NovelToon NovelToon
RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.

Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.

Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETEGANGAN DI MAKAN MALAM

Makan malam telah tiba. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya lembut ke seluruh ruangan, memantul di permukaan meja panjang yang tertata rapi dengan linen putih dan peralatan makan berkilau. Aroma lezat dari berbagai hidangan bercampur di udara—mengundang siapa pun yang duduk di sana untuk segera menikmati.

Di tengah meja, sepiring daging panggang yang masih mengepulkan uap tampak menggoda, dikelilingi oleh saus merah anggur yang kental dan harum. Di sisinya tersusun kentang panggang dengan rosemary, kulitnya keemasan dan renyah. Ada juga sup labu krim di dalam mangkuk porselen, lembut dengan taburan biji labu dan sedikit krim di permukaannya.

Beberapa piring kecil berisi sayuran tumis mentega, roti hangat, serta keju dan buah-buahan segar menambah warna pada meja. Gelas-gelas kristal berisi anggur merah dan air lemon dingin memantulkan cahaya, menciptakan bayangan berkilau di atas taplak putih itu.

Suasana tenang, hanya terdengar denting lembut garpu dan sendok ketika Bill, Sophia dan Edward yang ada dihadapan mereka mulai menyantap hidangan makan malam bersama.

“Aku sudah membuat keputusan,” Kata Edward akhirnya, suaranya dalam dan mantap. “Pernikahan kalian ... akan digelar minggu depan."

Bill berhenti mengunyah.

Sekejap, seluruh otot di wajahnya menegang. Matanya membesar sedikit, lalu—

ia tersedak. Batuknya pecah keras di ruang makan yang sebelumnya sunyi. Napasnya tersengal, tangan kirinya menepuk dadanya sendiri, sementara pelayan yang panik segera menghampiri membawa segelas air.

Sementara, Sophia menatap Edward, nyaris refleks.

“Dua minggu lagi, katamu?” Suara Bill akhirnya keluar, masih serak tapi jelas. “Kenapa... jadi secepat itu, Ayah?”

Edward mengangkat gelas anggurnya perlahan, menatap cairan merah gelap di dalamnya seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar minuman. “Karena semua sudah disiapkan,” Ujarnya tenang. “Tempat, undangan, bahkan gaunnya.”

Sophia menegakkan punggungnya perlahan. Jantungnya berdetak cepat. “Sudah... disiapkan?” Suaranya kecil, hampir seperti bisikan.

Ruangan itu seketika membeku.

Hanya suara jam antik di dinding yang terus berdetak, menjadi saksi dari kata-kata Bill yang baru saja meluncur—kata-kata yang terlalu tajam untuk sekadar lelucon, terlalu berani untuk tidak disengaja.

“Kau tak perlu pura-pura terkejut,” desis Bill, nadanya dingin, penuh nada menantang. “Bilang saja kau merasa senang. Bukankah pernikahanmu denganku akan berjalan sebentar lagi? Kau akan menjadi ratuku... tapi jangan harap kau bisa menguasai hartaku.”

Kalimat itu memecah udara seperti pecahan kaca yang jatuh.

Sophia tersentak keras, matanya membesar tak percaya. Ia menatap Bill, bingung—antara kaget, takut, dan tidak mengerti kenapa pria itu mengucapkan sesuatu yang begitu berbahaya di hadapan Edward. Nafasnya tertahan di tenggorokan; jemarinya yang menggenggam sendok kini bergetar halus, hampir tak terasa, tapi cukup untuk membuat pelayan di dekatnya menunduk semakin dalam, pura-pura tak mendengar apa pun.

Edward menoleh perlahan.

Gerakannya pelan, nyaris tanpa suara, tapi tatapannya—tatapan itu tajam, menusuk seperti bilah yang tak terlihat.

Sudut bibirnya melengkung sedikit, bukan tersenyum, melainkan mengancam.

“Apa maksudmu dengan itu, Bill?” Suaranya tenang, tapi dingin. “Aku tidak ingat pernah memberimu hak untuk berbicara atas namaku... apalagi menyebut pernikahan ini milikmu.”

Bill bersandar di kursinya, mengangkat dagunya sedikit. Ia tidak mundur. “Tapi benar, bukan?” Katanya datar, meski matanya tetap menatap Edward tanpa gentar. “Lagipula... bukankah kau yang suka mempercepat segalanya, daripada menimbang terlebih dulu?”

Edward menatapnya lama, hingga udara di sekitar meja terasa menekan. Sementara, Sophia menunduk, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Ia bisa merasakan ketegangan di antara dua pria itu—bukan sekadar pertikaian, tapi sesuatu yang jauh lebih gelap. Entah.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!