Selama ini aku percaya saja hubungan ini akan baik-baik saja walau di tempa jarak yang jauh. Tapi suatu hari, ucapan sahabatku membuatku sedikit resah hingga terbesit niat ku untuk memberi kejutan kepada suami di rumah dinasnya di kota lain.
Tetapi bukan hanya suamiku yang terkejut, aku pun terkejut mendapati ada wanita lain di rumah dinas suamiku. Apalagi aku memergoki mereka tengah berduaan di terik panas siang ini. Ternyata selama ini suamiku dijaga oleh wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Di Jual
Bab 33
Di Jual
Seminggu setelah ketukan palu hakim, aku berencana untuk menjual barang-barang yang ada di rumah itu. Aku pun sudah memberi tempo waktu seminggu untuk Mas Heru dan istrinya pindah dari rumah itu. Ku rasa dengan waktu segitu, sudah cukup lama bagi Mas Heru yang hanya membawa pakaiannya saja dari rumah itu.
Mbak Surti ku hubungi sebelumnya, untuk menawarkan barang-barang yang ada di rumah kepada para tetangga dengan harga murah. Rencanaku, uang hasil penjualan akan ku simpan sebagian, dan sisanya akan ku berikan ke panti asuhan.
Barang-barang yang penuh kenangan bersama Mas Heru, serta mengingatkan ku akan pengkhianatannya itu, tidak ingin aku simpan apalagi menggunakannya.
"Tok... Tok... Tok!"
"Assalamualaikum..."
Ku ketuk pintu rumah Mbak Surti dan mengucapkannya salam.
"Waalaikumsalam.." Jawab seseorang dari dalam rumah.
"Dek Indah, ayo masuk! Duh sudah lama kita tidak bertemu, ayo duduk sini!" Mbak Surti menyambutku dengan semangat.
"Iya Mbak."
Aku pun duduk tidak jauh dari Mbak Surti. Sesekali aku mengintip rumah di sebelah Mbak Surti yang dulu pernah aku tinggali.
"Sepertinya tidak ada orang di sebelah ya Mbak?" Tanya ku penasaran yang melihat pintu tertutup rapat itu, tapi jendela kamar terbuka.
Apa Mas Heru masih tinggal di rumah itu? Batinku bertanya-tanya. Padahal aku sudah memintanya untuk segera meninggalkan rumah itu karena akan ku pasang plang 'Di Jual'.
"Sepertinya masih ada Dek Indah. Tapi apa benar kalian sudah resmi bercerai?" Tanya Mbak Surti.
Mungkin ia ingin memastikan setelah pembicaraan kami lewat telpon beberapa hari yang lalu.
"Iya Mbak, makanya barang-barang dirumah itu mau saya jual. Karena barang-barang itu milik saya."
"Tapi... ini loh Dek. Ada yang mau saya kasih tahu."
"Kenapa Mbak?" Tanya ku bingung dan penasaran melihat Mbak Surti yang tampak serius menatapku.
"Anu loh Dek, sebelum dek Indah menelpon saya kemarin itu, saya sempat melihat Pak Heru membawa beberapa barang seperti sofa, lemari hias juga lemari pakaian. Belum lagi Tv, kulkas dan masih ada beberapa yang tidak jelas saya lihat karena waktu pengangkutan itu sudah malam sekali dan sedikit gelap."
Deg,
"Haaah?!"
Aku terkesiap mendengar penuturan Mbak Surti barusan. Pikiranku langsung curiga akan satu hal, bahwa Mas Heru sudah memindahkan barang-barang milikku entah kemana.
"Mbak yakin?" Tanyaku memastikan.
"Walau sedikit gelap, saya masih bisa melihat kalau itu Pak Heru. Dan juga tidak ada orang lain kan yang memegang kunci rumah selain Pak Heru?"
Benar, kunci rumah itu hanya di pegang oleh Mas Heru sendiri. Jika benar apa yang di katakan oleh Mbak Surti, berarti Mas Heru sudah mencuri barang-barang milikku.
Astagfirullah, kenapa kelakuan Mas Heru semakin menjadi seperti ini?
"Kalau begitu sebaiknya kita kesitu saja." Ajakku langsung beranjak dari sofa Mbak Surti.
Aku bergegas berjalan menuju rumah yang dulu aku tempati di ikuti Mbak Surti di belakangku. Tidak sabar ingin mengetahui kebenaran yang baru saja di sampaikan oleh Mbak Surti.
"Tok... Tok.. Tok!"
Ku ketuk pintu tanpa mengucapkan salam.
"Tok... Tok...Tok... Tok!!"
Kali ini lebih kuat dan lama karena tidak ada respon dari dalam.
"Cklek! Akhirnya pintu pun di buka.
"Siapa ya?" Tanya seorang Pria bertubuh kurus namun tinggi menjulang.
Aku terkesiap melihat orang asing yang membuka pintu rumahku.
"Loh Bapak siapa?" Tanyaku balik masih bingung kenapa ada orang asing di rumah itu.
Aku menatap Mbak Surti, siapa tahu dia lupa menceritakannya padaku. Tetapi, ia pun tak kalah bingung sampai menggelengkan kepala.
"Saya pemilik rumah ini. Rumah ini baru saja saya beli dua hari lalu dari Pak Heru."
Jedar!! Bagaikan mendengar petir di pagi menjelang siang itu, aku mendengar kabar yang membuat darahku mendidih dan langsung naik ke ubun-ubun.
Ya Tuhan, cobaan apalagi yang menderaku kali ini. Ku kira dengan berakhirnya ikatan pernikahan dengan Mas Heru, aku tidak perlu stres apalagi pusing menghadapi Mas Heru dan keluarganya. Tapi ternyata, Mas Heru lagi-lagi membuat ulah yang membuat aku terus saja menahan emosi.
"Tapi rumah ini sedang sengketa Pak!" Kataku.
"Maaf ya Bu, saya membelinya dengan surat-surat yang jelas, bahkan sudah saya cek di BPN (Badan Pertahanan Nasional), bahwa rumah ini tidak bermasalah sama sekali."
"Saya baru saja bercerai dengan Pak Heru. Barang-barang di rumah ini jatuh menjadi milik saya. Sedangkan rumah ini akan di bagi dua dari hasil penjualannya." Jelasku kepada pria itu.
"Mengenai barang-barang, saya beli rumah ini sudah dalam keadaan kosong. Dan untuk hak Ibu, Ibu bisa menghubungi Pak Heru dan meminta bagian."
Dadaku sesak, sungguh Mas Heru begitu tega tak ada habisnya menyakiti hati ini. Tubuhku langsung lemas, dan nyaris lumbung jika saja Mbak Surti tidak menahanku, mungkin saja aku sudah jatuh.
"Terima kasih Pak atas keterangan. Saya tetangga sebelah Bapak, nama saya Surti."
"Baik Mbak Surti."
"Kalau begitu kami permisi Pak. Maaf sudah menggangu." Ujar Mbak Surti pamit kepada pemilik baru rumah itu.
"Baiklah."
"Ayo Dek, kita kerumah saya dulu."
Aku tidak mampu berkata apa-apa, pikirinku tiba-tiba kosong dan hanya bisa menuruti Mbak Surti yang membawaku kembali ke rumahnya.
Sampai dirumah mbak Surti, aku duduk di sofa dan masih melamun akan perbuatan Mas Heru padaku. Mbak Surti melangkah ke dalam, entah apa yang sedang ia lakukan meninggalkan aku yang termenung disini.
Beberapa saat kemudian, Mbak Surti datang membawa teh hangat dan beberapa kue bolu di piring.
"Minum dulu Dek, tenang dulu hati dan pikiranmu."
Aku menurut dan menyeruput teh hangat itu. Pikiranku memang sedikit lebih tenang, tapi dada ini masih terasa sesak akan perbuatan Mas Heru.
"Berarti malam dimana Mbak Surti melihat Mas Heru mengangkuti barang-barang, dia sudah menjual rumah itu."
"Sepertinya begitu Dek Indah. Oalah, saya bener-benar tidak habis pikir sama Pak Heru itu. Baru kali ini saya nemu laki-laki kok parahnya minta ampun begitu. Eh, maaf loh Dek Indah."
"Tidak apa-apa Mbak, toh dia bukan suami saya lagi."
"Yang sabar ya Dek Indah..."
Aku mengangguk meski sangat lelah menghadapi Mas Heru dan sering dalam keadaan hati yang tidak baik-baik saja.
Aku percaya Allah sangat sayang padaku, hingga memberikan cobaan bertubi-tubi dan pasti Dia Maha Tahu bahwa aku sanggup untuk menjalani. Allah telah telah mengatur segalanya, sesuai waktunya. Dan sampai saat ini aku berusaha menerima keadaan tanpa membenci kenyataan.
Aku pamit kepada Mbak Surti hati dan pikiran cukup tenang dan tenagaku mulai pulih. Aku kembali ke kosan untuk menata kembali rencana kedepan yang telah di rusak oleh Mas Heru.
***
Tiba di kamar kosan aku merebahkan diri. Tiba-tiba saja ada rasa yang tak terbendung lagi, kepiluan menjalar di hati dan air mata pun mulai meleleh di pipi. Dada ini kembali sesak akan kisah hidupku sendiri. Dari rencana ingin memberi kejutan kepada Mas Heru berujung mendapatinya sedang selingkuh dengan dengan wanita lain. Di tambah sifat Mas Heru yang tersembunyi rapat selama ini, membuatku meratapi kebodohanku selama ini.
Difitnah, di caci dan dimaki apalagi tidak dihargai semua kurasa dalam waktu sama. Apa salah ku pada mereka? Wanita polos yang buta akan cinta bahkan dengan wajah tersenyum aku selalu mendahului kepentingan mereka. Salahkan aku yang sekarang hanya ingin keadilan atas perasaanku yang di khianati cintanya.
Apapun ku berikan asal Mas Heru tidak menduakan aku. Tapi ternyata aku salah, aku tidak sadar Mas Heru yang dulunya penyayang dan penuh perhatian ternyata seorang laki-laki yang selalu kekurangan kasih sayang.
Perasaan di dada ini terus membuncah dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa aku tahan lagi. Aku pasrah pada ilahi apapun yang terjadi.
Bersambung...
*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **
Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊
gak sadar apa ya kalau gak dipungut kel.fandi entah gimana nasibnya.dicampakan orangtuanya di pinggir jalan.