Bismillah karya baru FB Tupar Nasir
WA 089520229628
Sekuel dari Ya, Aku Akan Pergi Mas Kapten
Kapten Excel belum move on dari mantan istrinya. Dia ingin mencari sosok seperti Elyana. Namun, pertemuan dengan seorang perempuan muda yang menyebabkan anaknya celaka mengubah segalanya. Akankah Kapten Excel Damara akan jatuh cinta kembali pada seorang perempuan?
Jangan lupa ikuti kisahnya, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Kissing Pertama Setelah Dua Tahun Menduda
Larut malam sekali mobil Excel tiba di kediamannya. Excel memasuki pagar rumah ketika pagar rumah itu dibuka oleh Mang Udin.
Mobil Excel sudah parkir dengan baik di bawah canopy, akan tetapi Zinni masih tidak terganggu, dia tidur sangat lelap. Excel tidak berani membangunkannya. Zinni terlihat sangat kelelahan dan ngantuk.
"Duh, bagaimana ini? Si Zinni sangat lelap tidurnya. Aku biarkan di sini atau aku pangku saja dan aku tidurkan di dalam kamarnya?" Excel bingung apa yang harus dia lakukan dengan keadaan Zinni sekarang.
"Den Excel, bagaimana Neng Zinninya?" Bi Ocoh datang menghampiri seraya melihat ke arah jok depan.
"Zinni tertidur sangat lelap. Saya kasihan membangunkannya."
"Oh," seru Bi Ocoh, dia pun sama seperti bingung harus bagaimana menangani Zinni yang tidur terlelap.
"Bi Ocoh, tolong bukakan pintu kamarnya Zinni, biar saya gendong saja dia dan saya tidurkan sendiri di dalam kamarnya," perintah Excel pada Bi Ocoh.
"Baik, Den." Bi Ocoh segera bergegas menuju kamar yang selama ini ditempati Zinni. Bi Ocoh membuka pintu kamar itu lebar-lebar, agar Excel dapat dengan mudah memasukkan Zinni ke dalam kamarnya.
Excel perlahan meraih pinggang Zinni, lalu menggenongnya dan mambawa keluar dari mobil. Excel mulai berjalan menuju pintu rumah.
"Silakan, Den. Pintu kamar Neng Zinni sudah bibi buka lebar-lebar," lapor Bi Ocoh.
"Baik, Bi. Terimakasih. Tutup dan kunci kembali pintu ini," titahnya seraya bergegas menggendong tubuh Zinni yang saat ini masih tertidur.
"Ada lagi yang Den Excel butuhkan, biar bibi siapkan?" tanya Bi Ocoh.
"Sepertinya tidak, Bi. Zinni juga rasanya tidak akan butuh apa-apa kalaupun nanti dia terbangun. Paling dia akan tidur kembali. Lebih baik Bibi dan Mang Udin kembali beristirahat. Jangan lupa bilang Mang Udin, pagar rumah kunci lagi." Excel segera bergegas setelah memberi perintah pada Bi Ocoh.
"Baik, Den."
Bi Ocoh patuh, dia kembali ke belakang untuk memberitahukan Mang Udin agar mengunci pintu pagar rumah dan istirahat kembali.
Excel tiba di depan kamar yang Zinni tempati, pintunya sudah terbuka lebar. Dengan mudah Excel memasuki kamar itu, lalu dia masuk. Tanpa sengaja daun pintu itu terkena senggolan kaki Zinni yang menjuntai, sehingga pintu itu bergerak dan ikut menutup. Kamar pun tertutup, tapi tidak terkunci.
"Akhirnya," guman Excel lega seraya menaruh tubuh Zinni yang berbalut kebaya itu di atas ranjang, dengan pelan.
"Lumayan pegal juga lama-lama memangku tubuh si Zinni," gumamnya.
Perlahan Excel mulai mengangkat tangannya yang tertimpa tubuh Zinni. Tangan Excel berhasil dilepaskan dari tumpuan tubuh Zinni. Akan tetapi, tiba-tiba tubuh Excel yang membungkuk tidak seimbang, malah menimpa tubuh Zinni, tepat di atasnya sampai bibirnya beberapa senti lagi hampir menyentuh bibir Zinni yang sedikit bercelah.
"Pak Excel, saya takut. Saya takut dinikah paksa oleh juragan Awan. Cepat selamatkan saya, Pak." Zinni tiba-tiba bicara, tapi matanya masih terpejam.
Excel berusaha menjauhkan wajahnya dari Zinni, akan tetapi tangan Zinni mendadak menarik tubuh Excel, sehingga kecupan itu tidak terelakan lagi.
"Ya ampun Zinni," gumam hati Excel kaget, sementara bibirnya kini sudah menyentuh bibir Zinni yang merah.
Excel cepat-cepat mengangkat kepalanya kuat, dia tidak ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dia takut kebablasan lalu keterusan yang pada akhirnya khilaf.
Sayang sekali, pada saat Excel berusaha akan menarik wajahnya. Zinni terbangun dan sadar. Dia sangat terkejut, ketika dia mendapati dirinya tengah dicium Excel.
"Pak Excel, kenapa Bapak mencium saya?" pekiknya benar-benar terkejut. Dadanya kembang kempis dan nafasnya turun naik. Zinni menduga Excel sedang melakukan perbuatan tidak senonoh padanya disaat dirinya tertidur.
Tubuh mereka kini berjarak, Excel menatap Zinni kesal, Zinni apalagi. Dia kaget dan takut. Belum tuntas rasa takutnya tadi akibat juragan Awan, kini di dalam kamarnya, Excel kedapatan sedang menciumnya tepat di bibirnya.
"Ya ampun, kamu jangan salah sangka dulu. Yang kamu lihat tadi bukanlah disengaja, tapi karena tangan kamu tiba-tiba menarik kepala saya kuat banget. Pada saat saya mau menarik wajah saya, tiba-tiba kamu terbangun dan terjadilah kissing tipis yang seperti kamu lihat barusan. Bukan saya yang sengaja cium kamu. Sembarangan kamu menuduh." Excel mendumel.
"Lagian, kalau tidak saya tolong, kamu sudah dinikah paksa oleh juragan Awan. Harusnya kamu berterimakasih, bukannya menuduh saya mencium kamu. Huh dasar tidak tahu terimakasih." Excel melanjutkan dumelannya.
"Oh, emm, tadi Pak Excel tidak sengaja? Kalau gitu, ma~maafkan saya, Pak.Saya sudah salah sangka. Euu, saya ucapkan terimakasih karena Pak Excel sudah datang tepat waktu dan menolong saya tadi dari paksaan juragan Awan," balas Zinni gugup, ia merasa bersalah.
"Ya sudah. Tapi, lain kali kamu jangan begitu lagi. Menuduh saya tidak benar. Masih untung saya tolong kamu," ujar Excel terdengar kesal, lalu dia bergegas menuju pintu kamar dan bermaksud keluar.
"Tapi, kamu pasti senang sudah mencium saya, kan? Ngaku deh. Secara saya ini tampan dan mempesona." Excel tiba-tiba membalikkan badan, lalu berkata dengan nada penuh percaya diri.
Ucapan Excel barusan, membuat Zinni tersipu malu. Ciuman tanpa sengaja Excel barusan justru terbayang kembali. Memang terasa hangat dan menggetarkan, sampai Zinni spontan terbayang dan terbayang lagi.
"Hemm."
Excel berdehem, lalu melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan kamar Zinni. Dia kini melangkah menuju tangga untuk ke kamarnya. Excel pun sangat lelah, kini dia harus segera membaringkan tubuh dan tidur.
Sebelum menuju ranjang, Excel masuk ke dalam kamar mandi. Excel membersihkan diri di sana. "Ya ampun, ciuman tadi," gumamnya seraya menatap dirinya di dalam cermin.
Bagi Excel ini adalah ciuman pertamanya setelah dua tahun menduda.
"Zinni, Zinni, ada-ada saja kamu ini. Tapi, jujur saja kamu tidak jelek-jelek amat. Oh, iya, aku hampir lupa. Aku harus tahu kenapa dia tadi bisa mengatakan pada lelaki tua itu kalau dia sudah menikah dengan seorang tentara berpangkat Kapten? Bukankah itu ditujukan padaku? Besok aku harus tanyai dia kenapa," gumam Excel seraya menyudahi keberadaannya di dalam kamar mandi.
Excel segera menuju ranjang, lalu membaringkan tubuhnya yang memang lelah. Namun, matanya masih belum bisa terpejam. Sebab bayang-bayang ciuman tidak sengaja tadi masih saja melekat di kepalanya.
"Alzinni Zailan, gadis yang benar-benar misterius. Kadang terlihat sangat menyukaiku, kadang sok jual mahal. Akhh dasar gadis aneh," ujar Excel sembari memaksa matanya supaya terpejam dan ngantuk.
"Besok, kamu harus katakan kenapa kamu membuat alasan seperti itu, Zinni?" ucap Excel. Setelah itu dia benar-benar tidur.
semoga saja benar ya Thor ☺️🤩