ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 18: Sangkar Emas dan Belati Tersembunyi.
Lautan masih menyisakan sisa-sisa amarah badai semalam, namun di dalam kabin kapal patroli The Leviathan, suasana hening mencekam. Alaska duduk di kursi besi, membiarkan dokter menjahit luka tembak di bahunya tanpa bius total. Ia menolak untuk tidak sadarkan diri. Matanya tak lepas dari sosok Sania yang terbaring di bawah dekapan selimut elektrik.
Setiap tarikan napas Sania yang kini mulai teratur adalah detak jantung bagi Alaska. Pria itu menyadari satu hal yang mengerikan bagi seorang mafia: ia kini memiliki titik lemah yang sangat fatal. Dan musuh-musuhnya sudah mengetahui hal itu.
"Tuan, kita akan sampai di dermaga pribadi dalam tiga puluh menit," lapor Bara dengan suara rendah. Ia tidak berani menatap langsung mata Alaska yang merah padam.
"Kendaraan lapis baja sudah bersiap di sana. Kita tidak akan kembali ke mansion utama. Saya sudah menyiapkan The Fortress—markas rahasia di lereng perbukitan."
Alaska hanya mengangguk singkat. Rahangnya mengeras saat jarum bedah menembus kulitnya. Ia tidak merintih. Rasa sakit di bahunya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya setiap kali ia mengingat bagaimana Dante menodongkan pistol ke kepala istrinya.
Kedatangan di Sangkar Emas.
The Fortress bukanlah sekadar rumah. Itu adalah sebuah bunker mewah yang disamarkan sebagai vila modern di puncak bukit yang terisolasi. Dikelilingi oleh hutan pinus dan sistem keamanan laser tercanggih, tempat ini adalah satu-satunya wilayah yang Alaska anggap benar-benar steril dari jangkauan luar.
Alaska menggendong Sania turun dari mobil, melewati barisan pengawal yang menunduk dalam diam. Ia tidak membiarkan satu orang pun membantunya, meski darah merembes dari perban di bahunya sendiri. Baginya, menyerahkan Sania ke tangan orang lain saat ini terasa seperti menyerahkan jantungnya kepada serigala.
Ia meletakkan Sania di tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra yang sejuk. Di kamar ini, semua sudut tumpul, semua jendela antipeluru, dan udara disaring dengan sistem purifikasi terbaik. Alaska duduk di tepi ranjang, menatap wajah pucat Sania yang mulai kembali berwarna dari balik cadar.
"Kenapa kau begitu keras kepala?" bisik Alaska, jemarinya yang kasar mengelus kening Sania dengan gerakan yang sangat kontras dengan reputasinya sebagai jagal pelabuhan.
"Kenapa kau harus berdoa untuk pria yang sudah menyeretmu ke neraka ini?"
Tiba-tiba, kelopak mata Sania bergerak. Ia terbangun dengan napas yang tersengal, sisa trauma dari air laut yang dingin masih membekas di sarafnya.
"Tuan... Alaska?" suaranya serak, nyaris hilang.
"Aku di sini. Kau aman," suara Alaska terdengar lebih seperti perintah daripada penghiburan, namun ada getaran protektif yang tak bisa ia sembunyikan.
Sania mencoba duduk, namun Alaska menahan bahunya dengan lembut tapi tegas.
"Jangan bergerak. Kau hampir mati kedinginan. Biarkan obatnya bekerja."
Sania menatap sekeliling ruangan yang asing itu. Mewah, namun terasa seperti penjara. Matanya kemudian tertuju pada bahu Alaska yang diperban.
"Luka Anda... itu karena menyelamatkan saya."
"Jangan merasa spesial," potong Alaska cepat, berusaha membangun kembali dinding keangkuhannya yang runtuh di gosong karang tadi pagi.
"Kau adalah asetku. Aku tidak suka barang milikku dirusak oleh orang seperti Dante. Itu saja."
Sania tersenyum tipis dibalik cadarnya, sebuah senyum yang mengandung pemahaman mendalam yang membuat Alaska merasa telanjang.
"Anda selalu berbohong pada diri sendiri, Tuan. Tapi mata Anda tidak bisa berbohong. Terima kasih karena telah membiarkan Allah menggunakan Anda sebagai perantara keselamatan saya."
Alaska membuang muka. Ia berdiri, beranjak menuju pintu.
"Makan dan istirahatlah. Jika kau butuh sesuatu, katakan pada pelayan. Tapi jangan pernah berpikir untuk keluar dari kamar ini tanpa izin dariku. Mengerti?"
"Apakah saya masih tawanan Anda, Tuan?" tanya Sania pelan.
Alaska berhenti di ambang pintu, tangannya mencengkeram gagang pintu hingga buku jarinya memutih.
"Kau lebih dari sekadar tawanan, Sania. Kau adalah satu-satunya alasan mengapa aku belum meratakan kota ini menjadi abu. Jadi, patuhlah."
Racun dalam Selimut.
Di ruang kendali bawah tanah, Alaska berdiri di depan deretan layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari gosong karang. Ia memutar ulang detik-detik saat perahu karet Dante mendekat.
"Bara," panggil Alaska. Suaranya dingin, menyerupai angin kutub.
"Ya, Tuan?"
"Dante tahu koordinat tepat di mana kita terdampar. Radar kita di kapal utama seharusnya mendeteksi pergerakan mereka dalam radius lima mil. Tapi mereka bisa masuk begitu saja. Jelaskan."
Bara terdiam sejenak, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Kami sedang memeriksa log sistem, Tuan. Ada kemungkinan gangguan sinyal akibat badai..."
"Jangan beri aku alasan sampah!" bentak Alaska sambil menghantam meja besi.
"Badai tidak mematikan protokol enkripsi tingkat militer yang kubeli dengan jutaan dolar. Seseorang telah mematikan jammer dari dalam. Seseorang memberikan koordinat GPS kita secara real-time."
Alaska berjalan mendekati Bara, matanya menyipit.
"Siapa saja yang memiliki akses ke kode transmisi darurat semalam?"
Bara menelan ludah. "Hanya lima orang inti, Tuan. Saya, kepala komunikasi, kapten kapal, dan dua ajudan senior Anda."
"Cari pengkhianat itu," perintah Alaska pelan, namun penuh ancaman.
"Aku tidak ingin ada tikus di dalam benteng ini. Jika dalam dua puluh empat jam kau belum menemukan namanya, maka aku akan menganggapmu sebagai bagian dari rencana mereka."
Bara membungkuk dalam, ketakutan nyata terpancar dari wajahnya.
"Dimengerti, Tuan."
Cara Mafia "Menghamba"
Beberapa jam kemudian, Sania terbangun oleh suara denting perak di kamarnya. Ia terkejut melihat Alaska sendiri yang membawa nampan makanan. Pria itu masih memakai kemeja hitam yang sama, kini tanpa jas, memperlihatkan otot lengannya yang kuat namun dibalut perban.
"Makanlah. Ini sup hangat," kata Alaska tanpa menatap matanya.
Sania melihat menu di atas nampan. Bukan sekadar sup biasa, melainkan sup herbal mahal yang biasanya hanya disajikan di restoran bintang lima untuk pemulihan pasca operasi. Di sampingnya ada secangkir teh kamomil dan sepotong roti gandum tanpa ragi.
"Anda sendiri yang membawanya?" tanya Sania heran.
"Pelayan sedang sibuk," jawab Alaska ketus. Padahal, ia tadi mengusir tiga pelayan yang hendak masuk karena ia tidak ingin ada orang lain yang melihat Sania dalam kondisi rapuh.
Sania mencoba memegang sendok, namun tangannya masih gemetar akibat efek trauma saraf. Sebelum ia bisa protes, Alaska sudah mengambil sendok itu dari tangannya.
"Tuan, saya bisa sendiri..."
"Diam!" potong Alaska.
Ia menyendokkan sup itu dan meniupnya pelan—sebuah tindakan yang jika dilihat oleh anak buahnya, akan dianggap sebagai tanda kiamat.
"Buka sedikit cadarmu!"
Sania terpaku. Pria yang biasanya meledak-ledak dan penuh kekerasan ini, kini sedang menyuapinya dengan ketelatenan yang aneh. Meski wajahnya tetap datar dan dingin, cara Alaska memastikan sup itu tidak terlalu panas menunjukkan perhatian yang luar biasa.
"Anda tidak perlu melakukan ini, Tuan Alaska. Ini... tidak sesuai dengan status Anda."
"Statusku adalah melakukan apapun yang aku mau di rumah ini," balas Alaska tajam.
"Dan saat ini, aku ingin kau makan agar kau cepat sembuh dan bisa kembali kubentak-bentak. Aku benci melihatmu diam dan lemah seperti mayat."
Sania memakan suapan itu dengan patuh. Ada rasa hangat yang menjalar, bukan hanya dari supnya, tapi dari kehadiran pria di depannya. Di balik kegelapan jiwa Alaska, Sania mulai melihat cahaya kecil yang sedang berjuang untuk tetap menyala.
"Dante... apa yang akan Anda lakukan padanya?" tanya Sania di sela makannya.
Mata Alaska seketika berubah menjadi sehitam jelaga.
"Aku akan memastikan dia memohon untuk mati. Dia sudah menyentuh apa yang seharusnya tidak disentuh."
"Balas dendam tidak akan membawa kedamaian, Tuan," bisik Sania lembut.
"Kedamaian adalah untuk orang mati, Sania. Di duniaku, hanya ada kemenangan atau kehancuran. Dan Dante telah memilih kehancurannya sendiri saat dia membidikkan pistol ke arahmu."
Alaska meletakkan sendoknya, lalu menatap Sania dengan tatapan posesif yang mendalam.
"Kau adalah tanggung jawabku sekarang. Di tempat ini, tidak akan ada peluru yang bisa mencapaimu. Tapi kau harus tahu, harga dari perlindunganku adalah kebebasanmu sepenuhnya. Kau tidak akan pernah keluar dari The Fortress tanpa rantai dariku."
Pengkhianatan Terungkap.
Malam semakin larut saat Bara mengetuk pintu ruang kerja Alaska dengan tergesa-gesa. Di tangannya ada sebuah tablet yang menunjukkan rekaman percakapan terenkripsi.
"Kami menemukannya, Tuan," ujar Bara dengan napas memburu.
Alaska berdiri dari kursi kebesarannya.
"Siapa?"
"Kapten kapal kita, Hendra. Dia tertangkap mencoba melakukan transmisi satelit ke frekuensi yang digunakan oleh kelompok Scorpion lima menit yang lalu. Kami sudah mengamankannya di ruang interogasi bawah tanah."
Wajah Alaska tidak menunjukkan keterkejutan. Hanya ada kepuasan yang dingin.
"Bawa aku ke sana. Dan pastikan Sania sudah tidur. Aku tidak ingin dia mendengar suara-suara yang tidak perlu."
Di ruang interogasi yang lembap, Hendra terikat di kursi besi. Wajahnya sudah babak belur akibat "sambutan" dari anak buah Bara. Begitu Alaska masuk, suasana ruangan seolah membeku.
"Kenapa, Hendra?" tanya Alaska lembut, namun suaranya lebih menakutkan daripada teriakan.
"Tiga puluh tahun kau bekerja untuk ayahku, lalu untukku. Gaji yang kuberikan cukup untuk membeli pulau kecil. Apa yang Dante tawarkan padamu?"
Hendra meludah darah ke lantai.
"Anakku, Tuan Alaska... Dante menculik putriku. Dia mengancam akan mengirimkan potongan tubuhnya setiap jam jika aku tidak memberikan koordinatmu. Aku tidak punya pilihan!"
Alaska mendekat, mencengkeram rahang Hendra dengan tangan kanannya.
"Setiap orang punya pilihan, Hendra. Kau memilih untuk menukar nyawaku dan nyawa istriku demi nyawa anakmu. Itu pilihan yang logis bagi seorang ayah, tapi itu pilihan yang fatal bagi seorang pengkhianat."
"Tolong, Tuan... saya punya informasi! Dante berencana menyerang pelabuhan utama besok malam. Dia punya sekutu baru dari sindikat luar negeri!"
Hendra memohon dengan air mata bercampur darah.
Alaska melepaskan cengkeramannya dan mengambil sebuah belati dari meja di sampingnya.
"Informasimu sudah tidak berguna. Aku sudah tahu tentang sindikat itu. Dan tentang anakmu..."
Alaska memberi isyarat pada Bara. Bara menunjukkan sebuah layar ponsel kepada Hendra. Di sana terlihat sebuah video tim taktis Alaska sedang menyelamatkan seorang gadis remaja dari sebuah gudang tua.
"Anakmu sudah aman di tangan orang-orangku sejak satu jam yang lalu," kata Alaska dingin.
"Aku menyelamatkannya bukan karena aku peduli padamu, tapi karena aku ingin kau mati dengan pengetahuan bahwa pengkhianatanmu benar-benar sia-sia."
Mata Hendra membelalak. "Tuan, ampuni—"
Satu gerakan cepat. Belati Alaska membelah udara. Tidak ada suara teriakan, hanya suara tubuh yang merosot ke lantai dan genangan merah yang perlahan melebar di bawah lampu neon yang berkedip.
Alaska menyeka darah di tangannya dengan saputangan sutra, lalu menoleh ke arah Bara.
"Bersihkan ini. Siapkan semua unit. Besok, kita tidak akan menunggu Dante menyerang. Kita yang akan membawa neraka ke pintunya."
Saat Alaska kembali ke kamar Sania, ia melihat wanita itu tertidur lelap dengan tasbih masih di tangannya. Alaska duduk di kursi di pojok kamar, tetap berjaga di dalam kegelapan. Tangannya masih berbau besi darah, namun matanya hanya menatap lembut ke arah wanita yang tanpa sadar telah menjadi kompas moral barunya—kompas yang saat ini sedang ia abaikan demi melindunginya.
__Cinta seorang pria yang terbiasa hidup dalam kegelapan seringkali terlihat seperti penjara. Bukan karena ia ingin mengekang, melainkan karena ia tahu betapa mengerikannya dunia di luar sana. Namun, ia lupa bahwa burung yang paling indah pun akan berhenti bernyanyi jika sayapnya dipatahkan oleh rasa takut pemiliknya sendiri__
Bersambung ....