NovelToon NovelToon
Kenapa Menikahiku, Gus?

Kenapa Menikahiku, Gus?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Konflik etika
Popularitas:174.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danie A

Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.

Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Arin memandangi sang suami yang saat ini tengah sibuk bersiap untuk pergi ke sebuah desa, bernama desa Moyudan. Wanita itu terus menampakkan wajah cemberut di depan sang suami yang sebentar lagi akan pergi ke tempat yang cukup jauh.

"Mas diizinin pergi, kan?" tanya Huda tiba-tiba, sembari melempar senyum ke arah sang istri yang terus manyun sejak tadi.

Arin hanya diam. Meskipun niat sang suami baik, tapi tetap saja Arin merasa keberatan jika Huda harus pergi ke tempat yang rawan dengan bencana.

Huda akan pergi ke desa Moyudan untuk menjadi relawan di sana. Desa Moyudan merupakan sebuah desa terpencil yang saat terisolasi akibat tanah longsor. Dengan niat ingin membantu, Huda dan beberapa temannya akan berangkat ke desa tersebut dan mengurus para warga yang membutuhkan bantuan di sana.

"Dikasih izin nggak?" tanya Huda lagi.

Arin hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan Huda. Wanita itu terpaksa memberikan izin suaminya untuk pergi.

Sebenarnya hati kecil Arin tidak mengizinkan. Bukan karena Arin tak setuju Huda membantu orang, tapi karena Arin mencemaskan sang suami. Arin takut, Huda ikut tertimbun longsor saat menjadi relawan di desa Moyudan yang rawan dengan bencana longsor.

Hal inilah yang membuat Arin keberatan untuk melepas sang suami. Tapi sayangnya Huda sudah bertekad untuk pergi, meskipun ia harus memaksa istrinya memberikan izin.

"Jangan cemberut terus dong!" goda Huda pada Arin.

Bagaimana ia tak cemberut? Arin benar-benar mengkhawatirkan Huda, tapi sayangnya Huda tak begitu memahami kecemasan Arin. Siapa istri yang tidak sedih, saat akan ditinggal sang suami pergi ke tempat yang berbahaya dan tak tahu kapan akan kembali?

"Mas beneran mau pergi? Kapan Mas pulang ke sini? Berapa hari Mas di sana nanti?" tanya Arin. Sudah berulang kali wanita itu menanyakan pertanyaan yang sama pada Huda.

"Mas belum tahu sampai kapan Mas di sana, Rin. Kalau keadaan di sana udah baik, Mas pasti akan langsung pulang. Kita udah bahas ini sebelumnya, kan?" timpal Huda.

Arin masih terus memasang wajah masam. Wanita itu tak ikhlas suaminya pergi. Tapi Huda sepertinya wajah cemberut Arin tidak membuat Huda berubah pikiran. Pria itu akan tetap berangkat menuju ke desa Moyudan.

"Kamu kasih izin ke Mas kan, Rin?"

Dengan berat hati, Arin mengangguk. Izin dari Arin sudah lebih dari cukup untuk dijadikan bekal bagi Huda melangkahkan kakinya keluar rumah.

Nyai Rosyidah, Ustadz Wahab dan juga Riski sudah berada di teras sejak tadi, dan tengah berbincang dengan teman-teman Huda. Arin pun ikut mengantar sang suami keluar, dan melihat Novi berada di antara rombongan teman-teman Huda yang akan berangkat menjadi relawan.

"Kok ada Novi juga, sih?" batin Arin kesal bukan main.

Tampang Arin makin dibuat kusut dengan kemunculan Novi. Wanita itu juga akan berangkat menjadi salah satu relawan, bersama dengan teman-teman Huda lainnya.

"Mas, kok ada Novi juga, sih?" bisik Arin pada Huda.

Huda mengulas senyum tipis. "Kamu percaya sama Mas, kan? Bukan cuma Mas sama Novi aja yang bakal berangkat, tapi masih ada banyak teman-teman yang lain. Nggak mungkin kan Mas larang Novi buat ikut kegiatan ini?"

Arin berdecak kesal. Wanita itu pun menggerutu dengan suara lirih sembari menatap Novi dari kejauhan. "Ngapain sih dia pakai ikut segala? Perempuan itu pasti mau cari kesempatan buat deketin Mas Huda lagi!" gerutu Arin dalam hati. Tentu saja Arin merasa tidak nyaman membiarkan Huda pergi bersama Novi, apalagi wanita itu tahu kalau Novi menaruh hati pada Huda.

"Udah dong, Rin. Mas udah mau berangkat. Kamu masih mau manyum terus di depan Mas?" goda Huda.

"Gimana aku nggak manyun? Mas bakal pergi sama Novi! Mas kan tahu sendiri gimana Novi! Mas bakal makin sering ngelihat dia! Mas bakal makin sering ketemu sama Novi!"

"Mas beneran gak ada hubungan apa pun sama Novi. Mau dia ikut atau nggak, nggak akan berpengaruh apapun sama Mas. Kalau perlu, Mas nggak akan ajak dia ngomong selama di sana. Mas juga tahu batas, Rin. Tolong kamu percaya sama Mas, ya?" bujuk huda.

"Rin, tolong percaya sama Mas. Mas nggak akan macam-macam di sana. Sekalipun di sana ada seribu Novi, Mas nggak akan berpaling dari kamu," sahut Huda membuat wajah Arin memerah.

"Jangan lama-lama di sana! Mas juga harus kabarin aku setiap hari!" ujar Arin.

Huda mengangguk sembari melempar senyum manis pada sang istri. Arin pun meraih tangan Huda, kemudian mengecup punggung tangan suaminya itu.

Arin tak bisa terus-terusan merengek pada sang suami, apalagi sebentar lagi Huda akan segera berangkat. Setelah Huda yakin semua barang bawaannya sudah siap, ia pun segera berpamitan pada kedua orang tuanya dan juga Riski.

"Abi pergi dulu, ya? Kamu jagain Umi sama Kakek Nenek di rumah ,ya?" seru Huda pada Riski.

"Abi, nanti jangan lupa bawain oleh-oleh!" seletuk Riski.

Huda tertawa kecil sembari mengacak gemas rambut sang putra. Pria itu pun segera beralih pada Nyai Rosyidah dan juga Ustadz Wahab. "Huda pergi dulu, ya? Titip Riski sama Arin di rumah," ucap Huda pada kedua orang tuanya.

"Kamu hati-hati di sana, ya! Kalau ada apa-apa, cepetan kabarin orang rumah!" pesan Nyai Rosyidah.

Ustadz Wahab melirik ke arah Arin yang menunjukkan wajah muram. "Arin, kamu beneran udah mengizinkan suami kamu buat pergi, kan? Kamu ikhlas memberikan izin ke Huda?" tanya Ustadz Wahab pada Arin.

Arin menoleh ke arah ayah mertuanya. Wanita itu pun langsung mengangguk dan membenarkan kalau dirinya sudah memberikan izin, serta ikhlas membiarkan Huda pergi. Tak mungkin Arin berkata tidak rela di depan Ustadz Wahab. Apalagi di sana juga ada Novi.

Huda menatap sang istri, lalu tersenyum. Pria itu pun kembali memeriksa barang bawaannya, dan berkata pada Arin kalau masih ada beberapa barang yang tertinggal.

"Eh, kayaknya charger HP Mas masih di kamar deh," seru Huda pada Arin.

"Masa' sih, Mas? Tadi aku udah nanya kan, katanya semua barang udah dimasukin semua?" timpal Arin.

"Perasaan juga tadi udah Mas masukin, deh. Tapi nggak ada. Boleh minta tolong cariin di kamar nggak?" pinta Huda pada Arin.

Arin mendesah pelan. Meskipun keberatan, tapi Arin tetap memenuhi permintaan Huda untuk mencari barang suaminya yang tertinggal. "Ya udah deh. Aku cari dulu ke dalam, ya?" seru Arin.

Saat wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah, Huda justru mengekori Arin dan ikut menuju ke kamar. "Mas ngapain di sini? Tadi katanya minta tolong aku buat cariin? Kenapa Mas ikut juga?" tanya Arin.

"Mas bantu cari, ya? Kalau dicari berdua kan nanti bisa lebih cepat ketemunya," tukas Huda.

"Terserah Mas aja deh!"

Begitu masuk ke dalam kamar, Arin segera mengobrak-abrik beberapa tempat untuk mencari charger ponsel yang dibutuhkan oleh sang suami. Namun, Huda tidak berusaha membantu Arin, tapi pria itu justru mengunci pintu.

"Ngapain Mas ngunci pintu?" tanya Arin.

Huda mendekati Arin, kemudian menahan wanita itu. Nampaknya Huda hanya mengarang cerita mengenai charger ponsel. Sepertinya pria itu memiliki niat terselubung saat meminta sang istri untuk mencarikan charger ponselnya.

"Mas ngapain, sih? Mas sengaja ya nyuruh aku ke kamar? Sebenarnya Mas nggak lagi nyari charger, kan?"

"Mas emang cuma nyari-nyari alasan aja! Mas pengen ngobrol berdua sama kamu."

****

1
Sur Yanti
ayo thor knpa Lama sekali up nya? semangat lah thor nulis nya 💪💪
Sur Yanti
semangat up thore 💪💪
Lukman Suyanto
welcome back...
Sur Yanti
setelah 2thn akhir nya up lagi thore
semangat up nya thor 💪💪💪
Dek Raraaa
uplagi 2th kakkk ..
Danie a: bisa ae.
total 1 replies
JandaQueen
lha....kalo gini, ga bener ni si wirda. ada gejala mo nikung sptnya...
JandaQueen
lanjut baca, penasaran
JandaQueen
lha itu...
JandaQueen
lanjut baca
JandaQueen
simpan jejak dl
Ade Hadijah
semoga Arin selamat sampai tujuan. Nekad juga
Riza Umi Nurjannah
lama up nya thot
Danie a: hahahh, iya, othor nya lagi ngk jelas nih🤭
total 1 replies
Bayu Priyadi
arin baper
Raudatul zahra
heehhh??? kupikir sudah tamat, karna novel author yg lain yg kubaca episode nya pendek².. ini udah 60 bab belum tamat.. yaa nggak pp siih.. seneng² aja aku.. tp kok lama banget nggak update lg yaa thor????
Raudatul zahra
aku ikut sakit hati mikirin perasaan nya Arin😭😭😭
Raudatul zahra
Arin mendengar isakan novi
Raudatul zahra
menyingkirkan Novi thoorr
Raudatul zahra
maafin yaa mas Huda.. nama nya istri nya baru beranjak dewasa.. masih suka tantrum² gitu dehh.. masih cemburuan..
Raudatul zahra
lanjooootttt
Raudatul zahra
ada yang ngarepin suami orang doonnggg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!