Bentley Reagan Carter masih betah menjomblo di usianya yang hampir kepala empat karena gadis yang selalu posesif padanya.
Elna Alexandra Graham, seorang gadis yang mencintai adik dari sang ayah, dan tenyata cinta itu juga berlabuh di hati pria matang itu...
tapi Elna tidak tau ada rahasia apa di balik pria itu, apa mereka bisa bahagia? atau malah cinta mereka terhalang restu keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ingatan buruk
Fafa tidur dengan sangat nyaman, karena merasa dingin, tanpa sadar Devan berpindah ke ranjang dan mengenakan selimut bersama Fafa.
bahkan keduanya pun berpelukan tanpa sadar di malam panjang itu.
keesokan harinya, Fafa terbangun dan merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya.
Fafa pun melihat tangan kekar memeluknya dari belakang, dan saat berbalik dia melihat Devan dengan wajah yang begitu tentram dan hangat.
sedang tertidur nyenyak, bahkan wajah tampan itu begitu enak di pandang.
tangan Fafa bergerak menyentuh bibir pria itu, tiba-tiba ingatan buruk itu datang, bagaimana dia mencium bibir Devan.
kemudian muntah di tubuh pria itu, "sudah puas lihatin nya," lirih Devan yang membuka mata.
dia kaget kenapa pindah ke ranjang, tapi melihat Fafa yang tak berteriak dan malah melihatnya dengan dalam, dia malah heran.
"sudah aku mandi dulu, dan tenang saja aku pindah ke ranjang sepertinya karena dingin, dan aku tak melakukan apapun padamu," kata Devan sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.
"memang aku mengatakan sesuatu, tapi ah... aku malu sekarang," kata Fafa memukuli kepalanya dengan bantal.
sedang di tempat lain Ben bangun terlebih dahulu, dan dia melihat istrinya itu masih terlelap dan terlihat cantik dan imut.
"pagi honey... aku mencintaimu," bisik Ben merapikan rambut Elna yang berantakan.
"aku juga mencintaimu honey, pagi ...." jawab Elna membuka mata.
elna kaget melihat tubuh Ben penuh dengan tanda merah akibat permainan panas mereka semalam.
saat dia melihat tubuhnya juga ternyata tak jauh beda, karena tubuhnya juga penuh dengan tanda merah.
"uh honey... kenapa aku seperti habis di serang oleh ribuan serangga," kata Elna menunjukkan tubuhnya pada Ben.
tak di duga, Ben malah menyerangnya kembali, dan Elna pun di buat tak berdaya dan menikmati setiap rangsangan yang di berikan padanya.
bahkan pagi ini mereka kembali melakukannya lagi, tapi dengan cepat dan halus karena Ben tak ingin melukai calon bayinya.
"sudah honey kau membuatku lelah, dan ah..." kata Elna tak bisa bergerak.
Ben pun membawanya untuk mandi dan berendam air hangat bersama, Ben benar-benar menikmati waktunya bersama Elna.
setelah siap, keduanya memutuskan untuk menunggu sarapan di kamar, dan asisten Mike yang kebetulan datang bersama Vanda.
"selamat pagi tuan dan nyonya, ini sarapan Anda, dan beberapa ada berkas pekerjaan, dan keluarga tuan Arnold ingin bertemu dengan anda, dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu," kata asisten Mike.
"suruh masuk saja, tapi kalian hrs tetap di sini, dan kemana Adnan?" tanya Elna yang menyuapi Ben yang sibuk dengan berkas.
"honey jangan sebut pria lain saat bersama ku, meski dia asisten ku, aku tetap cemburu," kata Ben tegas melihat istrinya.
"aduh honey sayang, aku itu hany milikmu, hati dan tubuhku semua milikmu, apa masih perlu bukti," kata Elna membungkam suaminya itu.
asisten Mike pun turun untuk menjemput keluarga Arnold, sedang Vanda masih disana menemani Elna dan Ben.
"kamu belum jawab pertanyaan ku Tante," kata Elna melihat Vanda.
"Adnan sedang ada urusan keluarga kandungannya nyonya, dan kini mereka sedang berusaha untuk mencari ayah dari Adnan dan Fafa," kata Vanda.
"apa mereka bersaudara, ku kira selama ini Adnan menyukai Fafa," kata Elna terkejut.
"iya nyonya, dan berkat tuan Devan, sekarang mereka kembali bisa bersama, terlebih tuan Devan juga begitu banyak membantu nona Fafa setelah di buang keluarganya," jawab Vanda.
"iya aku tau itu, aku tak mengira jika keluarga itu begitu kejam," jawab elna.
tak lama keluarga Arnold datang, dan bertepatan dengan Ben yang menyuapi Elna.
sedang Elna pun tak peduli karena dia tetap melanjutkan makannya, karena dia butuh energi untuk menghadapi orang di depannya.
"hei kamu tak sopan, kami tamu kenapa masih terus makan," kesal Cristine
"kalian sendiri yang datang saat kami sarapan, jadi tak usah berkomentar, terlebih jangan sok akrab karena aku tak mengenalmu," kata Elna.
"sudah sayang, ada apa om datang menemui ku?" tanya Ben langsung.
"aku hanya ingin membahas pekerjaan, apa kamu mau membantu kami sedikit saja Ben," tanya Arnold.
"kalau masalah itu, om harus lewat jalur pengajuan seperti biasa, karena dalam bisnis, aku tak mengenal Keluarga," jawab Ben dingin.
Elna melihat Cristine jijik, pasalnya wanita itu mengenakan pakaian yang begitu pendek dan terbuka.
Ben bahkan tak melihat kearahnya sama sekali, bagi Ben istrinya tetap begitu cantik tak ada duanya.
"benarkah, bagaimana pun kita tetap saudara dan apa kamu tak bisa membantuku sedikit saja Ben," kata Arnold.
"maaf om, semua harus lewat jalurnya, aku tak suka dengan bisnis mengatasnamakan hubungan keluarga, dan lagi jika datang lagi kesini, tak perlu membawa keluargamu, aku tak akan tertarik sedikitpun,dan asisten Mike antar mereka keluar dan beritahu bagaimana cara agar bisa bekerjasama dengan kita," perintah Ben.
"baik tuan," jawab Ben
"kak Ben, setidaknya kamu harus mengantar kami pergi bukan," kata Cristine.
"maaf ya Tante, suamiku masih lelah karena kami terus berolahraga panas, jadi kalian bisa pulang sendiri bukan, dan tak perlu manja, tak sesuai dengan usia mu yang tua itu," kata Elna pedas sambil tersenyum.
mendengar ucapan itu, Cristine marah dan tak suka, terlebih seharusnya Ben itu miliknya bukan Elna.
Ben pun mengacak rambut istrinya itu karena gemas, Elna persis Naura yang menghadapi wanita yang ingin menghancurkan rumah tangga dengan tegas dan pedas.
"honey hentikan, kamu merusak rambut ku, nanti jadi kusut," protes Elna pada suaminya itu.
sedang di tempat lain Maria begitu kecewa dan putus asa, karena Ben sudah tak bisa di rebut kembali.
terlebih dia memilih menikahi gadis yang pernah di bawanya dulu ke panti asuhan.
Maria terpuruk, seandainya dulu dia tak pergi pasti sekarang dia yang menjadi pengantin dari Ben.
sedang ibu pemilik panti merasa jika Maria tak sadar diri, terlebih dia juga tau Ben itu terlalu sempurna untuk Maria.
tak mungkin seorang pengusaha sukses uang begitu kaya,mau dengan seorang gadis disabilitas yang bahkan pernah melukainya dan mempermalukan keluarga Ben.
dan Maria melupakan itu dan merasa jika Ben masih bisa menerimanya setelah semuanya.
meski sudah meminta maaf,toh Maria tak bisa memutar kembali waktu yang sudah terlewat itu.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa dukung author dengan cara like, komen dan vote ya, terima kasih atas dukungannya...😘😘😘