Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Surya seperti berada di tepi jurang setelah ia mengatakan semua rahasianya kepada Bening, namun di satu sisi ia merasa lega mengungkapkan apa yang menghantuinya selama ini. Ini pertama kali dalam hidupnya Surya membuka rahasia kepada orang lain.
Setelah mandi dan mengisi perut dengan sedikit makanan, ia merasa lebih ringan setelah kedatangan Bening ke kamarnya. Surya bisa sedikit mengendalikan pikiran dan kecemasannya. Sama halnya dengan Bening, Surya pun membutuhkan watu untuk sendiri, untuk menyerap perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya, agar bisa menjalankan pernikahannya tanpa rahasia.
Meski konsekuensinya adalah Bening pergi bersama anak anjingnya, bahkan mereka berdua tak muncul saat makan malam. Hal itu membuat Surya berpikir, bagaimana jika Bening meninggalkannya untuk selamanya? Bening memang susah untuk di tebak.
Surya jadi teringat pada mantan tunangannya Rindu, gadis itu terlihat sangat penurut jika di bandingkan dengan Bening yang sangat mandiri, itulah alasan Surya mau melamar Rindu.
Penantiannya menunggu Bening amatlah berat, Surya pun memanggil seorang manajer hotel. "Apakah istriku sudah kembali?"
"Belum Tuan Magenta," ucap Riko, sang manajer. "Asisten pribadi Nyonya mengatakan jika tadi sore Nyonya bertemu dengan Tuan Aksara dan mereka pergi berdua."
Seketika wajah Surya menjadi merah padam karena menahan marah. Pertama, karena istrinya jalan dengan pria yang pernah di sukainya, ke dua Surya tak bisa membayangkan jika Bening menceritakan semua keburukannya pada Aksara.
'Ini tidak bisa di biarkan,' batin Surya, ia harus pergi mencari keberadaan istrinya. "Siapkan mobil sekarang juga! Aku ingin mencari istriku." Surya bergegas berjalan menuju lobby hotel, sementara Riko melalu sambungan HT yang berada di genggamannya menghubungi supir agar segera menyiapkan mobil untuk Surya.
Saat Surya tiba di lobby dan hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja Bening muncul dengan anak anjing yang berlari mendahuluinya. "Hei, Sayang. Kamu mau pergi?" tanya Bening menghampiri Surya.
"Harusnya aku yang tanya padamu, kamu pergi kemana bersama Aksara?"
Bening mengerutkan keningnya, kemudian ia tersenyum. "Oh itu, tadi aku memang bertemu Aksara di sini, dia mencarimu. Tapi aku mengatakan jika kau sedang istirahat dan tidak bisa di temui. Kemudian Milo berlari mengajakku jalan-jalan, dan Aksara entah pergi kemana aku sendiri tidak tahu. Kami berpisah setelah meninggalkan lobby ini."
"Maaf Nyonya, bolehkah saya membawa Milo ke dapur? Di sana Ada banyak tulang untuknya," Riko meminta izin mengambil Milo agar Surya dan Bening bisa lebih leluasa mengobrol.
"Oh, tentu saja. Dia pasti sangat senang," Bening menyerahkan tali penuntun anak anjingnya pada Riko "Terima kasih."
Riko membungkuk, kemudian ia pergi membawa Milo. Setelah Riko dan Milo pergi, Surya mengajak Bening ke kamarnya. Kali ini kamar Surya sudah jauh lebih rapih dari pada saat Bening pertama kali datang menemui suaminya.
Mereka berdua duduk di balkon sembari menikmati secangkir teh hangat, Surya tersenyum lega dan berterima kasih karena Bening tidak jalan dengan Aksara, apa lagi bercerita mengenai aibnya kepada pria itu.
"Aku memegang teguh janji pernikahan kita," ucap Bening dengan tegas.
"Jujur, aku sangat khawatir kau tidak akan kembali lagi."
"Sejujurnya, aku pun tidak." Bening menerawang menatap jalanan ibu kota. "Aku berjalan-jalan bersama Milo, untuk mencoba memahami dan mengerti ini semua."
Tentu saja Bening tidak mengerti kegilaan yang di alami oleh Surya, sebab wanita itu begitu cerdas, dan rasional untuk mengerti sesuatu yang membingungkan.
"Tapi setelah aku memikirkannya, aku menyadari bahwa akulah yang membuatmu terpaksa menjadi suamiku, jadi aku tidak akan meninggalkanmu karena masalah ini. walau pun aku belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang kau alami, tapi .... yang jelas, aku sama sekali tidak takut kepadamu."
Surya tersenyum lega. "Bening..."
"Bolehkah aku bertanya," sela Bening sebelum Surya melanjutkan kalimatnya. "Selain aku siapa lagi yang tahu mengenai ini?"
"Hanya dokter Leo yang menanganiku, dan mungkin kakakku Rembulan... Dia sempat curiga melihat kecemasanku, tapi dia tidak pernah bertanya apapun padaku."
"Kak Rembulan? Apakah dia tahu mengenai pernikahan kita? Apa kira-kira pendapatnya mengenai aku dan skandal yang pernah aku buat? Kau bilang dia tidak akan pulang pada liburan natal tahun ini." Bening memainkan ujung pita yang melingkari gaunnya, ia jarang sekali menunjukan kecemasan di hadapan Surya.
Surya mengangguk. "Ya awalnya Rembulan mengatakan itu, tapi beberapa hari yang lalu dia menghubungiku. Dia mengatakan bahwa dia akan menyempatkan diri untuk pulang setelah acaranya di Paris selesai." Ia meraih tangan Bening dan menggenggamnya. "Aku pernah mengirimkan fotomu pada Rembulan. Dia pernah mendengar soal skandal itu, tapi dia sama sekali tidak peduli. Dia malah bilang, aku menikahi seorang bidadari."
Wajah Bening bersemu memerah, dan tersenyum senang. "Terima kasih. Sekarang, apa kau berniat bertemu dengan keluargaku?"
Surya tidak sadar jika ia tengah mengetuk-ngetukan jemarinya di lutut, hal itu membuat Bening kesal karena menganggap Surya tak ingin menemui keluarganya. Bening pun melepaskan genggaman tangan Surya, tapi Surya menariknya kembali. "Bukannya aku tidak mau menemui keluargamu, tapi kau tahu sendiri aku begitu canggung bertemu dengan orang baru. Aku tidak suka berbasa-basi dan berceloteh sepertimu. Aku masih butuh waktu, Bening."
Bening mengerti, ia tidak akan memaksakan Surya untuk segera bertemu dengan adik tirinya, meskipun Bening sudah sangat merindukan Sukma. Hening untuk beberapa saat, Bening sibuk dengan pikirannya memikirkan Sukma sembari kembali memainkan ujung pita.
Tapi kemudian ia berkata. "Surya, apakah kau menginginkan seorang anak?"
"Sejujurnya itu pertanyaan yang sulit." Surya beranjak dari tempat duduknya, ia bersandar pada dinding pembatas balkon. "Aku berkewajiban menghasilkan ahli waris untuk meneruskan bisnis keluargaku, karena keturunan dari Rembulan agaknya tidak ada yang mau tinggal di Indonesia."
"Jadi kau menginginkan anak hanya agar kau punya penerus bisnismu?" tanya Bening kecewa,
"Ya," Surya berbalik menghadap Bening. "Bagaimana aku menginginkan seorang anak setelah aku tahu kekuranganku? Setelah aku tahu bahwa ini bisa di turunkan, seperti ayahku yang menurunkan ini padaku."
Bening menatap Surya dengan penuh harap. "Aku memiliki mimpi, di kelilingi banyak anak-anak, aku ingin memiliki keluarga besar yang bahagia dan penuh cinta. Aku tidak mau jika masa tuaku nanti, aku kesepian."
Nampak jelas jika Bening ingin Surya sependapat dengannya, tapi seandainya Surya tak memiliki kelainan mungkin pria itu akan langsung setuju dengan mimpi yang di miliki oleh istrinya.
"Apa kau juga menginginkannya, Surya?"
"Aku tidak menyangkal, jika aku juga menginginkan hal itu," jawab Surya. "Aku akan berusaha untuk sembuh dan belajar ilmu parenting sebelum kita memiliki anak."
Bening tersenyum riang mendengar ucapan suaminya, ia beranjak dari tempat duduknya menghampiri Surya, dan menggenggam tangannya. "Boleh kau ceritakan apa bayang-bayang dalam pikiranmu?"
...****************...
Hai guys,
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa mampir ke karya terbaruku. 😊
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka