NovelToon NovelToon
Duda Terpaksa Turun Ranjang

Duda Terpaksa Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Obsesi / Duda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:329.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Pramudya

"Dewa, sebaiknya kamu menikahi Gita saja. Supaya tidak memutus kasih sayang dari Mamanya yaitu mendiang Tya. Kalau wanita lain, belum tentu dia bisa menyayangi Qinan."

Suara Bu Endang terdengar dan meminta Dewa untuk menikahi adik iparnya sendiri yaitu Gita. Dewa yang baru saja menjadi duda terpaksa Turun Ranjang.

Apakah tragedi turun ranjang ini akan berakhir bahagia? Atau hanya formalitas semata untuk memberikan kasih sayang dan membersamai tumbuh kembang Qinan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju ke Bintan

Hari Senin pun tiba. Gita sekarang sedang menatakan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawa suaminya ke Bintan untuk sepekan. Lantaran Gita sedang packing, Dewa yang sekarang mengajak Qinan bermain terlebih dahulu.

"Yuk, Nak ... main sama Papa dulu yuk," ajaknya.

Dewa segera menggendong Qinan dan menuju ke tempat bermain, sedangkan Gita berada di dalam kamar untuk berkemas. Gita mulai memasukkan kemeja, celana panjang, bahkan pakaian santai untuk dipakai Dewa selama di Bintan. Wanita itu menata dengan begitu rapi dan juga tampak bisa mengorganisir semuanya. Hanya beberapa menit, koper milik Dewa sudah siap.

"Mas, kopernya sudah. Tolong dicek dulu, sebelum ditutup," katanya kepada Dewa.

"Sudah selesai? Cepet banget?"

"Kan cuma baju untuk lima hari, jadi cepet."

Dewa kemudian menuju ke dalam kamarnya. Dia mengecek pakaian dan beberapa perlengkapan lainnya. Usai itu Dewa menganggukkan kepalanya, apa yang dipersiapkan Gita benar-benar rapi.

"Sudah semua, Yang. Makasih. Loh, Qinan malahan ngantuk?" tanyanya dengan melihat Qinan yang nyaris akan tidur pagi itu.

"Iya, udaranya dingin kali, Mas. Semalam hujan," balas Gita.

Akhirnya Gita memilih untuk menidurkan Qinan terlebih dahulu. Masih pagi, tapi Qinan sudah tidur. Semalam memang Batam hujan diguyur hujan. Pagi ini pun rasanya masih begitu dingin. Selain itu, Qinan sudah mandi dan makan hingga kenyang, mungkin menjadi mengantuk setelahnya.

Setelah menidurkan Qinan, Gita menuju ke kamarnya. Menanyai lagi Dewa masih membutuhkan apa.

"Masih butuh sesuatu enggak, Mas?"

Dewa tersenyum melihat istrinya itu. Kemudian dia menepuk pinggiran ranjang yang dia duduki, meminta Gita untuk duduk di sisinya.

"Qinan bobok di pagi hari?" tanya Dewa.

"Iya, makanya aku ke sini nanyain, kamu perlu apa lagi."

"Perlu kamu. Boleh sebentar?" tanya Dewa. Pertanyaan itu terkesan ambigu, sehingga Gita juga hanya diam saja.

Tidak perlu banyak berbicara, Dewa mendekat dan dia mencium bibir istrinya. Pagi itu, dengan udara yang begitu dingin, dengan dua bibir yang saling menyapa dan bertemu menjadi hal yang indah dan memberikan kesan begitu hangat. Usapan lidah Dewa di permukaan bibir itu membuat Gita meremang. Wanita itu memejamkan matanya, dia harus membiasakan dengan ciuman bahkan apa pun yang memang bisa dilakukan oleh suaminya.

Kian bertaut dalam mengusap, dalam memagut, hingga rasanya menggelitik di dalam rongga mulut. Akan tetapi, sebelum berangkat nanti Dewa setidaknya menyalurkan rasa cinta untuk istrinya itu. Walau cara Gita membalas ciumannya masih kaku, tapi Dewa justru menyukainya.

Berawal dari duduk, ada pergerakan samar dari Dewa yang membuat dorongan hingga Gita berbaring di atas tempat tidur. Pria itu segera menindihnya perlahan. Menciumnya begitu dalam, dan itu sangat mendebarkan untuk Gita.

"Mas." Suara Gita mengalun lirih, dia membuat Dewa menarik wajahnya.

"Hm, iya. Kenapa?"

"Kamu berangkat jam berapa? Nanti ketinggalan kapal," tanya Gita.

"Oh, itu. Sebentar, masih ada yang ingin aku lakukan."

Dewa membawa wajahnya untuk turun, kemudian dia tinggalkan jejak-jejak basah di leher Gita. Bahkan, Dewa menggigit kecil permukaan kulit di leher Gita dan menghisapnya dalam-dalam. Sehingga muncullah tanda merah di leher Gita.

Wajah Dewa semakin turun, dengan tangan yang meremas perlahan bulatan indah istrinya. Ah, sebenarnya hasrat Dewa menaik sekarang, tapi Dewa masih ingat bahwa Gita masih berhalangan. Oleh karena itu, Dewa hanya membuka dua kancing di kemeja Gita, dan dia buat tanda merah di area sembulan dada istrinya.

Hisapan dalam itu meninggalkan rasa perih, Gita sampai mendesis dan kian memejamkan matanya. Dewa akhirnya tersenyum dia usap perlahan tanda merah yang ada di sana.

"Supaya kamu ingat aku selama aku pergi," kata Dewa perlahan.

"Mas Dewa."

Dewa kemudian menyudahi tindakannya. Dia harus mencukupkan diri dengan apa yang terjadi saat ini. Dewa yakin waktunya bersama Gita akan lama, karena itu menjalani semuanya dengan pelan-pelan tidak masalah.

Kurang lebih lima belas menit kemudian, Dewa sudah siap untuk berangkat ke Bintan. Gita mengantar suaminya hingga ke pintu depan rumah.

"Aku berangkat kerja dulu yah. Hati-hati di rumah dengan Qinan. Mungkin enggak kamu nyusul aku ke Bintan hari Kamis nanti? Semalam aja," tanyanya.

"Qinan bagaimana?"

"Nitip Mama semalam. Kalau aku hingga kan besok sudah selesai. Kamis kamu ke Bintan, temani aku."

Gita terdiam, belum memberikan jawaban. Jujur, tidak mudah baginya untuk menitipkan Qinan. Apalagi cuaca yang memang memasuki musim penghujan, meninggalkan Qinan membuatnya kepikiran.

"Kalau kamu mau, aku jemput di Pelabuhan Sri Bintan Pura. Oke? Ya sudah, aku bekerja dulu yah. Hati-hati di rumah. I Love U, Ta."

Dewa mendekat dan dia mengecup kening istrinya. Sudah lama bunga di hatinya tak merekah. Sekarang rasanya hatinya penuh dengan bunga, sangat cerah hari-hari yang Dewa lalui sekarang.

1
Ni Wayan Sudarni
aduhhh, aku jadi kangen dg Batam sempet tinggal dan kerja di Batam View Beach resort selama 2 th dan ketemu suami kerja di sana sama2 orang Denpasar Bali, jodoh ku di Batam mungkin kalo di jadiin novel yaa wkwkwk, mksh thor
Alissia
/Facepalm/
Alissia
/Smirk/
Alissia
🙄🙄🙄🙄🙄🙄
Eli Maliani
bagus ceritanya
dina
Luar biasa
A Z I Z A H
makan hati banget jadi gita, hrs memaklumi sepanjang hidup
capek bangeeeettt
capek badan ngurus ponakan sekalian hamil
capek hati, terpaksa memaklumi suami yg selalu membanding2kan dg almh sang kk
A Z I Z A H
kenapa kesan nya gita yg mau banget nerima pernikahan ini
dih laki bersyukur
tau gitu, rawat aja anaknya ga usah kawinin bapaknya
Yus Warkop
udah tamat atau gimna belum up
Idha Giatno
Luar biasa
hasimnely
kang modus
Yani Hendrayani
bagus
Kirana Pramudya: Terima kasih💗💞
Baca karya yg lain juga yuk, Kak.
Asmaradhana Putri Ningrat juga bagus loh, Kak. 🤗🤗
total 1 replies
suharlina
extrapart anaknya
Enisensi Klara
terima kasih kisahnya apik KK ,ditunggu kisah lainnya 🥰
Enisensi Klara
lope lope deh utk kalian bahagia sepanjang masa 🥰🥰🥰🥰
Enisensi Klara
Ah nyebelin emang dewa 😳
Enisensi Klara
welcome baby boy ❤️😙❤️
Enisensi Klara
aduh aku ikutan mules ini 😳😳
Enisensi Klara
harusnya tau kan udah pengalaman waktu Tya hamil dulu 😤
Enisensi Klara
Dulu suami ku aja nolak kerja luar kota pas kehamilanku udah besar ,harusnya dewa gitu lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!