NovelToon NovelToon
Incase You Didn'T Know

Incase You Didn'T Know

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Faza Hira

Demi meraih mimpinya menjadi arsitek, Bunga, 18 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan pria yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Mereka setuju untuk hidup sebagai "teman serumah" selama empat tahun, namun perjanjian logis mereka mulai goyah saat kebiasaan dan perhatian tulus menumbuhkan cinta yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faza Hira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Part 2

Setelah sarapan, Ibu Arga punya rencana. "Bunga, temani Ibu ke pasar, yuk. Ibu mau masak buat makan siang. Kangen masak di dapur yang besar."

"Iya, Bu. Tentu." Bunga merasa lega. Ia butuh keluar dari apartemen itu. Ia butuh ruang untuk bernapas, jauh dari Arga.

"Arga, kamu antar, ya," perintah Ibunya.

"Arga ada kerjaan, Bu. Harus ke kantor sebentar, ada yang mendesak," tolak Arga halus. "Biar Bunga sama Ibu naik taksi online saja, ya? Lebih praktis."

Bunga tahu Arga hanya mencari alasan untuk tidak pergi bersama mereka.

Maka, Bunga pun pergi berdua dengan mertuanya. Di dalam taksi, Ibu Arga memulai percakapan yang Bunga takuti.

"Bunga," kata Ibu Arga lembut. "Arga itu... bagaimana sama kamu?"

"Baik kok, Bu. Baik banget."

"Ibu tahu dia baik," kata Ibu Arga. "Tapi dia itu... anak yang sulit ditebak. Sejak kecil, dia tidak pernah menunjukkan apa yang dia rasakan. Kalau dia sedih, dia diam. Kalau dia marah, dia diam. Semuanya dia simpan sendiri."

Bunga mendengarkan dengan saksama. Ini adalah sisi Arga yang tidak pernah ia tahu.

"Waktu Ayahmu dan Ayahnya Arga menjodohkan kalian," lanjut Ibu Arga, "Ibu sempat ragu. Ibu takut Arga hanya setuju karena rasa tanggung jawab, bukan karena dia benar-benar mau. Ibu takut dia akan menyakitimu dengan sikap dinginnya."

Ibu Arga menoleh, menatap Bunga dengan tatapan penuh kasih. "Tapi kemarin, waktu Ibu lihat cara dia menatapmu, cara dia menyentuh kepalamu... Ibu baru lihat lagi tatapan itu. Tatapan yang sama seperti waktu dia kecil dapat mainan yang sudah lama sekali dia inginkan."

Hati Bunga mencelos.

"Dia sayang sekali sama kamu, Nduk," kata Ibu Arga. "Kamu sabar-sabar ya sama dia. Kalau dia diam, bukan berarti dia tidak peduli. Justru sebaliknya. Semakin dia diam, semakin besar masalah yang sedang dia pikirkan."

Bunga hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat. Ia merasa menjadi penipu paling jahat di dunia. Ibu Arga begitu tulus, begitu penuh harap. Dan Bunga... Bunga adalah bagian dari kebohongan besar ini.

Di pasar, Ibu Arga mengajarinya cara memilih sayuran segar, cara menawar harga. Bunga merasa seperti sedang bersama Ibunya sendiri. Semua nasihat Ibu Arga tentang putranya terus berputar di kepalanya.

Semakin dia diam, semakin besar masalah yang sedang dia pikirkan.

Masalahnya... adalah ciuman semalam. Dan masalahnya... adalah Bunga.

Mereka kembali ke apartemen pukul sebelas siang. Arga tidak ada. Ia benar-benar pergi ke kantor.

Bunga membantu Ibu Arga memasak di dapur. Mereka memasak rawon, makanan khas Jawa Timur. Aroma rempah-rempah yang familiar memenuhi apartemen, membawa sedikit rasa 'rumah'.

Pukul satu siang, Arga pulang. Ia terlihat lelah, tapi lebih tenang.

"Sudah selesai kerjanya?" tanya Ibunya.

"Sudah, Bu."

Makan siang itu terasa sedikit lebih ringan. Mungkin karena kehadiran rawon buatan Ibu Arga. Mungkin karena Bunga dan Arga sudah punya waktu untuk berpikir.

Setelah makan siang, Ayah dan Ibu Arga memutuskan untuk istirahat di kamar tamu.

"Kami mau tidur siang dulu. Nanti sore kita jalan-jalan, ya," kata Ibu Arga.

Dan tinggallah Bunga dan Arga berdua di ruang tamu.

Hening.

Ini adalah momennya. Mereka harus bicara.

Bunga yang memulai. "Mas," katanya pelan.

Arga, yang sedang pura-pura membaca koran, menurunkannya. "Ya?"

"Kita... perlu bicara. Soal semalam."

Arga menghela napas. Ia melipat korannya, meletakkannya di meja. "Iya."

Mereka duduk di sofa yang sama, tapi di ujung yang berlawanan.

"Kenapa?" tanya Bunga langsung. "Kenapa Mas Arga... melakukan itu?"

Arga tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela. "Mas nggak tahu," katanya jujur. "Itu... terjadi begitu saja."

"Bukan. Mas Arga tahu," kata Bunga, suaranya lebih tegas. Ia teringat kata-kata Ibu Arga. "Mas Arga nggak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan."

Arga menoleh, menatap Bunga. Ada kekaguman di matanya. "Kamu benar."

Ia menarik napas dalam-dalam. "Karena... aktingnya terasa terlalu nyata," katanya, persis seperti yang Bunga duga. "Karena melihat kamu begitu sempurna memerankan peran 'istri', Mas... lupa diri. Mas lupa sama perjanjian kita."

"Cuma itu?"

Arga menggeleng pelan. "Bukan."

Ia menatap tangannya sendiri. "Mas sudah lama... memendam rasa sama kamu, Bunga. Sejak kamu masih SMA. Sejak kamu sering cerita soal cita-citamu jadi arsitek."

Pengakuan itu membuat seluruh udara di paru-paru Bunga seakan tersedot keluar.

"Tapi Mas tahu," lanjut Arga, "kamu cuma lihat Mas sebagai kakak. Dan Mas nggak mau merusak itu. Mas juga nggak mau menghalangi mimpimu. Makanya waktu Ayah kita menjodohkan kita, Mas pikir... itu adalah solusi yang sempurna. Mas bisa 'menjagamu' tanpa harus membebanimu dengan perasaan Mas."

Bunga tidak bisa berkata apa-apa. Seluruh narasi yang ia bangun di kepalanya—tentang Arga yang terpaksa, tentang pernikahan kontrak yang dingin—hancur berkeping-keping.

"Tapi ternyata," kata Arga sambil tersenyum pahit, "Mas nggak sekuat yang Mas kira. Tinggal serumah sama kamu, tidur sekamar sama kamu... itu... menyiksa."

"Mas..."

"Mas minta maaf," kata Arga tulus. "Mas sudah melanggar perjanjian kita. Mas sudah mengambil keuntungan dari situasi ini. Mas nggak akan melakukannya lagi. Mas janji."

Bunga menatapnya. Laki-laki itu terlihat begitu rapuh, begitu jujur. Rasa marahnya, rasa bingungnya, semua lenyap. Digantikan oleh... empati. Dan sesuatu yang lain.

"Bunga juga minta maaf," katanya pelan.

Arga menatapnya, bingung. "Kamu? Minta maaf untuk apa?"

"Karena... Bunga membalasnya."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tapi kali ini, keheningan itu berisi pemahaman.

"Perjanjian kita... sudah nggak berlaku lagi, ya, Mas?" tanya Bunga.

"Mas nggak tahu," kata Arga. "Harusnya gimana?"

Mereka berada di persimpangan jalan. Jalan pertama: kembali ke perjanjian awal, membangun kembali tembok di antara mereka, dan berpura-pura ciuman itu tidak pernah terjadi. Jalan kedua: mengakui perasaan mereka, dan mengubah pernikahan pura-pura ini menjadi sesuatu yang nyata.

Tapi jalan kedua terlalu menakutkan. Terlalu cepat.

"Gimana kalau..." Bunga memulai, ragu-ragu. "Kita... kita bikin perjanjian baru?"

Arga menatapnya, menunggu.

"Kita... tetap jalani ini. Seperti biasa," kata Bunga. "Kita tetap jadi tim. 'Jam Bimbingan' tetap ada. Tapi... kita nggak usah pura-pura lagi. Maksud Bunga... kalau kita lagi nggak di depan orang tua, kita jadi diri sendiri. Nggak usah ada 'latihan adegan'. Dan... kita lihat saja nanti."

"Lihat saja nanti?" ulang Arga.

"Iya," kata Bunga. "Setelah Ibu dan Ayah pulang. Setelah Bunga melewati semester pertama. Kita... kita kasih waktu buat diri kita sendiri. Buat berpikir. Tanpa tekanan."

Itu adalah proposal yang bijak. Sebuah gencatan senjata. Sebuah penundaan.

Arga menatap Bunga lama. Gadis di depannya ini bukan lagi anak SMA yang naif. Ia sudah banyak berubah.

"Oke," kata Arga. "Kita lihat saja nanti."

Ia mengulurkan tangannya. Bukan untuk menggenggam. Tapi untuk berjabat tangan.

Bunga menerima jabatan tangan itu. "Perjanjian baru?"

"Perjanjian baru," kata Arga, senyum tipis terukir di wajahnya.

Jabatan tangan itu terasa seperti awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit, dan jauh lebih nyata.

Sore harinya, saat mereka berjalan-jalan di mal bersama orang tua Arga, Bunga merasa lebih ringan. Akting mereka kini terasa berbeda.

Saat Arga dengan santai merangkul bahunya di eskalator, Bunga tidak lagi merasa itu adalah bagian dari naskah. Ia tahu, di balik gestur yang ditujukan untuk orang tuanya itu, ada perasaan tulus yang baru saja diakui.

Dan saat ia balas tersenyum pada Arga, senyumnya juga bukan lagi senyum seorang aktris.

1
indy
Selamat arga bunga adam. tadi kirain ada plot twist arga pingsan pas arga lahir😄
indy
bahagia sekali bunga...
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
indy
sudah end ya
Faza Hira: tunggu special chapter nya kak 🤭
total 1 replies
indy
jangan sampai diana jadi ulet bulu
indy
jadi degdegan...
indy
lanjut...
indy
sebentar lagi...
indy
semangat arga bunga
indy
bikin penasaran
indy
lanjut kakak, suka banget
indy
Ceritanya bikin senyum-senyum sendiri. arga latihan sekalian modus ya...
minsook123
Suka banget sama cerita ini, thor!
Edana
Sudah berhari-hari menunggu update, thor. Jangan lama-lama ya!
Ivy
Keren banget sih ceritanya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!