Namanya Dhatu, yang artinya anak yang anggun bagai ratu. Orangtuanya memberi nama itu dan berharap putri kesayangan mereka dapat diperlakukan bak ratu oleh pasangan hidupnya kelak. Namun siapa sangka, arti nama tak selalu sama dengan hidup yang kita jalani.
Demi membalas budi dan menjaga kehormatan kedua orangtuanya, Dhatu Anjani terpaksa menikah dengan Dirga. Lelaki tampan dengan sikap dingin, seorang CEO dari perusahaan eletronik yang cukup terkenal di Indonesia.
Dirga tak menginginkan pernikahan konyol itu. Padahal, dirinya memiliki seorang kekasih, Kana. Akan tetapi orang tuanya begitu memaksa agar ia menikahi Dhatu.
Dirga yang menyerah akhirnya menerima perjodohan itu, namun ia tak pernah sekalipun meninggalkan Kana. Ia akan membuat hidup Dhatu bagai di nereka dan membuat wanita itu menyesel karna telah menerima pernikahan yang seharusnya tak pernah terjadi.
"Kamu hanyalah bayangan yang akan selalu berada di belakang, jadi jangan perlihatkan dirimu di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fink fink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak Rasa Karnamu
Tubuh Dhatu bergetar, tatapan penuh amarah Dirga membuatnya mematung. Ia tak mengerti mengapa lelaki itu harus marah padanya? Dimana letak kesalahannya? Ia hanya ingin melakukan hal yang benar di antara mereka dan tak seharusnya menuntut hal yang bukanla haknya.
"Kamu beneran nggak ngerti kenapa aku kesel sama kamu?" Tanya Dirga masih menatap ke dalam manik mata Dhatu, ia mempertipis jarak di antara wajah mereka, "kamu mengerjakan kewajiban tanpa mengambil hakmu. Sama aja dengan membuatku terlihat begitu jahat."
Napas Dirga menyentuh pipi Dhatu karna tiadanya jarak di antara wajah mereka. "Anu ... itu .... maksudku ..." Dhatu membiarkan perkataannya menggantung di udara. Lebih tepatnya, ia tak tahu harus bagaimana membela dirinya.
Dirga menempelkan bibir mereka, memejamkan mata, lalu ******* lembut bibir Dhatu, sedang Dhatu mematung dan menatap Dirga heran. Ia tak mengikuti ritme bibir Dirga, malah mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dirga menggoda bibir Dhatu dengan lidahnya, memaksa Dhatu membuka mulut. Dhatu berusaha mendorong tubuh Dirga, namun ditahan lelaki itu. Ia malah mengunci kedua tangan Dhatu pada tembok di belakang punggungnya. Bibir wanita itu mulai bergerak seirama, bibir mereka saling mengecap
Dirga tak peduli lagi. Ia harus menghukum Dhatu yang membuatnya serba salah. Mengacaukan hati dan juga benaknya. Wanita itu memasuki kehidupannya tanpa permisi dan membuat hatinya dipenuhi rasa yang tak mampu dimengerti. Dirga segera melepaskan ciuman mereka ketika merasa Dhatu kehabisan napas karna ciumannya yang semakin menuntut.
Dirga masih mengunci tangan Dhatu di tembok sembari menatap tajam wanita itu. "Aku telah mengambil hakku, maka kamu harus menerima pertanggungjawabanku sebagai suamimu. Aku akan meminta hakku padamu, jadi mulai sekarang pikirkan sebelum kamu menolak bentuk kewajiban yang ku berikan padamu," ucap Dirga membuat jantung Dhatu seakan ingin lepas dari tempatnya. Dirga segera melepaskan cengkraman tangannya, sedang Dhatu masih bergeming di tempatnya berdiri.
"Ayok, kita lanjutkan perjalanan kita!" ucap Dirga mengulurkan tangannya pada Dhatu.
Dhatu semakin tak mengerti melihat lelaki itu. Begitu cepat beruba bagai angin. Dirga berdesis sebal karna Dhatu tak menerima uluran tangannya. Ia menggenggam tangan Dhatu, genggaman yang membuat jantung keduanya berpacu liar.
Beberapa menit kemudian, keduanya tiba di Kampung Langit. Dirga menarik Dhatu ke sana- ke mari untuk berfoto, mengabadikan kebersamaan mereka. Dirga tak lagi menunjukkan amarahnya, begitu mudah ia luluh saat melihat senyum indah Dhatu yang berhasil ditangkap kamera ponselnya. Kini mereka tengah membingkai kenangan yang akan membuatnya teringat, jika hari ini pernah terjadi di antara mereka.
Ponsel Dirga bergetar saat mereka baru selesai berfoto. Dirga meminta ijin untuk mengangkat panggilan itu pada Dhatu, hal yang membuat Dhatu terkejut, namun bahagia. Nama Kana tertera pada layar ponsel, membuat Dirga hendak mengurungkan niat menjawab panggilan itu. Dhatu mengintip ponsel Dirga karna lelaki itu hanya menatap layar ponsel, tanpa ingin menjawab panggilan yang masuk. Hati Dhatu perih saat membaca nama yang tertera di sana.
"Kana pacarmu, Mas?" Dirga tak menjawab, Dhatu berusaha tersenyum manis walau hatinya perih.
"Angkat aja, aku nggak pa-pa," ucap Dhatu seraya hendak pergi meninggalkan Dirga, selain tak ingin menambah perih di lukanya, ia ingin membiarkana lelaki itu bebas berbicara, akan tetapi tangan Dirga yang mencengkram pergelangan tangan, menghentikan langkahnya.
"Tetap di sini!" perintah Dirga dengan terus menggenggam pergelangan tangan Dhatu. Wanita itu tersenyum miris, lalu mengangguk pelan. Dirga segera menjawab panggilan Kana.
"Ya ... aku sedang keluar ... kartu kreditku nggak mungkin kehabisan limit ... kau gunakan untuk apa?" Kini Dirga memijat pelipisnya. Beruntung ia memberikan kartu kredit dengan limit terkecil pada Kana. Ia tak menyangka Kana telah menghabiskan seluruh batas limit kartu kreditnya yang sebesar tiga puluh juta. Apa yang wanita itu beli?
Dhatu yang seakan mengerti arah pembicaraan lelaki itu, menatapnya iba. Ia tahu, jika Dirga tak pelit materi. Hanya saja, lelaki itu bijak menggunakan uang, tak suka menghaburkan uang pada hal yang tidak berguna. Dhatu mengetahuinya dari pembicaraan Dirga pada temannya beberapa hari lalu. Karibnya menawarkan parfurm seharga puluhan juta yang langsung ditolak Dirga mentah-mentah dengan alasan aroma tubuhnya sudah cukup untuk menarik para hawa mendekat. Pembicaraan yang didengar Dhatu diam-diam saat teman Dirga berkunjung itu membuatnya kagum pada Dirga yang tak seperti kebanyakkan orang kaya yang mementingkan gengsi. Ia tak 'kan mau menghabiskan uangnya begitu saja.
Mata Dirga menangkap sosok yang begitu dikenalnya. "Kamu bilang ... kamu lagi di mana tadi?" tanya Dirga sembari menatap satu sudut, Dhatu yang penasaran mengikuti arah pandang lelaki itu.
Di sana, seorang perempuan bertubuh ideal mengenakan dress kuning bermotif bunga biru di atas lutut, tampak cantik dengan rambut diikat satu, ia tengah bersandar di tembok sembari bercakap-cakap di telpon. Meyakinkan Dhatu, jika wanita itu adalah Kana, kekasih Dirga. Sedetik kemudian, seorang lelaki yang lebih tua dari Dirga menghampiri dan memeluk wanita itu. Wanita itu menggerakkan tangan di udara, meminta Si lelaki untuk tak berbicara. Lelaki itu mengecup pipi Si wanita, lalu memeluknya tanpa berbicara. Dhatu melirik Dirga yang kini terlihat seakan ingin meledak oleh amaraha yang menguasai hatinya.
Dhatu yang tahu jika hal itu tak 'kan berkahir baik segera memeluk Dirga, membuat tubuh lelaki itu menegang sesaat dan menatap Dhatu heran. Dhatu tersenyum, membenamkan wajahnya pada dada Dirga, dan mengusap-usap lembut punggung suaminya. Ia tahu, apa yang Dirga rasakan. Ia pun pernah dikhinati cinta seperti itu. Hal yang menghancurkan hati menjadi kepingan-kepingan kecil. Berantakkan.
"Akan kukirimkan uang dan setelah itu jangan hubungi aku lagi. Aku nggak sebodoh itu, Kana. Semuanya berakhir hari ini ....ah ya, aku juga akan menutup kartu kredit yang kamu gunakan." Dirga mengeraskan rahang.
"Aku nggak marah ... aku hanya bosan denganmu ... aku mau mengakhiri semuanya ... terserah apa katamu dan silahkan lakukan apa pun yang kamu mau ... ya ... aku memang udah nggak peduli lagi." Dirga segera menutup panggilan.
Dirga membalas pelukan Dhatu yang terasa menenangkan, seakan mampu menghisap semua kemarahannya. Ia mengecup puncak kepala Dhatu, merasa begitu beruntung memiliki wanita itu di sisinya. Tuhan memang baik, Ia menunjukkan pada Dirga siapa Kana sebenarnya dan membuatnya semakin yakin, jika memang tak pernah ada cinta di antara mereka. Keduanya hanya saling membutuhkan. Kana yang membutuhkan Dirga dan lelaki itu yang membutuhkan Kana sebagai tempatnya menyalurkan hasrat. Kini ia tak mau lagi terjebak dalam hal bodoh yang sempat dipikirnya sebagai cinta.
"Tu ... kamu nggak akan pernah mengkhinatiku, 'kan?" tanya Dirga lirih, terdengar begitu pilu.
Dhatu melepaskan pelukan mereka dan tersenyum manis. "Nggak akan pernah."
"Maafin aku, Tu. Atas semuanya." Dirga mengusap lembut wajah Dhatu. Wajah yang seharusnya menjadi satu-satunya yang ia perhatikan begitu mengucap janji pernikahan. Mungkin ini adalah karma baginya karna telah menyakiti wanita sebaik Dhatu.
Dhatu menangkup wajah Dirga dengan kedua tangannya dan menatap ke dalam manik mata lelaki itu. Ia memang tak mengerti akan perasaan lelaki itu padanya, namun ia akan mencoba membuka hati dan membuat hubungan mereka berhasil.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, Mas."
Senyum Dhatu menghangatkan hatinya. Dhatu mempertipis jarak di antara wajah mereka dan mengecup bibir Dirga, lelaki itu membeku, namun hanya sesaat karna setelahnya ia melahap bibir Dhatu. Keduanya seakan meleleh dalam ciuman itu.
Aneh, Dirga tak merasa sakit ataupun kesedihan karna Kana. Ia malah merasa bersyukur. Mungkin memang tak pernah ada cinta untuk wanita itu. Ia hanya terjebak dalam rasa yang salah.