NovelToon NovelToon
Warisan Kulivator Abadi

Warisan Kulivator Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.

Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Ikatan Persaudaraan

“Senior Luo, kenapa belum melanjutkan latihan?” tanyanya heran.

Luo Jin tersenyum kecut sambil menggeleng pelan. “Adikku, tadi saat kau berkultivasi, hampir seluruh energi di sekitar kita terserap ke arahmu. Aku hanya mendapat sisa sedikit saja, sampai-sampai aku terbangun sendiri. Teknik yang kau miliki itu sungguh luar biasa ajaib.”

Riu Han tersipu malu, lalu tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Hehehe… Senior Luo, ini hanya teknik yang tidak sengaja aku temukan di tempat lama. Tidak sehebat yang kau kira kok.”

Mendengar itu, Luo Jin hanya bisa menghela napas panjang sambil tersenyum tipis. “Sialan, teknik yang bisa membuat energi di satu wilayah bergerak atas kemauannya sendiri—pasti teknik tingkat tertinggi—kau bilang hanya ‘tidak sengaja ditemukan’? Seolah ini sekadar rumput liar yang bisa dipetik di pinggir jalan mana saja,” batinnya. Namun ia tidak memaksakan kehendak untuk tahu lebih jauh.

“Bukan begitu maksudku, aku hanya beruntung saja bisa memilikinya,” tambah Riu Han buru-buru.

“Ya sudahlah, mungkin memang rezeki dan keberuntunganmu begitu,” kata Luo Jin lembut, lalu nada bicaranya berubah menjadi serius. “Tapi ingat pesanku ini, Riu Han: jangan pernah berkultivasi secara terbuka di depan orang lain, bahkan di hadapan sesama murid Sekte Pedang sekalipun. Kekuatan dan harta yang belum kau sanggup lindungi sendiri, sebaiknya kau sembunyikan dulu. Dunia kultivasi luas dan berbahaya, tidak semua orang memiliki niat baik. Jika rahasia ini terbongkar, kau akan menjadi incaran banyak pihak.”

Riu Han mengangguk mantap, hatinya terasa hangat karena diingatkan dengan tulus. Ia sadar betul—teknik yang ia warisi adalah Kitab Kultivasi Abadi, sesuatu yang bahkan di masa lalu pun hanya dimiliki oleh puncak kekuatan dunia. Jika orang lain mengetahuinya, pasti akan terjadi persaingan mematikan untuk merebutnya.

“Terima kasih banyak atas nasihatmu, Senior Luo. Aku akan mengingatnya baik-baik,” ucap Riu Han dengan tulus.

Luo Jin tersenyum lega melihat pemahaman adiknya. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita pindah ke Menara Kultivasi? Di sana konsentrasi energinya puluhan kali lebih padat daripada di halaman terbuka seperti ini. Latihanmu pasti akan jauh lebih efektif.”

“Baiklah! Aku juga belum pernah ke sana, jadi sangat ingin mencobanya,” jawab Riu Han dengan mata berbinar antusias.

Mereka berdua pun berjalan menuju bangunan tinggi berbentuk pagoda yang berdiri kokoh di tengah wilayah pusat sekte. Sesampainya di lobi peminjaman, Luo Jin menyarankan untuk menyewa ruangan tingkat rendah terlebih dahulu. “Semakin tinggi tingkat ruangan, semakin padat energinya, tapi juga semakin banyak kultivator hebat yang berlatih di sana. Kita baru di tingkat ini, lebih baik hati-hati dan sadar diri dulu,” jelasnya.

Mereka akhirnya memilih ruangan tingkat tujuh. Biayanya harus dibayar menggunakan poin kontribusi sekte dan sedikit batu roh. Karena Riu Han baru datang dan belum memiliki poin sama sekali, Luo Jin dengan senang hati meminjamkan sebagian miliknya untuk menutupi kekurangan. Setelah selesai urusan administrasi, Riu Han menerima sepotong lempengan giok halus yang berfungsi sebagai kunci akses ruangan.

Keduanya naik ke lantai dua tempat ruangan tingkat tujuh berada. Lorong itu cukup luas dan tenang, meski sesekali terdengar samar aliran energi dari balik pintu tertutup. Setelah menunggu sebentar, giliran mereka pun tiba dan masing-masing mendapatkan ruangan kecil namun lengkap fasilitasnya.

Riu Han mengusap giok kuncinya, lalu pintu ruangan terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, ia langsung merasakan perbedaannya. Udara di sini terasa kental dan berat, energi alam bergerak deras seolah mengalir seperti sungai besar di sekelilingnya.

“Benar-benar luar biasa, energi di sini jauh lebih padat dan murni dibandingkan tempat lain,” gumamnya pelan.

Baru saja ia duduk bersila, suara yang sudah lama tidak ia dengar kembali terdengar di dalam benaknya. “Riu Han…”

Riu Han tersenyum lebar. “Eh, akhirnya Saudara Long Siu muncul juga! Sudah lama sekali kau tidak berbicara denganku.”

“Aku sedang dalam masa istirahat panjang,” jawab Long Siu dengan nada lemah namun lega. “Ini tempat apa? Energinya sangat kaya dan murni sekali.”

“Ini adalah Menara Kultivasi milik Sekte Pedang,” jelas Riu Han. “Kau tahu, roh yang tidak memiliki tubuh fisik akan perlahan memudar jika tidak mendapat asupan energi yang cukup. Selama ini kau tidur lelap untuk menghemat kekuatan rohmu, kan?”

“Benar sekali,” akui Long Siu. “Tapi sekarang merasakan energi seperti ini… jika kau bisa membaginya sedikit untukku, kekuatan rohku akan semakin kuat dan perlahan pulih kembali. Aku mohon padamu, Riu Han.”

“Tenang saja, Saudara Long. Aku pasti akan membantumu,” jawab Riu Han tanpa ragu sedikit pun.

Ia tahu betul betapa besar jasa Long Siu dan Kake Qin baginya. Tanpa mereka, ia mungkin masih dianggap anak cacat yang tidak berguna di sudut kota. Membagikan energi adalah hal yang paling kecil yang bisa ia lakukan sebagai balasan budi.

Riu Han pun memejamkan mata, mengatur napas, dan mulai mengaktifkan teknik kultivasinya. Energi murni di ruangan itu seolah terseret masuk ke dalam tubuhnya dengan sangat cepat, membanjiri setiap saluran energi hingga terasa hangat dan nyaman. Sebagian besar energi itu ia arahkan ke dalam dantian untuk diubah menjadi energi Qi murni, sementara sebagian lain ia salurkan perlahan ke dalam ruang kesadaran untuk dibagikan kepada Long Siu.

“Energi di sini jauh lebih mudah diolah dibandingkan di taman herbal dalam cincin ruang,” batinnya. “Dulu butuh waktu berjam-jam untuk menyaring kotoran dari energi alam, tapi di sini rasanya hampir langsung siap diserap.”

Lima jam berlalu begitu saja dalam sekejap mata. Riu Han akhirnya membuka matanya perlahan, dan secercah cahaya terlihat berkilat di matanya. Ia berhasil menembus batas—kini ia telah mencapai Tingkat Tiga Ranah Prajurit.

Namun senyumnya segera berubah menjadi senyum getir. “Hanya naik satu tingkat saja?” gumamnya pelan. “Jumlah energi yang baru saja kuserap cukup untuk mendorong seratus orang kultivator tingkat pemula naik satu tingkat sekaligus, tapi bagiku hanya cukup untuk satu tingkat. Belum lagi harus kubagi dengan Saudara Long Siu.”

Ia menyadari bahwa dantian dan fondasinya yang telah ditempa dengan cara istimewa memang memiliki kebutuhan energi yang jauh lebih besar dibandingkan orang biasa. Keuntungannya adalah kekuatannya di setiap tingkat akan jauh lebih kokoh, tapi tantangannya adalah butuh sumber daya yang sangat melimpah untuk terus berkembang.

“Jika begini terus, lama-lama aku bisa kehabisan batu roh dan poin kontribusi,” pikirnya cemas. “Aku harus segera mencari cara untuk menghasilkan poin atau mendapatkan batu roh sendiri. Entah itu dengan menjalankan tugas sekte, mengumpulkan bahan berharga, atau meramu ramuan obat—aku harus mulai berusaha mencari sumber daya sendiri.”

Dengan tekad yang semakin bulat, Riu Han berdiri, menyimpan giok kunci, dan melangkah keluar ruangan. Di luar, Luo Jin sudah menunggu dengan sabar, siap untuk kembali berbagi cerita dan langkah selanjutnya yang harus mereka tempuh.

1
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
Lanjut Up Thor 💪💪
Deevy Tresiyana
kuatkan💪mu riu han...ceritanya luar biasa thor👍😄
Deevy Tresiyana
👍💪hebat hebat
Blue Manusia Biasa
awal yang bagus
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 1 gift ☕ Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift. Semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjutkan Thor 💪💪
sutrisno akbar
ayo lanjut thor l
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tingkatan Pemula saja Tingkat 1-9, kok nggak Awal, Tengah dan Puncak 🤔
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Kisah menjadi Kultivator / Pendekar dimulai 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Semoga Novel ini sukses dan sampai Tamat.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Alur ceritanya mulai menarik untuk dibaca 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!