Terhalang oleh sebuah masa lalu orang tuanya, Devan dan Alisa tidak bisa bersatu. Hubungan yang terjalin selama lima tahun harus kandas saat Sang Ayah menjodohkannya dengan Raisya, putri pertama Randu.
Tinggal satu rumah dengan Raisya adalah hal yang sangat mustahil bagi Devan, tapi ia tetap bertahan demi memenuhi permintaan bundanya. Meskipun Raisya adalah istrinya, faktanya Devan tak pernah menyentuhnya sedikit pun, bahkan mereka pisah kamar. hingga berputarnya mentari menyadarkan Devan jika kehadiran Raisya bagaikan Pelangi Senja.
Mampukah Devan menyembuhkan luka yang pernah ia torehkan untuk Raisya?
Ataukah Raisya memilih pergi, membiarkan Devan dan Alisa bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam bersama
Setelah puas menghabiskan waktu di kamar, malam ini Devan dan Raisya berniat makan di luar. Keduanya sudah berpenampilan rapi, Raisya memakai baju berwarna abu-abu dengan hijab yang senada, sedangkan Devan memakai kemeja putih lengan pendek dengan jeans hitam yang sobek di bagian lutut.
"Apa tidak ada celana yang lebih rapi, Kak?" protes Raisya saat menatap Devan yang masih menyisir rambutnya.
Devan menggeleng, menyemprotkan parfum di area bajunya lalu mendekati Raisya yang duduk di tepi ranjang, dengan jahilnya ia mencium pipi istrinya sebelah kiri dengan lembut dan lama. Seharian tak membuatnya puas untuk terus menggoda Raisya yang sangat menggemaskan.
Sepertinya mulai saat ini Raisya harus terbiasa dengan perlakuan Devan yang over dosis, karena itu adalah salah satu cara untuk melupakan cinta pertamanya.
"Tidak ada."
"Tapi aku tidak suka kalau kakak pakai baju seperti ini."
Raisya memegang lutut Devan yang terekspos dan menggaruknya dengan kasar. Dari dulu ia terus menghindari pria yang memakai celana seperti itu, justru kini suaminya sendiri yang memakainya.
Devan mengangkat tubuh Raisya dan mendudukkan di pangkuannya.
"Aku janji ini yang terakhir memakai celana seperti ini, nanti kalau kita pulang, bantu aku membereskan semua baju di lemari."
Devan mengangkat dua jarinya di depan Raisya. Menandakan jika ia pun serius ingin mengubah penampilannya.
Ceklek
Disaat Devan hampir saja mendaratkan bibirnya di bibir ranum Raisya, pintu terbuka tanpa ketukan.
Sontak Raisya menggeser duduknya dan membenamkan wajahnya di dada Devan. Syakila yang melihat adegan itu membalikkan tubuhnya ke arah luar.
"Perbuatan kalian menodai mata suciku," seru Syakila dengan nada jengkel.
Seketika wajah Raisya merona, ini kali pertamanya ia kepergok bermesraan dengan Devan. Meskipun suaminya sendiri Raisya merasa malu jika keromantisannya diketahui banyak orang termasuk keluarganya.
"Masuk saja, sudah selesai," jawab Devan asal seraya merangkul pundak Raisya dan mendekatkan bibirnya di telinga sang istri.
"Mulai sekarang kamu jangan malu, kalau perlu pamerin ke Syakila biar dia minta dinikahin," bisik Devan, seketika mendapat hadiah cubitan dari sang istri.
Syakila menghampiri kedua kakaknya yang masih berada di tempat.
"Tadi siang kamu ke mana saja, kenapa lama sekali?" tanya Devan menyelidik, ia tahu kalau Syakila dan Afif kembali ke hotel jam empat sore dan itu menurutnya cukup lama bagi mereka yang baru berkenalan.
Raisya merapikan hijabnya dan make upnya, ia tak mau terlihat gusar saat Devan membahas nama sang mantan.
"Ke taman, mall, masjid." Syakila menghitung dengan jarinya. Dua kali pertemuan sukses membuat hati Syakila berdebar-debar saat berada di dekat Afif.
Semoga dengan bertemunya mereka, mas Afif bisa melupakan aku sepenuhnya. Syakila gadis yang baik, dan aku yakin dia bisa membuat mas Afif jatuh cinta.
Tiga puluh menit membelah jalanan yang gelap, kini Devan menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran.
"Kamu yakin disini makanannya enak?" tanya Devan seraya membantu Raisya melepas seat beltnya.
"Waktu aku masih tinggal di sini, mas Afif sering mengajakku makan di tempat ini," seloroh Raisya tanpa sadar, dan itu membuat Devan menghentikan aktivitasnya, kini mata Devan fokus pada Raisya yang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Afif sering mengajak Raisya makan di sini, dan kemarin dia juga memberi kado yang spesial, apa dulu mereka pernah punya hubungan lebih.
"Kak, apa kita akan di sini terus? Perutku sangat lapar."
Devan gelagapan dan mengusap wajahnya dengan kasar. Menepis perasaan yang sedikit bergejolak.
Aku tidak boleh suudzon. Sekarang Raisya adalah istriku, itu artinya aku yang lebih berhak atas dirinya.
"Kamu pasti ketagihan makan di sini," Raisya membuka pintu mobilnya diikuti Devan dan Syakila.
Seperti pasangan pada umumnya, Devan menggandeng tangan Raisya melewati beberapa pengunjung yang keluar masuk meramaikan tempat itu.
Devan memesan ruangan VIP yang ada di lantai dua, karena ia tak terlalu nyaman saat berada di tengah kerumunan.
"Silahkan, Mas! Seorang waitress cantik mengantarkan Devan dan Raisya serta Syakila menuju ruangan yang mereka pesan, saat menyusuri tiga anak tangga, tiba-tiba saja Syakila menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sangat familiar itu mematung di ujung tangga.
"Kak Afif, apa ini hanya kebetulan lagi?"
Devan dan Raisya ikut berhenti dan menatap pria itu. Kini Raisya sudah lebih terbiasa dan tidak gelisah lagi, ia terus meyakinkan hatinya bahwa Devan lah hidupnya, sedangkan Afif hanya orang luar yang pernah ia kenal.
"Kalian janjian?" tebak Devan basa-basi, menunjuk Syakila dan Afif bergantian.
Keduanya menggeleng bersamaan.
Devan melanjutkan langkahnya menuju atas. Afif dan Devan saling berhadapan dan tukar pandangan.
"Kalau begitu sekalian kita makan bersama," ajak Devan menepuk pundak Afif.
"Tidak usah, aku baru saja selesai makan," tolak Afif.
Devan tersenyum seraya melingkarkan tangannya di pinggang Raisya.
"Tidak baik menolak rezeki, anggap saja ini adalah awal persahabatan kita, bukan begitu, Sayang?"
Raisya mengulas senyum, ia mengusir kegugupan yang menerpa.
"Iya, sudah lama juga kita nggak makan bareng, kan?"
Akhirnya Afif mengangguk setuju, menghargai permintaan Devan, selaku kakak dari Syakila dan suami dari Raisya.
Suasana di atas tak se ramai di bawah, hanya ada beberapa pengunjung yang ada di dalam. Devan duduk di tempat yang paling pojok dekat balkon yang menghubungkan langsung dengan indahnya kota.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Devan menyodorkan buku menu di depan Raisya.
"Terserah kakak, aku ikut."
Ternyata kamu tak berubah juga.
Seperti Devan dan Raisya, Afif pun menawarkan beberapa menu yang terkenal di restoran itu pada Syakila.
"Ini saja." Menunjuk masakan lobster saus tiram yang jarang ia makan.
"Apa kamu dan Raisya sudah kenal lama?" tanya Devan menyelidik. Sembari menunggu makanan datang, Devan mencairkan suasana yang hening.
"Dari kuliah," jawab Afif menatap tangan Devan yang terus menggenggam tangan Raisya.
Hampir saja Devan melayangkan pertanyaan yang kedua, dua orang waitress datang membawa pesanan Devan, terpaksa ia mengurungkan niatnya.
Tak seperti Devan dan Raisya yang sangat lahap menikmati makanannya, Afif hanya memainkan sendok dan garpunya, sesekali matanya melirik ke arah Devan yang sedang menyuapi Raisya.
Syakila ikut heran dan menggaruk kepalanya yang berbalut hijab berwarna putih.
"Kak, apa seharian ini kalian tidak makan?"
Raisya dan Devan menggeleng bersamaan. Demi menuruti permintaan Devan, Raisya ikut lupa dengan asupan tubuhnya. Mereka menghabiskan waktunya di atas ranjang dan menurut Devan itu sudah membuatnya kenyang.
"Lalu, seharian ini apa yang kalian lakukan?"
Seketika Afif menyuapi Syakila dengan daging lobster untuk menyumbat pertanyaannya yang sangat konyol.
"Jangan tanya lagi, nanti kalau kamu sudah menikah, pasti juga tahu apa yang dilakukan pengantin baru di dalam kamar. Bukan begitu kak Devan?"
Devan hanya mengangkat jempolnya dan kembali menyuapi Raisya yang menunduk malu.
TAMAT