Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Attraction and Curiosity
...31. Attraction and Curiosity...
“Mbak Nawa dari mana?” tanya Yani yang menyambutnya di pintu pagar.
Dari jendela kaca yang terbuka ia menjawab, “Teman.”
Yani menutup pagar. Ia mengambil kantong di bangku belakang dan membawanya ke dalam rumah.
“Tadi teman Mbak Nawa kesini.”
Ia sempat menoleh pada Yani yang berjalan di belakangnya. “Siapa?” Lantas menyimpan kantong di atas meja makan. Di sebelah kantong plastik berwarna putih.
Yani terdiam sejenak. “Ibu yang tahu namanya, Mbak. Tapi dia pernah ke sini.”
Lipatan di dahinya membentuk sesaat. Namun ia bergegas masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan diri di atas kasur. Sebuah senyuman timbul saat memandangi string of hearts yang telah ia kemas menjadi lebih cantik dan eksentrik.
“Kenapa harus tunggu lusa?” lirihnya. Meski ia tidak tahu hal apa yang akan dibicarakan Saba, namun hatinya berbisik: Saba mengatakan sesuatu yang akan menyenangkannya. Ia kembali tersenyum.
Ah, ia begitu tidak sabar.
Semua rangkaian perhatian dan perlakuan itu makin kesini makin nyata dan besar. Bukankah itu pertanda jika harapannya berbalas sama. Senyum lagi-lagi terkembang di bibirnya.
Ah, mungkinkah Saba akan berterus terang kali ini tentang perasaannya.
Senyuman untuk kesekian mendominasi di wajahnya. Tiba-tiba ia merasakan kebahagiaan sekaligus malu tersipu-sipu. Perasaannya pada Saba sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Ia menutupi wajahnya dengan bantal.
Suara pintu diketuk dan sesaat didorong dari luar terdengar. Membuatnya lekas menyingkirkan bantal dari mukanya.
“Ibu,” tukasnya. Ia mengambil bantal untuk sandaran. Lalu beringsut ke dinding.
Tiyuh mendekat. Duduk di tepi kasur. “Tadi Leo kemari. Dia sudah menghubungimu?”
Kedua tangannya memainkan ikatan tali pada ujung guling yang di pangkuan. Ia menggeleng.
“Dia katanya dari Bandung,” ungkap Tiyuh. “Ada proyek di sana, sekalian ketemuan dengan Sapta.”
“Mbak Sapta juga gak ngasih tahu, Na,” ucapnya.
“Mungkin nanti malam dia ngubungi kamu.” Tiyuh bangkit. Mendekat jendela. Menyentuh bunga string of hearts. Tiyuh menarik kedua sudut bibirnya, “Leo bilang, ingin ngajak kamu gabung di proyeknya.”
“Hah, Bang Leo mau ngajak, Na? Gak salah dengar?”
“Dia bilang seperti itu sama Ibu. Bahkan meminta izin dulu sama Ibu. Padahal hak kamu sepenuhnya untuk memutuskan. Ibu cuma bisa ngasih pandangan saja,” ungkap Tiyuh.
“Di jaman sekarang yang sulit cari kerja siapa sih, yang akan nolak. Tapi, Na belum lulus. Na, juga belum tahu kerja dibagian apa. Kalau menurut Ibu, bagaimana?” tangkasnya. Ia memeluk guling. Menimbang-nimbang tawaran itu.
Tiyuh memutar tubuhnya. Melihat anaknya. “Tidak ada salahnya dicoba. Terimalah. Untuk menambah pengalamanmu.”
...***...
“Mbak Sapta ….” sahutnya begitu ia menggeser tombol panggilan dari kakaknya yang bermukim di Bandung pada malam harinya.
“Kamu sudah ketemu Leo?”
“Belum.”
“Leo sudah menghubungi kamu?”
“Gak ada.”
Sapta berdesah. “Aku pikir kalian sudah ketemu.”
“Kemarin Bang Leo ke rumah, Na lagi gak ada. Jadi belum ketemu.”
“Leo kemarin mampir ke kantor Barata architeam. Dia menawarkan tender untuk proyek pemerintah,” tukas Sapta. “Aku sama Bara belum putusin terima atau gaknya. Kami masih timbang-timbang. Kalau kamu gimana, Na? Kemarin Leo sempat menyinggung akan mengajakmu juga.”
“Na, juga masih pikir-pikir. Tapi menurut ibu, gak ada salahnya tawaran itu diambil,” ucapnya. “Sebenarnya itu proyek apa sih, Mbak?” Pasti kakaknya itu lebih tahu detail dibanding ibunya.
“Proyek rusunami, kerjasama kementerian PUPR dengan pemda di sini. Leo menawarkan Barata architeam ikut tender bersama 5 perusahaan lainnya. Ini tender terbesar buat Barata. Kamu tahu sendiri Barata architeam perusahaan rintisan, baru berdiri 4 tahun. Sebenarnya ini memang peluang besar, tapi ….”
“Bang Leo mungkin percaya sama Mbak Sapta, makanya mau kasih tender itu ke Barata,” tukasnya.
“Entahlah, Na. Aku sama Bara juga perlu mendalami dulu.”
“Proyek itu memangnya di mulai kapan, Mbak?”
“Akhir bulan depan.”
“Kalau proyek itu tentang pembangunan rusun, kayaknya bukan bidang Na, deh.”
“Lebih baik kamu hubungi dia, Na.”
Sejak percakapan melalui telepon dengan Sapta, ia belum juga menghubungi Leo. Meski ibu dan kakaknya itu mendorongnya untuk menghubungi terlebih dulu. Ia memilih menyibukkan diri merawat tanaman ibunya keesokan harinya.
“Kuenya enak, Mbak.” Yani muncul dengan membawa beberapa speculaas. Sementara di dalam mulutnya masih penuh mengunyah. “Kata ibu, kue pemberian Mas Leo yang kemarin nyariin Mbak Nawa.”
“Salah, Yan,” sanggahnya. “Itu bukan dari Bang Leo.”
“Terus dari siapa? Kemarin aku lihat Mas Leo bawa sesuatu untuk ibu.”
“Bang Saba,” jelasnya.
“Oo ….” Yani kepalanya manggut-manggut. “Yang kasih bunga, ya, Mbak?”
“Ya.” Ia mengangguk.
“Mas Saba jualan kue juga, Mbak?”
“Kalau dia jualan kue kamu mau beli, Yan?” protesnya. Ia menyiram koleksi anggrek-anggrek ibunya.
Yani tertawa meringis. “Mas Saba pinteran orangnya. Tangannya dingin, tanaman hidup, buat kue juga enak.” Yani mengambil sapu teras. Mengumpulkan daun-daun yang jatuh.
“Biasanya kalau cowok sukanya main mobil atau olahraga, biar dikata keren. Tapi Mas Saba beda ya, Mbak. Menurutku lebih keren sih. Merawat tanaman, bikin kue itu, kan butuh kesabaran. Belum lagi harus telaten, hati-hati, disayang-sayangnya itu bunga sama kue biar jadi. Berarti Mas Saba tipe penyayang. Ya, gak, Mbak?!”
Ia tak merespons.
“Mbak Nawa nih, pura-pura saja gak dengarin. Padahal di dalam hati setuju, kan dengan pendapatku,” sambung Yani.
“Masih pagi, Yan. Aku gak mau dengar ceramahmu.”
Yani tergelak hingga tersedak.
Ia mematikan keran air. Semua tanaman telah tersiram. “Nanti malam kamu temani ibu sebentar, ya, Yan?” pintanya. “Gak sampai malam kok. Mm … paling jam 8 atau 9 pulang.”
“Mbak Nawa mau kemana?”
“Tempat teman. Penting.”
“Kemana hayo! Janjian sama Mas Saba atau Mas Leo,” ledek Yani.
“Sok tahu,” gerutunya.
“Kan, yang sering kesini Mas Saba sama Mas Leo,” protes Yani.
“Ya, belum tentu juga sama mereka,” kilahnya.
“Iya, deh. Ke tempat Mbak Safiya,” pungkas Yani.
Ia menggelengkan kepala. “Beneran, Yan. Pokoknya aku titip ibu bentar, ya.”
Yani mengacungkan jempol, “Siap.” Lalu tersenyum, “Kuenya boleh minta lagi, ya, Mbak.”
“Ambil,” sahutnya sambil berlalu.
“Lho, Mbak Nawa mau kemana? Masih pagi.”
“Prepare.”
...***...
Tatanan rambutnya awalnya ia kepang. Namun karena ia merasa kurang cocok, akhirnya ia ikat agak tinggi seperti ekor kuda. Ia menatap penampilannya. Sudut bibirnya melengkung ke bawah. Tidak sesuai. Ia kemudian mengubah lagi rambutnya menjadi tergerai seperti biasa. Tetapi bukankah ini pertemuan yang tidak biasa?
Ia kembali mengikat rambutnya membentuk cepolan di atas, setengah bagian bawahnya ia biarkan gerai. Namun rupanya ia terlihat seperti anak belasan tahun. Tidak sesuai keinginannya.
Huftt … desaknya dengan sentak.
Semua gaya rambut sepertinya tidak sesuai yang diharapkan. Ia kembali membiarkan rambutnya tergerai. Menatap diri di depan cermin. Termenung sejenak membayangkan gaya model rambut apa yang pantas dengan momen hari ini.
Akhirnya ia putuskan dengan mengikat rambut ala Korea. Menggulung rambut dan membuat cepolan di bagian atas belakang rambut. Senyum kecil terbit sejenak. Tampilan ini sepertinya lebih pas ketimbang tampilan rambut sebelum-sebelumnya.
Ia mencaklong tas. Menyambar kunci mobil di dinding dekat meja makan. Menghampiri ibunya yang tengah duduk di kursi santai memejamkan mata.
Urung ia untuk membangunkan Tiyuh. Ia memilih keluar dari kamar ibunya dan pergi tanpa berpamitan. Ia yakin Yani akan menyampaikan pesannya jika Tiyuh mencarinya.
Sepanjang perjalanan hatinya justru tak tenang. Rencana pertemuannya dengan Saba membuatnya menebak-nebak nanti akan seperti apa.
Di tengah perjalanan justru nama Leo yang berpendar di layar memanggilnya.
“Ya,” sahutnya.
“Lo, di mana, Na?”
“Mm … di mana, ya.” Ia melihat sekitar untuk mengetahui posisinya. “Di jalan,” pungkasnya karena tak hapal dengan daerah yang di lalui.
“Sorry, gue ganggu perjalanan lo, ya?”
“Gak, Bang. Gak, kok.”
“Mbak Sapta sudah ngubungi lo, belum?”
“Sudah.”
“Lo, pasti juga sudah tahu soal tawaran gue. Tapi enaknya sih, kita omongin sambil ngopi dimana, gitu. Biar enak.”
“Kapan?”
“Lo, bisanya kapan?”
Ia ketawa kecil. “Masa aku yang nentukan. Apalah, aku ini.”
Leo juga terdengar tertawa.
“Bos Senayan lah… punya waktu kapan?” sambungnya.
“Minggu-minggu ini, lo, bisa? Kalau besok atau lusa?”
“Mm … besok kayaknya bisa.”
“Oke, kalau begitu besok. Waktunya nanti gue kabari lagi.”
Percakapan itu terdengar hening sesaat. Lalu Leo melanjutkan, “Na … hati-hati.”
Tiba di depan rumah Saba, ia sempat berdiam sejenak. Menata hatinya untuk bersiap.
Langkahnya gontai menyusuri setapak berundak menurun. Rumah Saba tampak lengang. Bahkan rumah utama terlihat tertutup pintu dan jendelanya.
“Mbak Nawa,” sapa Arif yang datang dari belakangnya.
Ia menoleh pada Arif yang mengenakan kaos jersey melangkah terburu-buru. “Rif,” balasnya.
“Bang Saba keluar sejak tadi pagi. Katanya ada seminar.” Arif membuka pintu rumah utama. “Silahkan, Mbak.”
Ia duduk di sofa.
“Maaf, aku gak bisa temani Mbak.”
“Gak apa-apa, Rif. Paling Bang Saba sebentar lagi pulang, aku sudah janjian,” tukasnya. Ia melihat arloji di lengan, masih ada waktu 5 menit lagi jelang pukul 5.
“Kalau Mbak Nawa mau minum bisa ambil sendiri. Jangan sungkan,” imbuh Arif. Kemudian berlalu meninggalkannya.
Sambil menunggu ia melihat pemberitahuan di ponselnya. Tak ada satupun pesan dari Saba yang masuk. Lagi pula buat apa juga Saba mengirim pesan sementara sebentar lagi mereka akan bertemu.
Ia memilih membuka aplikasi permainan. Menghabiskan waktu lima menit untuk menunggu.
Lima menit telah berlalu. Waktu tepat menunjukkan pukul 5. Namun Saba juga belum datang. Ia kembali melanjutkan permainan.
Sepuluh menit terus berganti menjadi dua puluh menit. Saba belum juga muncul.
Dua puluh menit merangkak ke tiga puluh menit. Situasinya masih sama. Orang yang diharapkan muncul tak juga terlihat.
Perasaannya mulai gelisah. Ia menutup aplikasi permainan bersamaan pemberitahuan daya baterai ponselnya yang melemah.
Ia bangkit. Berjalan menuju perpustakaan. Mencari buku yang menarik untuk dibaca. Hampir sepuluh menit ia menghabiskan pencarian buku, sayang ia belum menemukan apa yang menarik untuknya.
Tarikan napasnya pelan. Lalu keluar dengan sentakan. Ia mulai bosan.
Sepasang matanya melihat ke bawah melalui jendela perpustakaan. Di luar telah gelap. Udara dingin perlahan menyergap. Jendela itu tetap ia biarkan terbuka. Agar ia terjaga.
Hampir dua jam berlalu tanpa ada kabar dari Saba. Terbersit untuk menghubungi laki-laki itu. Namun kemudian ia urungkan.
Ia melepas cepolan rambutnya. Membiarkan tergerai acak. Bangkit dan membuka pintu kamar Saba. Hampa.
Sentakan napasnya kembali terdengar. Ia perlahan memasuki kamar yang bernuansa serba putih. Mengusap tempat tidur. Lalu berbaring di atas kasur.
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
ah bang saba kurang peka
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab