisnisman di Kalimantan mendapatkan proyek besar, perjalanan ke Jepang baginya bukan cuma soal jalan-jalan, tetapi sekaligus mengurusi ekspansi bisnis.

Sari tak lepas dari senyum yang lebar sepanjang perjalanan ke bandara. Anak kecil itu terus mengoceh, melihat hutan, pedesaan, kota kecil di kanan kiri jalan.

Sebuah warung, mobil mereka berhenti sebentar untuk membeli cemilan lalu melanjutkan perjalanan lagi.

"Bu, bahasa jepangnya terima kasih apa?" Kata Sari kepada Maya.

Maya tersentak, bahasa Jepang? Bisa bahasa Indonesia saja sudah beruntung.

"Arigatooo.." Delia yang menjawab.

Sari menoleh kepada tantenya itu lalu menunduk, "Arigato tante Delia." Ucapnya.

Delia terkekeh kecil, mengelus pucuk kepala Sari.

Di kursi depan, Gilang dan Reza bercakap-cakap ringan, lalu percakapan mulai mengarah ke desa.

"Kalau untuk sekarang, orang pada berebut menjadi kepala desa. Tidak seperti dulu lagi." Ucap Reza.

Gilang mengangguk, "Benar bang, tapi masalahnya, nggak banyak orang desa yang tahu kalau kepala desa sudah diberikan anggaran dari pemerintah pusat yang cukup besar."

Anggaran? Batin Maya yang mendengar dari belakang.

"Emang berapa anggarannya?" Tanyanya tertarik.

"1 sampai 2 milyar pertahun."

Jiwa Maya meronta, bukan hanya karena besarnya anggaran itu, tetapi bagaimana dengan desa mereka? Mengapa anggaran itu nggak pernah dipublikasikan kepada warga?

Gilang yang mengerti melirik Maya di belakang. Ia juga tahu ada yang tidak beres dengan desa mereka. Tetapi, Gilang nggak mau cari masalah, ia tidak mau menjadi satu-satunya orang yang mempertanyakan kepemimpinan pak kades.

"Abang sudah tahu itu?" Tanya Maya kepada Gilang.

Gilang mengangguk, "Aku sudah pernah bicara dengan pak kades, tapi begitulah. Tak ada yang benar-benar dikerjakannya." Jawab Gilang.

Maya mendengus, pikirannya mulai diselimuti oleh keinginan baru.

Kalau memang anggaran segitu besarnya, maka warga seharusnya bisa mendapatkan fasilitas yang cukup baik. Dan tentu akan sangat membantu proyek asparagusnya.

"Udah deh, nggak usah bahas yang berat-berat, ingat kita sedang liburan." Kata Delia mencairkan suasana.

Gilang mengangguk, "Benar, kita sedang liburan May, jangan mikirin pekerjaan mulu," sambung Gilang.

Maya cemberut, "kan abang yang mancing-mancing duluan." Sungutnya.

Mereka terkekeh dalam mobil. Suasana jauh lebih santai

Perjalanan memakan waktu 3 jam. Mereka sampai di bandara internasional.

Penerbangan langsung, nonstop ke Jepang selama 8 jam.

Jantung Maya berdegup kencang saat pesawat mulai lepas landas. Baru kali ini ia baik pesawat. Ia menggenggam tangan Gilang kuat-kuat, berdoa dalam hati dengan wajah pucat.

Gilang lebih santai, ia lebih beruntung karena pernah beberapa kali naik pesawat untuk perjalanan dinas. Ia mengerti perasaat Maya. Memeluk lengannya, membuat istrinya itu tenang. Sedikit rasa bersalah dihatinya karena selama ini tak pernah mengajak Maya dan Sari liburan.

"Maafin aku May, selepas ini aku janji akan sering mengajak kalian liburan," batin Gilang.

Perjalanan udara terasa seperti perjalanan ke dimensi lain. Ruangan yang dingin, penumpang yang berjejer di dalam tabung pesawat besar, lalu pramugari yang sibuk menawarkan makan dan minum selama perjalanan.

Iseng, Gilang pun berceloteh untuk membuat ketegangan Maya mengurai.

"Pramugarinya cantik-cantik." Ucapnya sengaja.

Maya, yang sedari tadi memeluk lengan Gilang langsung mengangkat kepalanya, "Cantik?" Nafasnya mulai memanas.

"Abang bilang pramugarinya cantik? Yang mana? Yang mana?"

Gilang menahan tawanya, ekspresi Maya membuatnya ingin mencubit pipi istrinya itu.

"Yang itu..." Kata Gilang, tapi telunjuknya mengarah ke Maya.

Seketika, wajah Maya pun memerah.

"Ihh abang! Gombal aja."

Gilang akhirnya terkekeh, "Kan nggak ada yang bisa ngalahin cantiknya istriku." Ucap Gilang.

Wajah Maya pun semakin memerah.

Sari yang pura-pura tidur disamping berdehen, "Ehmm."

Maya mengumpat dalam hati, dasar Gilang. Nggak tahu tempat!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!