Aruna gadis sederhana dari keluarga biasa mendadak harus menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal.
Karena kesalahan informasi dari temannya ia harus bertemu dengan Raka yang akan melangsungkan pernikahannya dengan sang kekasih tetapi karena kekasih Raka yang ditunggu tak kunjung datang keluarga Raka mendesak Aruna untuk menjadi pengganti pengantin wanitanya. Aruna tak bisa untuk menolak dan kabur dari tempat tersebut karena kedua orang tuanya pun merestui pernikahan mereka berdua. Aruna tak menyangka ia bisa menjadi istri seorang Raka yang ternyata seorang Ceo sebuah perusahaan besar dan ternama.
Bagaimana kehidupan mereka berdua setelah menjalani pernikahan mendadak ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Raka melangkah masuk ke dalam ruang kantornya dengan tenang. Ia segera menjatuhkan diri di kursi kebesarannya, melepaskan sejenak lelah yang menempel di pundaknya. Beberapa menit berlalu, terdengar ketukan ringan di pintu, lalu Reno masuk menyusul, melangkah mendekat ke arah Raka.
"Ini berkas yang Tuan Muda butuhkan, untuk segera di tanda tangani." ucap Reno, menyerahkan beberapa berkas di tangannya.
"Bagaimana urusan dengan PT. Husada ?"
"Pihak mereka meminta untuk bertemu dengan Tuan di Cafe xx untuk pembahasan lebih lanjut siang ini."
Raka mengangguk mengerti, "Baik. Kamu atur saja semuanya, setelah itu kita bersiap untuk kesana."
"Baik Tuan Muda."
* *
Reno mendorong pintu kafe masuk ke dalam disusul Raka di belakangnya, aroma kopi dan suara dentingan gelas langsung menyapanya. Pandangannya segera tertuju pada sosok kliennya yang sudah duduk di sudut ruangan, tampak tenang sambil memainkan ponselnya.
Dengan langkah mantap, Raka menghampiri meja itu. "Maaf membuat Anda menunggu," ucapnya seraya tersenyum dan menjabat tangan kliennya.
Klien itu mengangguk ramah, lalu mempersilakan Raka duduk. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri untuk mencatat pesanan mereka. Suasana awal yang hangat itu perlahan bergeser menjadi lebih serius, ketika Raka membuka map berisi dokumen di tangannya dan mulai membicarakan inti pertemuan mereka.
Raka menata map dokumen di atas meja, lalu membuka halaman pertama yang sudah ia siapkan.
“Seperti yang sudah saya sampaikan melalui email, ini adalah konsep awal yang bisa kita kembangkan,” ujarnya dengan nada tenang namun penuh keyakinan.
Klien itu mencondongkan tubuh, memperhatikan setiap poin yang ditunjukkan Raka. Sesekali ia mengangguk kecil, menandakan ketertarikan pada penjelasan tersebut. Suasana kafe yang ramai seakan memudar, berganti fokus hanya pada pembicaraan bisnis mereka.
Raka menyesap sedikit cappuccino yang baru saja dihidangkan, lalu membuka map dokumen di hadapannya.
“Saya sudah menyiapkan beberapa konsep untuk event yang kita bahas kemarin. Ada tiga alternatif, tinggal kita sesuaikan dengan kebutuhan anda,” katanya sembari menunjukkan beberapa sketsa.
Klien itu mengangguk sambil memperhatikan, ekspresinya serius namun sesekali tersenyum. “Saya suka konsep yang ini,” ujarnya, menunjuk salah satu halaman. “Tapi mungkin perlu sedikit sentuhan tambahan supaya lebih menarik.”
Raka menatapnya penuh perhatian, mencatat setiap masukan. “Boleh, Saya bisa modifikasi bagian itu. Yang penting pesannya tetap tersampaikan dengan kuat.”
Setelah selesai membicarakan kerja sama, Raka dan Reno pamit undur diri. Mereka berjalan menuju pintu kafe dengan langkah tenang.
Namun, tepat ketika Raka hendak melangkah keluar, matanya sekilas menangkap Aruna bersama Adam sedang duduk di kursi depan, tak jauh dari tempat mereka tadi. Dua orang yang sedang duduk itu tampak sibuk bercanda tawa dengan segelas kopi ditangannya, seolah tidak menyadari kehadiran Raka.
Langkah Raka terhenti sesaat. Dahinya berkerut, "Ngapain mereka berduaan disini." batin Raka.
Reno yang sudah berada selangkah di depan menoleh heran, menyadari Raka tiba-tiba berhenti.
“Kenapa Tuan? Apa ada yang salah ?,” tanya Reno pelan.
Raka tidak langsung menjawab. Ia masih memandang ke arah dua orang tersebut dengan tatapan tak suka. Rahangnya sedikit mengeras, sementara jemarinya mengepal pelan di sisi tubuhnya.
Dua orang yang duduk di kursi depan itu tampak begitu akrab, tertawa kecil sambil bercakap santai. Pemandangan membuat dadanya terasa sesak. Apa lagi saat melihat tangan Adam dengan lancang menyeka bibir Aruna dengan tangannya. Merasa tak suka dengan hal itu, Raka berniat untuk menghampiri Aruna dan membawanya pulang.
"Kamu pulang saja dulu ! Saya ada urusan." ucap Raka datar, lalu melangkah meninggalkan Reno sendiri.
* *
"Sorry, nggak sengaja." ucap Adam. Aruna yang sedang mengelap bibirnya pakai tisu hanya mengangguk
"Ternyata kebiasaan lo masih sama kaya du --"
"Kamu ngapain disini sama dia ?!" seru Raka dari arah belakang Aruna, membuat ucapan Adam terpotong.
Aruna menoleh, ternyata Raka sudah berdiri di samping tempat duduknya.
"Mas Raka, kok kamu disini ?"
"Ck. Jawab dulu pertanyaan saya !"
"Kita baru aja selesai ketemu klien kok."
"Udah selesai kan. Jadi ayo ikut saya pulang." ucap Raka, meraih tangan Aruna berniat membawanya pergi.
"Tunggu. Nggak bisa gitu dong, aku kan lagi kerja, ini juga masih setengah hari." Aruna menahan tangan Raka.
"Maaf Aruna kerja setengah hari saja, karena hari ini kita ada urusan." ucap Raka, menatap Adam. Lalu menarik tangan Aruna tanpa sempat Adam membalas.
Adam hanya mendengus, lalu kembali menyesap sisa kopi di cangkirnya.
* *
"Kamu ini apa-apaan sih!" protes Aruna melepas genggaman tangan Raka setelah dirinya berada di parkiran.
"Masuk !" perintah Raka.
"Nggak. Jawab dulu, ngapain coba kamu paska aku pulang. Lagian jam kerjaku belum selesai, main tarik-tarik aja lagi." Aruna mengomel dengan sikap Raka.
"Udah masuk dulu, bicaranya bisa nanti."
Aruna mencibirkan bibir, dengan malas ia membuka pintu mobil lalu naik dan duduk di depan.
"Saya nggak suka kamu dekat-dekat sama dia." ucap Raka saat di dalam mobil, membuat Aruna mengernyit bingung.
"Kenapa ? Kamu cemburu ?" goda Aruna
"Nggak."
"Kalau cemburu bilang aja kali, nggak usah gengsi gitu." kekeh Aruna
Raka hanya diam fokus memandang kedepan tak merespon ucapan Aruna. Sedangkan Aruna memutar bola matanya malas, lalu memejamkan matanya memutuskan untuk tidur saja.
* *
"Loh, Bang Adam kok pulangnya sendirian ? Aruna mana ?" Tanya Nawa saat melihat Adam masuk ke dalam toko.
"Dibawa pergi sama suaminya." balas Adam datar
"Suami ? Pak Raka maksudnya ?"
"Ya siapa lagi. Masa gue suaminya!"
Nawa menyengir kuda, "Kok bisa ada Pak Raka di sana." Adam hanya mengendikkan bahu.
"Wa, gue mau nanya sama lo."
Nawa menoleh, menatap Raka, "Kenapa ?"
"Menurut lo hubungan Aruna sama suaminya itu gimana ?"
Nawa bingung, "Setau gue si mereka ada kemajuan dalam hubungannya. Pak Raka akhir-akhir ini juga selalu mengantar Aruna kalau berangkat kerja. Menurut gue sih udah ada cinta di antara mereka, cuma yah belum sadar aja merakanya. Aruna aja udah dapat dukungan dari Oma nya Pak Raka. Bang Adam tau, Oma itu baik banget sama Aruna. Kemarin aja beliau sampai nungguin Aruna selesai kerja."
Adam hanya mengangguk dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan.
Nawa menatap Adam yang hanya terdiam setelah mendengarkan ceritanya. Ia tahu persis, saat ini hati Adam sedang galau—terjebak dalam perasaan pada Aruna yang sayangnya bertepuk sebelah tangan.
Ada keraguan yang jelas tergambar di sorot mata Adam, seolah ia sedang berusaha menahan luka yang tak ingin ditunjukkan. Nawa hanya bisa menarik napas pelan, memahami betul betapa sulitnya berada di posisi itu.
"Bang..." Nawa menepuk punggung Adam, membuatnya tersentak.
"Kenapa lo diam aja, kesambet lo."
Adam hanya menghelas nafasnya lalu pergi
tanpa membalas ucapan Nawa.
"Dih.. Gue di cuekin gitu." gerutu Nawa. Ia pun kembali menghitung total pesanan yang masuk di chat tokonya.
Saat Nawa sedang fokus menatap pesan-pesan di chat toko, suara pintu yang terbuka membuatnya mengangkat kepala.
Seorang sosok tinggi, berpakaian rapi, melangkah masuk dengan tenang. Sepatu menggesek lantai sebentar, lalu ia berjalan mantap menuju kasir tempat Nawa berada.
Nawa menatapnya sejenak, merasa pernah bertemu dengannya.
"Permisi.."
* * * *
selesai kan lah masalh yang pertama duluu,biar orang tidak bosan dengan alur yang malah campuo🤣🤣
moga aja polisi cpet nangkep tuh sundel biar cpet masuk jeruji besinya 😡😡