Dilara Ariesta merupakan putri semata wayang dari Dirgantara Sutrisno, pemilik PT Oke Food Dirgantara Sentosa yang bergerak di bidang industri makanan.
Suatu ketika dia tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang bekerja sebagai karyawan di PT tersebut. Siapa sangka pertemuan pertama itu menumbuhkan benih-benih cinta di hati Dilara.
Akan tetapi, Dilara harus menelan kekecewaan saat mengetahui status pria yang ternyata sudah memiliki istri itu.
Namun, Dilara tidak mau menyerah begitu saja. Saat mengetahui bagaimana kehidupan rumah tangga pria itu, dia membuat kesepakatan dengan istri pria itu. Sampai akhirnya Dilara diizinkan jadi istri kedua untuk Dafa.
Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya?
Jangan lupa mampir ya Kak!
Dukungan kalian adalah penyemangat buat kami,
Lope lope segudang... Mmuach...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Mogok Makan
Waktu terus berjalan. Di luar sana langit biru sudah berganti menjadi hitam, desiran angin turut berhembus dengan kencang.
Kilat pun beberapa kali datang menyambar menandakan hujan akan turun, namun di depan pagar sana masih terlihat sesosok manusia yang berjalan mondar mandir seperti setrikaan panas.
Ya, sejak siang tadi Dafa masih setia menunggu di depan gerbang. Tidak apa-apa jika dia tidak diizinkan masuk ke dalam, asalkan dia bisa melihat Dilara dan kedua putrinya. Meskipun dengan jarak yang cukup jauh, setidaknya hati Dafa sedikit merasa lega.
Dilara yang tadinya sudah masuk, kini kembali ke balkon untuk melihat keadaan Dafa. Seketika hatinya luluh lantah mendapati Dafa yang masih enggan meninggalkan tempat itu. "Mas, pulanglah!" soraknya. Raut muka Dilara mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam, takut kesehatan Dafa terganggu mengingat gerimis yang mulai turun membasahi bumi.
Siapa yang akan merawat Dafa jika dia sampai sakit? Pria itu hanya tinggal sendirian, Dilara tidak tega membiarkan Dafa terus-terusan seperti ini.
Ayah anaknya itu harus pulang dan istirahat, apalagi Dilara tau sejak tadi siang Dafa belum mengisi perut sama sekali.
"Mas... Tolong!" lirih Dilara dengan nada mengiba.
"Tidak sayang, Mas tidak akan pergi tanpa kalian." geleng Dafa menolak permintaan Dilara. Dia masih sempat-sempatnya tersenyum seperti tidak ada beban sedikitpun. Dilara sendiri nampak bingung, dia tidak mengerti bagaimana cara meyakinkan ayah putrinya itu.
Sekitar pukul tujuh malam, Dilara meninggalkan kamar bersama Divana dan Davina. Langkah mereka diikuti oleh bodyguard yang ditugaskan Dirgantara untuk menjaga ketiganya. Dilara mulai kesal, dia merasa Dirgantara terlalu berlebihan mengawal mereka di dalam rumah.
Setelah membantu kedua putrinya duduk di meja makan, Dilara masuk ke dapur dan mengambil kotak di rak piring. Setelah itu dia kembali ke meja makan dan mengisi kotak itu dengan nasi serta lauk, tak lupa pula Dilara menyiapkan botol minum untuk Dafa.
Saat Dilara hendak meninggalkan meja makan, langkahnya dihadang oleh bodyguard suruhan Dirgantara. "Maaf Nona, Anda tidak diizinkan keluar dari rumah ini!"
Dilara menajamkan tatapan dengan gigi bergemeletuk. "Aku hanya ingin ke gerbang sebentar, jangan berlebihan! Lagian kalian tidak perlu mengawal kami di dalam rumah, tunggu saja di luar!" kesal Dilara meninggikan volume suara.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah." pria itu berkata dengan tegas.
"Tapi kalian sudah berlebihan, ini melanggar, aku bisa saja menuntut kalian karena sudah mengganggu privasiku." ancam Dilara.
"Silahkan, kalau begitu tuntut saja!" pria itu sama sekali tidak gentar.
Mendengar itu, raut muka Dilara seketika merah padam, emosinya tersulut karena kegigihan bodyguard sialan itu. Dilara menghentakkan kaki lalu berjalan memasuki dapur, mau tidak mau dia terpaksa meminta bantuan pada Mbok Darmi.
Tidak hanya menyuruh Mbok Darmi mengantarkan makanan itu, Dilara juga menitipkan sepucuk surat untuk Dafa.
"Mom..." panggil Divana dan Davina serentak.
"Iya sayang," sahut Dilara lalu meninggalkan dapur dan duduk di tengah-tengah kedua putrinya.
"Divana tidak mau makan tanpa Daddy," ucap bocah berambut keriting itu dengan bibir mencebik.
"Davina juga," imbuh bocah berambut lurus itu. Keduanya melompat turun dari kursi dan berlari menuju kamar, Dilara berusaha mengejar tapi mereka berdua keburu menghilang.
Ini benar-benar tidak adil untuk Dilara. Bagaimana bisa dia makan jika kedua putrinya saja tidak mau mengisi perut.
"Kenapa mereka meninggalkan meja? Makanannya juga masih utuh," tanya Dirgantara yang baru saja tiba di ruang makan, keningnya mengernyit mendapati makanan yang masih utuh di atas meja.
Dilara tidak menjawab, dia memilih pergi tanpa melihat Dirgantara. Bukan bermaksud tidak sopan, Dilara hanya ingin Dirgantara menurunkan egonya sedikit saja.
"Dila..." seru Dirgantara meninggikan volume suara, namun Dilara nampaknya tidak peduli dan terus melanjutkan langkah.
Di luar sana, Mbok Darmi tiba di depan gerbang dan memberikan kotak makan yang dititipkan Dilara tadi kepada Dafa, tak lupa pula dia memberikan sepucuk surat yang ada di genggamannya.
Setelah menyampaikan amanat Dilara tersebut, Mbok Darmi bergegas pergi. Dia tidak ingin Dirgantara marah melihat kelancangannya menemui Dafa.
Sebenarnya Mbok Darmi kasihan pada Dilara dan kedua putrinya yang harus menderita karena sikap keras kepala yang ditunjukkan Dirgantara, tapi dia sendiri tidak bisa melakukan apa-apa, dia sadar akan posisinya yang hanya seorang babu.
Setelah Mbok Darmi menghilang, Dafa duduk di pinggir gerbang. Sebelum menyantap makanan yang dikirimkan Dilara, dia membuka surat itu terlebih dahulu. Rintik-rintik hujan bahkan dengan leluasa membasahi kertas tersebut, tulisan itu mulai luntur mengikuti perasaan hati yang dicurahkan Dilara di atas kertas itu.
Seketika Dafa bergeming dengan manik mata bergerak bebas menilik tulisan yang dia baca. Hatinya mencelos seiring air mata yang jatuh berderai, dia menoleh ke arah balkon sekilas lalu menatap kertas itu kembali. Dia pun mengangguk lemah setelah itu.
"Hmm... Aku akan pulang," lirih Dafa, dia mengecup kertas itu lalu menaruhnya di dada.
Setelah hatinya cukup tenang, Dafa bangkit dari duduknya dan menoleh kembali ke arah balkon. Di sana Dilara sudah berdiri di pagar pembatas sembari melambaikan tangan dan menganggukkan kepala. Dafa pun membalas lambaian tangan Dilara dan masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan mobil Dafa benar-benar pergi, barulah Dilara masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi ranjang menatap kedua putrinya yang tengah meringkuk di kasur. Dilara pun mencoba menenangkan keduanya dengan berbagai macam cara.
Tidak berselang lama, Mbok Darmi datang membawakan makanan untuk mereka. Tadi Dirgantara yang menyuruhnya mengantarkan makanan tersebut ke kamar cucunya.
Akan tetapi, Dilara menolak makanan itu mentah-mentah dan menyuruh Mbok Darmi membawanya kembali ke bawah. Dilara juga mengatakan kalau dia dan putrinya tidak akan makan sampai Dirgantara merubah keputusannya.
Saat Mbok Darmi kembali ke meja makan dengan nampan yang masih utuh, rahang Dirgantara tiba-tiba menggeram, dia tidak habis pikir atas tindakan konyol putri dan kedua cucunya itu.
Setelah Dirgantara menghabiskan makanan di piring, dia meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamar si kembar. Sayang Dilara sama sekali tidak mau membukakan pintu.
"Dila, cepat buka pintunya!" desak Dirgantara sembari menggedor-gedor daun pintu dengan kasar.
"Tidak Mom, jangan bukakan pintunya! Kami tidak ingin melihat orang itu, dia itu jahat." larang Divana, bocah itu melompat turun dari kasur dan menarik kursi yang terletak di depan meja belajar. Dengan polosnya dia menyandarkan kursi itu di daun pintu dan lekas mendudukinya.
"Pergi kamu, kamu orang jahat. Kami benci sama kamu," teriak Davina dengan lantang, dia ikut berdiri menghadang pintu itu.
"Papa dengar sendiri kan? Lebih baik pergi saja dari sini, biarkan kami menghabiskan sisa umur kami di kamar ini. Sukur-sukur kami bisa cepat menyusul Mama agar tak ada lagi yang membebani hidup Papa." imbuh Dilara yang sudah kehabisan kata-kata.
"Dila..." sergah Dirgantara tersulut emosi, dia tidak suka mendengar kata-kata seperti itu.
Lalu Dirgantara pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu, percuma membujuk mereka dalam situasi seperti saat ini. Dirgantara yakin seiring berjalannya waktu semua akan kembali seperti semula.
Sampai kapan mereka bertiga akan sanggup menahan perut? Dirgantara pastikan mereka akan keluar saat kelaparan nanti.
dafa sedang meniduri kedua'a...
meniduri berarti ditimpa/ditiduri atau bisa jg berkaitan dgn hubungan suami istri....
kalau seorang ayah sepantas'a ya menidurkan...
contoh: dafa sedang menidurkan kedua'a...
itu setahu sy,,,maaf ya othor bukan sy merasa lebih pintar dr othor,,,
tp pas baca kalimat dafa sedang meniduri kedua'a kok kesan'a gimana gituuuu,,,,
ahli bahasa mungkin boleh hadir disini buat menjelaskan beda arti kata meniduri dan menidurkan...
sekali lg maaf ya othor...🙏