Berawal dari menyelamatkan pria tampan yang tidak sadarkan diri di depan rumahnya, Adifa malah terjerat dalam hubungan pernikahan dengan pria nakal karena sebuah kesalahpahaman warga kampung terhadapnya.
Ia dan pria asing itu terikat dalam ikatan suci. Namun, Adifa tidak menyangka jika pria yang menjadi suaminya adalah seorang pria nakal yang suka bermain wanita.
"Dasar pria nakal!" ~Adifa Rahma
"Aku menyukai setiap lekuk tubuh wanita yang indah!" ~Raja Shaga
Bagaimana kisah selanjutnya? Mampukah Adifa menjalani pernikahannya dengan seorang pria nakal yang suka main wanita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Adifa
"Eeem ... mas lihat isi hp Difa ya?" tanya Adifa takut-takut.
Raja mengangkat sebelah alisnya. Dalam pikirannya, pria itu sudah menduga apa yang ingin disampaikan oleh Adifa. Dan benar saja, saat ini Adifa tengah membahas tentang smartphone yang berarti istrinya sudah tahu akan hal itu.
Kepala Raja mengangguk dengan santai, sedangkan Adifa merasa ketar-ketir karena takut suaminya marah. Dirinya ingat sekali saat Raja marah, dan hal itu sangat menyeramkan di mata Adifa.
"Iya, Mas tidak sengaja melihat hp-mu yang masih menyala semalam," sahut Raja santai.
Pupil mata gadis itu membesar, jantungnya berdebar tak karuan. Ia sangat takut suaminya salah paham dan berakhir dengan pertengkaran.
Suasana menjadi hening sejenak, bibir Raja diam membisu. Namun, matanya aktif menatap wajah sang istri tanpa ada niatan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"M-mas, tidak marah?" Adifa buka suara, memecahkan keheningan yang semakin membuatnya keringatan.
Raja menggeleng. "Mas hanya tidak suka dengan pria itu. Apa yang sudah menjadi milik Mas, selamanya akan tetap begitu," kata Raja dengan tegas.
Glek!
Akhir kalimat yang diucapkan oleh Raja membuat Adifa kesusahan menelan salivanya sendiri. Raja mengucapkannya dengan nada santai tapi terdengar begitu tegas di telinga Adifa.
"Eh, he-he-he. Syukurlah jika Mas tidak marah," jawab Adifa sembari cengengesan tidak jelas untuk menutupi kegugupannya.
Raja menjungkitkan alis tebalnya sebagai balasan atas jawaban Adifa.
"Ya ampun! Mas Raja buat jantungku makin jedag jedug aja!" gerutu Adifa dalam hati. Namun, tak selaras dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum kaku.
"Ehem!" Adifa berdeham untuk menetralkan kegugupan yang tengah melanda dirinya. "A-agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita, Difa mau jelasin apa yang kak putra tanyakan lewat telepon," lanjut gadis itu dalam satu tarikan napas.
Kepala Raja mengangguk pelan seraya tersenyum ke arah istrinya. Akan tetapi, bukan senyuman manis yang pria itu ukirkan di wajahnya yang tampan itu, melainkan senyuman nakal.
Ditatap dengan tatapan nakal oleh sang suami, membuat Adifa tersipu dan juga salah tingkah disaat yang bersamaan.
"Mas ...." Adifa merengek sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Gemesin banget istrinya Mas, jadi pingin perawani," ucap Raja menggoda.
Adifa spontan membuka wajah, ia mencebikkan bibirnya. Suaminya benar-benar mesum. Apapun pembahasannya, pasti akan diselipkan dengan hal-hal berbau mesum oleh Raja.
"Mau dijelasin gak nih?!" ancam Adifa yang mulai muncul kembali keberaniannya.
"Mau, Sayang."
"Huh! Sabar Dif, sabar." Adifa membatin.
"Jadi begini ceritanya ...."
Flashback
Malam itu Adifa tidak melihat Raja di kamar, ia yang sedang merasa bosan pun memilih untuk berselancar di dunia maya. Diambilnya smartphone yang ada di dalam nakas.
Adifa berbaring di atas tempat tidur yang baru saja dibereskan oleh suaminya. Adifa tampak begitu asyik bercurhat ria dengan sang sahabat, yaitu Rosa. Di tengah-tengah obrolannya dengan Rosa, tiba-tiba satu notif masuk. Karena rasa penasaran, Adifa melihatnya dan ternyata notif itu berasal dari pesan kak Putra.
Mata Adifa mendelik saat membaca pesan yang dikirimkan kak Putra padanya. Ia tidak menyangka kak Putra berani mengatakan hal yang berisi ajakan untuk meninggalkan suaminya, Raja.
Di penghujung chat, tiba-tiba Putra menelfon nya. Adifa tidak mengangkat panggilan itu sampai dering yang ketiga. Dan isinya tetap sama, yaitu Putra yang berusaha membujuknya untuk meninggalkan Raja.
"Kak, jangan buat Difa marah. Difa sudah punya suami," ucap Adifa dengan tegas, lalu ia memutus panggilan secara sepihak.
Adifa berbaring menatap langit-langit kamar, ia pernah menyukai Putra. Bahkan, sisa rasa itu masih ada. Tapi, kenapa Putra baru berani mengungkapkan perasaannya saat ia sudah menjadi milik orang lain?
Gadis itu terus bepikir dan melamun, sampai tiba-tiba rasa kantuk menghampirinya dan ia pun tertidur dengan smartphone-nya yang masih menyala.
Flashback off
"Jadi begitu cerita yang sebenarnya, Mas."
Raja yang sedari tadi diam mendengarkan penjelasan istrinya memutuskan untuk bertanya hal yang mengganjal di hatinya.
"Kamu menyukai pria b a j i n g a n itu?" tanya Raja dengan wajah serius.
"K-kak Putra?" jawab Adifa dengan balik bertanya.
"Jangan sebut namanya, Mas tidak suka nama itu keluar dari bibir manismu! Kamu tidak boleh menyebut nama pria lain, selain Mas dan ayahmu," kata Raja tidak ingin dibantah.
"Dasar posesif!" gumam Adifa dengan suara yang sangat pelan.
"Mas tidak posesif," ucap Raja menyangkal apa yang keluar dari mulut istrinya.
Mata Adifa mengerjap, pendengaran Raja memang tidak dapat diragukan lagi ketajamannya.
"Kamu menyukai pria b a j i n g a n itu, Dek?" Raja mengulang pertanyaan yang sama, ia ingin memastikan perasaan Adifa.
"E-enggak kok, Mas," jawab Adifa gugup.
Melihat sang istri yang tak berani menatap wajahnya, membuat Raja menjadi tahu jika sang istri sedang menutupi sesuatu.
"Jangan berbohong, Dek." Raja berjalan memutari meja makan dengan model bar itu.
"I-iya, tapi itu dulu sebelum menikah dengan, Mas." Adifa semakin gugup saat Raja sudah berada di belakang tubuhnya.
"Kalau sekarang bagaimana?" tanya Raja tepat di telinga Adifa.
Gadis itu menahan geli saat napas Raja menerpa kulit lehernya. Ia menundukkan kepala sesaat sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya.
"S-sedikit," jawab Adifa takut.
Mata Adifa terpejam kuat, ia bersiap menerima kemarahan suaminya. Akan tetapi, bukan makian yang dirinya dapatkan melainkan sebuah kecupan yang dilayangkan Raja di pipi kirinya.
"Mas akan buat perasan itu hilang dengan cepat," ucap Raja penuh percaya diri.
Raja membalik tubuh Adifa menjadi menghadap dirinya. Tangan kokoh pria itu membingkai wajah Adifa yang tak mampu mengeluarkan suaranya.
"Percaya sama Mas ya."
Cup!
Satu kecupan manis mendarat di atas bibir Adifa. Hanya sebatas kecupan karena setelahnya Raja menarik diri dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Mas harus ke bengkel sebentar lagi," kata Raja.
"Mas kerja di bengkel?" tanya Adifa dengan kepala tertunduk.
"Iya, lebih tepatnya Mas seorang pemilik," jawab Raja dengan gaya angkuhnya.
Adifa mengangguk-mengangguk saja.
***
Raja sudah berangkat ke tempat tujuannya, kini Adifa sendirian di apartemen. Gadis itu menatap benda pipih berbentuk persegi yang ada di tangannya.
"Tadi Mas Raja bilang ini untukku, aku boleh belanja apapun dengan ini." Adifa membolak-balik kartu yang diberikan oleh Raja sebelum pria itu pergi.
Adifa mulai memikirkan sesuatu, mulai sekarang ia akan memasak untuk suaminya. Ia memutuskan untuk pergi berbelanja keperluan dapur.
Di tempat lain, Raja sedang memperhatikan kinerja salah satu montirnya yang sedang memperbaiki mesin.
"Ja, tuh si Lisa nyariin. Ada di depan dia." Haris menepuk bahu sahabatnya.
"Maylisa? Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Raja dengan wajah malas.
Haris hanya menjawab dengan mengendikkan bahunya. Karena ia sendiri juga tidak tahu apa tujuan Lisa datang ke tempat bengkel Raja.
`
`
`
Bersambung ....
Semangat bang Raja, Othor dukung babang Raja 100% kalau soal berusaha membuat Adifa jantuh cinta.