Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku hanya berkata jujur, apa tidak boleh?
Sudah kepergok terlihat salah tingkah.
**
"Maaf Tuan, saya tidak akan melirik lagi." ucap Will was-was.
Jantungnya berdetak lebih cepat dan wajahnya semakin memerah mendengar bahwa ia ketahuan oleh dua orang sekaligus saat memandang pria disebelahnya ini.
Setelah mencoba kuat untuk menenangkan dirinya, ia pun menjawab jujur "Huff baiklah baik, aku memang memandangmu. Kau terlihat semakin menarik ketika fokus bekerja."
Ucapan nya ini membuat Golden berhenti mengetik sesaat. Matanya melebar dan jantungnya mendadak berpacu lebih cepat.
Menengok ke arah Callista yang masih memperhatikan nya secara terang-terangan itu malah membuat jantungnya semakin berdetak kencang.
'Biasanya kontrol diriku selalu baik, kenapa sekarang malah bisa-bisanya dipermainkan gadis kecil disebelahnya ini' pikirnya, lalu tatapannya tajam melihat Will dan memandang Callista lagi "Apa kau harus berkata sefrontal itu?"
"Aku hanya berkata jujur, apa tidak boleh?" kedua pundak dan tangannya terangkat seperti tidak merasa ada yang salah dengan ucapannya "Apa aku benar Tuan Will?"
Will terkejut lagi mendengar itu, 'kenapa malah aku yang selalu disangkutpautkan disini? Kalian lah yang saling ledek tapi aku yang dibawa-bawa. Nasib bawahan' pikirnya pasrah.
Melihat Will tegang dan tidak menjawab nya membuat Callista tertawa, lalu menyenggol pria disebelahnya "Kau tidak bisa menggodaku, aku tidak akan kalah denganmu." lalu mengedipkan sebelah matanya "Ahh aku mulai ngantuk, apakah kita masih lama Will?", "Masih lumayan jauh Nona"
Menyenderkan kepalanya dengan nyaman lalu mulai memejamkan mata, tapi seketika seseorang menarik badannya, merangkul pundaknya membuat ia membuka mata dengan cepat, menatap tajam Golden "Aku juga tidak akan kalah darimu" bisik Golden pelan tepat ditelinganya.
Ada sensasi geli menjalar tubuhnya, nafas Golden terdengar lembut ditelinganya. Ia tanpa sadar menahan nafasnya beberapa detik sampai Golden menarik dirinya kembali.
Melihat reaksi Callista yang menegang dengan wajah mulai memerah ia pun tertawa renyah "Satu sama Nona Callista. Kita seri."
Menghempaskan tangannya lalu dengan ketus menjawab "Kauuuu..." kilatan dingin terpampang jelas dimata nya.
Golden tau itu, ia pun memotong "Aku hanya mengikuti permainan mu saja.", "Huhhh!" ia mendengus kesal dan kembali ke sisi kiri seperti semula. Memejamkan mata dan mulai terlelap.
Melihat kepalanya yang jatuh terus menerus itu membuat Golden menggeleng kepala lalu menggeser duduknya dekat dengannya.
Menarik lembut kepala Callista lalu disenderkan di pundaknya. Dirapihkan rambutnya ke belakang telinga lalu kembali fokus bekerja lagi didepan laptop nya.
Mobil melaju kencang dijalan yang lancar, tiba-tiba 'Chiitt' mobil berhenti secara mendadak membuat kaget seluruh penumpang. Yessy hampir terbentur kaca depan yang untungnya menggunakan sabuk pengaman sehingga tidak kena. Namun berbeda dengan Callista yang terpental kedepan membentur kursi kepala Will, laptop ditangan Golden pun hampir jatuh karna nya.
Callista meringis sakit sambil mengelus dahinya, Yessy hanya memegang dadanya shock. Golden pun menggeser duduknya kembali ke sisi kanan lalu berkata dingin "Apa kau tidak bisa menyetir?"
"Maaf Tuan, Nona. Mobil didepan tiba-tiba berhenti karna seekor anjing mereka melompat dari jendela depan."
"Hahh?" refleks menengok ke jendela dan membuka pintu, ternyata anjingnya masuk ke kolong mobil mereka.
Callista pun turun lalu berjongkok, seekor anjing puppy kecil yang terlihat takut mengumpat dikolong mobil yang mereka tumpangi.
Mencoba meraihnya, lalu mengelus penuh sayang. Pemiliknya pun turun menghampiri Callista, seorang perempuan cantik dan elegan itu lalu berterima kasih sekaligus mengucapkan maaf atas kejadian barusan.
"Kau baik-baik saja? Dahi mu merah." ucap Yessy saat menengok kebelakang memandang Callista. "Tidak apa, nanti juga hilang."