Kegemilangan prestasinya dalam menaklukan berbagai kejahatan, membuat Manila harus di pindah tugaskan ke sarang kejahatan. Bagaimana kisah perjalanan Manila dalam menaklukan musuh dan mendapatkan cintanya.
So pantengin aja he. he. he
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKUATAN DUKUN
Lee kini terlihat duduk di bangku panjang bersebelahan dengan Manila yang masih terlihat diam belum bisa memaafkan perbuatan Lee yang sudah membuatnya cemburu setengah mati.
Namun Michael tak mau nimbrung dan ambil pusing untuk ikut duduk diantara 2 insan yang terlihat cemberut karena yang nantinya akan membuat sakit perut.
Michael lebih memilih menyibukan dirinya menghitung uang pendapatan Lee yang Michael ambil dari dalam laci gerobak baksonya.
Dengan telunjuk yang ia tempelkan sekilas di lidah. Michael dengan cekatan menghitung lembar tiap lembar uang yang sedang di pegangnya.
"Wah ... bisa kaya mendadak jika dagangan kita selaris ini." ucap Michael yang berharap perkataanya terdengar di telinga Manila dan Lee.
Dengan malas Manila bangkit dari duduk dan menghampiri Michael yang baru saja selesai menghitung labanya.
Dengan gerakan cepat Manila langsung menyambar dan mengamankan uang yang sudah di tata rapi Michael dan memasukanya ke dalam tas selempangnya.
"Ma ... ma .. manila. Kenapa kau ambil semua uangnya?" Michael menghela nafas kecewa melihat Manila yang dengan dingin dan santai mengamankan uang penjualan baksonya.
"Duduk!" titah Manila dengan menatap tajam dan membuat Michael bergetar ketakutan.
Michael kini langsung duduk di sebelah Lee mengikuti gayanya yang masih menunduk tak berani memandang Manila.
Manila kini melangkah dan berdiri tepat di hadapan Lee dan Michael.
"Ingat! kita disini untuk menjalankan misi, bukan untuk niat usaha apalagi berdagang sambil bersenang senang dengan para gadis yang tidak jelas asal usulnya.
Michael mengangkat wajah dan menoleh ke samping dengan bibir mencibir.
"Halahhhh ... bilang saja kalau tadi cemburu!" gumam Michael namun masih sedikit terdengar Manila.
Manila menendang tulang kering Michael hingga mengaduh kesakitan dan sukses membuat Lee yang terdiam kini tertawa terbahak.
"Mampus loh." ujar Lee yang kembali tertawa terbahak.
"Siapa yang menyuruhmu tertawa, hah." tegas Manila yang tak ingin ucapanya di anggap sepele kepada Lee.
Lee seketika menghentikan tawanya dan kembali menunduk tak berani menatap Manila.
Manila membuka handphone untuk sekedar mengecek waktunya. Dan setelah itu ia langsung memasukanya kembali ke dalam tasnya.
"Cepat bersiap! karena sekarang saatnya kita beraksi memancing dukun cabul itu." titah Manila.
Michael dan Lee kini mengangkat bangku panjang dan menaruh di atas gerobaknya.
"Kalian pergilah lebih dulu! Selang 15 menit aku akan menyusul kalian." ujar Lee.
Michael dan Manila kini merapikan penampilanya dan bersiap untuk memasuki sebuah gang besar yang konon menurut warga setempat, disitulah tempat Dukun cabul itu unjuk gigi atau memunculkan wujudnya.
"Tunggu sebentar." seru Michael.
Michael membuka laci uang dan mengambil kantong plastik hitam di dalamnya.
"Untuk apa plastik hitam itu?" Lee penasaran dengan Michael.
Michael mengambil sisa pangsit dan bakso yang masih tersimpan di dalam etalase gerobak bakso dan kemudian memasukanya ke dalam kantong plastik hitamnya.
"Lumayan, buat cemilan di jalan." jawab Michael sambil tertawa dan kembali menghampiri Manila yang sudah menunggunya.
Lee hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas melihat Michael yang menurutnya selalu konyol di matanya.
Kini Manila dan Michael berjalan meninggalkan Lee sendirian bersama gerobak baksonya.
"Manila." panggil Michael dan Manila pun menoleh.
"Makanlah ini, lumayan untuk sekedar menggganjal perutmu." ujar Michael sambil memperlihatkam isi kantong plastik hitamnya pada Manila.
"Apa ini?" Manila merogoh kantong plastik itu dan mengambil sebuah pangsit dengan tanganya.
"Itu pangsit, Manila." jawab Michael.
Dengan rasa penasaran Manila mulai mendekatkan pangsit itu pada mulut dan mulai menggigitnya secara perlahan.
Krez ...
"Rasanya renyah dan gurih, walaupun teksturnya terlihat sederhana. Namun bisa menyajikan rasa ikan di dalamnya." Manila berdecak kagum.
"Kau suka?" tanya Michael yang kini mengikuti Manila menikmati pangsit.
"Suka ... suka banget." Manila mengangguk mantap.
"Kalau begitu, kau suruh Lee untuk membuatnya." tukas Michael.
"Kenapa harus dia?" Manila menoleh heran dan menghentikan langkahnya.
"Karena semua ini adalah buatan tanganya." Michael dengan santai kembali mengambil pangsit dari dalam kantong plastik dan langsung memakanya.
Manila mempercepat langkah dan mensejajarkanya kembali dengan Michael.
Manila yang merasakan kurang. Dirinya kini menelusupkan kembali tanganya ke dalam kantong plastik hitam. Dan kini Bakso lah yang ia ambil.
"Wah ... enak. Rasanya benar- benar membuatku lidahku bergoyang." ujar Manila.
Michael yang penasaran pun kini mulai beralih mencicip bakso mentahnya.
"Benar Manila, rasanya menggugah selera." timpal Michael.
Di tengah nikmatnya Michael dan Manila menikmati pangsit dan Bakso mentahnya. Tiba- tiba saja sekilas bayangan melintas secepat kilat menyambar kantong plastik yang yang sedang di pegangi Michael.
Siluet mahluk tersebut kini berdiri beberapa meter di hadapan Michael dan Manila.
"Kurang ajar sekali kalian anak muda! berani beraninya kalian mengabaikan keberadaanku sambil menikmati cemilan tanpa menghiraukanku." ucap pria tua dengan murka pada Michael dan Manila.
"Siapa kau, dan kenapa kau berani sekali mencuri bungkusan makanan milik kami." ucap Michael dengan geram.
Lelaki tua itu mengabaikan apa yang di ucapkan Michael padanya. Dirinya lebih memilih merogoh bungkusan plastik itu dan mengambil sebuah pangsit dan langsung memakanya.
"Enyak ... enyak." dengan muka tanpa dosa dan rasa bersalah lelaki tua itu terus menikmati isi bungkusan tersebut.
Michael berlari dan hendak merampas kembali bungkusan miliknya yang sempat di curi paksa oleh lelaki tua di hadapanya.
Namun sungguh tak bisa di percaya dengan mata dan logika. Lelaki tua itu kini langsung menghilang laksana asap yang tertiup angin.
Michael mengedarkan pandanganya mencari keberadaan si lelaki tua tersebut. Dan dengan cepat lelaki tua itu kini berada beberapa meter di belakang Manila.
"Enyak ... enyak. Kau mencariku?" lelaki tua itu mengejek Michael dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Buajingan! dasar tua bangka." Michael kembali menerjang lelaki tua itu, namun sayang lelaki tua lagi-lagi menghilang seperti sebelumnya.
"Michael, ternyata lawan kita sekarang memiliki ilmu supranatural. Kita harus berhati hati dalam menghadapinya." ujar Manila dengan tangan yang kini mengeluarkan pistolnya.
Michael mengangguk setuju dan bersiaga sambil memegang senjata pistolnya.
Lelaki tua itu kini kembali dengan penampilan dan kostum layaknya sinterklas yang sering muncul ketika malam natal.
Manila dengan sigap langsung mengarahkan pistol dan mulai melepas beberapa tembakan ke arahnya.
"Tidak mungkin!" Manila terkejut ternyata Dukun cabul itu bisa memblock beberapa tembakan yang ia lancarkan padanya.
Michael memanfaatkan momen tersebut dengan dengan langsung melepaskan pukulan ke arah si dukun cabul itu. Namun nahas, dengan mudah si dukun menepis tangan dan langsung mencekik leher Michael dan mengangkatnya tinggi.
Manila kini merasakan panik yang luar biasa. Menyadari lawan yang di hadapinya ternyata bukanlah kriminal abal abal yang bisa di pandangnya sebelah mata.
Tak banyak pikir lagi. Manila mencoba melepaskan tendanganya ke arah si dukun Cabul. Namun nahas nasibnya kini berakhir sama seperti Michael harus tercekik di atas udara.
Di dalam kebuntuanya hati kecil Manila terus memanggil manggil Lee untuk segera datang menolongnya.
Mampir thor🙋🏻♀️🙋🏻♀️
yg sabar ya
cengeng 🤭🤭