Alfin Adendra, seorang lelaki idaman yang punya wajah tampan, pekerjaan bagus dan mapan. Hidupnya nyaris sempurna dengan memiliki seorang kekasih yang sudah dipacarinya sejak bangku kuliah. Meski terpisah jarak, nyatanya cintanya tak pernah pudar untuk sang kekasih. Hingga suatu peristiwa tragis menghancurkan hatinya. Kekasihnya meninggal karena bunuh diri!
Tapi Alfin tak percaya bahwa itu bunuh diri melainkan kekasihnya sengaja dibunuh oleh suruhan sebuah organisasi mafia dunia bernama Miracle. Hanya saja, tak ada bukti dan kasusnya ditutup begitu saja.
Kekecewaan dan kesedihan itu terbawa hingga tiga tahun kemudian, ketika dia bertemu dengan Kenanga, seorang prajurit TNI yang berwajah datar, blak-blakan dan kasar yang juga sedang menyelidiki Miracle. Dan takdir mempermainkan mereka ketika mereka harus menikah karena perjodohan.
Di tengah ketidakpuasan atas takdir, Alfin bekerja sama dengan Kenanga mencari tahu soal Miracle, dalang dari kekacauan negara dan saling jatuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KyGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Babak Baru
Pagi hari tiba di hari paling bersejarah dalam hidup Alfin dan Kenanga. Semesta sepertinya mendukung mereka, karena langit cerah tanpa berawan sedikitpun. Suhu hangat matahari pagi menyelimuti ujung kepala semua orang di pernikahan oudoor itu.
Ini keinginan Meilani soal konsep pernikahan keponakannya. Sebenarnya bisa dibilang ini keinginan Meilani dan Alena karena Kenanga dan Alfin katanya terlalu sibuk untuk mempersiapkan semuanya padahal ini untuk pernikahan mereka sendiri. Kenanga bahkan tak protes soal konsep pernikahan yang diadakan secara outdoor. Jadilah kedua pengantin itu hanya tahu jadi.
Bridesmaid untuk pernikahan mereka berdua hanyalah Siska. Dan Satya juga mendampingi Alfin.
Kenanga sedang dirias di ruang pengantin. Masih ada satu jam sebelum acara dimulai. Meilani menungguinya dengan perasaan gugup.
Kenanga tenang-tenang saja meski waktu terus berjalan. Dia bahkan sempat-sempatnya membaca buku disela-sela wajahnya dirias.
"Kenanga, kamu gugup tidak?" celetuk Meilani.
Kenanga menatap Meilani melalui pantulan cermin didepannya lalu menggeleng.
"Tidak."
"Tapi kenapa tante yang gugup ya? Padahal yang menikah bukan tante." timpal Meilani dengan nada gemetaran.
Kenanga mengambil sesuatu dalam tasnya. Dia mengulurkan sebotol obat.
"Obat penenang." ujarnya.
Meilani mengambil botol obat itu.
"Darimana kamu mendapatkannya? Katanya tidak gugup?" tanya Meilani.
"Siska yang menjejalkannya ke tasku." jawab Kenanga acuh. "Minum sebutir saja." lanjutnya.
Meilani mengambil sebutir obat sesuai saran Kenanga. Dia menenggaknya setelah itu meminum air. Rasa gugup yang tadinya menyelimutinya seketika sirna. Digantikan perasaan jauh lebih tenang.
Kenanga tersenyum samar melihatnya. Setelah itu fokus pada buku bacaannya.
***
Di ruangan lain, ada Alan yang sedang duduk menunggu ditemani Satya. Tapi sahabatnya itu malah asik main game alih-alih memberinya dukungan mental.
"Kau tidak ada yang ingin disampaikan padaku?" celetuk Alan.
Satya langsung menggeleng, "Tidak." jawabnya tetap fokus pada layar ponselnya.
Alfin berdecak.
Kemudian terdengar suara derap langkah mendekat. Siska mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan. Wanita itu nampak anggun dengan kebaya berwarna nude.
"Hai, calon mempelai." sapanya pada Alfin.
"Kau nampak cantik." puji Alfin.
Siska tersenyum, "Kamu lelaki pertama yang mengatakannya. Padahal kamu bukan pacarku." sindirnya pada Satya. Tapi Satya tak menggubrisnya.
Lalu Siska melirik Satya yang tetap fokus pada gamenya meski dia sudah menyindirnya.
Alfin berdeham, berusaha membuat Satya mengalihkan perhatiannya dan sadar akan kehadiran Siska. Tapi Satya hanya bergeming.
Siska mendesah pelan. Dia langsung merampas ponsel genggam Satya dengan paksa. Satya berseru kesal.
"Woy!" serunya. Namun rautnya seketika kalem kala melihat bahwa Siska yang melakukannya.
"Apa?" sentak Siska. Satya berjengit.
"Eh, beib." sapa Satya cengengesan.
"Pacar datang harusnya nyapa bilang hai, atau apa kek. Malah sibuk nge-game! Ini juga hari pernikahan teman kamu, agak serius sedikit dong." omel Siska.
Satya mengusap tengkuknya, "Maaf hehe." ujarnya. "Tolong kembalikan ponselku." pintanya.
"Katakan sesuatu dulu." titah Siska.
"Katakan apa?" tanya Satya.
"Apa saja. Tidak lihat bagaimana penampilanku?" Siska mengodenya.
Satya menatap Siska dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Apa...ada yang berbeda?" tanya Satya polos.
Siska mendengus kesal, "Kau sungguh minta dihajar!" serunya.
Satya tersenyum manis, "Becanda. Aku tahu kok. Kamu sangat cantik hari ini." ujar Satya.
Siska tersenyum samar, dia mengembalikan ponsel Satya. Satya tersenyum lebar.
"Thanks, beib! Pokoknya kamu cantik banget. Tambah sayang deh." pekiknya sembari menunjukkan tanda hati dengan jarinya.
Melihat drama pasangan itu Alfin hanya bisa geleng-geleng kepala.
Siska lalu melirik Alfin. Dia tersenyum kecil melihat betapa gugupnya lelaki itu.
"Rasanya menarik ketika mempelai laki-laki nyaris mati saking gugupnya sedangkan mempelai perempuan malah sedang baca buku saking tenangnya. Kalian sangat berbeda." celetuk Siska.
"Kamu menemui Kenanga?" sela Satya. Siska mengangguk.
"Bagaimana penampilannya?" tanya Satya penasaran.
"Cantik. Sangat cantik malah. Aku belum pernah melihat Kenanga dalam tampilan seperti ini." jawab Siska.
"Aku penasaran." komentar Satya. "Kamu juga kan?" tanyanya menyikut Alfin.
Alfin tak menjawab.
"Omong-omong kamu sangat tampan berpakaian seperti itu. Benar ya kata orang, kalau aura calon pengantin itu berbeda. Satya, kau tidak mau menyusul sahabatmu?" tanya Siska melirik Satya.
Satya gelagapan. Tapi dia langsung menjawab, "Tidak." jawabannya pelan.
Siska mengerutkan kening mendengar jawaban Satya, "Kenapa?" tanyanya.
"Kau tidak tahu bahwa dia penganut paham tidak akan pernah menikah dan akan jadi bujangan tua seumur hidupnya?" sela Alfin. Siska menoleh pada Alfin lalu kembali menatap Satya.
"Apa?" tanyanya kaget dan tidak percaya.
"Tidak percaya tanyakan saja." suruh Alfin.
Siska menatap Satya penuh tatapan, "Benar itu?" tanyanya.
Satya mengangguk kecil.
Siska terdiam saking tak menyangkanya.
"Lihat kan? Ini sebabanya aku tidak setuju kalian balikan lagi. Kamu tidak akan dapat apa-apa dari calon bujangan tua itu." ujar Alfin menatap penuh remeh pada Satya.
Satya menendang kaki Alfin keras, "Sialan kau." umpatnya kesal.
Siska hanya mendengus sebal. Dia keluar ruangan tanpa kata.
Melihat Siska yang pergi begitu saja, Satya memelototi Alfin. Tapi Alfin balas melotot.
Satya memutus pandangannya. Dia melipat tangannya dengan bibir mencebik.
Sedangkan Alfin hanya terkekeh tanpa suara kala Satya kehilangan kata-kata akibat serangannya.
***
Akad akan dimulai. Alan sudah duduk di kursinya. Di depannya sudah ada penghulu dan sang ayah. Papanya Kenanga juga sudah duduk disana. Tinggal menunggu Kenanga saja.
"Jangan gugup, nak. Tarik nafas dan hembuskan perlahan. Jangan lupa terus berdzikir di dalam hati." pesan Andra di telinga Alan.
Alan mengangguk. Dia menuruti pesan ayahnya.
Tak lama terdengar pemberitahuan dari pembawa acara bahwa mempelai wanita akan datang. Alan langsung duduk tegak menunggu Kenanga.
Tak lama, Kenanga datang. Dia berjalan pelan dan anggun ditemani Meilani, Alena dan Siska sebagai pengiringnya. Alan menatap Kenanga dalam keterdiaman. Rasanya dia kembali teringat dengan rupa Kenanga yang terlintas difikirannya saat mimpi buruknya dengan Syafira. Rupa Kenanga saat inilah yang menyadarkan ia dari ilusi itu.
Di sisi lain, Kenanga berjalan selangkah demi langkah dengan wajah datar. Dia berusaha senyum tapi rasanya sulit karena dipaksa. Jadilah dia menjadi dirinya sendiri di hari pernikahannya. Lagipula untuk apa tersenyum disaat dia bahkan tak merasa bahagia sama sekali?
Kenanga sampai di kursinya. Siska menarik kursinya dan Kenanga pun duduk. Alan berdeham membersihkan tenggorokannya kala Kenanga sudah duduk disampingnya.
Rafa tersenyum melihat putrinya yang nampak amat cantik itu. Melihat Kenanga dalam balutan gaun pernikahan mengingatkannya pada mendiang sang istri saat mereka menikah. Baik Kenanga maupun ibunya sama-sama cantik dan menawan. Kenanga memikatnya dalam kenangan indah itu.
Berbanding terbalik dengan Rafa, Kenanga bahkan tak tersenyum sama sekali meski papanya menatapnya penuh senyuman bahagia. Dia hanya memalingkan wajahnya.
Setelah beberapa acara pembukaan, tibalah acara akad nikah. Alfin menjabat tangan Rafa.
"Baiklah, bissmillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya Kenanga Anggia Selvi Wiryaatma binti Rafa Wiryaatma dengan seperangkat alat shalat, uang tunai sebesar 35 juta rupiah dibayar tunai."
Alfin langsung membalas dengan tegas,
"Saya terima nikah dan kawinnya Kenanga Anggia Selvi Wiryaatma binti Rafa Wiryaatma dengan mas kawin tersebut tunai." suara lantang Alfin menggema di seluruh ballroom.
"Bagaimana saksi?"
"SAH."
Semua orang mendesah lega dan mengucap syukur. Meilani dan Alena saling memeluk satu sama lain karena mereka sudah resmi menjadi besan. Siska juga tersenyum lebar. Alan dan Kansha yang juga turut menyaksikan sama-sama mengucap rasa syukur bahkan Kansha tak kuasa menahan keharuan. Angga yang hadir juga bertos senang dengan Satya. Angga bahkan tertangkap mengusap air matanya karena terharu melihat rekan seperjuangannya telah menikah.
Semua yang hadir merasakan kebahagiaan. Sedangkan Alfin dan Kenanga hanya mampu terdiam. Mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Kenanga bahkan sampai melirik Alfin yang tak.menampilkan senyum sama sekali. Lelaki itu nampak berbeda dari biasanya. Kenanga juga merasa bahwa Alfin juga mengkhawatirkan kehidupan mereka selanjutnya. Baagimanapun memulai babak baru dalam pernikahan tidaklah mudah.
klo ada extra part ya Thor