8 tahun yang lalu, seorang anak perempuan menatap penuh binar bahagia pada pangeran impiannya. Selalu mengingat apa yang pria idaman nya itu katakan.
"Tumbuh lah menjadi wanita cantik, karena aku tidak suka wanita jelek!!!"
Wanita itu pun tumbuh dengan baik, bahkan terlalu baik. Tumbuh yang ia yakini malah menjadi salah arti, setiap hari ia mengkonsumsi makanan yang menurutnya mempercepat pertumbuhan. Ya... Ia tumbuh... Tapi tumbuh menjadi besar dan lebar.
"You know me?"
Erlangga Saputra.
"Om Ganteng..."
Mia Sophia Adinata.
follow my ig @ismi_kawai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBT 33
Angga terhenyak melihat surat undangannya ada di tangan Maya. Siapa yang memberikannya? bahkan pernikahan itu masih 3 bulan lagi.
"Maya... tolong... semua diluar kuasaku... saat itu aku-"
"Tidak ingat akan perkataan mu sendiri, membuat anak ku berkhayal yang tidak-tidak? Membuat waktunya terbuang untuk memikirkan orang yang sama sekali tidak mengingatnya?" Maya berkata sambil mendesis. Tidak pernah ia semarah ini selama hidupnya. Mia hanya bisa menangis di dekapan sang Mommy. Hatinya hancur untuk kesekian kalinya.
"Padahal aku berharap banyak padamu, kau benar-benar membuatku kecewa. Lain kali, jaga lisan mu sebelum kamu bisa mempertanggung jawabkannya!" Maya membawa Mia pergi. Angga ingin mengejar mereka namun dihadang para bodyguard.
"Lepaskan aku!" Hardik Angga. "Maya...! Mia... Jangan pergi... MIA!!!"
Mia masih sempat melihat Angga yang mengiba dengan wajah putus asa. Hatinya sakit, mengapa begitu sulit untuk mereka? Atau memang mereka tidak berjodoh. Mia memejamkan mata hingga air matanya mengalir kemudian berpaling meninggalkan Angga yang semakin tidak terkendali.
Angga menghajar para bodyguard meluapkan frustasi dan rasa penyesalannya. Menyesal karena lupa akan janjinya pada Mia, harusnya ia menunggu. Entah, sepertinya ia tidak menganggap semua yang ia katakan serius pada waktu itu. Kini Angga terkapar tidak sadarkan diri karena berkelahi. Di dalam hatinya berharap untuk tidak bangun lagi.
🌷🌷🌷
Mia memandang setiap pohon yang seolah mengejarnya di dalam mobil. Tatapannya kosong sekosong pikirannya saat ini. Maya meremas tangan Mia sambil menahan sesak. Ia tau seberapa sakit yang Mia rasakan. Ia tau seberapa besar harapan Mia pada Angga setiap hari. Ia tau semuanya.
Maya teringat kembali kejadian tadi yang membuatnya menyesal telah mengundang Angga ke acara itu.
Flashback on
Tampak dua wanita cantik beda usia menghampiri Maya dan Jack di dekat podium. Dengan senyum ramah mereka menyambutnya.
"Selamat malam Tuan Jack Adinata, dan Nyonya Maya." Sapa Nyonya Anggun.
"Selamat malam." Sahut Jack.
"Perkenalkan saya Anggun Sastroadji, dan ini Hani Loona Mufti."
Jack mengerutkan kening, Sastroadji? Dia tidak merasa mengundang keluarga itu. Ia menatap Maya dengan penuh selidik.
"Mommy-"
"Ah, anda orang tua Tuan Angga?" Maya berbinar senang, berarti Angga datang. Maya mengulurkan tangan antusias, Nyonya Anggun merasa di sambut dan tersanjung.
"Benar, saya mama Erlangga. Apa Nyonya kenal dengan anak saya?"
"Hm, ya kenal cukup lama." Maya melirik suaminya yang sudah mengeluarkan aura dingin. Maya berusaha mengalihkan perhatian tamunya. "Dan nona cantik di samping anda, anak anda juga?"
Nyonya Anggun terkekeh. "Bukan, calon menantu saya. Kebetulan saya ingin mengundang anda ke acara pernikahan Angga nanti." Nyonya Angga mengulurkan undangan pada Maya yang tiba-tiba terdiam.
Jack mengambilnya. "Jadi ini maksud Mommy dia sudah menyukai orang lain?"
Maya merebut undangan yang ada pada Jack dengan tangan bergetar. Ia membaca nya dengan seksama.
Oh tidak, ini sungguh tidak adil untuk Mia. Bagaimana bisa dia melakukan ini pada anakku!
Maya segera pergi meninggalkan Jack, Nyonya Anggun dan Hani yang bingung akan sikapnya. Hani pun ikut pergi untuk mencari Angga.
Flashback off
"Maafkan Mommy sayang, semua karena Mommy." Maya memeluk Mia.
Mia hanya terdiam, ia ingin tidur. Membawa lelah hatinya ke dalam mimpi.
🌷🌷🌷
Kediaman Sastroadji
Hani menatap nanar Angga yang terbaring di tempat tidur. Angga pingsan setelah berkelahi, wajahnya babak belur. Hani tidak habis pikir, bagaimana bisa Angga bersikap diluar kendali.
Angga mengeliat kemudian mengerjapkan mata pelan. Pandangannya jatuh pada Hani yang duduk setia di sampingnya.
"Hani... Aku" Angga hendak duduk tapi kepalanya sakit. Ia menggeram saat nyeri itu datang.
"Jangan banyak bergerak, kamu belum pulih benar!" Hani menidurkan Angga kembali. Angga menggenggam tangan Hani.
"Hani... maafkan aku... sepertinya kita-"
"Aku sudah memaafkan mu, kita lupakan kejadian tadi malam. Sekarang fokus pada kesehatan mu saja!"
"Tapi Hani-
"Aku ambil makanan dulu." Hani pergi tanpa menghiraukan Angga yang terus memanggilnya. Hani tidak siap, dan tidak akan pernah siap jika harus berpisah dengan Angga. Hani mencintai Angga, meski ia tau Angga tidak mencintainya.
Tidak masalah kau tidak mencintaiku, asal kita bisa hidup bersama aku yakin bisa membahagiakan mu.
Please rate, vote dan likenya yach!!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
btw ceritanya seruu....