Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Happy Reading...
.
.
.
"Tunggu." Rora menghentikan langkah kaki Aluna.
Aluna membalikkan badannya lalu menatap Rora sambil bersedekap dada. "Kenapa? Bukankah baru saja kamu menyuruhku untuk pergi?"
"Sebenarnya apa tujuan kamu?" Tanya Rora.
Aluna tersenyum remeh. "Entah kamu sadar atau tidak. Sejujurnya, kamu dan Bara adalah dua orang yang berbeda. Ibaratnya jika kalian berdua ini magnet. Kalian ini berada di dua kutub yang sama, yang tidak akan pernah bisa bersatu. TIDAK.. AKAN.. PERNAH.." Ucap Aluna penuh penekannan.
"Aku mengenal Bara terlebih dahulu dari pada kamu. Dengan kepribadian Bara aku yakin dia pasti akan segera menunjukkan niatnya yang sebenarnya, alasan kenapa dia menyetujui untuk menikahi kamu. Dan seharusnya pula kamu sudah mulai sadar akan hal itu. Aku hanya ingin mengingatkan kamu. Lebih baik mulai sekarang kamu harus tahu batasan kamu."
"Sekarang aku ingin bertanya. Dari beberapa bulan pernikahan kamu dengan Bara, apakah kamu sudah mengerti dia? Apakah kamu tahu segalanya tentang dia? Apakah kamu tahu apa yang Bara sukai dan tidak ia sukai? Jika kamu masih belum mengerti apapun tentangnya lalu kenapa kamu masih mempertahankan semua ini?" Lanjut Aluna yang membuat Rora terdiam.
"Apakah kamu benar- benar ingin menghabiskan sisa waktumu dengan seseorang yang tidak memiliki kecocokkan dengan kamu? Apakah kamu pikir kamu dan Bara akan berakhir bahagia dengan cara ini?"
"Aku percaya dimana ada kehidupan pasti ada harapan." Ucap Rora yang membuat Aluna memberikannya tatapan tajam.
"Terkadang kamu harus bisa melepaskan sesuatu untuk bisa membahagiakan orang lain."
Rora mengerutkan keningnya. "Bukankah kata- kata itu seharusnya untuk kamu." Sindir Rora. "Aku tidak akan melepaskan Bara, karena aku yakin kami akan bisa bahagia suatu saat nanti."
.
.
.
Rora melirik jam yang menempel pada dinding di ruang keluarga lalu menghela nafasnya. Ia berniat ingin menunggu Bara untuk berbicara dengannya. Tapi sudah satu minggu ini sejak percakapan atau lebih tepatnya perdebatannya dengan Aluna terjadi, suaminya itu selalu pulang sangat larut dan bahkan di pagi hari sebelum Rora terbangun dari tidurnya itu sang suami sudah menghilang.
Ia kembali teringat percakapannya dengan Ezra setelah acara pernikahannya.
"Dan pada akhirnya lagi- lagi aku di paksa untuk menerima suatu keadaan tanpa dimintai persetujuan." Ucap Rora lirih.
"Apa kamu keberatan dengan pernikahan ini?" Tanya Ezra sambil menatap adiknya.
"Bukankah terlalu terlambat untuk kakak menanyakan ini padaku?" Sindir Rora.
"Kamu tahu Ra, hidup itu akan jauh terasa lebih damai ketika kita mampu untuk mengikhlaskan apa yang tidak di takdirkan untuk kita tanpa harus menyalahkan keadaan." Ucap Ezra. "Ra, kakak cuma ingin berpesan. Apapun yang terjadi nanti*\, dalam sebuah rumah tangga komunikasi itu penting."*
"Apa dia akan pulang larut lagi?" Tanya Rora dalam hati. Ia beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah meja makan dimana beragam masakan yang tadi ia masak tersaji. Ia mengumpulkan semua makanan itu lalu menutupnya menggunakan penutup makanan.
Rora berjalan menuju kamarnya. Ia segera membersihkan tubuhnya lalu mengganti pakaiannya dengan piama.
Rora membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut sampai menutupi dadanya. Ia pandangi langit- langit kamarnya.
"Aku harus bertahan sampai kapan?" Monolognya. Rora membuka laci lalu mengambil foto yang ia sembunyikan di balik buku. "Aku lelah Dik." Ucapnya lirih. "Apakah ini jarak terjauh yang bisa aku tempuh. Aku bahkan belum mencoba yang terbaik tapi apa aku boleh untuk menyerah saja? Tapi nanti apa yang harus aku katakan? "
Rora menghapus air matanya yang mengalir perlahan. "Aku harus bagaimana Dik?" Ucap Rora semakin lirih.
Cukup lama ia menangis hingga tidak terasa ia tertidur.
Hampir pukul dua belas Bara akhirnya pulang. Ia membuka pintu kamarnya perlahan lalu menutupnya perlahan. Ia menaruh tasnya di sofa lalu berjalan mendekat ke arah Rora. Ia menatap Rora dengan sinis saat lagi- lagi mendapati Rora menangis sambil memegang foto Dika.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Tanya Dika yang pasti tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari sang istri. Bara memilih menjauh lagi- lagi dengan rasa kecewanya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebenarnya ini bukan pertama kali Bara melihat istrinya itu tertidur sambil menangis, sambil memegangi foto Dika.
Bara memilih untuk menyudahi aktivitasnya setelah hampir tiga puluh menit berkutat di kamar mandi. Setelah mengganti piamanya, ia memilih untuk merebahkan dirinya di Sofa. Bara menutup matanya menggunakan tangannya sedangkan tangan satunya ia jadikan bantalan.
Belum sepenuhnya terlelap, Bara kembali membuka kedua matanya saat mendengar rintihan dari Rora. Bara menghela nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. Sungguh Bara saat ini ingin mengabaikan rintihan Rora, tapi lagi- lagi rasa pedulinya lebih besar dari pada rasa kecewanya. Bara menghampiri Rora lalu merebahkan tubuhnya di sisi sang istri. Ia menatap wajaah Rora sebelum membawa sang istri untuk masuk kedalam pelukkannya.
"Dik.. Aku Rindu.." Ucap Rora tanpa membuka kedua matanya.
.
.
.
"Kamu akan kemana?" Tanya Rora saat melihat Bara memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Setelah melihat suaminya itu pulang dan langsung berjalan menuju kamar mereka dengan sedikit tergesa- gesa.
Bara melirik sang istri sekilas lalu melanjutkan kembali kegiatannya memasukkan beberapa pakaian miliknya dan Rora ke dalam koper yang berbeda. Rora hanya memperhatikan. Setelah selesai, Bara berjalan menghampiri Rora.
"Kita akan kemana?" Tanya Rora sambil memandang koper yang ada di tangan suaminya.
"Ke kantor.."
"Lalu untuk apa membawa koper?" Potong Rora yang tidak mengerti.
"Aku akan kembali ke kantor untuk lembur. Tapi sebelum itu aku akan mengantar kamu ke rumah mama. Untuk sementara aku akan mengurusi proyek di daerah Lumajang. Mungkin untuk dua sampai tiga bulan.
"Hah.. Lalu aku?"
"Maka dari itu aku akan mengantar kamu ke rumah mama."
"Apa Aluna ikut dengan kamu?" Tanya Rora dengan hati- hati.
Bara menganggukkan kepalanya.
Kedua tangan Rora terkepal di sisi tubuhnya. Entah kenapa Rora merasa ingin marah saat melihat suaminya itu menganggukkan kepalanya. Mengapa Bara melakukan ini kepadanya? Apakah yang di ucapkan Aluna waktu itu akan benar- benar terjadi? Apakah Bara memang ada niatan untuk menjauhinya?
"Nanti kamu bawa saja kunci apartemen ini. Siapa tahu kamu membutuhkan sesuatu..."
"Aku masih punya barang- barang disana.. Aku tidak membawa semuanya saat pindah kesini."
"Kita berangkat sekarang." Ajak Bara sambil berjalan menjauh dengan menggeret dua koper di tangan kanan dan kirinya.
"Ah tunggu aku sebentar." Ucap Bara lalu meninggalkan Rora untuk kembali kedalam kamarnya. Tak lama Bara keluar lagi. Ia kembali dengan membawa jaket di tangannya. "Pakai ini." Ucapnya sambil menyerahkan jaket milik Rora.
Rora hanya bisa menurut. Jika boleh jujur sesungguhnya Rora sudah ingin menangis saat ini. Apakah ini awal dari pertanda bahwa Bara akan melepaskannya?
.
.
.
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹