Berawal dari pertemuan kembali di acara reuni SMA, Sarah Amalia berjumpa dengan cinta pertamanya, setelah sekian lama mereka berpisah.
Kedekatan mereka pun kembali terjalin, dan kabar gembira pun datang, setelah beberapa bulan mereka menjalin hubungan.
"Maukah kau menjadi istriku?" tanya Miko, cinta pertama Sarah.
Dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu pun mengiyakan ajakan kekasihnya.
Pernikahan pun terjadi. Setelah beberapa bulan, tiba-tiba datang seorang wanita ke hadapannya.
"Perkenalkan, saya istri pertama suamimu."
Bagai disambar petir, Sarah harus menerima kenyataan pahit itu, dikala dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Miko.
Bagaimana kelanjutan kisah ini? Akankah Sarah tetap bersama Miko? Atau justru menemukan cinta yang lain? Mari kita simak selengkapnya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat kecil yang lain
Pagi itu, Sarah tengah duduk dengan memberi ASI kepada sang putra di dalam kamarnya. Dia memandangi wajah anak itu, dan sekilas ingatannya kembali ke masa di mana dia dan Miko pernah menjalin kasih.
Wajahmu, kenapa harus semirip ini dengan ayahmu, Nak? batin Sarah.
Sudah hampir dua bulan, dia pergi dari hidup Miko. Namun, surat gugatan tak juga datang dari pengadilan agama.
Jika memang kamu nggak mau lepasin aku, maka aku yang akan melepaskanmu lebih dulu, Mas, batin Sarah.
Ia kembali memantapkan hatinya untuk berpisah dari sang suami, yang sudah tega membohonginya, dan membawanya masuk ke dalam kehidupan yang seperti di neraka.
Selepas menyusui anaknya hingga bayi mungil itu tertidur, Sarah kemudian meletakkannya ke dalam kotak bayi, yang masih berada di dalam kamarnya, tepatnya di samping tempat tidur.
Wanita itu nampak mengambil sebuah amplop berwarna coklat yang berisi berkas persyaratan gugatan cerai, yang akan ia ajukan ke pengadilan agama.
Sarah nampak membuka pintu. Dia menoleh sekilas ke belakang, dan melihat tempat di mana sang putra terlelap. Ada rasa bersalah di hatinya, saat menyadari tindakannya itu, akan merenggut hak putra kecilnya untuk merasakan kasih sayang seorang ayah.
Maaf kan Ibu, Nak. Tapi, ini yang terbaik untuk kita, batin Sarah.
Dia pun menutup pintu, dan meninggalkan jagoan kecilnya di sana.
Sarah melewati ruang makan, di mana sang ibu tengah berada di sana bersama seorang pekerja yang kebetulan hari ini sedang membantu di rumah itu.
"Sar, kamu mau ke mana?" tanya sang Ibu yang melihat putrinya sudah terlihat rapi, sambil membawa tas serta amplop coklat yang biasa di gunakan untuk melamar pekerjaan.
"Eh, Ibu. Aku baru mau nyariin." Sarah berbalik dan berjalan menghampiri sang Ibu yang juga berjalan ke arahnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya sang ibunda yang terus memandangi penampilan sang putri, terlebih berkas yang tengah di pegang Sarah.
"Aku mau ke pengadilan agama, Bu. Aku berencana mengurus perceraianku dengan Miko. Aku ingin semuanya cepat selelsai, agar hidupku dan anakku bisa kembali tenang. Aku nggak mau semuanya semakin berlarut-larut, Bu," ucap Sarah.
Wanita itu ingin segera mengakhirir semuanya dengan tuntas, agar tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan kedepannya, tentang statusnya dan sang anak.
"Tapi, kamu pergi ke sana sama siapa? Bapak masih di kebun, dan Kakak mu juga pasti dia dinas," ucap sang Ibunda.
"Aku bisa sendiri kok, Bu. Aku biasa pake taksi online buat ke mana-mana," sahut Sarah.
"Waduh … beneran nggak papa?" tanya Bu Riswan.
"Iya, Bu. Aku akan langsung pulang kalau sudah selesai," ucap Sarah.
Sang ibu masih terlihat ragu.
"Bagaimana kalau minta tolong Nak Fadil saja," seru sang ibu.
"Bu, jangan selalu merepotkan dia. Aku nggak enak kalau terus ganggu waktunya. Lagipula, kami kan cuma teman biasa, tidak terlalu dekat untuk saling merepotkan. Sudah ah, aku pamit ya, Bu. Assalamualaikum " ujar sarah.
Wanita itu pun menyalami sang ibu yang belum setuju benar dengan kepergian putrinya seorang diri ke kota kabupaten.
"Waalaikumsalam," sahut Bu Riswan.
Dia terus memandangi putrinya yang sudah berjalan cepat keluar rumah.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di kediaman Lidia dan Miko, nampak pria yang sempat terpuruk itu, terlihat begitu bahagia saat menggendong bayi perempuan yang diangkat anak oleh sang istri, Lidia.
"Ko, kamu nggak ngantor?" tanya Lidia.
"Nggak. Aku hari ini mau nemenin dia," sahut Miko yang sama sekali tak menoleh ke arah sang istri.
"Ya sudah. Aku tinggal ya," ucap Lidia.
"Hem," gumam Miko.
Wanita itu meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Miko. Namun, perlakuan suaminya itu sungguh tak seperti yang dia harapkan.
Semenjak pulih dari depresinya, Miko masih diperbolehkan untuk bekerja di perusahaan tempat ia bekerja selama ini, karena melihat kontribusi besar yang telah Miko berikan.
Akan tetapi, ia dipindah tugaskan menjadi bagian marketing finance, setelah sebelumnya ia menduduki jabatan tertinggi di kantornya.
Hal tersebut diakibatkan Miko yang bolos kerja selama berhari-hari, saat dia hampir gila karena kehilangan anak.
Pekerjaannya yang sebagai marketing, tak mengharuskannya untuk pergi ke kantor setiap hari. Asalkan target bulanan tercapai, dia msih bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menafkahi istri dan anak angkatnya.
Apa lagi sejak adanya bayi perempuan yang Lidia bawa dari panti asuhan, sebagai ganti dari anak yang dikira Miko telah tiada, membuat pria itu selalu ingin berada di rumah dan menghabiskan banyak waktu bersama si malaikat kecilnya.
Miko seolah kenjadi seorang ayah yang baik untuk sang putri, namun, dia justru bersikap dingin kepada sang istri. Meskipun Lidia sudah mau berubah demi menjadi seorang istri yang diinginkan oleh Miko, tapi pria itu tetap saja diam.
wanita itu sudah tak lagi buru-buru berangkat pagi. Dia lebih memilih untuk terlebih dulu memenuhi kebutuhan pagi hari sang suami seperti menyiapkan sarapan, seragam kerja, menemaninya makan, dan terlebih sekarang ada seorang putri yang emnajdi tanggung jawabnya beserta sang suami.
Bahkan, pekerjaan yang membuatnya lembur hingga dibawa pulang pun, kini sudah ia kurangi banyak sekali. Dinas ke luar kota pun jarang ia terima.
Memang cukup mengecewakan pihak perusahaan, karena kinerja Lidia yang dinilai tidak maksimal dan bahkan bisa dianggap tidak profesional, karena melibatkan urusan pribadi di dalamnya.
Namun, wanita ini sudah bertekad untuk menyatukan kembali kepingan rumah tangganya yang sempat retak, agar tak sampai hancur.
Sedangkan Miko, dia sama sekali tak peduli akan semua itu. perhatiannya hanya tertuju pada si bayi perempuan mungil yang selalu menjadi prioritasnya.
Seperti hari ini, saat Lidia pergi bekerja, Miko memilih untuk menjaga putri kecilnya. Rasa kehilangan yang sempat menderanya, membuat pria itu mencurahkan segala kasih sayang yang ia miliki untuk sang malaikat kecil.
Owek … owek … owek … owek …,
Terdengar suara tangisan dari mulut bayi yang tengah digendong oleh Miko. Bayi yang baru berusia lima minggu itu, nampak kehausan. Sedari tadi, dia terus saja menghisap ibu jarinya, pertanda jika ia ingin susunya.
"Misa Sayang, kamu lapar yah. Kita masuk yuk! Ayah akan buatkan kamu susu yang enak," ucap Miko kepada putri kecilnya.
Misa amora, sebuah nama yang diberikan oleh Miko untuk bayi mungil itu.
Sarah, meskipun kita tak bisa lagi bersama, meskipun anak kita tak lagi ada bersama kita, tapi ijinkan aku menganggap Misa sebagai perwujudan kalian berdua. Misa amora, cinta Miko dan Sarah, batin Miko.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
sambil nunggu next eps, boleh dong mampir ke novelku yang lain😎😁
kasih penjelasan dong Thor... jangan digantung kek jemuran di musim hujan gitu🤭😆
bukannya dulu kau yg nantangin Miko buat nikah lagi saat Miko minta kau untuk hamil, knapa jadi kau salahkan Miko jahat karena dia nikah sm Sarah? mengapa batas sekarang kau mau berubah untuk menjerat Miko kembali padamu lagi? udah telat Lidya!
sekarang saatnya kau instropeksi diri
ngapain masih bertahan dengan laki-laki gak punya pendirian seperti Miko.
dia yg salah, Sarah yg dihujat ibu-ibu bermulut pedas