NovelToon NovelToon
Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:29.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elasukma

Abraham dimitri mencintai sahabat semasa remaja dalam diam. Namun, ia memilih pergi menjauh, dan merelakan saat gadis itu memilih lelaki lain sebagai pasangan hidupnya. Ia pergi membawa cinta yang harus pupus bahkan sebelum sempat di ungkapkan. Ia pun mulai kembali menata hidupnya bersama wanita pilihan kedua orang tuanya, sayangnya semua tak bertahan lama. Sebuah kecelakaan di rumah membuatnya harus kembali menelan pil pahit kehilangan untuk kedua kalinya. Ia terpuruk, di hantui rasa bersalah atas kematian sang istri hingga memutuskan untuk pergi jauh bahkan saat putranya masih bayi. Namun, takdir kembali mempertemukannya dengan Shaqina, cinta pertamanya. Kehidupan Shaqina yang jauh dari ekspektasinya membuatnya memutuskan untuk kembali menetap dan mencoba memperjuangkan cintanya yang belum usai. Sayangnya keinginannya bertentangan dengan sang ibu yang menginginkan wanita lain untuk menjadi istrinya. Akankah Abraham berhasil menyelesaikan kisah cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elasukma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa Kehilangan

(POV Shaqina)

"Sepertinya apa yang di katakan Mami tempo hari ada benarnya. Aku rasa sudah saatnya kita mulai menjaga jarak dalam hubungan ini." Aku bicara dengan sangat hati-hati, meski sedikit takut saat melihat ekspresi wajah Abram berubah datar. Ya Tuhan... Apa aku menyinggungnya?

"Jadi... kau ingin aku pergi? Kau ingin aku menjauh darimu?" tanyanya lirih, tapi penuh penekanan.

Sunguh! Bukan seperti itu maksudku, Abram!

Rasanya ingin sekali aku meneriakkan kalimat itu padanya tapi yang ada lidahku justru begitu kelu.

"Bukankah kau sendiri yang bilang, kepergianku membuatmu merasa sendirian? Tapi sekarang kau sendiri yang memintaku untuk pergi, Jadi apa maumu sebenarnya, Qina?" sambung Abram.

Haishhh kenapa juga kemarin aku terlalu terbawa suasana hingga mengatakan hal seperti itu. Itu sama saja dengan aku berkata bahwa aku tak bisa hidup tanpanya. Benar-benar memalukan!

"Bukan begitu maksudku! Kau ngerti gak sih artinya jaga jarak? Bukan berarti pergi, hanya saja tak terlalu dekat seperti sekarang." Hatiku berteriak kesal, ingin aku berteriak pada sahabat ku satu ini, sayangnya nyaliku seketika menciut hanya dengan melihat tatapan tajamnya.

"Kau benar-benar ingin aku menjauh darimu, Qi?" tanya pria itu lagi, kini tatapannya berubah sendu.

"Aku tak ingin karena kedekatan ini membuat orang-orang berpikir buruk tentangmu," ungkapku.

Pada akhirnya kata itu mampu juga keluar dari mulutku dengan lancar.

Abraham mendengkus kesal, "Kenapa kau begitu perduli dengan apa yang di pikirkan orang," gerutunya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lainnya.

"Ini demi kebaikan kita, Bram." Alasan klasik yang akhirnya membuat lelaki itu benar-benar diam.

Hening sejenak sampai Abraham kembali membuka mulutnya dan mengatakan hal yang tak pernah ku duga.

"Baiklah, aku akan pergi jika itu kemauanmu," ucapnya seraya beranjak meninggalkan teras rumah membuatku panik seketika.

Astaga! Apakah ia marah? Bukan seperti itu konsepnya!

Ahhh kenapa dia jadi marah seperti ini? Bukankah seharusnya dia bilang baiklah, Qina. Aku setuju, mulai sekarang kita jangan terlalu sering bertemu dulu. Harusnya seperti itu bukannya malah bilang akan pergi.

Dengan terburu-buru aku menyusul langkah Abraham, ku raih tangan lelaki yang hendak membuka pintu mobil itu, "Aku tak menyuruhmu pergi dariku, Bram!" pekikku kesal.

"Aku bilang kita perlu jaga jarak, bukan berarti kamu harus benar-benar meninggalkanku! Kau ngerti gak sih artinya jaga jarak?!" Aku sampai berteriak meluapkan kekesalanku pada lelaki itu.

Rayyan yang tengah bermain game bahkan menghentikan aktivitasnya dan menoleh kearahku begitu mendengar teriakanku. Pun dengan Safia dan David yang baru saja selesai membersihkan diri, mereka berdua berlari ke teras rumah untuk mencari tau.

Abraham bergeming, wajahnya datar tanpa ekspresi. ia menatapku, lalu berkata dengan dingin, "Masuklah, anginnya cukup besar tak baik bagi kesehatan. Jaga dirimu, ya. Aku pulang dulu."

Kalimat terakhir yang ia ucapkan membuatku mematung, aku coba mencerna semua ucapannya itu. Tuhan... Apa dia benar-benar akan meninggalkanku selamanya?

(Pov Shaqina selesai.)

🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Sementara Shaqina tengah merasa sedih, pria di dalam mobil yang tengah melaju dengan kecepatan sedang itu menyunggingkan senyumnya. Melihat reaksi Shaqina yang begitu panik hingga menyusulnya membuatnya yakin jika wanita itu mempunyai rasa yang sama dengannya.

Sebenarnya ia sedikit kecewa saat Qina meminta dirinya untuk menjaga jarak, tapi mendengar alasannya membuat pria itu bisa memaklumi sikap Shaqina. Meski sedikit kesal tapi pria itu juga sangat mengerti jika kedekatan mereka berada di situasi yang salah.

Entah apa yang ada di pikiran wanita itu sampai bisa begitu panik saat melihatnya beranjak pergi hingga menyusulnya ke mobil. Padahal ia merasa sikapnya biasa saja, hanya saja membayangkan kembali berjarak dengan wanita itu memang membuatnya tak senang.

Sungguh ingin sekali Abraham terbahak demi melihat ekspresi wajah Shaqina ketika berteriak di depannya. Tapi, sengaja ia tahan dengan susah payah dan tetap memasang wajah datarnya.

Tujuannya satu, ia ingin tau seperti apa perasaan wanita itu padanya. Selama ini wanita itu selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali Abraham memancingnya untuk mencari tau tentang perasaan wanita itu padanya.

Kini biarlah Abraham mengerjai wanita itu sedikit saja dengan cara yang wanita itu inginkan, agar wanita itu bisa menyadari seperti apa perasaannya dan sepenting apa kehadiran Abraham baginya.

Abraham berencana akan benar-benar akan menjaga jarak dari Qina. Bukan meninggalkan, lelaki itu akan tetap menjaga Qina dari kejauhan, memberikan perlindungan bagi wanita itu dengan caranya sendiri.

🌺🌺🌺🌺

Dua bulan pasca sidang putusan perceraiannya secara resmi pengadilan agama mengirimkannya akta cerai dan surat hak asuh anak. Ia cukup lega karena semua nya berjalan sesuai dengan harapannya.

Sayangnya sudah dua bulan ini juga Qina lalui harinya dengan perasaan yang sangat kacau. Abraham. Lelaki bertato itu benar-benar menjaga jarak sejauh mungkin dari pandangannya. Jangankan menemui, pria itu bahkan tak pernah menelpon untuk sekedar menanyakan kabarnya.

Pria itu bagai hilang di telan bumi, tanpa kabar dan tak berbekas. Sebenarnya ingin sekali Qina menghubungi Abraham untuk menanyakan kabar pria itu, tapi selalu urung ia lakukan. Malu rasanya menghubungi laki-laki itu padahal ia yang memintanya pergi. Ya, meski bukan seperti ini yang ia inginkan.

Untunglah kesibukan pekerjaan dan mengurus anak-anak bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari lelaki itu. Qina juga memberikan alasan sibuk jika si bungsu menanyakan kenapa Om Babam kesayangannya tak pernah datang.

Di depan semua orang ia harus tetap kuat, ia tak boleh rapuh, anak-anak membutuhkannya.

Namun semua berbeda jika malam tiba dan anak-anaknya sudah terlelap, rasa kesepian selalu menghantui hingga membuatnya sulit untuk terlelap.

Biasanya ada Abraham yang menemaninya, meski hanya lewat sambungan telpon atau video call lelaki itu akan tetap menemaninya mengobrol sampai ia tertidur.

Tapi sekarang semuanya sudah berbeda, tak akan ada lagi yang mengomelinya karena bergadang dan menyuruhnya untuk segera tertidur. Tanpa sadar suara Abraham membuatnya candu, omelan pria itu justru bagai lagu pengantar tidur yang membuatnya segera terlelap hingga saat ia tak mendengar suara itu lagi, matanya begitu enggan untuk terpejam.

Ya. Sepeninggal pria itu seperti ada ruang kosong di sudut hatinya. Qina tak menyangka bahwa kepergian pria itu sangat berpengaruh pada hidupnya, ia merasa kehilangan, seolah ada sesuatu yang direnggut dari dalam dirinya. Tanpa sadar ia merindukan pria itu.

Decit pintu mini market membuyarkan lamunannya, ia segera berdiri untuk menyambut pelanggan yang baru saja masuk, tapi suaranya seakan tercekat saat melihat siapa yang datang.

"Abraham," pekiknya dalam hati.

Wajahnya yang sudah sangat sumringah melihat kedatangan lelaki yang mulai ia rindukan seketika berubah ketika seorang wanita muncul dari balik punggung pria itu.

Ya. Abraham tak sendirian, wanita yang dulu sempat mendatangi Qina dan mengaku sebagai calon istri Abraham ternyata juga ikut bersamanya, wanita itu segera bergelayut manja di lengan kokoh bertato milik Abraham.

Shaqina mematung, tiba-tiba saja ada rasa asing menyeruak dari dalam dirinya. Tetiba aura sekitarnya menjadi terasa panas, hatinya terasa sakit, dan marah tanpa alasan, untuk pertama kalinya ia merasa tak rela melihat lelaki itu bergandengan dengan yang lain. Ada apa dengannya? Apakah ia cemburu?

"Mami memintaku mengantarkan undangan ini untukmu," ucap pria itu.

"Undangan?"

Abraham mengangguk, "Acaranya minggu depan, jangan lupa datang, ya. Aku permisi dulu."

Qina tak mengangguk, ia masih bergeming menatap surat undangan yang di letakan Abraham di meja kasirnya. Qina masih mencerna semua yang terjadi. Wanita itu? Undangan? Astagaaa kenapa tiba-tiba saja ia merasa jadi ingin menangis?

Kenapa Abraham begitu jahat padanya, ia sudah membuatnya nyaman, tapi kini di campakan begitu saja.

Dan bukankah ia bilang tak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu? Kenapa sekarang mereka malah mengiriminya undangan? Apa mereka akan menikah?

1
💞🖤Icha
Lama menanti...semangat berkarya author lov u 😘😘
🐊⃝⃟R. alang2 sawah
kirain bakal mangkrak nih cerita ...akhirny dilanjut lgi....
Nanik Purnomo
Alhamdulillah nongol lagi
Elasukma: Dan Alhamdulillah masih ada yg mau stay di sini😁 Makasih loh Kak😊😊
total 1 replies
Nanik Purnomo
ko ga dilanjutkan lagi thor
j
Elasukma: Mohon maaf belom bisa lanjut kak 🙏
total 1 replies
Nanik Purnomo
ko mogok lgi thor
Ummu Mufris
Lumayan
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ⏤͟͟͞Rafael💝drg🔯HS࿐
Weh nikah dadsksn di RS. Ini mah ngebet kagak aturan 🤣🤣🤣
Elasukma: iya kak 😆😆
total 1 replies
Nanik Purnomo
semangat 💪
Nanik Purnomo
emang kemarin qina sampai ternoda kah thor?, perasaan ga ya
Elasukma: Emang enggak kak😊
total 1 replies
💞🖤Icha
Wa'alaikumsalam Wr Wb
Sehat selalu author semangat berkarya.
Good job 😘😘
Nanik Purnomo
wa'alaikum salam,, Alhamdulillah sehat othorrr,, semangat upnya
Nanik Purnomo
makasihhhh
Elasukma: Masama akak 😘 Makasih juga dukungannya selama ini
total 1 replies
Nanik Purnomo
😭
Nanik Purnomo
q masih setia menunggu lho thorrr
Elasukma: Makasih Kak 😊🙏
total 1 replies
Nanik Purnomo
yahhh mogok lagi upnya
Nanik Purnomo
next semangat
Nanik Purnomo
ayo dong up
Friasta
Jahat banget sih mantan!!! 🤬🤬🤬
Friasta
Aaaiisshh mereka bekerja sama 😒😒😒
Friasta
Sukaaa lihat mami akhirnya suportif ke abraham. gak marah lagi ya mami 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!