NovelToon NovelToon
AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System

Status: tamat
Genre:Komedi / Action / Fantasi / System / Sudah Terbit / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:158.6k
Nilai: 5
Nama Author: Korona N

Sistem AutoTerra merupakan sistem operasi kehidupan yang diterapkan oleh banyak orang tuk menjadi kuat. Tapi tidak bagi seorang Astan.

Dia menggunakan Sistem AutoTerra hanya untuk menjadi pemburu demi menghasilkan uang. Tanpa peduli tuk menaikan pangkat dan level. Yang Astan inginkan hanya hidup damai dengan uang yang dihasilkan sebagai pemburu.

Namun, berbagai hal aneh kadang terjadi, mengganggu pikiran Astan dan membuatnya kehilangan fokus dalam berburu.

Seperti apa kegiatan Astan bersama rekan-rekannya dalam memanfaatkan Sistem AutoTerra sebagai pemburu antar galaksi? Dan apakah misteri tentang gangguan yang dialami Astan bisa terpecahkan atau hanya akan menjadi misteri untuk selama-lamanya?

~*~
Catatan :
-Tidak cocok bagi pembaca cerita serius.
-Sistem yang ada di sini berbeda dari sistem di banyak novel.
-Bahasa non-baku dan informal.
-Sumber gambar : Pinterest
.
26 Juli 2021

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Korona N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Kendala Ekonomi

Hari-hari biasa yang dilalui oleh para penghuni Kapal Thornic 035. Semua orang melakukan kegiatannya masing-masing, para pemburu juga melakukan aktivitas berburu. Memang yang membedakan hanya kepanikan kecil akibat Inti Kristal yang digunakan sebagai bahan bakar seluruh kapal hampir habis, dan mereka masih belum memiliki Inti Kristal yang baru. Selebihnya, keadaan kapal normal-normal saja.

Bahkan hangar tempat para pemburu hendak berpergian keluar-masuk kapal juga nampak baik-baik saja. Banyak pesawat berjejer rapi di parkiran masing-masing, beberapa teknisi dan pilot sedang melakukan perawatan pesawat, dan persiapan untuk keberangkatan beberapa Squad pemburu.

Semua terlihat normal.

Sampai,

“Aw…!”

Sosok Astan baru saja ditendang keluar secara tidak berperikemanusiaan dari pesawat angkutan berwarna hitam. Ia mendarat di lantai hangar dengan posisi nungging, tapi wajahnya nampak datar, tak merasakan apapun.

“Dasar, laki setan! Beraninya kau menjadikan Supri kesayanganku jadi tempat jemuran dadakan! Enggak bakal kumaafkan kau! Jangan sewa lagi jasa ojek pesawatku kalau masih bertindak seenaknya pada Supri!” omel Soni dari dalam pesawat.

Satu lagi sosok Grim ikut ditendang dari dalam pesawat, mendarat dengan posisi telentang, tapi kedua kaki terangkat di atas pantat nungging Astan. Kalau Astan masih bertampang datar, Grim malah nampak memasang muka polos.

“Ini juga siapa lagi yang ngikut?! Perasaan aku cuma angkut dua orang. Malah nambah sebiji penumpang!” lanjut omel Soni. “Awas kau, Tan! Nambah bayarmu buat ngakut satu biji laki baru itu! Musti bayar tepat waktu!”

Berbeda dengan Astan dan Grim yang kena tendang keluar dari pesawat, Arni malah dibawa keluar sambil digandeng tangannya dengan ramah oleh Soni menuruni tangga pesawat.

“Ayo, Neng. Hati-hati jalannya, nanti kepeleset.” Soni cari muka.

Arni nampak bingung melihat nasib kedua rekan satu Squad-nya yang tergeletak dengan posisi konyol.

“Ta-tapi, Mas Soni. Bang Astan sama Mas Grim itu… itu—.”

“Ah, enggak apa-apa. Laki-laki ‘mah wajar diperlakukan kayak gitu,” ucap Soni santai, “Mereka kuat, tahan banting, kok.”

Setelah membantu Arni menuruni tangga pesawat, Soni memutuskan untuk pamit.

“Ya sudah. Aku pamit balik dulu, ya. Mau istirahat buat anterin para pemburu lain lagi besok. Kau juga istirahat yang cukup, Neng. Jangan sampai sakit,” pamit Soni disertai senyum.

Soni pun berjalan pergi menuju pintu keluar hangar. Namun, ia sempat-sempatnya menendang pantat Astan yang masih nungging.

Setelah kepergian Soni, Arni mulai panik ketika teringat akan sesuatu.

“Aduh! Bang Astan, Mas Grim, kita cepetan ke resepsionis aja. Bang Astan ‘kan perlu berobat ke Dek Medis.” Lalu Arni mulai melangkah duluan. “Ayo…! Kita pergi sekarang. Nanti keburu luka Bang Astan balik kebuka. Kau juga perlu istirahat ‘kan, Mas Grim…?”

Setelah Arni cukup jauh berjalan mendekati pintu keluar hangar, Grim mulai berdiri, hendak berjalan menyusul Arni.

“Oi.”

Astan yang masih di posisi nungging memanggil dengan muka datar yang sama.

“Bantuin, kek. Angkat, dung. Mager ini….”

Masih bermuka polos, Grim balik menghampiri Astan, memanggul Astan di bahunya, lalu membawa pria berbadan besar itu pergi dari hangar.

“Nah. Gitu, dong. Kan enak enggak perlu keluar tenaga,” ucap Astan dengan malasnya.

...~*~*~*~...

“Apa?! Enggak bisa bayar semua?!”

Seisi lobi dikagetkan dengan teriakan disertai hentakan keras kedua tangan Astan di meja resepsionis. Hal itu membuat ia dan rekan-rekannya jadi pusat perhatian para penghuni lobi Guild.

Seperti rencana awal, Astan, Arni, dan Grim pergi ke resepsionis untuk mendata hasil misi dan menerima upah. Tapi, mereka terkejut ketika mengetahui pihak Guild belum bisa membayar penuh upah dari misi yang diselesaikan.

“Bahkan Guild juga tidak bisa membayar semua hasil buruan kami?” lanjut Astan tak terima. “Kok bisa…?”

Tessa hanya memasang muka segan di hadapan Astan. Sebagai resepsionis Guild, Tessa sendiri baru dikabari kalau jumlah keuangan dari Guild ini mulai menipis, sehingga pihak Guild tidak bisa memberi upah penuh pada para pemburu sesuai aturan yang ditetapkan Asosiasi Pemburu antar Galaksi.

“Hoi, Gorila!”

Satu lagi resepsionis pria ikut nimbrung di samping Tessa, ikut menghentakan tangannya di atas meja. Raut wajahnya nampak sekali tak suka dengan kehadiran Astan, apalagi perilaku Astan yang tidak sopan di hadapan Tessa.

Resepsionis pria itu menunjuk Astan. “Berani-beraninya situ main bentak-bentak di lobi. Ini tempat umum! Enggak sopan teriak-teriak di sini, apalagi di hadapan wanita!”

“Kau sendiri tidak merasa kalau kau juga ikutan teriak?!” balas keras Astan pada sang resepsionis. “Aku enggak terima upah Squad kami kagak dibayar penuh! Kami sudah hampir mati menjalankan misi, dapat banyak buruan juga. Tapi kenapa kagak bisa bayar?! Terus, hasil buruan kami gimana kalau pihak Guild kagak bayar? Sia-sia, dong.”

“Seharusnya, kau—.”

“Ranka, sudah.”

Tessa mencegat Ranka untuk kembali mengomeli Astan. Wanita itu tidak mau terjadi keributan berkelanjutan, meja mereka sudah menjadi pusat perhatian orang-orang.

Sesopan mungkin Tessa menjelaskan pada Astan, “Maaf, Tuan Astan. Bukan bermaksud pihak Guild tidak ingin membayar. Kami hanya bisa membayar kurang dari setengah upah normal untuk sekarang. Soal hasil buruan Squad Anda, akan kami bayar belakangan setelah berhasil dijual ke perusahaan farmasi di Planet Ribelo. Saat ini, perekonomian Guild dan seluruh kapal sedang kritis. Jadi, mohon pengertiannya.”

Astan mendengkus menahan amarah, menyugar rambut jingganya kasar ke belakang. Dia tak habis pikir kalau Guild saat ini bukan hanya kehabisan energi Inti Kristal, tapi juga keuangan di seluruh kapal makin memprihatinkan.

“Bang Astan….”

Astan menoleh ketika Arni menepuk pelan lengannya. Wajahnya nampak sendu, menggeleng pelan, memberitahu bahwa tidak apa-apa jika mereka belum bisa menerima uang sesuai yang diharapkan. Grim juga nampak menerima keputusan tak mengenakan dari Guild ini.

Di sini mereka sama-sama susah, sama-sama perlu saling mengerti juga.

“Oke, deh.” Dengan berat hati Astan menerima. “Tapi, ada sesuatu yang ingin aku laporkan soal misi yang kami jalankan ini. Kuharap laporan ini bisa diperhatikan oleh Ketua atau Wakil Ketua Guild.”

Tessa dan Ranka sama-sama memasang ekspresi kebingungan. Penasaran tentang masalah apa yang ingin diadukan Astan.

Tentu saja Astan enggan mengadukan masalah keributan antara Squad-nya dengan Squad Miza, dia sudah memutuskan untuk tidak berurusan dengan mereka lagi. Ini masalah yang jauh lebih serius.

Astan mulai membuka panel sistem. “Ini masalah misi yang baru saja kami selesaikan. Misinya memang jelas merupakan Misi Tingkat D, musuhnya juga Easy dan satu Hard karena satunya merupakan pemimpin rombongan musuh. Cuma, misi ini jadi terasa sangat sulit dan kami hampir mati menangani misi tersebut karena ini.”

Astan memperlihatkan gambar yang sempat diambil oleh sistemnya secara otomatis lewat panel hologram. Gambar itu menunjukan sebuah portal kecil berwarna hitam kekuningan. Di samping gambar, terdapat rangkuman informasi singkat dan peringatan bahwa obyek portal tersebut tidak diketahui.

“I-ini….”

...~*~*~*~...

1
takmautau
seru juga 👍
takmautau
semangat 💪
takmautau
buahaha 🤣🤣🤪
takmautau
ceritanya cukup mengasyikkan Thor 👏
Protocetus
semangat thor
John Singgih
ini sih lawak namanya
John Singgih
duh nasib MC kita harus jadi pengasuh bocah bawel ya 🤭🤭🤭
Sella 🤗
semangat ya kak Jan Ampe nyerah😉
yessy azwarni
Dibuka dengan kejar-kejaran
IG: _anipri
ngeri bayanginnya
IG: _anipri
dark😳
Sahrul Fadriansyah
dasar kadal
Sahrul Fadriansyah
whahahha centong sayur kasih nyawa🤣
John Singgih
jangan terlalu banyak banyak makan bubuk cabe nanti sakit perut lho 🤭🤭🤭
John Singgih
80% wah berarti kenceng dong
John Singgih
Arni menjadi anggota baru guild thornic
John Singgih
siapa lagi nih yang datang ?
John Singgih
bagus kayaknya ceritanya
Karisma Setiani
agak aneh jg ni novel pake ada kesurupan sgla..
Miss Troublemaker: Duh.... Dah lupa juga aku sama alurnya. Sebenarnya, ada alasan kenapa hal itu terjadi. Cuma karena ga kuterusin, jadi kena plot hole. Sorry, yak.
total 1 replies
Wuku Wuye
lanjutkan bruh, saya juga muak dengan genre yg ada di mt/nt :v

mari jajah dengan eksen, triler dan perbaku pukulan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!