Berkisah tentang seorang laki-laki yang begitu mencintai sosok kekasih masa kecilnya yang tak lain adalah Humairah Aarin Ashab Lemos dan laki-laki itu bernama Brayen Pahlevi Rahmat Lubis.
Keduanya sama-sama berasal dari keluarga Sultan!
"Aku lelah memperjuangkan hubungan kita. Selama ini hanya aku yang kegirangan saat kita menghabiskan waktu bersama. Sedangkan kamu? Kamu menganggap aku tak lebih dari parasit yang melekat padamu! Jadi mari akhiri semua ini." Brayen berucap lirih di iringi butiran kristal membasahi pipinya.
***
"Jika dulu Brayen yang mengejar ku. Maka sekarang aku yang akan mengejarnya. Akan aku pastikan Brayen kembali ke dalam pelukan ku! Meski itu membutuhkan waktu yang lama." Aarin berucap dengan semangat berapi-api.
STOP PLATGIAT ✋✋ INI MURNI KARYA AUTHOR
JANGAN LUPA TAP FAVORIT, LIKE KOMENTAR VOTE DAN BERI RATING 5 YAH KAKAK 😘😘 AGAR KARYA INI SEMAKIN BERSINAR 🤭🥰🤗🥳🥳
YANG SUKA KOMEDI BISA LANGSUNG STAY DI SINI🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Brayen
**Saling dukung kita ya kakak .. Author up bab nya dan kakak bantu dengan komentar, like, vote dan rate 5.
Bantu cerita ini masuk rangking populer 😘🥰
Di sini hujan .. adakah yang mau nyumbang kopi biar author semakin semangat dan gak ngantuk waktu up .. bunga pun gak apa-apa 🤭🤭🤭😂😂**
...----------------...
Mengapa hati ku terasa sesak ketika mengingat wajahnya. Hati ku terasa hampa mendengar kepergiannya. Apakah tidak ada lagi nama ku yang terukir di hatinya. Sehingga dia memilih pergi meninggalkan ku dengan luka yang telah ku torehkan di hatinya.
Humairah Aarin Ashab Lemos
...----------------...
“Tapi kenapa Brayen gak ngomong sama Aarin, Ma?Padahal Brayen udah janji akan kuliah di Jerman bareng Aarin.” Gadis cantik berambut pirang itu menangis tersedu-sedu, bahkan nafasnya tercekat di tenggorokan. Dunia nya seakan runtuh ketika mendengar sang pujaan hati kini telah pergi meninggalkan dirinya.
Segala janji yang dulu Brayen katakan padanya kini tinggal lah omongan belaka. Padahal Aarin dulunya merasa sangat gembira ketika Brayen memilih ikut dengannya kuliah di Jerman. Namun kenyataan tak sesuai harapan, Brayen memilih pergi meninggalkan Aarin seorang diri.
Apakah kesalahannya begitu fatal sehingga tak ada maaf bagi dirinya? Apakah Brayen benar-benar mengakhiri semuanya. Kisah cinta yang dirajut sedari kecil dengan kasih sayang kini bagaikan benang putus yang tak bisa di sambung lagi.
Aaron yang baru tiba pun heran melihat Aarin yang menangis sesegukan sembari memegang dada. Sedangkan Bilqis terlihat santai berdiri menggendong Beby. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa saudari kembarnya menangis?
“Ar .. kenapa menangis lagi? Diam lah, malu nanti dilihat Brayen!” Pemuda tampan itu tersentak saat melihat Aarin yang tiba-tiba luruh ke lantai. Aaron segera menahan tubuh lemah Aarin, pemuda itu terkejut melihat sorot mata Aarin yang kosong.
“Ma, Aarin kenapa?” Aaron bertanya khawatir, begitu juga dengan Bilqis yang terkejut melihat Aarin yang langsung drop setelah mendengar Brayen sudah berangkat ke Amerika.
“Aarin terkejut karena mendengar Brayen pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya!” Bilqis berkata jujur membuat Aaron terkejut. Pemuda itu tak menyangka sahabatnya akan benar-benar pergi.
Apakah sahabatnya itu ingin melupakan saudari kembarnya? Bahkan Brayen tidak mengucapkan pamit padanya.
"Ma, kami pulang dulu! Assalamu'alaikum." Aaron menggendong Aarin yang masih saja terpaku bergeming.
"Wa'alaikumussalam." Bilqis menjawab salam dengan senyuman penuh kemenangan.
Hehe .. sudah saatnya kamu yang memperjuangkan Brayen. Biar kamu tahu apa artinya perjuangan, apa maksud posesif yang sebenarnya. Dan bagaimana rasanya cemburu sehingga nanti kamu tidak akan menyalahkan Brayen lagi batin Bilqis senang.
*
*
*
"Aaron, aku mau ke Amerika! Aku mau nyusul Brayen." Aarin menangis sesenggukan menggoyang lengan Aaron yang sedang menyetir.
Pemuda itu terlihat frustasi menyikapi sikap saudari kembarnya yang berubah seperti anak kecil. Aaron tak menjawab sepatah kata pun, Ia menambah laju kecepatan mobilnya ingin segera tiba di mension.
"Kenapa Brayen pergi ninggalin aku, Ron? Apa segitu parahnya dia marah sama aku sampai-sampai gak mau ketemu lagi sama aku?" Aarin bertanya di sela-sela tangisnya.
"Brayen orang yang jarang marah dan sekali dia marah begini jadinya! Bukannya kamu lebih mengenal Brayen dari pada aku, Ar? Sedari dulu kita bersahabat, aku lebih akrab dengan Bryan dan kamu dengan Brayen. Bila Bryan orang yang sering menunjukkan ekspresi nya maka Brayen seperti orang yang memakai topeng. Bahkan dia bisa tersenyum pada orang yang di bencinya!" Aaron seolah menyindir Aarin habis-habisan.
Pemuda itu merasa kesal karena perbuatan Aarin membuat Ia kehilangan dua sahabatnya.
"Huwaa .. kenapa kamu terlalu jujur sih, Ar? Apa kamu gak bisa bohong sedikit dan bilang Brayen yang salah? Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kamu membuat aku semakin merasa bersalah." Aarin semakin terisak mendengar ucapan Aaron yang selalu menjadi tamparan keras baginya.
Aaron yang mendengar ucapan Aarin pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sudah menjadi karakter nya yang kalau berbicara selalu jujur. Bahkan saking jujurnya membuat orang kesal mendengarnya.
"Kata mommy gak boleh bohong, Ar. Nanti lidah kita di potong Malaikat penjaga pintu neraka! 'kan ngeri jadinya!" Aaron berkata jujur karena sedari mereka kecil Putri selalu mendidik anak-anaknya untuk selalu berkata jujur.
"Kamu masih di dunia bukan di neraka!" sentak Aarin membuat Aaron bungkam seribu bahasa.
Untung adik kandung ku, kalau bukan udah ku lempar kau keluar dari mobil ku batin Aaron kesal.
Selama perjalanan Aarin tak henti-hentinya menangis. Gadis itu merengek minta pergi ke Amerika, ingin menyusul belahan hatinya.
Saat tiba di mension, Aarin berlari masuk meninggalkan Aaron yang masih di depan mension.
"Tolong parkir 'kan mobil Aaron, Paman!" Aaron memberikan kunci mobilnya pada pengawal mension Lemos. Setelahnya pemuda itu ikut berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam mension.
*
*
*
Aarin masuk ke dalam mension menghampiri Arka yang sedang asik tidur di paha Putri. Pria dewasa yang masih tampan berkharisma sugar Daddy itu sangat suka bermanja-manja pada istrinya. Terlebih lagi bila semua anak-anaknya tak ada di mension membuat Arka lebih leluasa.
"Daddy .. mommy!" Aarin berlari ke arah Arka dan Putri membuat Arka langsung bangkit duduk.
"Sayang .. kamu kenapa?" Arka terkejut saat Aarin duduk di lantai lalu memeluk kakinya sembari menangis. Putri dan Arka merasa khawatir melihat keadaan anak gadis mereka yang terlihat rapuh.
"Aarin mau ke Amerika! Aarin mau kuliah di sana." Gadis cantik itu meminta dengan suara serak karena menahan tangis.
"Bukannya kamu mau kuliah di Jerman, sayang? Kenapa tiba-tiba minta kuliah ke Amerika? What's wrong girl, tell Daddy!" Arka menangkup pipi Aarin yang basah karena air mata tak kunjung berhenti keluar dari pelupuk matanya.
"Brayen .. sudah pergi ke Amerika kemarin malam! Dia .. dia .. hiks .. dia kuliah di sana tanpa memberi tahu Aarin, Dad. Padahal kami dulu sudah sepakat akan sekolah di Jerman. Tapi Brayen .. hiks .. Daddy Aarin mau berangkat ke Amerika sekarang juga! Aarin gak bisa jauh dari Brayen!" Aarin mengadu pada Arka dan Putri.
Arka menatap intens wajah cantik milik putri sulungnya itu. Selama ini tak pernah Aarin menangis meminta sesuatu terkecuali peralatan sunat. Arka melihat Aarin yang sangat rapuh karena di tinggal pergi Brayen.
"Ck .. kamu ini di tinggal pacar udah seperti di tinggal suami aja! Ingat sayang! Kamu itu putri dari Arka Wijaya Lemos, wajah mu cantik, otak mu cerdas, keluarga mu kaya raya. Jadi kamu bisa cari pria lain karena di dunia ini kumbang bukan seekor!" Arka memberi motivasi agar Aarin tak terpuruk lagi.
"Berarti mommy bisa cari pria lain dong karena kata Daddy kumbang bukan seekor!" Aaron berucap setelah mendengar perkataan Daddy nya. Pemuda tampan itu berjalan menghampiri orang tuanya dan juga Aarin.
Arka memelototi Aaron seolah ingin melahap nya hidup-hidup. Aaron benar-benar lihai dalam membuat dirinya kesal.
"Gak bisa .. mommy cuma milik Daddy! Dan Daddy milik mommy! Kami bagaikan perangko dan amplop yang sangat serasi bersama!" Arka menarik Putri ke dalam pelukannya seolah ingin menunjukkan Putri benar-benar miliknya.
"Begitu juga Aarin, Dad. Brayen itu milik Aarin dan Aarin milik Brayen. Tidak bisa di pisahkan karena mereka seperti kuah bakso dan saos tomat yang tak akan pernah terpisahkan!" Aaron membalikkan pernyataan sesuai perkataan Arka hingga membuat pria dewasa itu mengeraskan geraham nya.
Ini anak minta di kirim ke kutub Utara seperti nya batin Arka kesal.
"Daddy .. hiks .. pokoknya Aarin mau ke Amerika!" Gadis itu menangis kencang membuat Arka, Putri dan Aaron langsung menutup telinga mereka.
Kenapa suara anak ku seperti toa mesjid sih batin Arka menggerutu.
Bersambung.
Segala sesuatu terasa berharga ketika sesuatu itu tak lagi ada. Dan itu yang di rasakan oleh Aarin. Hidupnya yang selalu Ia jalani bersama Brayen. Susah senang Brayen selalu ada untuknya. Namun sekarang Brayen pergi meninggalkan nya dengan segala rindu yang menyesakkan dada.
Yang pernah di posisi Brayen pasti bisa lebih menghayati cerita ini.
Yang pernah di posisi Aarin pasti merasa menyesal setelah membaca cerita ini karena merasa kehilangan sosok yang begitu tulus mencintai.
Orang cantik, tampan dan kaya banyak kita temui tapi orang tulus itu jarang ada. Bahkan populasi nya di dunia ini hanya beberapa persen saja.
Jadi bagi kalian yang mempunyai pasangan yang tulus, maka bersyukurlah dan jaga dia.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰