Reina mentari seorang gadis pekerja keras, ceria, dan pantang menyerah. Kehidupannya berjalan normal sampai suatu hari ia bertemu dengan Saina putri kecil Revan yang mengubah seluruh alur cerita kehidupannya yang biasa saja.
"Menikah lah denganku" hal itu tentu menjadi kata paling bahagia untuk semua wanita yang ada di dunia, tapi tidak untuk Reina karena Reina tahu Revan tidak mencintainya. Namun demi Saina gadis kecil yang merindukan sosok seorang ibu di hidupnya sehingga mau tidak mau Reina harus menekan sedikit egonya untuk kebahagian Saina.
Perlahan alur kisah Reina mulai berubah, tabir rahasia yang ditutupi orang tuanya selama ini ikut naik kepermukaan meluluhlantahkan hatinya.
Akan kah Reina menerima Revan? Rumah tangga seperti apa yang akan dialami Reina? mampukah Reina melewati segala kesulitannya? ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Baju tidur Hello Kitty
" Diam kau!! Jangan sebut lagi tentang anak itu atau ku robek mulutmu itu. Kau kira hanya kau wanita satu satunya di dunia ini ha? " ucap Gerald dengan nada kasar sambil melotot ke arah Iriana.
...Iriana yang mendapat bentakan itu langsung diam seketika. Iriana lebih memilih mencari aman, ia tahu bahwa Gerald kali ini benar benar marah. Tidak ada lagi yang bisa Iriana lakukan kecuali hanya menuruti ucapan Gerald dan diam....
" Bagus aku suka anjing manis yang penurut sepertimu." ucap Gerald dengan mengelus rambut Iriana tiba tiba.
Namun perubahan ekspresi Gerald yang tiba tiba ini membuat Iriana gelisah karena ia paham betul bagaimana tabiat seorang Gerald.
...Gerald kemudian menuntun Iriana untuk duduk di sofa ruang kerjanya. Kemudian menciumi tangan Iriana satu persatu kemudian naik keatas secara perlahan dengan terus memberi kecupan sampai ia berhenti tepat di telinga Iriana....
" Kau sudah tau bagaimana kalau aku marah, jadi jangan pernah membahas anak sialan itu lagi atau kau tau sendiri akibatnya." ucap Gerald dengan nada berbisik di telinga Iriana.
...Iriana yang mendengar ancaman Gerald menelan saliva nya kasar. Jika harus memilih Gerald dengan sifat kasar atau lembutnya Iriana tentu akan memilih yang kasar karena Gerald dengan sikap yang lembut hanya sebagai topeng untuk menutupi sifat iblis nya dan ketika itu terpancing maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi....
..............................
Di kediaman mansion milik Revan
" Sain ini sudah malam ayo kita tidur, ayo mami bantu gosok gigi terus kita tidur." ucap Reina sambil menuntun Saina pergi ke kamarnya.
Raina membawa Saina menuju kamar mandi untuk gosok gigi kemudian mengganti bajunya dengan baju tidur khas anak anak dengan motif Hello Kitty.
" Mami pakai Hello Kitty juga ayo mi ayo mi " ucap Saina yang tiba tiba merengek meminta Reina memakai baju yang sama sepertinya.
" oke oke mami ganti, kemarin mami taruh di mana ya?" ucap Reina dengan berdiri kemudian berjalan menuju walk in closet milik Saina. Reina sengaja menaruh baju couple miliknya dan Saina di lemari Saina agar memudahkan jika suatu saat Saina meminta Reina untuk memakainya.
" Tadaaaa gimana Sain apa mami terlihat cantik" ucap Reina sambil tersenyum mengedipkan mata ke arah Saina.
" cantik mi cantik mi Sain suka " ucap Saina sambil mengacungkan jempol.
" Oke anak cantik sekarang tidur ya, mami temenin Saina di sini " ucap Reina kemudian dengan mengelus punggung Saina naik turun untuk memberikannya ketenangan agar lekas tidur sambil sesekali bersenandung lagu pengantar tidur.
Lama Reina menidurkan Saina sampai ia sendiri hampir ketiduran jika tidak dikejutkan dengan suara benda jatuh di bawah.
...Mendengar suara gaduh benda jatuh di bawah Reina kemudian berlari menuruni anak tangga dengan cepat takut bila terjadi sesuatu dibawah. Namun ketika sudah sampai di bawah yang ia lihat hanya seorang Revan yang tengah mengobrak ngabrik dapur seperti mencari sesuatu....
" Apa yang kamu cari?" ucap Reina dengan penasaran saat melihat Revan di dapur.
Revan yang mendengar suara Reina lantas berbalik ke arah Reina dengan masih memegang mangkuk ditangannya namun bukannya menjawab pertanyaan Reina yang ada Revan malah melamun memandangi Reina.
...Revan terpesona dengan penampilan Reina yang mengenakan baju tidur dres selutut dengan model bagian atas sabrina yang menampilkan bahu Reina yang bersih dan putih serta leher jenjangnya yang terlihat karena Reina menggulung rambutnya asal asal ke atas namun tetap pas pada tempatnya, ditambah lagi baju tidur tersebut bermotif hello kitty yang membuat kesan Reina semakin imut dan cantik. Lama Revan termenung hingga Reina gemas sendiri melihatnya dan pada akhirnya Reina berjalan mendekati Revan hingga tepat di depannya lalu menepuk pundak Revan....
Namun bukannya sadar Revan malah terkejut sehingga secara tak sadar menjatuhkan mangkuk yang Revan pegang hingga pecah ke bawah tak berbentuk.
" Diam jangan bergerak " ucap Reina pada Revan karena melihat pecahan mangkuk tersebut berserakan di lantai dapur.
" Terbalik harusnya aku yang mengatakan itu, kau diam saja di sini biar aku yang bereskan kekacauan yang ku buat sendiri." ucap Revan sambil menyentuh pundak Reina.
...Reina yang di sentuh pundaknya seketika langsung menegang dan kemudian teringat lagi akan kejadian tadi malam, bayangan bayangan di mana Revan memperlakukannya dengan brutal dan kasar kembali terlintas di benak Reina hingga membuatnya sedikit takut akan sentuhan Revan dan tak sadar secara reflek Reina menepis tangan Revan dari pundaknya....
" ja...jangan laku..kan itu van " ucap Reina dengan nada bergetar sambil tangannya menepis tangan Revan dari pundaknya dan melangkah mundur.
Revan yang melihat reaksi Reina seperti itu lantas mengerutkan keningnya dengan bingung.
" Apa Reina trauma dengan sentuhan ku? apa aku sekasar itu hingga membuatnya ketakutan?" ucap Revan dalam hati sambil memperhatikan gerak gerik Reina.
" Rein tenanglah aku tidak akan melakukannya, aku hanya melindungi mu agar tidak terkena serpihan dari pecahan mangkuk tadi." ucap Revan menjelaskan apa yang terjadi.
Reina yang kemudian tersadar karena ucapan Revan barusan lantas menundukkan kepalanya dan menyesali pemikiran kotornya.
" Maaf aku... aku..." ucap Reina dengan terbata bata dan menunduk.
" Aku tahu aku salah Rein aku benar benar minta maaf, saat itu aku mabuk dan tidak bisa membedakan mana kamu dan... Iriana. Tapi aku benar benar tidak bermaksud melecehkan mu sungguh aku tidak bermaksud apapun " ucap Revan dengan nada yang tulus.
" Sudah lah van bukannya aku kemarin sudah katakan bahwa itu adalah hak mu, hanya saja aku sedikit trauma dengan perlakuan mu waktu itu tapi tak apa ini akan sembuh seiring berjalannya waktu jadi kamu tenang saja." ucap Reina dengan nada yang rendah karena merasa bersalah kepada Revan.
" Ya aku akui aku memang kasar kala itu maafkan aku ya." ucap Revan lagi.
" Sudah sudah jika kita terus maaf maafan begini lalu siapa yang akan membersihkan serpihan mangkuk yang sudah berceceran." ucap Reina memecah ketegangan diantara ke duanya.
" Ok jadi sekarang kamu duduk di sini, biar aku yang membersihkannya." ucap Revan sambil menuntun Reina duduk di kursi meja makan.
...Setelah itu Revan langsung bergegas untuk membersihkan pecahan mangkuk tersebut hingga bersih dan memastikan tidak ada serpihan kecil yang masih tersisa. Reina terus memperhatikan gerak gerik Revan dalam membersihkan pecahan tersebut hingga kemudian ia tersadar tentang tujuannya kemari tadi...
" Oh iya apa yang kamu cari tadi, mengapa berisik sekali?" ucap Reina dengan penasaran.
" Aku hanya tengah lapar saja" ucap Revan dengan tersenyum garing memandang Reina.
" Astaga, jadi kau bertingkah seperti pencuri hanya karena lapar van?" ucap Reina dengan geleng geleng kepala mengingat tingkah Revan tadi.
" Jadi kamu ke sini hanya untuk meledekku Rein?" ucap Revan dengan berkaca pinggang memandangi Reina.
" ok ok sabar pak, begini saja biar aku yang memasak untuk mu bagaimana?" ucap Reina dengan percaya diri.
" enak gak nih?" ucap Revan dengan nada meledek.
" Bukannya anda sudah memakan masakan saya selama berminggu minggu, apa saya pernah gagal bapak Revan yang terhormat." ucap Reina dengan bangga.
Revan yang mendengar itu hanya tersenyum geli kemudian mengangkat kedua bahunya sambil meledek Reina.
Bersambung