Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pesan misterius
Happy reading ....
*
Situasi di luar gedung Adipura Land saat ini terlihat mulai tidak kondusif. Selain para pencari berita, juga ada beberapa orang warga yang membawa poster bertuliskan hujatan serta tuntutan terhadap Adipura Land.
Adipura melihat pemandangan tidak mengenakkan tersebut dari cctv yang diperlihatkan di layar monitor laptopnya. Kemarahannya tersirat dari raut wajah serta kepalan tangannya.
Rapat direksi dihentikan sementara karena situasi tidak terduga itu. Saat ini, selain Adam dan tim kuasa hukumnya, ada Natasha, Rama, dan tentunya Joshua di ruangan tersebut.
Sesuai saran Adam, mereka memanggil dan sedang menunggu perwakilan dari warga untuk bicara. Bukan untuk mengambil jalan tengah, karena pihak Adipura Land tidak merasa membeli tanah mereka. Melainkan untuk meminta bukti keterlibatan perusahaan dalam permasalahan ini.
"Silahkan masuk," ujar Rama mempersilakan dua orang perwakilan warga untuk masuk dan duduk.
Dari tempat duduknya, Joshua mengeratkan gigi melihat dua orang itu. Ia pernah melihat foto keduanya di ponsel salah satu anak buahnya. Dua orang itu adalah seorang warga dan juga pengacara yang ditunjuk warga.
Setelah memperkenalkan diri, mereka pun duduk. Adam langsung bicara pada inti permasalahan. Adam menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki bukti pembelian tanah, apalagi sertifikat yang membuat Adipura Land menjadi tergugat. Akan tetapi, Adam langsung bungkam ketika pengacara itu menyodorkan bukti salinan berkas yang mereka miliki.
Adam memperhatikan dengan seksama. Tanda tangan yang tertera di sana sama persis dengan tanda tangan Adipura. Ia pun memberikan salinan itu pada Adipura.
Adipura terperanjat dan dengan tegas langsung menyangkalnya.
"Kalau ini hanya rekayasa, aku pastikan kalian akan membayar mahal," geram Adipura dengan tatapannya yang tajam.
"Untuk apa kami menggugat jika tidak ada bukti yang sah, Tuan. Sama saja dengan bunuh diri," sahut pria yang mewakili warga.
"Lagi-lagi pemalsuan tanda tangan. Apa mungkin pelakunya sama?" gumam Natasha dalam hatinya. Ia tentu ingat permasalahan yang baru saja menyeretnya. Manipulasi data yang melibatkan bubuhan tanda tangannya.
"Siapa yang berulah kali ini, apa mungkin Irwan lagi?" imbuh batin Natasha.
Sebuah notifikakasi pesan suara diterima Adam dari nomor tidak dikenal. Pengirim juga berpesan agar pesan suara itu diperdengarkan pada siapapun yang ada di sana.
Adam memperhatikan sekelilingnya. Pengacara itu sedang berdiskusi dengan tim kuasa hukumnya, sedangkan Adipura nampak mengeratkan rahang sambil menerawang. Natasha seperti sedang berpikir keras, dan Joshua terlihat santai.
"Ada apa?" tanya Natasha heran.
"Aku mendapat pesan, coba dengarkan sebentar," sahut Adam.
Adam pun memperdengarkan pesan suara itu. Raut wajah Joshua seketika menegang, apalagi saat menyadari tatapan sebagian orang yang ada di sana tertuju padanya. Pesan suara itu sama persis dengan yang pernah diterimanya. Pembicaraannya dengan Irwan di sebuah restoran.
"Sial. Ternyata Irwan menghianatiku," umpat Joshua dalam hatinya.
"Apa ini, Jo? Jadi ini semua rencanamu?" tanya Natasha dengan sorot matanya yang menajam.
"Kau dibelakang ini semua?" bentak Adipura.
"Tuan, ini fitnah. Bagaimana mungkin Anda mempercayai pesan itu, Tuan. Suara itu bisa saja hasil editan, aku tidak mungkin melakukannya. Ini pasti ulah Irwan. Dia menjebakku," kilah Joshua.
"Kau sekongkol dengan Irwan. Kalian merencanakannya untuk menghancurkan perusahaan ini," ujar Natasha dengan nada tinggi.
Melihat perdebatan anggota keluarga Adipura, Rama meminta pada Adam untuk menunda pembicaraan mereka. Adam memaklumi dan berniat meninggalkan mereka. Akan tetapi pria itu mengurungkan niatnya setelah menerima pesan lain dari nomer yang sama.
"Tunggu. Dia mengatakan akan mengirimkan bukti ke sini. Tidak hanya perkara manipulasi data yang melibatkan Nona Adipura, tapi juga sengketa tanah yang saat ini sedang dihadapi Adipura Land. Kehadiran mereka sangat penting untuk mengetahui kebenarannya, Tuan. Jika terbukti ini hanya permainan seseorang, kita bisa mencari solusi untuk kebaikan kedua belah pihak," tutur Adam.
"Apa? Siapa pengirim pesan itu, Adam? Telepon dia! Aku akan bicara padanya," ujar Adipura.
Adam mencoba menghubungi pengirim pesan misterius itu berkali-kali namun selalu gagal terhubung.
"Anda lihat sendiri kan, Tuan. Apa Anda akan mempercayai pengecut seperti dia?" tanya Joshua pada Adipura.
Saat Adam mencoba untuk menghubungi lagi, terdengar ketukan di pintu. Rama bergegas membukakannya.
"Ada titipan untuk Tuan Adipura, Pak," ujar security sambil menyodorkan amplop berwarna cokelat.
"Terima kasih, Pak."
Sementara itu, Adam menyodorkan rekaman cctv orang yang memberikan amplop itu pada Adipura. Ketika Rama memberikan amplop itu pada Adam, asisten direktur keuangan itu mengernyitkan keningnya melihat video yang diputar berulang-ulang.
"Itu mobil Tuan Muda Al-Fatih. Dan kalau aku tidak salah, pria itu adalah supirnya. Apa tuan muda itu yang melakukannya? Apa dia ingin membantu tanpa diketahui?" gumam Rama dalam hati.
Rama mundur beberapa langkah setelah mendapat delikan dari Adipura. Ia memikirkan siapa gerangan tuan muda itu. Setelah membantu Adipura dari krisis pada permasalahan belum lama ini, tuan muda itu juga membantu Adipura Land kali ini.
Rama teringat pada Arjuna yang menanyakan tentang sosok Irwan. Ia juga teringat pada Irwan yang kini bekerja di Al-Fatih Group, serta sosok pria menyerupai sosok Arjuna yang dilihatnya di restoran waktu itu.
"Mungkinkah tuan muda itu tidak lain adalah ...." Irwan hanya bisa menduganya di dalam hati.
Natasha terlihat fokus pada ponselnya. Sedangkan yang lain terfokus pada Adam. Tidak terkecuali Joshua yang mulai terlihat gusar. Ia yakin, sekalipun Irwan berkhianat, tidak mungkin seberani ini. Bukankah jika ia dipenjara, Irwan akan terseret juga?
"Suruhan siapa dia. Dilihat dari mobil yang dimasukinya, jelas itu mobil berkelas yang terbilang langka di negara ini," gumam Adipura.
"Ahmed Husein," sahut Natasha setengah bergumam. Ketika sekilas ia melihat plat nomer dalam rekaman cctv itu, Natasha langsung mencari nama pemiliknya lewat aplikasi.
"Ahmed? Apa maksudmu Tuan Ahmed CEO Al-Fatih?" tanya Adipura. Natasha memperlihatkan detail info yang didapatnya pada Adipura.
"Jadi Tuan Ahmed yang berusaha membantu kita. Tapi bukankah dia sedang tidak di sini?" gumam Adipura heran.
"Bisa saja kan kalau-."
"Pasti tuan muda yang melakukannya. Aku yakin, dia yang membantu kita," sambung Adipura memotong kalimat Natasha. Ada gurat kebanggaan tersirat dari raut wajah Adipura saat menyebut kata 'tuan muda'.
"Tuan muda itu, berani sekali dia mencampuri urusanku," geram Joshua dalam hati.
"Bagaimana, Adam? Apa saja yang dikirimkan tuan muda?"
"Ini dokumen perusahaan atas nama Nyonya Inge, Tuan. Di sini tertera perusahaan itu merupakan anak perusahaan Adipura Land," sahut Adam.
"Apa, Inge?" Adipura terkejut mendengarnya. Cepat-cepat ia mengambil berkas itu dan membacanya.
Di sisi lain, Natasha menoleh pada Joshua. Ia menyeringai melihat raut wajah Joshua yang menucat seketika.
"Wow, ada musuh dalam selimut rupanya ya," sindir Natasha.