NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga puluh tahun yang hilang

Pelukan Maya belum juga terlepas. Tangisnya semakin pecah di bahu kakaknya.

"Mas, aku kira...aku nggak akan pernah ketemu Mas lagi."

Bima memejamkan mata. Tangannya mengusap pelan punggung adiknya.

"Maaf, Mas benar-benar minta maaf."

Pak Hendra yang berdiri di samping mereka hanya mampu mengusap air mata yang terus mengalir. Pemandangan yang selama puluhan tahun hanya hadir dalam doa kini benar-benar terjadi di depan matanya.

Beberapa menit kemudian, Maya perlahan melepaskan pelukannya. Matanya sembab. Namun senyumnya tak pernah hilang. Ia memegang kedua lengan Bima, seolah memastikan kakaknya benar-benar nyata.

"Mas, Kenapa Mas masih muda? Mas sakit? Atau..." Maya tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.

Bima hanya tersenyum pahit.

"Itu yang juga belum bisa Mas jelaskan."

Ayah Arga yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Pak Hendra, Boleh kami menceritakan semuanya?"

Pak Hendra mengangguk cepat.

"Tentu. Mohon ceritakan."

Beliau duduk perlahan di kursinya. Maya ikut duduk di samping ayahnya, tetapi tangannya masih menggenggam tangan Bima erat-erat. Seolah takut jika dilepaskan, kakaknya akan kembali menghilang.

Ayah Arga mulai bercerita. Beliau menceritakan bagaimana Arga menemukan Bima. Tentang pendakian itu. Tentang rawa yang tersembunyi. Tentang bagaimana Bima keluar dalam keadaan sehat. Tanpa menyadari bahwa dunia telah berubah selama tiga puluh tahun. Semakin lama cerita itu berlangsung, semakin sulit dipercaya.

Beberapa kali Maya menggeleng. Beberapa kali Pak Hendra memejamkan mata. Bukan karena tidak percaya. Melainkan karena terlalu luar biasa untuk dipahami.

"...dan ketika kami mengetahui identitas Bima, kami merasa beliau harus segera dipertemukan dengan keluarganya."

Cerita itu akhirnya selesai. Ruangan kembali sunyi. Tak seorang pun langsung berbicara. Hingga akhirnya Pak Hendra menghela napas panjang.

"Kalau orang lain yang bercerita, mungkin saya tidak akan percaya. Tapi..."

Beliau menatap wajah putranya.

"Anak saya ada di depan mata. Itu sudah cukup."

Maya mengangguk sambil menghapus air matanya.

"Iya. Aku juga nggak peduli bagaimana caranya. Yang penting Mas pulang."

Bima menundukkan kepala.

"Ayah..."

"Iya?"

"Selama ini ayah cari aku?"

Pak Hendra tersenyum getir.

"Cari. Ke mana pun. Ke gunung. Ke rumah sakit. Ke kantor polisi. Bahkan..." Beliau berhenti sejenak.

"...Ayah ikut beberapa relawan menyisir hutan berhari-hari."

Bima menggigit bibirnya.

"Maaf..."

Pak Hendra menggeleng.

"Setelah berbulan-bulan orang-orang mulai menyuruh Ayah ikhlas. Mereka bilang kemungkinan kamu sudah tidak ada. Tapi..."

Beliau tersenyum tipis.

"Ayah nggak pernah berhenti berdoa. Kalau memang masih hidup, pulangkan anak saya.'"

Suara Pak Hendra mulai bergetar.

"Dan hari ini, Allah mengabulkan doa itu."

Ruangan kembali dipenuhi tangis. Namun kali ini bukan tangis kehilangan. Melainkan tangis yang lahir dari sebuah penantian yang akhirnya berakhir.

Di tengah suasana haru itu, Maya tiba-tiba berdiri.

"Ayah."

"Hm?"

"Aku mau telepon."

"Menelepon siapa?"

"Semua. Om. Tante. Sepupu-sepupu. Mereka harus tahu Mas Bima pulang. Terutama kang Dedi."

Pak Hendra tersenyum sambil menggeleng.

"Jangan dulu. Jangan semua. Cukup berikan info ke Dedi saja." Pak Hendra mengingat bagaimana anak pertamanya itu sampai berbulan-bulan menelusuri hutan.

"Iya, Yah."

Tangannya segera meraih ponsel yang masih berada di atas meja. Jemarinya sedikit gemetar saat mencari satu nama di daftar kontak.

Kang Dedi.

Ia menarik napas panjang, lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar beberapa kali. Hingga akhirnya...

"Assalamualaikum." Suara laki-laki yang terdengar lebih tua dan berat menjawab dari seberang.

"Waalaikumsalam, Kang."

"Maya?"

"Iya."

"Ada apa? Ayah sehat?"

Maya melirik ke arah ayahnya dan Bima. Bibirnya bergetar. Ia berusaha mengendalikan suaranya.

"Kang..."

"Iya?"

"Akang lagi di mana?"

"Di rumah. Baru sampai dari kantor. Memangnya kenapa?"

Maya menelan ludah.

"Kang, bisa ke rumah sekarang?"

"Darurat?"

Suara Dedi langsung berubah tegang.

"Ayah kenapa?"

"Bukan..."

"Maya sakit?"

"Bukan."

"Lalu?"

Maya menutup matanya sejenak.

"Pokoknya Kang dedi pulang dulu."

"Kalau nggak penting, nanti saja. akang capek."

"Kang..."

Suara Maya mulai bergetar.

"Tolong, datang sekarang."

Di ruang tamu, semua orang terdiam mendengarkan percakapan itu. Dedi di seberang telepon pun ikut terdiam. Ia mengenal adiknya. Maya bukan orang yang mudah menangis.

"Ada apa sebenarnya?"

Air mata Maya kembali jatuh.

"Kang, Mas Bima pulang."

Sunyi. Tak ada jawaban. Bahkan suara napas pun nyaris tak terdengar.

Beberapa detik kemudian...

"Maya."

"Iya."

"Jangan bercanda."

"Aku nggak bercanda. Kang, Mas benar-benar pulang."

Suara Dedi terdengar meninggi.

"Maya! Bima sudah tiga puluh tahun hilang!"

"Iya."

"Aku tahu. Tapi beliau memang pulang. Beliau ada di rumah. Sedang duduk di depan Ayah."

Lagi-lagi hening.

Maya dapat mendengar embusan napas kakaknya yang mulai tidak beraturan.

"Kasih Ayah."

Maya langsung menyerahkan ponsel itu kepada Pak Hendra. Pak Hendra menerima ponsel dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Dedi."

"Iya, Yah."

"Yang Maya bilang benar."

Suara Pak Hendra pecah.

"Bima sudah pulang."

Dari seberang, terdengar suara benda jatuh. Seperti kursi yang tersenggol. Lalu suara langkah kaki yang tergesa.

"Yah, itu benar Bima?"

"Iya. Adik kamu masih hidup."

Air mata Pak Hendra kembali mengalir.

"Pulanglah. Pelan-pelan di jalan. Tidak usah terburu-buru."

Namun Dedi sudah tidak lagi menjawab. Yang terdengar hanyalah suara mesin kendaraan yang dinyalakan. Sambungan telepon pun terputus. Pak Hendra menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum mengembalikannya kepada Maya.

Beliau tersenyum tipis.

"Dedi pasti langsung berangkat."

Maya mengangguk.

"Sudah pasti."

Bima yang sejak tadi hanya diam akhirnya bertanya lirih,

"Yah, Kang Dedi masih suka naik gunung?"

Pak Hendra tersenyum kecil.

"Dulu. Beberapa tahun pertama setelah kamu hilang, hampir setiap libur dia naik gunung. Bukan untuk berwisata. Tapi mencari."

Bima membeku. Pak Hendra melanjutkan dengan suara pelan.

"Dia selalu bilang, Kalau Bima masih di mana pun, aku yang akan menemukannya. Meskipun semua orang mengatakan pencarian itu sia-sia dia tetap berangkat."

Bima menundukkan kepalanya. Dadanya terasa semakin sesak.

"Ternyata aku membuat Kang dedi menunggu selama itu."

Pak Hendra mengusap bahu putranya.

"Bukan. Kamu tidak membuat siapa pun menunggu. Kami memilih untuk tetap berharap."

Di luar rumah, langit mulai berubah jingga. Sementara di sebuah jalan menuju Kota Bandung...

Seorang kakak tengah mengendarai motornya dengan mata yang berkali-kali berkaca-kaca. Pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan. Benarkah adik yang selama tiga puluh tahun hanya hidup dalam doa kini benar-benar telah pulang?

Motor yang dikendarai Dedi melaju membelah jalanan Kota Bandung. Beberapa kali ia hampir lupa mengganti gigi. Pikirannya terlalu penuh. Kalimat Ayah terus terngiang di kepalanya.

"Bima sudah pulang."

Bagaimana mungkin? Tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk berharap. Namun justru karena terlalu lama, Dedi tidak pernah benar-benar menghapus nama adiknya dari hatinya.

Di lampu merah, motornya berhenti. Tanpa sadar ia membuka dompet. Di balik tempat kartu identitas, terselip sebuah foto kecil yang warnanya telah memudar. Foto itu memperlihatkan dua anak laki-laki. Yang satu berusia sekitar lima belas tahun. Yang satu lagi sebelas tahun. Dedi mengusap pelan permukaan foto itu.

"Kalau memang benar kamu pulang, jangan hilang lagi, Bim."

Lampu berubah hijau. Motor kembali melaju.

Di rumah, suasana kembali tenang. Pak Hendra menyeduhkan teh hangat untuk Ayah Arga dan keluarganya.

"Maaf, rumah sederhana begini." Ayah Arga tersenyum.

"Justru kami merasa seperti keluarga sendiri, Pak." Pak Hendra mengangguk penuh syukur.

"Entah bagaimana saya harus berterima kasih."

"Kalau bukan karena Bapak dan Arga..."

Beliau menoleh kepada putranya.

"...mungkin saya tidak akan pernah bertemu Bima lagi."

Ayah Arga menggeleng.

"Kami hanya menjadi jalan. Yang mempertemukan tetap Allah."

Pak Hendra mengangguk pelan.

"Benar."

Bima memperhatikan percakapan itu dengan mata yang masih sembab. Perasaannya campur aduk. Bahagia karena bisa pulang. Namun juga sedih karena menyadari begitu banyak waktu yang telah hilang.

"Mas." Suara Maya membuyarkan lamunannya.

"Iya?"

"Mas lapar?"

Bima tersenyum kecil.

"Sedikit."

Wajah Maya langsung berbinar.

"Tunggu! Aku masakin."

Bima terkekeh.

"Kamu masih bisa masak?"

Maya langsung mengangkat dagunya.

"Jangan salah. Aku sekarang punya dua anak. Kalau nggak bisa masak, mereka makan apa?"

Semua orang di ruang tamu tertawa kecil. Bima menggeleng sambil tersenyum.

"Dulu yang paling sering bikin gosong telur siapa?"

Maya pura-pura cemberut.

"Itu dulu. Jangan dibahas."

Ia segera berlari ke dapur. Suasana rumah perlahan berubah. Tangis masih ada. Tetapi kini mulai diselingi tawa dan kenangan-kenangan kecil.

Sekitar empat puluh menit kemudian...

Suara motor berhenti cukup keras di depan rumah.

Belum sempat mesin benar-benar mati, Langkah kaki berlari memasuki halaman. Pintu rumah terbuka. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu. Keringat membasahi dahinya. Matanya langsung menyapu seluruh ruang tamu.

Mencari.

Berharap.

Takut.

Hingga akhirnya, Tatapannya berhenti pada seorang pemuda yang berdiri perlahan dari sofa. Waktu seolah berhenti. Pria itu membeku. Bima pun membeku.

Kang Dedi.

Wajahnya memang jauh lebih tua. Rambut di pelipis mulai memutih. Garis-garis usia terlihat jelas. Namun sorot matanya, masih sama seperti yang diingat Bima.

"Kang..." Suara Bima nyaris tak terdengar.

Dedi tidak langsung mendekat. Matanya terus menatap wajah adiknya.

Lama.

Seolah sedang memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang mempermainkannya.

Lalu bibirnya bergetar.

"...Bim?" Hanya satu kata. Namun cukup membuat air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh tanpa sisa.

Bima mengangguk.

"Iya, Kang. Ini aku."

Dedi menutup mulutnya dengan satu tangan. Dadanya naik turun. Selama tiga puluh tahun, Ia telah berkali-kali membayangkan momen ini. Namun saat benar-benar terjadi, semua kata yang telah ia siapkan lenyap begitu saja.

Yang tersisa hanyalah satu langkah...

Lalu satu langkah lagi...

Menuju adik yang tidak pernah berhenti ia cari.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!