"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Lily bukanlah orang yang selalu memanfaatkan keadaan atau posisi. Meski kondisi batin dan mentalnya sedang hancur. Wanita yang telah memutuskan tak akan bersama pria manapun lagi itu tetap bekerja.
Tangannya terus bergerak mengusap rak-rak lemari yang sedikit berdebu. Dalam benaknya dipenuhi ingatan yang memperburuk suasana hatinya.
"Axton tau kita punya anak. Axton akan menyelidikinya. Bagaimana nasib Ibu dan Luna nanti?"
"Axton semakin tak akan melepaskanku. Dia semakin menggila," batin Lily yang pikirannya dipenuhi kecemasan.
"Axton, orang sepicik dia bagaimana bisa aku pernah mencintainya?"
Saat benaknya dipenuhi ketakutan. Sebuah tepukan di pundaknya membuat Lily tersentak, dan sontak menoleh.
"Oh maaf, aku mengejutkanmu?" tanya Vina.
"Ah, tidak, tidak apa," ucap Lily menggelengkan kepala, justru merasa lega disadarkan, karena jika tidak ia bisa saja dibunuh dengan pikiran kecemasannya itu.
"Giliran kita makan siang. Ayo istirahat dulu," ajak Vina yang kemudian dibalas anggukan Lily.
Wanita itu meletakkan kain di tangannya di atas troli, tak lupa melepaskan sarung tangannya.
"Ayo," ajak Lily mengulum senyum ramah.
"Hm, katanya makan siang hari ini enak. Semoga kita masih kebagian."
Lily mengangguk, keduanya berjalan beriringan menuju kantin yang mana orang-orang keluar masuk bergantian mengisi tempat itu.
Saat masuk suasana ramai, namun tak begitu berisik memenuhi ruang makan itu.
Lily dan Vina bergegas mengambil antrian makan. Sesaat kemudian tiba-tiba seseorang melewati mereka. Menyela antrian dua orang di depan Lily.
"Saya dulu, sana mundur! Jangan sampai kotoran tubuh kalian, menempel padaku!" ucap salah satu atasan perusahaan itu dengan sombong.
Dorongannya itu membuat Lily ikut mundur dan tanpa sengaja menjatuhkan beberapa alat makan yang disediakan.
Suara gaduh itu membuat semua orang menoleh. Lily membungkuk ingin memperbaiki kekacauan itu. Sosok atasan yang melihat Lily itu langsung panik.
"Oh, maaf maaf maaf," ucapnya segera menghalangi Lily memunguti alat makan itu.
"Hey, kalian bereskan ini!" perintahnya dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Ia kembali menatap Lily dengan senyum gugup. "Maaf, saya tidak tau anda di belakang."
Lily mengerjapkan mata beberapa saat, lalu menggelengkan kepala pelan. "Tidak apa."
Atasan itu tersenyum tipis, dan menunduk pelan. "Ya sudah saya pergi dulu," ucapnya kemudian berbalik dan pergi dari sana.
Antri makanan itu dilanjutkan. Penjaga makanan yang tau Lily dan tampak segan, memberikan beberapa makanan lebih.
"Sudah cukup," sahut Lily menghalangi saat makanannya akan ditambah lagi.
Lily berbalik ingin mencari tempat untuk makan hingga ia melihat Ciara melambaikan tangan ke arahnya.
"Vina, ayo ke sana," ajak Lily yang dibalas anggukan Vina.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat Ciara dan beberapa orang yang berkumpul bersama di meja panjang itu.
Ciara menyambutnya dengan senyum menepuk kursi di sebelahnya.
"Cari muka banget ya Bu, padahal dia orang yang selalu buat kita kena imbasnya," celetuk salah satu orang di meja itu.
Lily menatapnya sekilas sembari mendudukkan tubuhnya.
"Sudah jangan dipedulikan. Duduk dan makanlah," ucap Ciara membuat Lily menatapnya dan melihat sebuah luka gores di pipi Ciara.
"Pipimu terluka," ucap Lily menunjuk bekas lukanya.
"Hm tidak apa," sahut Ciara santai.
"Itu karena pak Axton seharian terus mengamuk. Pasti karena ulahmu lagi!" sahut Daisy dengan sinis dan tajam.
Lily sontak menatapnya keningnya berkerut. Matanya kemudian bergerak ke arah leher Daisy yang terdapat bekas merah seolah habis dicekik.
Daisy yang melihat Lily menyadari, dengan ketus menyampaikan. "Aku dicekik Pak Axton, hanya karena kesalahan kecil. Tapi, sejak awal moodnya tidak baik. Itu pasti ulahmu! Apalagi yang kamu lakukan ke Pak Axton, buat dia marah, sampai kita kena imbasnya!"
"Sudahlah Daisy, jangan menyalahkan Lily, lagi pula ini bukan pertama kalinya Pak Axton bersikap kasar ke kita," bela Ciara.
Daisy mendengkus, segera membalas. "Tapi, semenjak ada dia, Pak Axton selalu marah-marah, sampai mengamuk, mencelakai kita!" ucapnya sewot, di sertai air mata yang berlinang menyuarakan rasa kesal dan sakitnya.
Ciara ingin bicara, namun disela oleh yang lainnya, yang ikut mengungkapkan rasa sakitnya.
"Benar. Apalagi akhir-akhir ini. Kemarin, hanya ada typo di laporan ku. Itupun bukan bagian penting. Tapi, aku sampai dilempari tempat pena."
"Aku barusan di tampar, kemarin-kemarin dijambak."
Mendengar curhatan yang menyalahkannya itu, membuat Lily tak mampu menelan makanannya, sedikitpun.
Lily kemudian menyahut. "Maaf, kalau dia memang bersikap kasar begitu, kenapa tidak melaporkannya? Ada hukum yang melindungi tenaga kerja."
Semua sontak menatapnya dengan tatapan sinis dan kesal.
"Siapa yang berani melakukan itu!" Sentaknya.
"Jika tidak berani, maka dia akan terus seperti itu," balas Lily membuat orang-orang semakin jengkel.
"Mungkin kamu akan berani, tapi tidak dengan kami. Meski kemungkinan besar dapat kompensasi tapi jelas akan di pecat, dan cari pekerjaan itu susah!"
Lily tidak lagi menjawab, terlebih semua orang menatapnya tak suka membuatnya tersudut.
Salah seorang menyahut sinis dan tajam. "Ku pikir kalau dia bakal tenang, ternyata lebih parah. Pak Axton jadi kasar banget."
"Shhutt, jangan gitu, nanti diaduin," timpal yang lainnya.
Lily mengerutkan keningnya, sorot mata kesal tak suka terpampang nyata di wajahnya.
Namun, ia tak tinggal diam, membiarkan dirinya ditindas. Dengan ketus ia menyahut. "Jika aku sekali mengadu, sudah pasti jadinya kalian cacat!"
Terdengar melebihkan namun membuat semuanya terdiam, dan beberapa percaya melihat Axton memang bertempramen buruk.
Detik selanjutnya, suasana semakin mencekam, saat sosok yang dibicarakan memasuki ruang makan itu. Axton menyisir pandangan, hingga matanya menangkap sosok Lily di sana.
Pria itu tersenyum tipis, berjalan ke arah di mana Lily berada.
"Lily, makan di luar ya," ajak Axton berhenti di ujung meja.
Vina yang duduk di ujung meja seketika menegang, kepalanya menunduk tak berani melihat Axton di depannya itu.
Lily menghela nafas panjang, menatap makanannya yang sama sekali tidak membuatnya berselera. Ia lalu menatap Axton lagi. "Oke, tapi minta maaf dulu."
Axton menaikkan sebelah alisnya tampak heran, namun tanpa protes ia menyahut. "Maaf, semua kesalahanku, aku minta maaf," ucapnya sembari menatap Lily dengan tulus.
Lily memijit keningnya, dan menghela nafas malas, "Bukan padaku, tapi sama mereka," ucap Lily menatap teman semejanya tanpa menunjuk siapa yang telah mengeluh padanya.
Ucapan Lily membuat tubuh orang-orang tadi menjadi tegang, dan gugup. Terlebih Axton sontak menatap mereka. Termaksud Ciara yang mencolek pinggang Lily merasa permintaannya terlalu keterlaluan.
Axton memundurkan tiga langkah kecil, lalu membungkuk 90°. "Maaf semuanya, kemarin, dan hari ini, saya keterlaluan. Sekali lagi maaf," ucap Axton terdengar tulus tanpa paksaan, membuat semua orang menatapnya heran dan terkejut.
"Sebagai kompensasi, malam ini semuanya, seluruh karyawan dan pekerja di perusahan boleh membawa keluarga maksimal 5 orang ke hotel X, menikmati makanan sepuasnya dan boleh menginap, gratis," sahut Axton menunjukkan ketulusannya.
ucapan yang langsung disambut heboh semua orang. Mengingat hotel yang dimaksud adalah hotel besar yang tarif permalamnya mencapai jutaan untuk kamar paling sederhana. Terlebih mood Axton yang begitu baik, dan bisa dikontrol dengan diaturnya Lily.
"Ini sih tingkat bucinnya Pak Axton mencapai tahap maksimal," batin Ciara mengulum senyum gemas.
kalau kamu bahagia dengan yg lain itu rekord loh pasalnya PD CLBK semuheee