Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. DRAMA PINDAHAN
Bunyi dentingan pelan terdengar saat pintu lift terbuka di lantai tiga. Leo melangkah keluar, menyusuri lorong berlapis karpet tebal menuju kamar utama. Tangannya mendorong pintu kayu berukir elegan berwarna putih bersih itu. Begitu masuk, sebuah kamar raksasa dengan tempat tidur king-size yang menghadap langsung ke jendela kaca floor-to-ceiling menyambutnya.
Dengan kedua tangannya, Leo menyingkap tirai tebal itu lebar-lebar. Sinar matahari siang langsung membanjiri ruangan. Dari ketinggian lantai tiga, pemandangan lanskap kompleks apartemen elite terhampar di depannya; taman-taman tropis yang terawat rapi, serta jarak antar menara apartemen yang sangat jauh, menjamin privasi absolut.
"Suasana yang sangat tenang... sudah lama aku tidak merasakan kedamaian absolut seperti ini," gumam Leo, matanya menerawang. "Selama bertahun-tahun tinggal di rumah kayu tua milik pak tua itu, rasanya aku benar-benar butuh menghirup udara segar di tempat mewah ini."
Ia melepaskan kemejanya, menyisakan kaus dalam hitam yang pas membalut tubuh berototnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Fasilitas di dalamnya sangat memanjakan mata, lengkap dengan bathtub. Setelah membersihkan diri sebentar, Leo kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang kelelahan ke atas kasur empuk itu. Aroma lavender dari sprei perlahan mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Kenapa tempat sepi seperti ini malah mengingatkanku tentang masa kecilku sebelum malam itu terjadi?" gumamnya lirih. Matanya perlahan terpejam, terbawa arus memori, hingga akhirnya ia terlelap dalam tidur yang sangat dalam—dan fatalnya, ia benar-benar lupa untuk menjemput Vellora.
Sementara itu, di depan gerbang SMA Atlantis 3 yang megah.
Panas terik matahari siang memanggang aspal, seolah berniat menguapkan setiap tetes keringat murid-murid yang berhamburan keluar. Vellora berdiri di trotoar, mengusap peluh di dahinya sambil celingukan ke segala arah.
"Di mana sih Kak Leo?! Kenapa dia tidak menjemputku hari ini?!" rutuk Vellora sambil mengepak-ngepakkan tangannya mencoba mencari udara. Panasnya udara siang ini benar-benar tidak main-main.
Jari-jemarinya yang lentik terus menekan layar ponsel, menelepon nomor Leo belasan kali. Namun, panggilan itu hanya berujung pada nada sambung. Di sisi lain, Leo yang sedang tidur pulas tak akan pernah mendengarnya, karena ponsel sialan itu tertinggal tergeletak meja ruang tamu lantai satu.
"Mungkin Kak Bara bisa menjemputku," gumam Vellora frustrasi, beralih menghubungi nomor Bara. Hasilnya sama saja; nihil.
"Ke mana dua orang menyebalkan ini pergi?! Sialan!" pekik Vellora menghentakkan kakinya.
Tiba-tiba, suara deru knalpot motor sport memecah konsentrasinya. Sebuah motor melambat dan berhenti tepat di depan gerbang. Pengendaranya, seorang siswa laki-laki bertubuh tegap, mematikan mesin lalu membuka helm full-face-nya, menampakkan wajah yang cukup tampan.
"Apa kamu belum pulang? Atau sedang menunggu seseorang di tengah cuaca panas begini?" tanyanya dengan nada ramah.
Vellora mundur selangkah, menatap waspada. "Kamu... siapa?" tanyanya pelan.
"Emm, aku dari kelas 3B, sekelas dengan Luna. Kulihat-lihat, kamu tadi pagi sangat dekat dengan Luna. Apa dia temanmu?" tanyanya basa-basi, mencoba memecah kecanggungan.
"Emm, bisa dibilang begitu," jawab Vellora dengan mata membulat, masih curiga.
Namun, sebelum siswa laki-laki itu sempat melancarkan jurus pedekate pertamanya, suara decit ban mobil mengagetkan mereka. Sebuah mobil hitam besar berhenti tepat di depan mereka berdua.
Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok Bara dengan wajah kusut dan peluh yang bercucuran. Ia langsung menghampiri Vellora.
"Vellora! Maafkan Kakak tidak menjawab panggilan ponselmu tadi! Kakak sedang sangat sibuk mengurus pindahan mendadak di rumah. Kau tahu? Sempat terjadi keributan besar di sana! Aku harus berdebat panjang lebar dengan Kakek yang mogok dan memeluk pilar tak mau pindah! Dan setelah drama tarik-menarik, akhirnya ia terpaksa ikut juga!" celoteh Bara tanpa koma, berdiri menjulang di dekat Vellora.
Vellora dan siswa laki-laki itu terdiam kaku seketika, otak mereka lagi mencerna rentetan penjelasan absurd itu.
"Tunggu, tunggu... maksud Kakak, kita pindah rumah?!" pekik Vellora, suaranya naik satu oktaf.
Sebelum menjawab, tatapan Bara beralih pada cowok pengendara motor itu. Auranya langsung berubah gelap dan datar. Tangan kanannya otomatis memasang mode 'kakak penjaga gawang'. "Kau nanti tahu sendiri. Ngomong-ngomong, siapa cowok ingusan ini?" selidik Bara.
"Tidak, aku tidak kenal. Aku baru saja mengenalnya semenit yang lalu," ujar Vellora pelan, tak mau memperumit keadaan.
Bara tidak peduli. Ia menundukkan badannya, mencondongkan wajahnya yang menyeramkan hingga berjarak hanya sepuluh sentimeter dari wajah cowok itu. Matanya melotot tajam mengintimidasi. "Emm, benarkah? Atau jangan-jangan, kau pacarnya yang sedang cari gara-gara?!" desis Bara dengan nada preman pasar.
Bocah SMA itu meneguk ludahnya kasar, tak berani berkedip sedikit pun. "K-kenapa Paman menatapku s-seperti itu?" tanyanya terbata-bata.
Merasa nyawanya terancam, cowok itu buru-buru memakai helmnya kembali. "Y-ya sudah, Vell. Aku pulang dulu, ya. Keluargamu yang menyeramkan sudah datang menjemput. Daaaah!" pamitnya panik, lalu langsung tancap gas melarikan diri sejauh mungkin dari gerbang sekolah.
Di tengah keheningan yang tersisa, sebuah suara tua memecah dari dalam mobil . Kaca jendela belakang terbuka, menampakkan kepala Kakek Liam.
"Baraaa! Ayooo cepat masuk! Pinggang Kakek sudah mau copot rasanya duduk di mobil terus, dan udara yang sangat panas ini bisa membuat tulang tuaku meleleh!" pekik Liam dengan nada dramatis.
"Iya, Kakek!" sahut Bara. "Ayo, Vell, cepat masuk sebelum Pak Tua itu murka!"
Begitu mereka masuk ke dalam mobil dan AC menyala, Vellora langsung menodongkan pertanyaan. "Sebenarnya kita mau ke mana, Kakek? Kenapa tiba-tiba pindah? Dan kenapa Kakek ikut di mobil ini?"
Liam seketika memasang wajah memelas tingkat dewa. Ia memegangi dadanya seolah terkena serangan jantung. "Kakek tidak tahu apa-apa! Katanya si rubah Leo itu mau pindah mendadak! Sungguh tega kalian bertiga, mencampakkan kakek tua renta ini! Kalian tidak ingin tinggal di rumah Kakek lagi, kan?! Kalian membuangku!"
Melihat akting sinetron kakeknya, Bara memutar bola matanya sambil memutar kemudi. "Sudahlah, Kakek! Rumah kayu tua itu sudah lapuk! Kayunya yang dulu kokoh sekarang sudah tidak selayak dulu, bahkan sering bunyi berderit kalau malam!" seru Bara.
Jleb!
"Tega sekali kau menghina kediaman kebanggaan Keluarga Theodore yang dibangun susah payah bertahun-tahun?!" jerit Liam, kini meremas kemejanya. "Padahal kalian bertiga tumbuh besar, makan, dan kencing di rumah itu!"
"Sudahlah, Kek. Apartemen mewah yang Bang Leo beli pagi ini harganya 96 miliar! Jauh lebih bagus dan aman dibanding rumah tua itu," balas Bara telak, membuat Liam kembali memegangi dadanya dengan ekspresi shock yang lebay.
"Lihat, Vellora... dengarkan kata-kata menyakitkan dari kakak-kakakmu. Mereka benar-benar mencampakkan rumah warisan Kakek!" rengek Liam, pura-pura menyeka air mata buaya di sudut matanya.
Vellora yang kelelahan menanggapi kehebohan keluarganya hanya bisa menepuk pelan bahu kakeknya. "Kakek yang sabar, yah..." bisiknya pasrah.
Setelah setengah jam diwarnai argumen dramatis di dalam mobil itu akhirnya berbelok masuk ke gerbang sebuah apartemen penthouse eksklusif. Halaman depannya sangat luas, dipenuhi puluhan anak buah berseragam hitam yang sedang bahu-membahu mengangkut tumpukan kardus barang-barang dari rumah tua Theodore ke lobi mewah tersebut. Sebuah babak baru yang penuh keributan resmi dimulai.